
Tok...tok...
Seseorang menerobos masuk sebelum sempat Hendra persilahkan masuk.
" Hai....."
" Kamu......ngapain ke sini?"
" Galak amat sih...."
Seraut wajah dengan penuh senyum memandang Hendra.
" Saya tanya ngapain kamu ke sini?" tanya Hendra dengan perasaan tidak suka.
Gadis itu langsung duduk di bangku tanpa disuruh.
" Papa kamu yang suruh aku temuin kamu...," jawabnya dengan senyum dikulum.
Hendra memandang Firda dengan kesal.
" Kamu kenapa sih sayang... bukankah aku ini tunangan kamu?"
" Tunangan? sejak kapan kamu jadi tunangan aku?" Hendra menjawab ketus.
" Kok gitu sih sayang, orang tua kita udah setuju kok. Emang papa kamu ga kasih tau kamu?"
Hendra memijit pelipisnya yang tiba- tiba terasa sakit.
Gadis di depannya terlalu berani dan agresif.
" Apa yang papa lihat dari seorang Firda?" ucap Hendra dalam hati.
" Mulai hari ini aku adalah tunangan kamu sayang," Firda tersenyum.
" Aku tidak mau," jawab Hendra.
" Kamu katakan saja sama papa kamu, Mas Hendraku sayang..."
Muka Hendra merah padam, ia menggeretakkan giginya.
Gadis di depannya membuatnya emosi dan jadi sakit kepala mendadak.
Firda, gadis yang duduk di depannya ini seperti gadis yang tidak punya "harga diri".
Dari pakaiannya saja, Hendra dapat menilai sifat dan tingkah laku seorang Firda.
Celana hitam pendek ketat tinggi di atas paha yang dipadukan dengan blus ketat berdada rendah, yang memperlihatkan "sesuatu" yang malah membuat Hendra merasa jijik.
Seorang gadis terhormat tidak akan mengenakan pakaian yang mengumbar bagian tubuhnya.
Mana bibit, bebet, bobot yang papanya agung- agungkan itu?
Bagaimana cara papa menilai kalau seorang Firda pantas dijadikan sebagai menantu?
Hendra menggelengkan kepalanya, kepalanya tambah berdenyut.
" Sayang... kamu kenapa diam saja? kamu ga suka aku datang?"
" Terus terang iya, aku ga suka," ketus Hendra.
Karena emosi, Hendra melupakan segala nasehat mamanya agar menjadikan Firda seorang teman dulu dan membicarakan semuanya secara baik- baik.
Dalam kondisi tertekan, secara refleks Hendra menolak kehadiran seorang Firda.
Bagaimana mau berteman, kalau di dalam hatinya saja sudah ada rasa tidak suka.
Apalagi melihat penampilan Firda yang terlalu terbuka seperti seorang perempuan yang " tidak benar".
__ADS_1
" Sayang...kamu kerjaannya udah selesai?.. kita keluar makan yuk.."
Hendra menatap tajam ke arah Firda, apa gadis itu pura- pura bodoh?
Udah jelas- jelas Hendra bersikap tidak ramah padanya, ia malah mengajak Hendra keluar makan.
" Maaf saya udah makan, udah kenyang."
" Kalau begitu bagaimana kalau nanti malam kita pergi nonton bareng?"
" Sori nanti malam saya ada janji."
" Dengan siapa?... perempuan?"
" Bukan....saya ada janji dengan rekan bisnis."
" Owh... ya udah, lain kali aja kalau begitu..."
" Ga ada lain kali, saya ga mau pergi sama kamu...," jawab Hendra tegas.
" Kok gitu sih.....aku kan tunangan kamu," Firda terlihat kecewa.
" Aku tidak pernah merasa kamu itu tunangan aku..."
" Kamu.....?" mata Firda berkaca- kaca.
Hendra tidak peduli, hatinya kesal.
" Aku laporin kamu ke papa kamu...," Firda mengancam.
" Lapor saja, sekalian laporin juga ke papa mama kamu..." Hendra tidak dapat mengontrol emosi nya lagi.
Ia tidak takut, bodoh amat..... paling ia akan menerima amukan dari papanya.
Firda cemberut....ia menangis lalu bangun dari tempat duduknya sambil menghentakkan kakinya, lalu ia keluar dari ruangan Hendra dengan setengah berlari.
Hendra memijit pelipisnya, kepalanya tambah sakit....
Lusiana melihat seorang gadis yang tadi masuk ke ruangan Hendra.
Semua mata yang ada di ruangan itu memandang gadis itu, ketika ia melewati mereka menuju ruangan Hendra yang berada di belakang.
Gadis itu berpakaian sangat ****. Lusiana hanya melihat sekilas dengan sudut matanya, gadis itu masuk ke ruangan Hendra setelah mengetuk pintu.
Tak berapa lama, Lusiana melihat gadis itu setengah berlari sambil menangis.
Hatinya bertanya apa yang terjadi dengan gadis itu, mengapa menangis setelah masuk dan keluar dari ruangan bosnya?
Apa gadis itu bertengkar dengan bosnya?
"Ah... si bos kan memang galak, mungkin gadis itu habis dimarahin," tebak Lusiana dalam hati.
" Ngapain aku mikirin gadis itu? kan ga ada urusannya sama aku...dasar kepo," Lusiana menepuk jidatnya sendiri.
Tiba- tiba Lusiana dikagetkan oleh dering telepon di meja kerjanya. Ia segera mengangkatnya.
" Lus, tolong ke ruangan saya sekarang," Hendra yang bicara lalu langsung menutup teleponnya.
Lusiana segera beranjak bangun dari kursinya...
Tok.. .tok...tok...
"Masuk...."
Lusiana kemudian masuk ke ruangan bosnya.
Muka Hendra terlihat kusut...
__ADS_1
" Duduk Lus..."
" Ada apa Pak?" tanya Lusiana sambil duduk di bangku di depan meja Hendra.
" Tidak apa - apa, tolong kamu temani saya bentar di sini."
Lusiana tidak berani bertanya lebih lanjut, karena melihat muka Hendra yang kusut dan merah seperti orang habis marah- marah.
Ia hanya diam memandang ke arah Hendra.
" Itu tadi Firda, orang yang mau dijodohin papa sama saya," akhirnya Lusiana mendengar Hendra buka suara.
" Saya tidak suka sama gadis itu, tapi papa saya memaksa saya agar bertunangan sama dia."
Lusiana hanya diam, di kantor ia akan menjaga sikapnya sebagai seorang pegawai.
" Tadi saya bersikap kasar sama dia, saya emosi ga terima dia deketin saya..."
" Dia mengancam akan melaporkan sikap saya pada papa."
" Lalu dia nangis...keluar dari sini. Mungkin kamu udah liat dia keluar dari sini sambil nangis."
" Tapi saya ga peduli...biarin saja."
Lusiana bingung mengapa Hendra menceritakan semuanya padanya.
Toh hal ini ga ada hubungannya sama Lusiana.
" Mungkin si bos lagi curhat butuh teman," pikir Lusiana.
" Menurut kamu, apa sikap saya udah benar Lus?"
Lusiana berpikir dulu sebelum menjawab, ia takut salah memberi jawaban.
" Salah kalau bapak selesaikan masalah dengan marah- marah," jawab Lusiana setelah berpikir sejenak.
" Tapi saya emosi Lus, saya ga bisa berpura- pura suka kalau saya ga suka."
" Bapak ga salah kalau jujur tentang perasaan bapak, tapi jangan galak- galak Pak."
" Kamu itu....ditanya malah bilang saya galak..," Hendra akhirnya terkekeh.
Mendengar cara Lusiana menjawab pertanyaannya, ia malah merasa lucu.
Perasaan kesalnya berkurang karena Lusiana. Lusiana bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.
" Kirain cuma sama saya bapak bisa galak, ternyata sama yang lain bapak juga bisa galak, he...he...," Lusiana tertawa kecil.
Hendra tersenyum, tidak salah ia memanggil Lusiana ke ruangannya.
Hatinya sedikit terhibur dengan candaan Lusiana.
" Lalu menurut kamu, apa yang harus saya lakukan?"
" Bapak harus minta maaf sama papa bapak, katakan bapak ga sengaja marah- marah sama siapa tadi namanya?"
" Firda."
" Oh iya Firda, tapi ngomong- ngomong kenapa bapak ga suka sama Firda?"
" Perasaan ga bisa dipaksakan Lus."
" Maksud saya, Firda cantik...kenapa bapak ga suka sama dia?" tanya Lusiana lagi.
" Entahlah Lus...mungkin karena sukanya sama yang lain.."
" Emangnya bapak suka sama siapa?" Lusiana bertanya dengan rasa penasaran..
__ADS_1
Ternyata bosnya punya seseorang yang ia suka.
" Saya suka sama............