Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Hendra: tekanan dari papa


__ADS_3

Hari ini suasana hatiku sedang tidak baik, ini karena papa tadi malam mendesak ku, papa ingin menjodohkan aku dengan gadis pilihan papa.


Firda nama gadis itu, ia adalah puteri seorang konglomerat kenalan sekaligus teman baik papa, yang kupanggil Om Dicky.


Aku memang sudah mengenal Firda, aku sudah sering bertemu dengannya, baik di acara relasi bisnis perusahaan ataupun di acara santai lainnya yang masih ada hubungan dengan relasi perusahaan kami.


Gadis itu cukup cantik, berpenampilan modis, supel dalam bergaul.


Tapi Firda bukan tipe perempuan yang ingin kujadikan pasangan hidupku.


Gadis itu terlalu berani, gaya hidupnya tinggi.


"Papa ga mau tau, pokoknya papa ingin Firda jadi pendamping kamu," tegas papa dengan suara keras.


" Tolong jangan paksa Hendra Pa, Hendra bisa memilih sendiri pasangan hidup Hendra," aku memohon pada papa.


"Ma, bantu Hendra Ma," ucapku pada mama yang dari tadi diam saja.


" Pa, Papa jangan terlalu mendesak Hendra, Hendra sudah dewasa....biarkan dia memilih sendiri pasangannya, toh yang akan jalanin hidupnya kan Hendra sendiri Pa bukan Papa," Mama akhirnya bersuara.


" Kamu memang terlalu memanjakan anakmu itu, papa tau yang terbaik buat Hendra...mama pikir papa mau mencelakai anak sendiri?"


" Bukan begitu maksud mama Pa....mama cuma tidak ingin Hendra tidak bahagia nantinya, mama mau Hendra menikah dengan gadis yang ia cintai."


" Mama tau apa, apa cukup dengan makan cinta? buktinya kita dulu aja nikah karena dijodohin..."


" Dulu sama sekarang udah berbeda Pa, jangan samain dengan orang zaman dulu..."


" Orang zaman sekarang, terlalu bebas maka nya banyak kasus kawin cerai...kalau nikah ga lihat bibit, bebet, bobot memang begitu," papa tetap ngotot dengan pendapatnya.


Mama hanya bisa menghela napasnya, percuma bicara sama papa. Papa akan tetap pada pendiriannya.


" Papa ga mau tau, papa sudah membicarakan hal ini sama Om Dicky dan Tante Sumi, Firda juga ga keberatan...kamu jangan bikin malu papa," ucap papa menatapku.


"Tapi Hendra keberatan Pa," jawabku membantah papa.


" Kamu mau mencoreng muka papa di hadapan Om Dicky? apa kurangnya Firda hah?" papa berteriak marah.


" Hendra tidak pernah mencoreng muka papa...Hendra tidak suka Firda...," jawabku membalas ucapan papa.


" Apa karena pegawaimu itu? Oh papa tau.. kamu pasti suka sama Lusiana kan?"


" Ini ga ada sangkut- pautnya sama Lusiana Pa, jangan bawa- bawa Lusiana......ini menyangkut perasaan Hendra sama Firda, Hendra ga mau dijodohkan sama Firda..."


" Papa ga mau tau...kamu harus mau," teriak papa padaku.


" Papa egois," aku mulai berteriak.


" Udah... udah...kalian berdua kenapa jadi emosi?" ucap mama menengahi.


Suasana jadi panas, papa menatapku dengan marah sementara aku mengepalkan jari tanganku menahan perasaan marah, bagaimana pun aku tidak boleh sampai bicara kasar sama papa.

__ADS_1


" Udah Nak, sementara kamu dengarkan dulu kata Papamu, kamu bisa berteman baik dulu sama Firda. Kalau nantinya kamu memang ga mau nerusin, nanti kita bicarakan baik- baik," kata mama sambil mengusap lembut bahuku.


" Pa, biarkan sementara Hendra berteman dulu sama Firda, jangan buru- buru memutuskan, kasih waktu buat mereka penjajakan dulu," ucap mama menatap papa.


Mama memang lebih bijak, mama menengahi perdebatan antara aku dan papa.


Papa kemudian berlalu dari hadapanku menuju kamar tidur mama dan papa. Papa masih marah.


Aku menunggu beberapa saat sampai papa pergi menjauh.


" Ma, sebenarnya Hendra sukanya sama Lusiana Ma..."


" Mama tau Nak, mama bisa lihat perhatianmu sama Lusiana berbeda, mama bisa nebak kamu pasti punya perasaan khusus sama gadis itu."


" Apa kamu udah menyatakan perasaan kamu pada Lusiana Nak?" tanya mama.


" Hendra sebenarnya udah mau menyatakan perasaan Hendra pada Lusiana Ma, tapi Hendra juga tau papa ga akan bakalan suka Ma."


" Sementara kamu tunda dulu Nak, selesaikan dulu urusan kamu sama Firda," ucap mama lembut.


" Iya Ma, nanti Hendra akan bicara terus terang sama Firda agar jangan menaruh harapan pada Hendra."


" Iya Nak memang sudah seharusnya begitu."


" Tapi bagaimana dengan papa Ma, papa pasti ga mau terima..."


" Nanti mama pikirin lagi bagaimana cara menghadapi papamu itu, dari dulu papamu emang ga pernah berubah...selalu mentingin bibit, bebet, bobot."


" Kamu itu... ," mama terkekeh.


Kupeluk tubuh wanita yang paling ku hormati itu dengan perasaan sayang. Mama membalas pelukanku dengan tersenyum haru.


Aku tidak mungkin bisa membohongi perasaanku, aku mencintai Lusiana.


Gadis itu yang bisa membuat hatiku bergetar. Ia yang bisa menyentuh hatiku.


Walaupun aku belum tau bagaimana dengan perasaan gadis itu sendiri terhadapku.


Lusiana gadis yang membuat aku gemas, apalagi kalau melihat responnya padaku kalau aku memarahinya.


Gadis yang bisa membuatku cemburu tanpa aku sadari.


Gadis yang bisa membuatku tertawa dengan kepolosannya.


Tanpa aku sadari, perasaan ini terus tumbuh dengan subur.


Gadis yang membuat aku rindu dengan segala hal yang ada dalam dirinya.


Aku ingin menjadikannya sebagai pacarku, tapi karena sikap papa aku terpaksa mengurungkan niatku.


Aku bukan takut pada kemarahan papa padaku, aku hanya takut membuat Lusiana terluka.

__ADS_1


Aku takut kemarahan papa yang membuatnya nanti terluka.


Aku sangat mengenal sifat papa, papa seorang yang keras kepala. Ia tidak akan tinggal diam jika ada yang berani melawannya.


Aku takut papa akan menghancurkan hidup Lusiana jika aku bersikeras melawan keinginan papa.


Ujung- ujungnya Lusiana yang akan menjadi korban, aku tidak mau hal itu terjadi.


Aku ingin melindungi Lusiana, aku akan melakukan apapun asal jangan sampai Lusiana terluka.


Apalagi aku tau, Lusiana hanya tinggal berdua dengan mamanya.


Tidak ada laki- laki yang melindunginya, karena abang- abangnya jauh.


Aku tidak tau apakah bisa memiliki gadis itu, tapi yang pasti aku ingin melihat gadis itu bahagia.


Ah, aku mencintainya, mungkin sudah sangat mencintainya.


Tok...tok...


Aku tersadar dari lamunan panjangku. Rosa masuk setelah kupersilahkan masuk, ia membawa berkas- berkas yang tadi aku minta.


Setelah Rosa meninggalkan ruangan ku,


aku segera memeriksa semua dokumen untuk ditandatangani.


Aku membaca satu- persatu dokumen itu sambil memijit pelan keningku.


Semangat dalam diriku hari ini seperti hilang, perdebatan aku dengan papaku semalam masih menyisakan perasaan kesal di hatiku.


Aku menandatangani semua dokumen dengan perasaan malas.


Semangat kerjaku seperti terbang hilang entah ke mana, aku mendesah... hatiku berdenyut...


Kring.....


Telepon di meja kerjaku berbunyi, aku segera mengangkatnya.


" Halo...."


" Halo Pak, maaf pak ada tamu, perempuan....menuju ke ruangan bapak. Tadi saya udah larang masuk. Tapi ia memaksa katanya ia sudah janjian ketemu bapak di ruangan kerja bapak...," suara Susan terdengar panik.


Aku mengerenyitkan keningku menebak siapa yang menuju ruangan ku, lancang...


Tok...tok...


Seseorang menerobos masuk sebelum sempat kupersilahkan masuk.


" Hai....."


" Kamu......ngapain ke sini?"

__ADS_1


__ADS_2