Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Nino: pantang menyerah


__ADS_3

Aku memarkirkan mobilku tak jauh dari kantor Lusiana, aku mengawasi gerbang kantornya yang tertutup.


Aku melihat jam tanganku, jam lima kurang seperempat sore, sebentar lagi jam lima sore.


Tadi aku sudah menyelesaikan tugasku menemui beberapa relasi kantorku. Dan di sinilah aku sekarang.


Aku menunggu Lusiana pulang dari kantornya, sebentar lagi udah jam pulang kerja.


Kali ini aku tidak ingin gagal lagi, aku ingin mengantar gadis itu pulang ke rumahnya.


Aku tau selama ini gadis itu selalu pulang naik angkot ke rumahnya. Aku mengetahu hal ini karena pernah ku tanyakan pada Pak Surya, satpam kantor Lusiana.


Tepat jam lima sore, kulihat Pak Surya membuka pintu gerbang kantor Lusiana.


Sekitar beberapa menit kemudian, satu- persatu ku lihat beberapa pegawai mulai keluar.


Ada yang naik motor dan ada beberapa orang yang berjalan kaki.


Aku dengan sabar menajamkan mataku mencari sosok Lusiana, dari jauh ku lihat Lusiana berjalan beriringan bersama seorang temannya sambil asyik mengobrol.


Aku segera turun dari mobil dan bergegas menghampirinya.


Ia nampak terkejut melihatku, aku segera memberinya senyum termanis ku.

__ADS_1


" Sore cantik, ayo aku antar pulang...mobilku parkir di sana," tunjukku pada mobilku yang terparkir.


" Maaf Pak Nino, ga usah ini saya bareng teman saya. Kami masih ada keperluan ke tempat lain, udah janjian mau pergi bareng ketemu teman- teman yang lain," jawab Lusiana.


"Emang kita mau kemana Lus?" tanya teman Lusiana yang kuperkirakan berusia sekitar empat puluhan tahun itu dengan raut wajah bingung.


" Ih gimana sih, mbak Tin lupa ya? kita kan ada janji pergi bareng," Lusiana menyikut pinggang temannya pelan sambil menatap tajam.


Sepertinya Lusiana berbohong, ia memberi kode pada temannya. Aku tau ia menolak tawaranku.


Tapi aku tidak bakalan menyerah.


" Kalian mau janjian ke mana? biar aku antar sekalian," aku tidak kehilangan akal mencari cara agar gadis itu menerima ajakan ku.


"Saya takut nanti saya yang kena marah, beneran suami mbak Tin ini kalau lihat isterinya diantar sama laki- laki pasti ngamuk- ngamuk, iya kan mbak Tin?" Lusiana menoleh ke arah temannya yang dia panggil mbak Tin.


"Kalau begitu saya antar kamu saja, kalian janjian di mana?"


" Kasian mbak Tin dong kalau begitu Pak, kami berdua kan biasanya naik angkot selalu berdua," Lusiana mencari alasan lagi.


"Maaf Pak, kami pergi dulu ya enggak enak sama yang lain, kami udah ditunggu. Permisi..." Lusiana menarik lengan temannya lalu dengan terburu- buru pergi ke arah tempat mangkalnya angkot yang tidak jauh dari kantor Lusiana.


Teman Lusiana terpaksa mengikuti Lusiana, karena tangannya masih ditarik Lusiana.

__ADS_1


Aku menelan rasa kecewa, gagal lagi...


kenapa sulit mendekati gadis itu.


Aku membuang napas kesal, lalu berjalan gontai menuju mobilku yang terparkir.


Gadis itu tak memberiku kesempatan sedikitpun untuk mendekatinya, dengan cerdik ia mencari alasan menolakku.


Ah, sebel....sebel....aku menarik rambutku saking kesalnya.


Mungkin aku harus mengubah strategi, Lusiana bukan gadis murahan, ia tidak gampang ditaklukkan.


Aku mengumpulkan semangatku, aku akan mencari cara lain untuk mendekatinya.


Sementara aku harus mundur sambil mengatur strategi, mundur satu langkah untuk maju beberapa langkah.


Aku tidak ingin Lusiana ketakutan kalau aku terus-terusan memaksakan kehendakku untuk mendekatinya.


Biarkan aku berhenti sementara berusaha menemuinya.


Semangat Nino....Lusiana yang membuatmu semakin tergila- gila pasti akan jatuh dalam pelukanmu.


Aku menyemangati diriku sendiri. Tidak segampang itu aku menyerah....

__ADS_1


Aku perlahan menjalankan mobilku lalu putar arah langsung menuju ke Sungailiat, pulang ke rumah.


__ADS_2