Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
Surprise


__ADS_3

" Emangnya bapak suka sama siapa?" Lusiana bertanya dengan rasa penasaran..


Ternyata bosnya punya seseorang yang ia suka.


" Saya suka sama............


Kring..........


Tiba- tiba ponsel Hendra yang ada di atas meja berbunyi.


" Lus, kamu boleh kembali sekarang ke tempatmu," ucap Hendra pada Lusiana.


Lusiana menggangguk, lalu segera meninggalkan ruangan Hendra.


Hendra mengangkat ponselnya, papanya menelepon...


" Halo Pa..."


" Apa yang kamu lakukan pada Firda hah?" sembur papa Hendra tanpa mengucapkan salam.


Hendra menghela napasnya, ia sudah bisa menebak pasti Firda sudah melaporkannya pada papa Hendra.


" Hendra tidak ngapa- ngapain dia Pa, dianya aja yang terlalu manja, gitu aja nangis."


" Nangis kamu bilang? kamu bikin Firda nangis?"


Uppss...Hendra menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Ia salah ngomong, Hendra kira papanya tau Firda tadi menangis.


" Kenapa kamu diam saja hah? Papa akan bikin perhitungan sama kamu udah bikin calon mantu Papa nangis," teriak papa marah.


" Hendra ga ngapa- ngapain Firda Pa, Hendra cuma ga mau diajak keluar makan dan nonton sama dia, Hendra sibuk."


" Firda tadi bilang ke Papa, kamu ga suka dia datang ke kantor kamu."


" Emang Hendra ga suka."


" Papa yang suruh Firda menemui kamu."


"Jangan paksa Hendra Pa...


" Papa ga mau tau, pokoknya kamu harus sama Firda, dan satu lagi... kamu harus minta maaf sama Firda sudah buat dia nangis..."


Papa Hendra lalu menutup sambungan teleponnya, Hendra hanya bisa menghela napas panjang.


Suasana hatinya kembali memburuk, ingin rasanya dia membanting semua benda yang ada di depannya.


Hendra kesal...


Andai Papa tidak egois...ia sudah mengungkapkan perasaan cintanya pada Lusiana.


Tadi hampir saja ia keceplosan di depan Lusiana.


Hampir saja Hendra mengungkapkan perasaannya pada Lusiana.


Dan Hendra tak ingin itu terjadi, ini tentu akan menambah rumit hubungannya dengan papanya.


Hendra harus menyelesaikan dulu masalahnya dengan Firda.


Ia tidak ingin Lusiana nantinya malah ikut terlibat dalam masalahnya yang rumit.


Ia tidak ingin melibatkan Lusiana dan nanti malah membuat gadis itu terkena masalah.


Papanya pasti akan menyulitkan gadis itu.


Andai saja Papa memberikan kebebasan pada Hendra untuk memilih...

__ADS_1


...................................


Lusiana sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.


Sudah jam lima sore, waktu jam kerja berakhir.


Ia masih menunggu Mbak Tin membereskan peralatan kerjanya.


Lusiana menghampiri meja kerja Mbak Tin.


" Udah kelar mbak Tin?" tanya Lusiana.


" Udah Lus," jawab mbak Tin tersenyum.


" Ayo mbak Tin."


" Buru- buru amat Lus, tumben..."


" He...he...enggak juga mbak Tin, emang keliatan lagi buru- buru?"


" Mbak cuma menebak aja, he....he...," balas mbak Tin meledek Lusiana.


Lusiana dan mbak Tin berjalan keluar kantor mereka diikuti dengan teman- teman sekantor mereka yang lainnya.


Lusiana dan mbak Tin keluar dari pintu gerbang kantor, mereka berjalan beriringan di trotoar...menuju tempat mangkal angkot sambil mengobrol ringan.


Tin....tin...


Lusiana dan mbak Tin kaget, lalu spontan menoleh ke arah suara klakson.


Di samping mereka, tampak sebuah sedan putih berjalan pelan...


Menyembul kepala seseorang dari jendela depan mobil, setelah kacanya terbuka perlahan.


" Bang Vino.....," Lusiana merasa surprise. Abang bungsunya tiba- tiba menjemputnya pulang kerja.


" Kapan Abang pulang?" tanya Lusiana girang.


" Masuk dulu ke mobil... kita ngobrol di dalam mobil aja. Ayo mbak Tin...silahkan masuk," kata Vino pada Lusiana dan mbak Tin yang memang sudah dikenal Vino.


" Tapi ga ngerepotin nanti melewatin rumah kalian anterin mbak," jawab mbak Tin.


" Ga pa- pa mbak, ayo naik..."


" Makasih..."


Lusiana dan mbak Tin lalu masuk dan duduk di bagian belakang.


Mobil sedan itu lalu melaju dengan santai.


" Oh ya, ini kenalin teman Abang, Dirga...


dan ini adek aku Lusiana sama mbak Tin bro.." ucap Vino mengenalkan temannya yang sedang sibuk menyetir.


" Halo....," sahut Dirga.


" Halo juga," jawab Lusiana dan mbak Tin serempak.


" Ngomong- ngomong kapan Bang Vino pulang? kok ga kasih kabar dulu?"


" Tadi siang udah nyampe ke rumah sekitar jam dua belas."


" Terus mbak Wita sama anak- anak ditinggal di Cianjur atau ikut Bang Vino?"


" Mbak Wita lagi anterin kedua ponakanmu ke Bali, lagi ada semacam study tour di sekolah mereka, Abang lagi ambil cuti daripada bengong sendirian di rumah mending Abang main ke sini."

__ADS_1


" Terus kok ga kasih kabar, tau - tau udah nongol aja...."


" Sengaja, biar kasih kejutan sama mama dan kamu Lus."


" Kamu udah punya pacar belum Lus? kata mama kamu lagi dikejar- kejar banyak cowok tuh," ledek Vino.


" Bang Vino...malu...," Lusiana melirik ke arah Dirga yang senyum- senyum.


" Malu sama siapa? malu sama teman Abang ini?" ledek Vino lagi.


Lusiana mukanya merah menahan malu. Bang Vino nya ada- ada saja.


" Abang kasih tau ya, ini Dirga masih single, lagi cari isteri. Kamu mau ga Abang jodohin sama dia?" tawa Vino bergema memenuhi mobil yang mereka tumpangi.


" Bang Vino...," muka Lusiana sudah memerah seperti tomat karena ulah abangnya.


Mbak Tin ikutan tertawa melihat tingkah laku dua kakak adik ini.


Sementara Dirga hanya tersenyum simpul dan tetap fokus menyetir.


Dirga adalah teman Vino semasa kuliah.


Lusiana tidak terlalu mengenal teman- teman Vino karena mereka kalau bertemu biasanya di luar rumah.


Kalaupun ada yang pernah main ke rumah, Lusiana tidak mengingat mereka.


" Dirga ini dulu pernah main ke rumah kita Lus, mungkin kamu udah lupa."


" Emang mas Dirga tinggal di mana?"


" Aku tinggal di Pangkalpinang Lus," jawab Dirga.


" Bos toko emas Lus, banyak emasnya dia...ha....ha....," Vino tertawa.


" Kamu bisa aja Vin, jangan didengerin Lus. Abangmu ini pinter "ngejatohin" orang," ucap Dirga terkekeh.


" Tapi soal lagi cari isteri beneran kan? ha...ha..."


" Jangan bongkar aib...malu...," Dirga menjawab candaan Vino.


" Kalian berdua cocok...dua- duanya tau malu...ha....ha..."


Mbak Tin yang dari tadi diam ikut tertawa lebar...


" Mbak Tin, Lusiana gimana menurut mbak Tin cocok ga sama Dirga?" tanya Vino pada mbak Tin.


" Cocok...yang satu cantik, yang satu ganteng," jawab mbak Tin jujur.


" Tuh kan, kamu denger ga tuh bro apa kata mbak Tin?"


" Udah bro, kasian Lusiana dari tadi kamu godain abis."


Vino tertawa terbahak, bahagia sekali dia sudah " mempermalukan" adik kesayangannya.


Lusiana geram melihat abangnya ini.


"Awas Bang Vino kalau udah di rumah nanti," ujarnya dalam hati.


Kakak adik ini dari dulu memang rame kalau sudah bertemu.


Lusiana si bungsu memang dari kecil suka menjadi " korban" kedua abangnya.


Kedua abangnya memang suka meledeknya....sampai kadang Lusiana mengadukan tingkah kedua abangnya pada mama atau papa mereka.


Kedua abangnya akan diam kalau sudah diomelin mama atau papa mereka.

__ADS_1


__ADS_2