Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
Aldo pergi


__ADS_3

"Aldo....dia...


"Apa yang terjadi sama Aldo?" Hendra berteriak dengan suara agak keras, Hendra tidak sabar mendengar Herman yang terbata.


"Sebaiknya Lusiana datang kemari," jawab Herman.


" Ya udah saya akan bawa Lusiana ke sana secepatnya," Hendra menutup telepon.


"Minum dulu Lus biar tenang," Hendra mengambil sebotol air mineral yang ada di atas mejanya.


Hendra membuka tutup botol itu, lalu memberikannya pada Lusiana.


"Bagaimana dengan Aldo mas Hendra?" Lusiana bertanya dengan berderai air mata.


"Aku antar kamu ke rumah sakit Timah sekarang," Aldo meraih ponselnya yang ada di atas meja, lalu menarik tangan Lusiana.


***********


Sesampainya di UGD, Hendra dan Lusiana bergegas mencari Herman.


Herman yang sedang mondar- mandir melihat kedatangan mereka.


Herman tampak habis menangis, matanya merah.


"Kemari...," lambai Herman pada Hendra dan Lusiana.


Hendra memapah Lusiana yang tampak gemetar, Lusiana sudah memikirkan hal yang buruk terjadi pada Aldo.


Hendra yang memapah Lusiana mengekori Herman, mereka mengikuti dari belakang.


Lusiana melihat orang tua Aldo yang sedang menangis, jantung Lusiana berdetak kencang.


" Itu Aldo," tunjuk Herman pada sesosok tubuh yang sudah ditutupi kain putih.


Seketika tangis Lusiana meledak, ia tidak menyangka akan secepat itu Aldo pergi meninggalkannya.


Mama Aldo juga menangis dengan dipeluk oleh papa Aldo.


Herman membuka kain putih yang menutup wajah Aldo, Aldo memejamkan mata seperti orang yang sedang tidur.


Tampak ada bekas luka di kepala Aldo.


Lusiana memeluk tubuh kaku Aldo, air matanya tumpah.


Sementara Herman juga menangis, hubungan keduanya sudah seperti saudara kandung, Herman sangat merasa kehilangan.


Hendra menenangkan Lusiana, ia menepuk- nepuk pelan punggung Lusiana.


Hendra merasa prihatin melihat kondisi Aldo, ia pergi begitu cepat.


Hendra begitu mengkhawatirkan kondisi Lusiana yang terlihat terpukul.


Mama Aldo lalu datang mendekati Lusiana, ia memeluk Lusiana.

__ADS_1


Lusiana membalas pelukan mama Aldo, mereka saling bertangisan.


Suasana duka langsung terasa di ruangan itu.


********


Proses pemakaman Aldo baru saja selesai, para pelayat satu persatu meninggalkan tempat itu.


Cuma tinggal saudara dan teman- teman dekat saja yang masih berada di sana.


Yanti dan Tante Linda tampak juga menghadiri pemakaman, pelipis Yanti dan Tante Linda masih tertutup perban.


Lusiana dipeluk oleh mamanya, Dirga dan Hendra menemani di sisi mereka.


Tante Linda menatap Lusiana dengan tatapan penuh kebencian, ia mendekati Lusiana yang masih terisak.


Tante Linda mendorong tubuh Lusiana, ia hampir terjengkang kalau saja tidak ditangkap oleh Dirga.


"Kamu kenapa Lin? Lusiana masih berduka," tegur mama Lusiana tidak suka.


"Anakmu pembawa sial, Aldo meninggal begitu hari pernikahan mereka sudah dekat," tunjuk Tante Linda.


Mama Aldo yang mendengar Lusiana dibentak oleh Tante Linda langsung mendekat.


" Ini bukan salah Lusiana...sudah kehendak dari Tuhan putera saya harus pergi," bela mama Aldo.


"Kamu masih membelanya? seharusnya kamu membantu saya memakinya....kalau saja Aldo sama Yanti mungkin sudah beda lagi ceritanya," balas Tante Linda.


"Mama jangan bikin malu di sini," Yanti ikut menegur mamanya.


Lusiana semakin tersedu, ia shock dengan tuduhan Tante Linda.


"Siapa bilang tidak ada hubungannya? gadis ini pembawa sial," tunjuk Tante Linda.


Hendra yang mendengar Lusiana dibentak, mengepalkan kedua tangannya...ia sangat marah...andai yang bicara bukan seorang perempuan...Hendra akan langsung menghajarnya.


Hendra menahan kemarahannya, masih banyak yang membela Lusiana, jadi ia hanya menahan diri saja.


"Lihat saja sehabis ini siapa yang akan berani menikahi perempuan pembawa sial seperti kamu," ejek Tante Lusiana.


"Tutup mulut jahat anda! jangan menghina Lusiana....," Dirga buka suara.


Mama Lusiana memeluk Lusiana yang terisak, sementara mama Aldo mengusap punggungnya.


"Dia memang pantas dihina, perempuan pembawa sial...lihat saja aku akan bersumpah dia tidak akan pernah mendapatkan suami...tidak akan ada yang mau menjadi suaminya," sambung Tante Linda sinis.


"Baik....dengar semuanya....aku Dirga yang mau menjadi suami Lusiana...anda dengar? aku akan segera menikahi Lusiana!" lantang suara Dirga.


Hendra kaget mendengarnya, banyak orang yang mencintai Lusiana.


"Apa?" Tante Linda menutup mulutnya.


Papa Aldo maju di depan Tante Linda.

__ADS_1


"Kami masih berduka, tolong jangan membuat keributan....sebaiknya kamu pulang...ingat ini sudah kehendak Tuhan....jangan sudutkan Lusiana....ia sudah seperti Puteri kami sendiri," tukas papa Aldo.


Yanti yang dari tadi menahan rasa malunya segera menarik tangan mamanya.


"Ayo kita pulang ma....mama bisanya selalu bikin onar," omel Yanti.


Tante Linda cemberut, ia akhirnya mengikuti Yanti yang menarik tangannya.


Tante Dewi dan suaminya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah laku calon besan mereka.


"Untung Yanti ga seperti mamanya," gumam Dewi.


*********


"Lus, maafkan mas Dirga ya," ucap Dirga .


"Mas tidak rela melihat kamu dihina dan diinjak- injak," Dirga menjelaskan.


" Tante malah ingin kalian segera menikah Nak Dirga, Linda sudah kelewatan...Tante ingin membuktikan padanya bahwa masih ada yang mau menikahi Lusiana," mama Lusiana yang menjawab.


"Ini terserah Lusiana saja Tan...tapi saya serius dengan ucapan saya," tambah Dirga.


Lusiana yang masih berduka, tidak peduli...ia menyerahkan keputusan pada mamanya.


Air mata Lusiana menetes deras, ia belum bisa percaya Aldo meninggalkannya ketika hari pernikahan mereka yang sudah semakin dekat.


Lusiana terbayang segala kebaikan Aldo padanya, Aldo begitu gigih untuk mendapatkan cintanya dan dengan sabar menunggu sampai Lusiana menerima cintanya.


Setelah ada rasa cinta yang mulai muncul di hatinya, Lusiana terpaksa menelan kepedihan dengan kepergian Aldo.


********


Setelah persidangan yang sudah beberapa kali, akhirnya pengadilan memutuskan Hendra dan Firda resmi bercerai.


Karena bukti- bukti kuat menyatakan Firda selingkuh dan pernikahan mereka tidak memiliki anak, maka hakim memutuskan tidak ada pembagian harta gono- gini.


Firda sudah mengaku bersalah dan selingkuh, sehingga hakim mengambil keputusan demikian.


Hendra sudah resmi menyandang status duda, ia lega sudah terbebas dari belenggu pernikahan.


Setelah pulang dari persidangan, Hendra langsung balik ke kantor dan memarkirkan mobilnya ke depan gerbang kantornya.


Hendra mengeluarkan ponselnya, ia menekan kontak Lusiana.


"Lus, tinggalkan pekerjaanmu....kamu ikut denganku...aku tunggu di mobil, parkir di depan gerbang....sekarang ga pake lama," perintah Hendra.


Lusiana langsung menemui Hendra.


"Masuk Lus, duduk di depan," perintah Hendra yang menurunkan kaca jendela mobil depan.


"Ada apa mas Hendra?" tanya Lusiana ketika sudah duduk di depan.


"Aku hari ini udah resmi menjadi duda, aku ingin merayakannya berdua denganmu....kita jalan dan cari makan ke Pantai Pasir Padi," ujar Hendra yang terdengar girang.

__ADS_1


"Kirain ada apa, jadi aku harus ucapin selamat nih?" tanya Lusiana tersenyum.


"Harus dong....selamat datang kebahagiaan...," ucap Hendra.


__ADS_2