
Desi merasakan sakit di perutnya, Lusiana panik berteriak pada mamanya.
"Ma, Desi sakit perut..apa sudah waktunya?" teriak Lusiana.
Mama Lusiana memanggil Dirga yang sedang ada di teras depan.
"Nak Dirga, mungkin Desi sudah mau melahirkan...bisa kamu bantu?"
Dirga buru- buru masuk ke dalam, Lusiana sudah mengambil tas yang sudah lama disiapkan.
"Ayo cepat kita ke rumah sakit...," Mama Lusiana berteriak.
"Apa kamu bisa berjalan Des?" tanya Lusiana memapahnya.
"Biar aku gendong," Dirga langsung membopong tubuh Desi dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Lusiana mengunci pintu rumahnya.
Mama Lusiana sudah masuk duduk di sebelah Desi.
Lusiana segera menyusul duduk di sebelah Dirga yang memegang kemudi.
"Ayo mas Dirga...buruan," panik Lusiana.
Setelah sampai di rumah sakit, Desi segera mendapatkan pertolongan.
Desi dibawa ke sebuah ruangan khusus bersalin.
"Hanya suami atau orang tua yang boleh mendampingi," ucap seorang perawat.
"Saya saja sus, saya ibunya," mama Lusiana lalu masuk mengikuti perawat.
Seorang dokter kandungan perempuan sedang memeriksa Desi.
"Sudah pembukaan delapan ya Bu, kita tunggu sebentar lagi...sambil suster melakukan prosedur sebelum proses persalinan," ujar dokter itu pada mama Lusiana.
Desi mengaduh, mama Lusiana menggenggam tangan Desi.
"Sabar ya Nak, tahan...," hibur mama Lusiana.
Sementara Lusiana dan Dirga menunggu di luar dengan gelisah.
"Tuhan...lindungilah Desi dan anaknya agar lancar dan selamat dalam persalinan," doa Desi berkali- kali.
Dirga juga terlihat sangat gelisah...ia mengkhawatirkan Desi dan anaknya.
Sementara di dalam ruangan bersalin...
"Sudah pembukaan sepuluh...ayo Bu tarik napasnya...lalu dorong ya..."
Desi merasakan kontraksi yang sakit luar biasa, ia mengikuti perintah dokter.
Desi menarik napas panjang lalu mulai mendorong.
"Lagi ...Bu..tarik napas....dorong...ibu bisa ayo...," dokter memberi semangat.
"Aaa......"Desi mendorong.
"Iya sedikit lagi....ibu hebat...ayo Bu...dorong lagi...kepalanya sudah kelihatan..."
Desi menarik napas lalu sekuat tenaga ia mendorong...
Dokter membantu menarik keluar bayi Desi.
"Oek...oek...oek..."
" Bagus Bu...sudah berhasil, bayinya lengkap dan cantik sekali," teriak dokter kandungannya.
Desi menarik napas lega, mama Lusiana mengelap keringat di pelipis dan wajah Desi dengan tisu.
__ADS_1
Bulir- bulir air mata turun dari sudut mata Desi, ia terharu.
"Awas Des, habis melahirkan tidak boleh menangis...pamali...," Mama Desi segera menghapus air mata Desi.
"Tidak boleh menangis," ulang mama Lusiana.
Desi bahagia sudah menjadi seorang ibu, dan ia juga terharu dengan perhatian mama Lusiana padanya.
"Mama dapat cucu lagi, makasih sayang," mama Lusiana membelai sayang rambut Desi.
"Makasih ma..," ucap Desi.
"Bayinya kami mandikan dulu ya Bu, nanti coba untuk disusui agar melatih dedek bayinya menyusu," kata dokternya.
"Dan selamat juga buat ibu, anaknya sehat dan cantik," tambah dokternya.
"Makasih ya dok," ucap Desi.
" Iya sama- sama."
"Mama keluar dulu ya Des, mau ngabarin Lusiana dan Dirga biar mereka ga khawatir."
"Iya ma..." jawab Desi.
*******
Desi dan anaknya sudah diperbolehkan pulang.
Mama Lusiana yang menggendong bayi kecil itu.
Lusiana memandang bayi cantik itu dengan gemas.
"Ponakan bibi yang cantik....," Lusiana mengusap lembut bayi Desi.
"Des...mau dikasih nama siapa ponakanku ini?" tanya Lusiana.
"Putri Desna," jawab Desi mantap.
"Panggilannya Putri ?" tanya Lusiana.
"Iya Lus..."
"Ia akan secantik seorang putri...," ujar Lusiana.
"Iya Lus...dan ia juga harus tau...ia bisa lahir dengan bahagia karena ia punya seorang bibi yang baik hati yang menyayanginya sama seperti ibunya menyayanginya," senyum Desi.
"Putri juga punya seorang nenek yang menjaga ibunya selama ini seperti menjaga anaknya sendiri....aku dan putri tidak akan melupakan kebaikanmu dan mama selamanya Lus," ucap Desi tulus.
"Aku sekarang adalah adikmu Des...sudah sepantasnya seorang adik melakukan itu pada kakaknya," jawab Lusiana.
"Aku tidak tau jika tidak ada kalian bagaimana nasibku," imbuh Desi lagi.
"Kita saling menjaga dan mengisi Des, aku juga senang sejak ada kamu...mama lebih bersemangat karena mama ada yang menemani saat aku pergi kerja," jawab Lusiana.
"Oek...oek...." Mama Lusiana yang sedang menggendong putri membawanya pada Desi.
"Sepertinya ia sudah lapar...coba disusui Nak...," Mama Lusiana menyerahkan bayi mungil itu pada Desi.
Desi menerimanya dengan hati- hati, ia masih belum terbiasa menggendong bayi sekecil itu.
" Hati- hati," mama Lusiana menahan kepala bayi kecil itu.
***********
jam sepuluh malam...
Firda sudah kelewatan, kali ini ia membawa seorang laki- laki pulang bersamanya.
Keduanya dalam keadaan mabuk...
__ADS_1
Papa Hendra terlihat berang..
"Siapa laki- laki ini Firda? mengapa kamu membawa dia kemari bersamamu?" papa Hendra teriak.
"Ia selinganku...he...he...Hendra tidak bisa melayaniku...jadi dialah yang menggantikan Hendra," jawab Firda.
Jawaban Firda tentu saja membuat Hendra, mama Hendra, dan papa Hendra kaget.
Mama Hendra membelalakkan matanya, ia tidak menyangka Firda sudah berbuat sejauh itu.
"Jadi kamu selingkuh?" tanya papa Hendra berang.
" Bukan selingkuh Pa...Firda cuma cari kesenangan di luar....," jawab Firda memegang kepalanya yang pusing.
"Apa bedanya? sudah sejauh mana hubungan kamu sama laki- laki ini?" Papa Hendra masih belum puas dengan jawaban Firda.
"Papa pengen tau aja urusan anak muda...he...he...Firda sama dia udah tidur bersama Pa....," jawab Firda yang dalam keaadaan mabuk tidak memfilter jawabannya.
Papa Hendra memegang kepalanya yang tiba- tiba sakit...
Papa Hendra hampir saja ambruk kalau tidak segera ditangkap Hendra.
"Bawa Papamu ke dalam kamar Nak...," suruh mama Hendra panik.
"Bi Asih....tolong panggil Edi...suruh antar pulang laki- laki itu," suruh mama Hendra.
Bi Asih pergi ke belakang paviliun, memanggil Edi yang tidur di sana.
Edi mengekori bi Asih, lalu ia melihat ada seorang laki- laki yang duduk di sofa dalam keadaan mabuk.
"Bi Asih, bantu saya memapahnya," ujar Edi.
"Di mana rumahmu Den?" tanya Edi pada laki- laki teman Firda itu.
"Jalan Cempaka no. 15," jawabnya sambil terkekeh.
"Firda....Abang pulang dulu sayang...da...." ucapnya menceracau.
Firda mengangkat tangannya.
"Da...bang Rian sayang..."
Bi Asih membantu Edi memapah laki- laki yang dipanggil Rian oleh Firda.
Rian berjalan sempoyongan, entah bagaimana ia masih bisa mengantar Firda sampai ke rumah dalam keadaan mabuk seperti itu.
Edi membuka pintu mobil belakang papa Hendra dengan remote nya.
Bi Asih membaringkan Rian di jok belakang.
"Hati- hati di jalan Edi...," ucap bi Asih.
"Iya Bi..," jawabnya lalu ia masuk ke dalam mobil lalu menjalankan mobilnya.
Bi Asih yang berdiri hanya menggelengkan kepalanya.
" Ada- ada saja," ujarnya lalu masuk ke dalam rumah.
Firda sudah berbaring di atas sofa dengan memejamkan mata.
Sementara Papa Hendra sedang dipijit kepalanya oleh mama Hendra.
Hendra memberinya air putih.
"Minum dulu Pa...biar tenang."
"Ceraikan Firda...Papa tidak tahan lagi...besok Papa akan menemui Dicky," tukasnya geram.
Hendra bersorak dalam hati...
__ADS_1
"Akhirnya Papa sadar juga...."