
Aldo membawa pengacara yang menjadi temannya itu.
Lusiana menemani Desi bertemu dengan mereka di sebuah kafe.
"Kenalkan ini temanku Nelson, Son...kenalkan ini Lusiana, dan ini Desi yang ingin menggugat cerai suaminya," Aldo mengenalkan mereka bertiga.
Mereka saling memperkenalkan diri dengan berjabat tangan.
"Baiklah sedikit banyak saya sudah mengerti permasalahan Saudari Desi...menurut hukum diperbolehkan untuk menggugat cerai walaupun dalam kondisi hamil."
"Cuma biasanya di saat sidang di pengadilan, hakim tetap akan memberi waktu untuk kedua pasangan...berharap bisa berdamai dan membatalkan perceraian."
"Akan tetapi bila salah satu tetap bersikeras untuk melanjutkan perceraian, biasanya sidang akan tetap dilanjutkan."
"Biasanya suami isteri juga akan ada pembagian harta gono- gini masing- masing lima puluh persen, kecuali jika ada perjanjian pra nikah."
"Saya mau tanya, apakah saudari Desi sebelumnya ada membuat perjanjian pra nikah dengan suami?" tanya Nelson setelah menjelaskan panjang lebar.
"Tidak ada Pak Nelson," jawab Desi.
Nelson mencatat pernyataan Desi di buku agendanya.
"Untuk mempermudah gugatan cerai, kalau bisa saudari Desi membuat alasan menggugat cerai secara tertulis...nanti saya akan bantu buatkan."
"Karena ini kasus perselingkuhan suami, kalau bisa siapkan tiga orang yang bisa bersaksi untuk memperkuat pernyataan saudari Desi sebagai bukti memang benar suami saudari Desi sudah berselingkuh."
Desi memandang Lusiana, ia bingung harus mencari siapa yang tau dengan perbuatan suaminya.
"Lus...kira- kira siapa yang bisa menjadi saksi?" Desi tidak bisa berpikir, pikirannya buntu.
Lusiana berpikir sejenak, lalu ia tersenyum.
"Aku tau Des pas jumlahnya tiga orang," jawab Lusiana.
"Siapa Lus?" tanya Desi penasaran.
"Aku dan mas Hendra...aku bisa katakan pada hakim Pak Nino mengejar- ngejarku dan tidak pernah mengatakan ia sudah beristeri...mas Hendra waktu di rumahku pernah hampir bertengkar dengan Pak Nino," terang Lusiana.
"Dan satu lagi siapa Lus?"
"Mona...kamu bisa minta bantuan Mona Des...," jawab Lusiana.
"Betul juga Lus, kamu pintar...aku ga kepikiran sama sekali," puji Desi, ia bersyukur bisa berteman dengan Lusiana.
"Sekarang saya tinggal daftarkan gugatan perceraian di pengadilan, tolong berkas- berkas ini ditandatangani," Nelson memberikan beberapa lembar kertas untuk Desi.
Desi membaca sekilas, lalu ia menandatanganinya.
"Dokumen pelengkap lain akan saya info kan lewat pesan WhatsApp, ini kartu nama saya...nanti tolong nomor saudari Desi dikirimkan ke saya," tambah Nelson.
"Baik Pak, makasih atas bantuannya," jawab Desi.
__ADS_1
"Oke kalau begitu saya permisi dulu, masih ada janji...ayo Al...aku cabut dulu," Nelson menepuk bahu Aldo.
"Makasih bro, hati- hati di jalan," jawab Aldo.
"Lus, kalian mau balik atau gimana? aku anterin," tawar Aldo.
"Kalau ga ngerepotin Al," jawab Lusiana.
"Aku masih ingin minta saran pada Lusiana Al...," kata Desi pada Aldo.
"Bagaimana kalau ngobrolnya di rumah Lusiana aja, nanti aku sama Lusiana anterin kamu pulang Des," saran Aldo.
"Apa ga ngerepotin Al?" tanya Lusiana tidak enak.
"Ga kok, santai aja," jawab Aldo tersenyum.
"Oke kalau begitu."
Aldo membayar minuman mereka di kasir lalu mereka pulang ke rumah Lusiana.
Sesampainya di rumah Lusiana...
"Des, tadi kamu mau ngomong apa?" tanya Lusiana.
"Aku bingung Lus, aku tidak mau tinggal bersama mas Nino lagi...tapi aku bingung mau tinggal di mana sementara aku sudah tidak punya siapa- siapa lagi," Desi terlihat sedih dan bingung.
"Setelah bercerai pun aku tidak mengharapkan pembagian harta gono- gini, bukan harta yang aku mau," ujar Desi.
"Betul apa yang dikatakan Lusiana Des, kamu tidak salah bila menerima pembagian harta dari suamimu karena kamu punya anak yang menjadi tanggung jawab Nino," Aldo ikut bicara karena melihat Desi yang polos.
Desi hanya mengangguk, ia baru terpikir benar juga apa yang disampaikan Lusiana dan Aldo.
Desi kembali merasa bersyukur, ada teman- teman yang baik yang mau membantunya.
Kalau sendiri, mungkin Desi tidak pernah kepikiran untuk menuntut hak anaknya.
"Mengenai tempat tinggal, kamu mungkin bisa tinggal di rumahku Des kalau kamu mau...mama pasti tidak keberatan...bentar ya aku panggil mama untuk ngobrol sama kita," kata Lusiana lalu ia berlalu ke ruang tengah memanggil mamanya.
Lusiana memberitahu pada mamanya, dan mama Lusiana tidak keberatan.
Mama Lusiana lalu bergabung dengan mereka ngobrol di ruang tamu.
"Tante senang kalau Desi mau tinggal di sini," ujar mama Lusiana.
Desi terisak...ia tidak menyangka, ia bisa diterima untuk tinggal bersama Lusiana dan mamanya.
Padahal mereka tidak ada hubungan apa- apa, berteman pun belum lama.
"Lho...mengapa kamu menangis Nak?" tanya mama Lusiana bingung.
"Saya tidak menyangka, dengan mudahnya Tante mau menerima saya di sini...padahal Tante belum begitu mengenal saya," jawab Desi mengusap air matanya.
__ADS_1
"Udah jangan menangis Des...kasian anakmu...," hibur Lusiana.
"Makasih ya Lus...Tante...," ucap Desi.
"Kapan kamu mau pindah ke sini Des?" tanya Lusiana.
"Tapi apakah tidak merepotkan Lus, saya sedang hamil dan saya ga punya kerjaan," Desi masih ragu.
"Ga usah dipikirin Des...aku masih sanggup kalau hanya untuk beli makan untuk kita bertiga...nanti baru dipikirin misalkan kamu mau cari penghasilan...pelan- pelan saja," jawab Lusiana tulus.
"Makasih Lus...tapi aku tetap ingin punya penghasilan sendiri Lus...aku kan butuh untuk menghidupi anakku nanti," ujar Desi.
"Sementara ga usah dipikirin dulu Des...aku akan bantu mencukupi kebutuhan kamu," jawab Lusiana.
Desi memeluk Lusiana haru, Lusiana menerimanya tanpa syarat.
Lusiana menepuk lembut punggung Desi.
"Makasih ya Lus," ucap Desi.
"Udah Des....aku ga punya kakak perempuan...anggap aja aku ini adikmu," tukas Lusiana.
Mama Luaiana dan Aldo tersenyum melihat adegan haru di depan mereka.
"Jadi kapan kamu mau pindah ke sini Des?" tanya Lusiana lagi.
"Kalau boleh besok aja Lus, biar aku siapin baju- bajuku dulu," jawab Desi.
"Ya udah terserah kamu saja mana baiknya Des," tambah Lusiana lagi.
"Oke Lus, bolehkah aku pulang dulu Lus, aku ingin istirahat capek rasanya," ucap Desi.
"Ayo Lus, kita antar Desi...," ajak Aldo.
"Yuk...ma Lusi ikut Aldo antar Desi dulu ya," pamit Lusiana pada mamanya.
"Tante...Desi pamit dulu...makasih untuk semuanya," ucap Desi.
"Iya Des, besok kamu datang bagaimana?" tanya mama Lusiana.
"Saya bisa naik taxi online Tante," jawab Desi.
Aldo dan Lusiana lalu mengantar Desi pulang.
Setelah sampai di rumah Desi, tidak nampak ada Nino di situ.
"Pak Nino tidak pulang Des?" tanya Lusiana.
"Entahlah Lus, aku sudah tidak peduli lagi dia mau pulang atau ga...biarkan saja semau dia," jawab Desi.
"Baiklah Des, besok langsung datang aja ke rumah...aku mungkin masih kerja saat kamu datang...tapi mama ada di rumah," pesan Lusiana.
__ADS_1
"Oke Lus...."