Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Lusiana: isi hati aku dan Fendi


__ADS_3

Eni datang tak lama kemudian...


"Lus....


Lusiana terkesima...ia tak percaya sosok yang dirindukannya datang bersama Eni, sahabatnya.


" Kejutan..." teriak Eni riang.


" Fendi? kapan pulang?" tanyaku senang.


" Tiba ke Jakarta semalam Lus, nginep dulu di Jakarta. Dari Jakarta ke Bangka sampai dengan pesawat tadi siang," jawabnya.


" Kok ga diajak duduk Lus?" tanya Eni mengedip- ngedipkan matanya meledek Lusiana.


" O iya yuk duduk," ajakku.


" Mamamu mana Lus?" tanya Fendi.


" Ada lagi masak di dapur," jawabku.


" Ya udah kalian berdua ngobrol aja ya, aku samperin mama Lusiana. Kamu mau minum apa Fen? " tanya Eni.


" Air putih aja En...," jawab Fendi.


" En...sori ya ngerepotin...," teriakku padanya yang sudah melangkah ke arah dapur.


" Fen, dalam rangka apa kamu balik ke Indonesia?"


" Ngeliatin kamu Lus, masih sakitkah lukanya?" tanyanya perhatian.


" Masih Fen, memarnya masih ada," jawabku.


" Kamu serius pulang demi jenguk aku?" tanyaku.


" Iya Lus, aku ga bisa bekerja dengan tenang di sana, mikirin kamu terus. Aku cemas Lus...," jawabnya.


"Kan lewat telepon bisa Fen, lagian aku kan sudah bilang aku ga apa- apa," jawabku.


" Sebelum melihat langsung, aku ga bisa tenang Lus," ucapnya menatap mataku.


" Makasih Fen, kamu jadi repot ke sini," ujarku.


" Buat kamu apa sih yang tidak?" jawabnya.


" Oh iya Lus, bentar ya aku ke mobil dulu ambil oleh- oleh buat kamu."


Fendi melangkah keluar menuju mobil yang parkir di depan rumahku.


Eni keluar dari dapur dan membawa tiga gelas air putih dengan nampan.


" Cihui...Tante suruh kami tunggu di sini Lus, disuruh makan...ha...ha tau aja mamamu perutku minta diisi Lus."


Aku tersenyum melihat Eni yang ceria, ia memang bisa merubah suasana hatiku menjadi baik.


" Fendi ke mobil ya? tunggu Lus," Eni keluar berdiri di pintu depan.


" Fen...titip ambil punyaku ya?" teriaknya.

__ADS_1


Fendi datang membawa dua tentengan.


Eni menyambut satu kantong di tangan kanan Fendi.


" Lus...ini sekalian aku bawain dress buat acara pernikahan abangku. Nanti kamu cobain ya, kalau ukurannya ga pas nanti dibalikin ke aku ya..biar diubah."


" Makasih En..," aku meletakkan pemberiannya ke atas sofa.


"Lus ini makanan kering semua dari Taiwan, ada manisan sama cemilan- cemilan gitu," Fendi meletakkan oleh- olehnya di atas meja tamu.


" Makasih Fen, repot amat," ucapku padanya.


"Harusnya bilang kurang banyak Lus...," tawa Eni memenuhi ruang tamu.


"Lusiana ga kayak kamu kali En, tukang palak," Fendi tertawa meledek Eni.


Eni hanya meleletkan lidahnya.


"Fendi pulang khusus nengokin kamu Lus, tadinya dia mau pulang pas abangku nikah, tapi dimajuin nih," kicau Eni.


" Nanti Abang Eni nikah, kamu pulang lagi Fen?" tanyaku.


" Lihat situasi dan kondisi Lus, tuh Eni juga mau nyusul ke Taiwan katanya," jawab Fendi.


" Buat ngawasin kamu biar ga macem- macem di sana," sahut Eni.


" Takut....," ledek Fendi.


" Ngomong- ngomong Rina ga bisa jenguk Lus, katanya dia lagi banyak kerjaan lembur terus...Dia titip salam buat kamu," beritahu Eni padaku.


" Iya En, ga apa- apa, lagian aku juga ga apa- apa kok," jawabku.


" Sore Tan...gimana kabarnya?" tanya Fendi.


"Sore, sehat kok Fen. Ayo kita makan dulu, masakannya udah siap," ajak mama.


" Ngerepotin nih Tan..." jawab Fendi.


" Udah ga usah basa- basi, aku mah bilangnya masak yang banyak ya Tan...," tawa Eni.


Kami tertawa mendengar candaan Eni, Eni memang sudah terbiasa di rumahku sejak semasa kami SMA.


Mama sudah tidak heran dengan sikap Eni yang blak- blakan.


" Ayo Fen, ga repot kok. Jangan sungkan," jawab mama.


" Fendi sungkan karena takut bikin salah Tan, takut calon mertua ga suka," ledek Eni.


Aku menepuk lengan Eni.


" Kamu ada- ada aja En..," ucapku.


Eni hanya terbahak.


******************


Selama Fendi berada di Indonesia, tiap hari ia datang ke rumahku.

__ADS_1


" Kapan kamu balik ke Taiwan Fen?" tanyaku padanya.


" Kamu tidak suka aku lama- lama di sini Lus?" tanyanya.


" Bukan begitu, aku malah maunya kamu kerja di Indonesia aja Fen," jawabku.


" Pengennya sih begitu Lus, tapi mau bagaimana lagi...aku baru merintis usaha rumah makan di sana," jawabnya.


" Aku kerja sama Lus sama temanku yang warga sana, jadi gampang urus perizinannya," Fendi menjelaskan.


" Bagaimana kalau kamu saja yang ke Taiwan Lus, kamu bisa bantu- bantu di restoran ku," tawar Fendi padaku.


"Aku ga mungkin ninggalin mama ku sendirian di sini Fen...," jawabku.


Fendi terlihat kecewa, bagaimana hubungan mereka bisa maju, kalau mereka dipisahkan oleh jarak yang begitu jauh.


Fendi menghela napas panjang, terlalu sulit untuk menyatukan mereka.


"Fen, aku boleh jujur sama kamu ga?" tanyaku memberanikan diri.


" Katakan Lus ada apa?" tanyanya.


"Jujur ada rasa suka sama kamu Fen, sudah dari sejak zaman kita waktu SMA. Tapi setelah dilihat dari situasi dan kondisi kita, kita ga mungkin bisa jalan," jelasku padanya.


"Di antara kita tidak ada yang mau mengalah...kamu tidak bisa pindah kerjaan ke sini, sementara aku tidak bisa meninggalkan mamaku," aku menatap serius pada Fendi.


" Jadi kurasa kita ga akan bisa menjadi pasangan Fen," sambungku lagi.


" Kamu punya solusi buat kita Lus?" tanyanya.


Aku menggelengkan kepalaku.


" Jalan satu- satunya...kita harus bisa saling melepaskan Fen...carilah gadis yang kamu suka," jawabku.


" Tapi aku sukanya sama kamu Lus," ucap Fendi menatap lurus padaku.


" Tapi percuma Fen kalau kita saling menunggu, tidak ada ujungnya," ucapku.


Fendi terlihat kecewa, tapi apa yang menjadi pikiranku selama ini harus aku ungkapkan padanya.


"Sekarang aku tanya Fen, maukah kamu melepaskan pekerjaanmu yang sudah kamu rintis lalu pindah ke sini?" tanyaku padanya.


" Tidak mungkin Lus, di sana usahaku sudah mulai ramai," jawabnya.


" Karena itu Fen, jika kamu balik bertanya padaku apakah aku bisa ikut denganmu tinggal di Taiwan dan meninggalkan mamaku, aku juga tidak bisa," sambungku.


"Kita bisa pulang pergi Lus menjenguk mamamu, atau mamamu bisa kamu ajak tinggal di Taiwan Lus..." kata Fendi padaku.


"Mana mungkin mama betah di sana Fen, di sini adalah rumahnya, mama sangat mencintai rumahnya Fen," jawabku lagi.


"Teman- teman mama ada di sini Fen, di sini mama bisa melakukan apa yang dia suka."


" Baiklah Lus, aku tidak bisa memaksa, tapi biarlah kita tetap begini, siapa tau ada di antara kita yang berubah pikiran," jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.


"Aku masih berharap padamu Lus...," katanya lagi.


"Apa kamu di sini ada laki- laki yang kamu suka Lus?" tanyanya.

__ADS_1


" Banyak Fen," ledekku untuk mencairkan suasana.


" Kamu mah gitu, pandai membuat aku patah hati," kata Fendi tertawa.


__ADS_2