Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Hendra dan Lusiana :Ancaman Papa Hendra


__ADS_3

" Ma, aku ga mau sama Firda ma," ucapku mengadu pada mama.


Aku dan mama duduk di teras samping rumah, Papa sedang mengerjakan proyek baru nya di ruang kerjanya.


"Mama berusaha untuk membujuk agar papa mau merubah keputusan papa Nak, tapi belum ada hasilnya," ucap mama menatapku.


" Lalu bagaimana ma, papa menyuruh Hendra untuk dekat sama Firda sementara hati Hendra tidak suka Firda ma," aku mengeluarkan uneg- unegku.


" Papamu memang keras kepala Nak, mama saja kewalahan menghadapi sikap papamu."


"Apa mama suka sama Firda seperti papa ma?" tanyaku ingin tau.


"Jujur sebenarnya mama tidak suka sama Firda Nak, dari penampilannya saja mama kurang sreg Nak...."


" Hendra juga melihatnya begitu ma..."


" Mama sebenarnya lebih setuju kamu memilih Lusiana Nak, entah bagaimana cara mama melukiskannya... naluri mama mengatakan Lusiana gadis yang baik dan bermartabat."


" Tapi papa tidak memandangnya begitu ma...," ucapku lagi.


" Di lain sisi mama ingin kamu memperjuangkan Lusiana, di sisi lainnya lagi mama takut papamu akan melakukan sesuatu pada gadis itu bila kamu memilihnya."


" Pemikiran kita sama ma...aku tidak ingin papa menyakiti Lusiana, selama ini kita tau sifat papa bagaimana."


" Oh.....jadi benar semua ini gara- gara gadis itu?"


Papa tiba- tiba sudah muncul di belakang kami, aku dan mama terperanjat.


Aku tidak menyangka papa akan berada di sini, padahal tadinya ia sedang sibuk dengan proyek barunya.


Papa mukanya merah padam, ia pasti marah.


" Aku ingin melihat, apa yang akan kamu lakukan kalau papa lakukan sesuatu pada gadis itu!" papa membentak ku.


" Apa maksud papa?" tanyaku khawatir.


" Pa, jangan gila ya...sadar umur," ucap mama.


" Kalian berdua ternyata berkomplot melawanku...lihat saja, kalau kamu berani menolak Firda kamu akan menyesal," papa menunjuk mukaku.


" Pa, tolong jangan sakiti Lusiana...dia tidak tau apa- apa tentang perasaan Hendra padanya."


" Ia memang tidak tau apa- apa, tapi besok dia akan tau...," papa mengancam ku.


" Hendra mohon pa... jangan paksa Hendra sama Firda, Hendra ga cinta sama Firda."


" Iya..papa ingin tau apakah sehabis ini kamu akan menerima Firda atau tidak!"


"Pa, mama mohon....jangan lakukan sesuatu yang gila...kita sudah tua, jangan menambah dosa," mama membujuk papa.


" Dosa kamu bilang? ajarin anakmu untuk jangan durhaka sama orang tua," papa menunjuk mama dengan marah.


" Pa, jangan egois...pikirkan perasaan anak kita...," ucap mama yang mulai meneteskan air matanya.


" Kamu cuma memikirkan perasaan Hendra, kamu ga mikirin perasaan suamimu!" bentak papa.


Selama ini belum pernah ku lihat papa dan mamaku bertengkar, dan kali ini mereka bertengkar gara- gara aku.

__ADS_1


Ada rasa bersalah melihat mama menangis karena membelaku, selama ini mama memang selalu menyayangiku.


Mama memperjuangkan kebahagiaan putera satu- satunya, dan ini membuat perasaanku semakin tumbuh rasa hormat dan sayangku pada mama.


" Papa egois...," kata mama mengusap air matanya.


" Terserah apa kata mama....papa tidak peduli....yang papa mau Hendra menikah dengan Firda. Titik...."


"Sudah ma...," aku menarik mama dalam pelukanku. Tidak tega hatiku melihat wanita yang kucintai itu menangis demi aku.


" Pa, sekali lagi Hendra mohon...tolong biarkan Hendra memilih pasangan hidup Hendra sendiri...please papa...," kataku memohon.


Papa tidak bergeming, ia kelihatan gusar...


"Kalau kamu masih bersikeras juga....papa akan buat kamu mengerti!" papa mendengus lalu pergi meninggalkan aku yang diam terpaku masih memeluk mamaku.


" Sudah ma jangan menangis lagi," ucapku sambil mengusap air mata mama.


" Maafkan mama Nak, mama ga bisa membujuk papamu."


"Hendra tau ma...mama sudah berusaha...," hiburku pada mama.


Aku sendiri sebenarnya butuh untuk dihibur, perasaanku hancur...


................................


Lusiana:


Mbak Tin hari ini ga masuk kerja, ia izin karena lagi sakit.


" Demam Lus....," jawab mbak Tin saat ku tanyakan lewat telepon.


" Iya Lus, makasih ya...."


"Sama- sama mbak Tin, ditutup dulu ya teleponnya mbak...."


" Iya Lus..," lalu kami menutup sambungan telepon.


Sorenya, aku pulang sendiri tanpa mbak Tin...


Aku berjalan di trotoar. Tujuanku seperti biasa menuju ke tempat angkot mangkal.


Belum jauh aku melangkah... tiba- tiba...


BRUK......


Aku merasakan lengan sebelah kananku sangat sakit, aku terpental...


Sesuatu yang basah kurasakan mengalir di kepalaku...


Mataku berkunang- kunang..


"Tabrak lari......." masih kudengar suara panik beberapa orang.


Ku lihat beberapa orang berlari menghampiriku....sebelum kesadaran ku benar- benar hilang.


***********

__ADS_1


Hendra:


Kring......


Ponselku berbunyi...


Ku lihat layar hp ku tertera nama Mang Kosim, sopir kantor.


Aku masih di ruangan kantorku, mengapa Mang Kosim menelepon di ponselku.


Biasanya jam segini Mang Kosim masih berada di depan, kalau tidak ada tugas ke luar kota.


" Iya Mang Kosim, ada apa?" tanyaku.


"Maaf Pak....mang Kosimnya lagi nyetir, saya Usman yang punya warung dekat kantor bapak," seseorang bernama Usman menggunakan ponsel Mang Kosim yang berbicara.


"Iya ada apa ya?" tanyaku dengan perasaan tidak enak.


" Anu... Pak...pegawai bapak yang namanya Lusiana tadi ditabrak pengendara motor tidak dikenal pak...penabraknya kabur...dan ini kita dalam perjalanan membawa Lusiana ke rumah sakit....," jelas Usman panjang lebar.


"Apa? lalu bagaimana kondisi Lusiananya? luka parahkah?" tanyaku panik.


" Tidak tau pak, ini orangnya pingsan pak, kepalanya berdarah. Ini sambil saya tekan lukanya sama kain pak...," jawabnya.


"Astaga....lalu kalian bawa dia ke rumah sakit mana? suruh mang Kosim cepat bawa mobilnya...!" perintahku dengan setengah berteriak.


Tanganku langsung gemetar, aku panik luar biasa.


" Iya pak...ini udah ngebut Mang Kosimnya, bentar lagi nyampe ke Rumah sakit Timah."


"Oke saya segera susul ke sana, tolong suruh mang Kosim tandatangani semua administrasi nya, biar Lusiana cepat di tangani."


" Oke pak, udah dulu ya pak...udah nyampe rumah sakitnya...," Usman menutup telepon.


*********


Aku memarkirkan mobilku ke rumah sakit, aku sangat mencemaskan Lusiana.


Katanya Lusiana ditabrak pengendara motor yang tidak dikenal.


Menurut Pak Surya, satpam kantor...tadi ia mendengar suara teriakan banyak orang.


Dan ternyata Lusiana lah yang ditabrak, Pak Surya langsung mengambil tindakan cepat.


Ia menyuruh Mang Kosim yang kebetulan masih ada di depan kantor, untuk segera membawa Lusiana ke rumah sakit terdekat.


Mang Kosim meminta tolong pemilik warung langganannya, Usman yang kebetulan lagi ada istri nya yang lagi datang membantunya menjaga warung.... untuk membantu menekan luka Lusiana selama di perjalanan ke rumah sakit.


Syukurlah masih banyak orang-orang baik yang membantu Lusiana.


Pak Surya bercerita, menurut keterangan saksi mata yang menyaksikan kejadian itu...pengendara motor itu seperti dengan sengaja menabrak Lusiana.


Karena Lusiana masih berjalan di atas trotoar dan pengendara itu seperti sengaja mengemudikan sepeda motornya di atas trotoar....sedangkan kondisi jalan begitu lebar dan juga saat itu tidak terlalu ramai.


Jadi untuk apa pengendara motor itu naik ke trotoar kalau bukan disengaja "mengincar" Lusiana.


Beberapa saksi mengatakan motor itu juga tidak memiliki nomor plat di kendaraannya.

__ADS_1


Aku langsung teringat ancaman papa, apa ini karena perbuatan papa?


Apakah papa "mengeksekusi" Lusiana untuk mengancam ku?


__ADS_2