
Setelah mempertimbangkan baik dan buruknya, akhirnya Beyudha menemui Dicky Praditha untuk menceraikan Firda.
Melda, Hendra, dan Firda diajak untuk mendengar keputusannya.
" Mengapa begitu mendadak Bey? apa kata orang- orang nanti dengan perceraian ini? mereka menikah baru seumur jagung," tukas Dicky.
" Aku sudah tidak bisa mentolerir perselingkuhan Firda Dic...kalau ia dugem, mabuk- mabukan aku masih bisa menahannya...tapi ini dia berani secara terus terang mengakui ia sudah tidur dengan laki- laki itu," ketus Beyudha.
Dicky menggeretakkan gerahamnya, ia malu dengan tingkah laku Firda.
Firda sudah melemparkan kotoran ke mukanya, Dicky merasa harga dirinya sudah jatuh seketika karena ulah Firda.
Sumi hanya diam, ia tidak banyak bicara.
Selama ini Sumi sudah melarang Firda untuk bergaul sesuka hatinya, tapi Dicky suaminya terlalu memanjakan Firda.
Firda tidak pernah bersikap dewasa, ia terlalu larut dalam dunia gemerlapnya.
"Apakah Hendra tidak bisa memaafkan Firda ?" tanya Dicky pada Hendra.
"Maaf Dic, aku sendiri yang meminta Hendra untuk segera menceraikan Firda...pernikahan mereka sudah tidak sehat," jawab Beyudha tegas.
Dicky menghela napas panjang, ia tidak menyangka Firda bisa berbuat sejauh itu.
Dicky tidak bisa memaksa Beyudha untuk menarik keputusan yang sudah ia buat, semuanya memang salah Firda.
Firda yang duduk tertunduk di depan mereka pun, tidak banyak membela dirinya.
Hendra hanya diam, papanya yang memaksanya menikah dengan Firda dan biar papanya juga yang menyelesaikan masalah yang sudah ia buat.
"Firda...mengapa kamu lakukan semua ini?" bentak Dicky geram.
"Maafkan Firda Pa...," air mata Firda menetes.
Ia sudah mengakui semuanya, sudah tidak ada jalan lagi untuk mempertahankan pernikahan yang sudah ia rusak.
"Siapa laki- laki yang sudah tidur denganmu itu?" bentak Dicky.
"Rian Pa...," Firda terisak.
"Rian yang dulu pernah kemari?" tanya Dicky.
Firda mengangguk...
"Dasar anak tidak tau diri," bentak Dicky, ia sangat malu.
"Plak...." Dicky menampar Firda.
Sumi segera memeluk Firda...
"Sudah Pa....Firda memang bersalah...tapi kita yang paling bersalah di sini...kita yang sudah terlalu memanjakannya," ujar Sumi.
Firda tersedu....belum pernah papanya berbuat kasar padanya apalagi sampai menamparnya.
Hari ini papanya sudah menampar pipinya karena marah dengan kelakuannya.
"Sudah Dic...kita selesaikan saja semuanya, nanti saya akan minta kuasa hukum saya untuk mengurus perceraian mereka," sela Beyudha yang melihat situasi memanas.
" Maafkan kami Bey...kami tidak bisa mendidik Puteri kami," akhirnya Dicky berkata lesu.
Beyudha menepuk bahu Dicky...
"Sudahlah...nasi sudah menjadi bubur," ujar Beyudha.
__ADS_1
"Firda, hari ini kami kembalikan kamu dalam keadaan baik pada kedua orang tuamu..," Beyudha memandang Firda yang masih tersedu.
"Setelah ini saya harap kamu bisa berubah....kamu seorang perempuan...sekali namamu rusak...susah untuk diperbaiki," nasehat Beyudha pada Firda.
"Baiklah...urusan kita sudah selesai...saya harap tidak ada rasa dendam di antara kedua keluarga kita," imbuh Beyudha pada Dicky.
"Maafkan kami Bey...," ucap Dicky menyesal.
"Kita lupakan saja semuanya," jawab Beyudha.
Dicky mengangguk.
"Baiklah...kami permisi dulu," pamit Beyudha.
Beyudha, Melda, dan Hendra berdiri lalu mereka meninggalkan rumah megah kediaman seorang Dicky Praditha.
********
Perasaan Lusiana entah mengapa hari ini tidak enak.
Pagi ini Aldo mengabari Lusiana ia akan melakukan perjalanan ke kota Mentok, kota yang ada di bagian barat Pulau Bangka itu.
Aldo akan pergi bersama dengan sekretarisnya Yanti karena ada urusan pekerjaan di kota itu.
Ternyata Tante Linda juga ikut dengan mereka, kata Aldo Tante Linda ikutan nebeng karena mau menjumpai sepupu jauhnya yang ada di kota Mentok.
Lusiana menyibukkan diri dengan pekerjaan untuk melupakan perasaan tidak enaknya.
Hari ini Lusiana sempat melihat wajah bosnya, Hendra terlihat lebih cerah.
Sudah lama Lusiana melihat Hendra dengan tampang yang kusut.
Hendra juga sempat melempar senyumnya pada Lusiana saat berjalan masuk menuju ruangannya.
"Apa mas Hendra sudah rukun sama Firda?" pikir Lusiana dalam hatinya.
"Semoga mas Hendra bisa bahagia dengan pernikahannya," doa Lusiana tulus.
Lusiana tidak tau, Hendra sudah bersiap untuk bercerai dari Firda.
Hendra terlihat lebih bahagia, karena papanya lah yang meminta Hendra menceraikan Firda.
Setelah lama hidup dalam pernikahan semu, akhirnya Hendra bisa terlepas dari belenggu yang membuatnya selama ini seakan susah untuk bernapas.
Hendra sudah siap menduda, itu lebih baik dari pada harus menjalankan status sebagai suami tapi tidak ada rasa cinta di hatinya terhadap isteri pilihan papanya itu.
"Lus...ke ruangan saya sebentar," Hendra menelepon Lusiana.
"Baik Pak," jawab Lusiana.
Tok...tok...tok...
Lusiana mengetuk pintu ruangan Hendra, ia masuk setelah Hendra menyuruhnya untuk masuk.
"Duduk Lus," suruhnya.
"Ada apa Pak? eh mas..?" tanya Lusiana.
Hendra tersenyum, Lusiana kalau di kantor sering lupa memanggilnya Pak atau mas.
"Mas Hendra terlihat bahagia hari ini?" tanya Lusiana.
"Coba tebak Lus, apa yang membuatku bahagia?" Hendra balik bertanya.
__ADS_1
"Mas Hendra sudah rukun sama Firda?" tebak Lusiana.
Hendra langsung terdiam, Lusiana jadi salah tingkah. Apa tebakannya salah?
Hendra yang melihat Lusiana salah tingkah, lalu tertawa.
"Kamu lucu Lus, masih gemesin," ujar Hendra.
Lusiana menjadi bingung dengan sikap Hendra, tadi terlihat serius sekarang malah menertawakannya.
"Apa ucapan saya salah mas?" tanya Lusiana bingung.
"Tebakan kamu salah total," jawab Hendra.
"Lalu...? yang benar apa?" tanya Lusiana penasaran.
"Aku mau bercerai dari Firda...bayangkan Lus...papaku sendiri yang memintanya," jawab Hendra terlihat senang.
"Hah? benarkah?....kok bisa?" tanya Lusiana.
"Kan sudah kubilang Lus, aku akan membuka semua keburukan Firda di depan papa....puncaknya Firda mengakui ia sudah berselingkuh dengan laki- laki lain," cerita Hendra.
Lusiana membulatkan matanya, ia benar- benar kaget mendengar cerita dari Hendra.
"Aku akhirnya bisa bebas dari penyihir itu," tambah Hendra.
Kring.... ponsel Lusiana berbunyi.
"Tunggu bentar mas...," kata Lusiana.
Lusiana mengeluarkan ponselnya dari dalam saku bajunya.
"Herman...?" Lusiana mengerenyitkan dahinya, ada apa Herman mencarinya di jam kerja begini.
Perasaan Lusiana kembali tidak enak..
"Halo Her...ada apa?" tanya Lusiana tanpa basa- basi.
"Lus....," suara Herman tercekat, ini membuat jantung Lusiana berdetak kencang.
"Lus....maaf mengganggumu...ada kabar buruk Lus...tolong kuatkan hatimu," suara Herman terdengar parau.
"Iya Her katakan ada apa?" tanya Lusiana tidak sabar.
"Mobil yang mem...bawa Aldo, Yanti, dan Tante Linda menga..lami kecelakaan," Herman menjawab terbata.
"Apa? lalu bagaimana keadaan mereka? Aldo bagaimana?" Lusiana bertanya dengan tangan gemetar.
Hendra yang melihat Lusiana yang panik, langsung bangun dari duduknya dan mendekati Lusiana.
Air mata Lusiana sudah turun dengan deras, ia tidak sanggup mendengarkan lagi.
Lusiana lemas, Hendra mengambil alih ponsel Lusiana.
"Halo maaf saya Hendra, atasan Lusiana...bisa tolong jelaskan apa yang terjadi...Lusiana terlihat shock," tukas Hendra.
"Iya begini, saya Herman sepupu Aldo...Aldo, Yanti , dan Tante Linda mengalami kecelakaan...tadinya mereka menuju ke arah Mentok, mereka saat ini sudah dibawa pakai ambulance ke rumah sakit Timah," Herman menjelaskan.
"Bagaimana keaadaan mereka? parahkah?" tanya Hendra cemas, ia mencemaskan Aldo.
"Yanti sepupu Lusiana yang juga pacar saya mengalami luka ringan begitu juga dengan mamanya Tante Linda, tapi Aldo...," Herman tidak bisa meneruskan ucapannya.
"Aldo bagaimana?" tanya Hendra dengan suara agak keras, ia mencemaskan Aldo....kalau terjadi sesuatu pada Aldo kasihan Lusiana.
__ADS_1
"Aldo....