
Tiba- tiba dari arah belakang ada yang memanggil.
" Lusiana.......
Lusiana dan Rina menoleh ke arah orang yang memanggil Lusiana....
" Pak Nino...."
Nino mendekat, ia tersenyum sumringah, girang sekali hatinya bertemu dengan gadis pujaan hatinya.
" Boleh bergabung di sini?" tanya Nino.
Lusiana kaget bertemu lagi dengan Nino, orang yang ingin dihindarinya.
" Maaf ini temanmu Lus?" tanya Rina pada Lusiana.
" Iya...," Nino yang menjawab.
Lusiana bingung mau menjawab apa pada Rina.
Mau bilang relasi perusahaan tempatnya bekerja, Nino udah keburu mengiyakan pertanyaan Rina sebagai temannya.
Jadi Lusiana diam saja, untuk menjaga perasaan Nino agar Nino tidak merasa tersinggung.
" Oh ya kenalin Pak Nino, ini Rina teman saya. Rin, ini Pak Nino," Lusiana memperkenalkan mereka berdua.
" Kamu bisa ada di sini Lus, kita ketemu lagi...emang berjodoh kita...," Nino tertawa, ia kemudian duduk di bangku tempat Eni tadi duduk.
Lusiana salah tingkah, tidak bisa menghindar lagi.
" Kalian udah makan?" tanya Nino pada Lusiana dan Rina.
" Udah Pak, tadi udah pesan kok," jawab Lusiana.
" Aku ada tugas ke Pangkalpinang besok, jadi malam ini langsung meluncur dari Sungailiat," jelas Nino tanpa diminta.
" Bapak udah makan?" tanya Rina.
" Tadi baru selesai makan di meja ujung sana, pas ngeliat ke sini dari belakang seperti Lusiana eh...ternyata betul."
"Owh...," Rina cuma manggut- manggut.
" Dari sini nanti pulang sama siapa Lus? nanti ikut aku ya, aku anterin kamu pulang," ucap Nino penuh harap.
" Ga usah Pak, Abang saya yang jemput, bentar lagi dia juga nyampe di sini, " jawab Lusiana menolak.
" Rina, teman kamu ini susah bener dideketin," tawa Nino.
"Lusiana memang...," Lusiana menendang kaki Rina di kolong meja.
Rina langsung bungkam, tidak jadi menyelesaikan ucapannya.
" Ada apa Rina?" tanya Nino bingung.
" Ga Pak, lupa saya mau ngomong apa."
" Lus, minta alamat rumah kamu dong.. belum dikasih dari tempo hari saya minta."
" Gimana nih?" gumam Lusiana dalam hati kebingungan.
__ADS_1
Menolak salah, memberi alamatnya juga salah.
" Mmmm...."
" Lusiana........ " tiba- tiba ada yang memanggil namanya.
" Selamat.....," Lusiana bersorak dalam hati.
Dirga datang menghampiri mereka.
" Mas Dirga... bang Vino nya mana?"
" Nunggu di tempat parkir Lus, dia suruh aku yang nyamperin kamu," jawab Dirga.
"Oh ya kenalin Mas, ini teman aku Rina dan ini Pak Nino. Dan ini mas Dirga," Rina memperkenalkan mereka bertiga.
" Rin, pacar kamu udah nyampe mana? udah malam nih... ," ucap Lusiana pada Rina.
" Tuh dia, panjang umur...," tunjuk Rina pada Gio, pacar Rina yang baru masuk.
" Kalau begitu aku jalan dulu ya Lus..., " kata Rina pada Lusiana.
" Ayo, aku juga mau pulang, bang Vino nanti kelamaan nunggu di tempat parkir," ujar Lusiana.
" Pak Nino, aku pamit dulu ya... ayo Mas Dirga kita pulang."
Nino menganggukkan kepalanya dengan kecewa. Ia kemudian menatap punggung Lusiana sambil menghela napasnya. Gadis itu susah untuk didekati.
Lusiana bersama Dirga beriringan dengan Rina yang juga sudah dijemput, keluar dari rumah makan itu.
" Bye Rina...nanti kontekan lagi ya...," Lusiana melambaikan tangannya pada Rina ketika berpisah di tempat parkir.
" Bye Lus....," balas Rina.
" Hmm...hmm.. romantis bener...," Vino menyambut kedatangan Lusiana dengan meledek Dirga.
" Aku kok kalau masuk ke mobil kamu, ga dibukain pintu bro?" kekeh Vino.
" Sama - sama cowok kali...," balas Dirga tertawa.
Dirga lalu duduk di depan kemudi mobilnya, di sebelahnya Vino memandangnya masih dengan senyum meledek.
Lusiana yang sudah tau sifat kakaknya hanya bisa nyengir.
" Lama bener Lus, ngobrolin apa aja sama teman- teman kamu?" tanya Vino pada adiknya.
" Kepo....," jawab Lusiana tertawa.
" Tadi itu Pak Nino siapa Lus? teman kamu juga? aku kok seperti pernah melihatnya, tapi lupa di mana," ucap Dirga.
" Bukan mas...dia itu relasi kantor aku mas. Tadi kebetulan aja ketemu di situ," jelas Lusiana.
" Pak Nino?" Vino berpikir sejenak.
" Oh, bang Vino ingat....," Vino tertawa.
" Ingat apa bang Vino?" tanya Lusiana.
" Ingat cerita mama...kamu pernah cerita sama mama, ada cowok yang lagi ngejar kamu namanya Pak Vino. Iya ga salah lagi..."
__ADS_1
" Mama cerita pada bang Vino?"
" Iya dong Lus, termasuk cerita tentang bos kamu Hendra. kata mama Hendra sepertinya juga suka tuh sama kamu. Terus cerita tentang Aldo juga yang pengen ngelamar kamu tapi kamu tolak," Vino bercerita dengan semangat empat lima.
" Terus ada satu cowok lagi kata mama, teman SMA nya yang kerja di Taiwan, Fendi namanya...lagi nunggu kamu kan Lus? ha...ha..."
"Ih..mama ga bisa pegang rahasia," ucap Lusi malu.
Lusiana malu pada Dirga, Dirga jadi tau kehidupan pribadinya.
Dirga sempat melirik Lusiana dari spion depan. Dirga tersenyum mendengar Vino bercerita.
" Bro, kamu jadi banyak saingan tuh...ha... ha...," Vino menepuk paha Dirga yang asyik dengan setirnya.
" Apaan sih bang Vino, mas Dirga jangan dengerin bang Vino. malu- maluin," Lusiana menjawab ledekan Vino dengan gemas.
" Tenang bro, aku dukung kamu bro kejar Lusiana sampai dia capek sendiri... ha...ha..."
Lusiana muka nya merah padam, ini bang Vino nya " bikin malu" Lusiana di depan Dirga.
" Dasar nyebelin...," gumam Lusiana dalam hati.
"Bang Vino mulutnya bisa diem ga sih? dari tadi kayak beo aja ngerocos terus," Lusiana mengomeli abangnya dengan kesal.
" Ga....," ledek Vino.
" Mas Dirga kok betah ya temenan sama bang Vino?"
" Ya betah dong Lus....siapa dulu adeknya?" Vino ga berhenti meledek.
" Orang bentar lagi mau jadi ipar, betul ga bro?" tanya Vino pada Dirga yang dari tadi geleng- geleng kepala melihat ulah temannya ini.
" Bang Vino....nanti Lusi jitak nih kepalanya, bisa berhenti ngeledek ga?" Lusiana benar- benar malu dengan tingkah abangnya yang tengil ini.
Kalau tidak ada Dirga, udah habis mungkin Vino dipukul sama Lusiana.
" Udah bro, jangan kelewatan bercandanya...," Dirga menegur Vino.
Tidak tega ia melihat temannya itu terus menggoda adiknya, sementara Lusiana sudah tampak kesal.
Vino kemudian bungkam setelah puas ia terbahak.
Sementara Lusiana duduk di belakang dengan cemberut.
Abangnya benar- benar membuat ia malu, gemes, kesellll.....
Dirga membelokkan mobilnya ke halaman rumah Lusiana.
Mama Lusiana tampak menyambut kedatangan mereka dengan berdiri di pintu depan.
Mama Lusiana pasti sudah menunggu mereka, begitu mendengar suara mobil langsung menyambut kedatangan mereka.
Lusiana cepat turun dari mobil setelah Dirga mematikan mesin, ia khawatir Dirga membukakan pintu untuknya. Takut jadi bahan ledekan abangnya lagi.
" Tuan Puteri buru- buru amat, emang mau kemana?" abangnya kumat lagi.
Lusiana tidak menjawab abangnya, dia masih kesal.
" Makasih mas Dirga tumpangannya," ucap Lusiana pada Dirga.
__ADS_1
" Malam ma...," sapa Lusiana sambil mengecup pipi mamanya.
" Malam Nak..."