Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Hendra:


__ADS_3

Aku pulang dengan terburu- buru, mama menyuruhku belanja di swalayan "Bangka Enak" untuk membeli kemplang panggang kesukaannya.


Di sana, aku tanpa sengaja bertemu dengan Lusiana. Ia bersama abangnya dan seorang laki-laki gagah yang dikenalkan padaku dengan panggilannya Mas Dirga.


Entah apa hubungan laki- laki itu dengan Lusiana, entah kerabat atau teman.


Laki- laki itu terlihat tampan dengan rambutnya yang dicepak rapi. Terlihat kematangan dalam pembawaan laki- laki itu.


Walaupun hanya bertemu sepintas, tapi bisa ku lihat lelaki itu melihatku dengan tatapan penuh "penilaian" terhadapku.


Entah itu hanya perasaanku saja, aku hanya sebentar berkenalan dan bersalaman dengan laki- laki itu.


Aku lalu berpamitan dengan Lusiana karena sudah ditunggu mamaku.


Setelah sampai di rumah, aku melihat ada mobil tamu yang terparkir di halaman rumah.


Aku masuk dan ku lihat tiga orang tamu yang sedang duduk mengobrol ditemani mama dan papa.


" Itu anaknya nongol," ucap papa setelah melihatku.


Ternyata Firda dan kedua orang tuanya yang berkunjung ke rumahku.


Perasaan tidak suka berusaha aku sembunyikan, aku menyapa dan menyalami Om Dicky dan isterinya, Tante Sumi.


" Udah lama Om..Tante?" tanyaku berbasa- basi.


" Lumayan...," jawab Om Dicky tertawa.


Firda menatapku dengan senyum, aku hanya menganggukkan kepala padanya.


Kalau saja aku tau mereka sedang ada di rumahku, mungkin tadi aku tidak akan buru- buru pulang.


" Duduk sini Hen..." perintah papa.


" Tunggu pa, Hendra simpan belanjaan Hendra dulu," jawabku sambil menenteng belanjaan ku ke arah dapur.


Lumayan untuk mengulur waktu, aku juga mau cuci tangan dulu.


Malas aku dekat- dekat dengan Firda. Dari kejadian waktu Firda berkunjung ke kantorku aku tambah "Il Fil" padanya.


Tukang ngadu...aku ingat dia mengadukanku pada papa.


Aku berlama- lama di dapur.


"Nak....," mama datang menghampiriku.


" Duduk di depan yuk, papa bisa marah kalau kamu ga keluar," bisik mama padaku.


" Tapi ma...."


" Sudah...mengalah aja dulu. Ga enak sama Om Dicky dan Tante Sumi," kata mama lembut menepuk bahuku.


"Ayo...," mama menarik tanganku.


Aku terpaksa mengekori mama di belakang.

__ADS_1


Aku lalu duduk di sebelah mama.


" Lama banget sih sayang....kirain udah tidur," sindir Firda.


Aku menatapnya tidak suka, tapi ia sepertinya pura- pura tidak tau.


" Gimana rencana kita untuk membuat acara tunangan anak kita?" tanya Om Dicky pada papa.


" Semakin cepat semakin bagus," jawab papa tertawa.


" Maaf Om...saya belum menyetujui hal ini," ucapku menyela ucapan papa.


Papa mendelik padaku, mukanya merah padam. Ia terlihat menahan marah.


" Emangnya kenapa Hen? ada masalah apa?" Tante Sumi mengerenyitkan dahinya.


"Saya bukannya menentang Om dan Tante, tapi saya hanya mengganggap Firda tak lebih dari seorang teman," jawabku tegas.


" Kamu...," papa membentak ku.


" Udah ga apa- apa Bey...mungkin Hendra masih butuh waktu," Om Dicky menengahi.


" Apa lagi yang kamu tunggu?" papa menunjukku.


Mama mengelus tangan papa untuk menenangkannya yang sudah emosi.


" Maaf Om, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Om, Tante, dan Firda...tapi tolong hargai perasaan saya," ucapku hati- hati.


" Kami mengerti Hen...kami tidak memaksa kalian untuk menikah dalam waktu dekat. Kalian bisa saling dekat untuk lebih mengenal satu sama lain terlebih dahulu baru kemudian tunangan dan menikah," Tante Sumi menambahkan.


" Papa tidak mau mendengar alasan apapun lagi," papa memotong ucapan ku.


" Udah sayang... aku bersedia sabar kok," Firda mengedipkan mata padaku.


Aku menahan emosiku, aku tidak mau bertengkar dengan papa di depan Om Dicky dan Tante Sumi.


Aku masih menjaga "muka" papaku di depan mereka.


Kalau tidak demi menjaga perasaan mereka yang ada di sini, Firda pasti sudah ku tolak mentah- mentah.


Aku juga melihat mama menggelengkan kepalanya, mama pasti tidak ingin aku bicara keras di depan para tamu kami itu.


" Ya udah...kalau begitu kami permisi pulang dulu," ucap Om Dicky akhirnya.


...............................


Selepas para tamu kami pulang, aku sudah bersiap- siap untuk menerima kemarahan papa.


" Kamu benar- benar ya.....bikin papa marah," papa menunjuk jarinya ke wajahku.


" Dari awal Hendra udah bilang pa jangan paksa Hendra," jawabku.


" Apa kurangnya Firda hah? kamu mau cari yang bagaimana lagi? oh...papa tau ini pasti kamu sudah jatuh cinta sama pegawai kamu itu. Kamu suka Lusiana kan?"


" Tolong jangan bawa- bawa Lusiana pa, dia tidak tau apa- apa, ini ga ada hubungannya sama Lusiana," jawabku.

__ADS_1


Aku khawatir papa akan menyusahkan Lusiana, kasihan dia yang tidak tau apa- apa akan kena getahnya.


" Kalau memang bukan karena Lusiana, segera tunangan sama Firda," ucap papa.


" Tolong pa, jangan paksa Hendra...," aku memohon pada papa.


"Papa lakukan untuk kebaikan kamu, papa mau kamu menerima Firda, dia dari keluarga yang sudah jelas bibit, bebet, dan bobotnya."


Lagi- lagi papa selalu membicarakan bibit, bebet, bobot yang membuat aku muak.


" Firda bukan gadis polos seperti yang papa pikirkan," jawabku.


" Apa maksudmu? dia anak gadis dari Dicky teman yang sudah papa kenal lama."


" Dia bukan tipe Hendra Pa."


" Oh tipe kamu yang seperti Lusiana hah? dari keluarga biasa- biasa saja, pegawai rendahan...mau papa taruh di mana muka papa ini hah?" papa memandangku sinis.


" Tolong jangan memandang rendah seorang pegawai Pa....tanpa mereka perusahaan kita ga akan bisa jalan," bela ku.


" Mau taroh di mana muka papa hah? putera seorang Beyudha menikahi pegawainya, memalukan....."


"Pa...sudah...jangan marah- marah terus, nanti darah tinggi," mama akhirnya bicara setelah dari tadi jadi pendengar saja.


" Gimana papa ga marah ma? anakmu ini menolak Firda...entah ada apa dalam pikirannya itu."


" Hendra sudah dewasa, biarkan saja dia yang memutuskan," mama berkata lembut pada papa.


" Tapi Dicky adalah teman baik papa ma, papa ga mau mengecewakannya...."


" Papa lebih mentingin perasaan teman papa dibandingin perasaan anak papa sendiri," celetukku.


" Papa ingin kamu mendapat pasangan yang terbaik buat kamu...dari keluarga terpandang dan terhormat..."


"Walaupun tanpa cinta pa?" ucapku.


" Cinta bisa timbul belakangan."


"Papa dan mama dulu menikah juga tanpa cinta, buktinya kemudian kami bisa saling mencintai," ucap papa lagi.


" Tapi kan tidak semua sama kayak mama dan papa," bantahku.


"Sudahlah....papa jadi sakit kepala bicara sama kamu....mulai besok kamu deketin Firda. Om Dicky memaklumi kalau kamu belum mau tunangan dalam waktu dekat."


" Papa harap kamu bisa bersikap baik pada Firda...tidak menolaknya..."


Papa tetap keras kepala, semua perkataannya tidak bisa dibantah...


Aku tidak tau apa yang harus kulakukan.


Aku membenci keadaan ini, aku hanya ingin bersama Lusiana, bukan Firda.


Aku tidak bisa memutuskan kebahagiaan untuk diriku sendiri.


Tidak bisa memilih pasangan hidup pilihan hatiku sendiri.

__ADS_1


Nasib....nasib....


__ADS_2