
Putri sore ini sangat rewel, ia tidak mau dilepaskan dari gendongan.
Desi terlihat kewalahan, mama Lusiana mendekati mereka.
"Ma, Putri kenapa ya? ia kok rewel?" tanya Desi.
"Sini mama yang gendong," mama Lusiana mengambil alih Putri dari gendongan Desi.
"Badan Putri agak anget Des," kata mama setelah menggendong Putri.
"Kamu kupas bawang merah Des, geprek lalu bawa kemari," perintah mama Lusiana.
Desi lalu bergegas ke dapur, ia mengupas beberapa butir bawang merah lalu menggepreknya dan meletakkannta di sebuah mangkok kecil.
Desi lalu membawanya ke depan dan memberikannya pada mama Lusiana.
"Ambil minyak telon Putri Des," perintah mama Lusiana lagi.
Desi mengambil minyak telon yang ada di kamar lalu memberikannya pada mama Lusiana.
Mama Lusiana membaringkan tubuh mungil Putri ke atas sofa, lalu menuangkan beberapa tetes minyak telon di mangkok yang berisi bawang merah yang sudah digeprek oleh Desi.
Mama Lusiana *******- ***** bawang merah itu lalu membalurkan minyak telon yang sudah diberi remasan bawang merah pada perut, punggung, dan telapak kaki Putri.
"Sebaiknya segera bawa Putri ke dokter Des, ia rewel karena badannya ada yang tidak enak," titah mama Lusiana.
"Iya Ma," jawab Desi.
"Telepon Dirga, minta tolong dia mengantarmu," ujar mama Lusiana lalu kembali menggendong Putri.
Desi lalu menelepon Dirga.
"Iya mas Dirga, Desi tunggu ya...makasih," tutup Desi.
"Ma, Desi ke kamar siapin keperluan Putri ya...Mas Dirga langsung kemari," kata Desi.
"Kamu isi perut dulu Des, kamu kan lagi nyusuin...takut pulangnya kemalaman," suruh mama Lusiana.
"Iya ma, Desi siapin keperluan Putri dulu habis itu langsung makan," jawab Desi.
Tak lama kemudian, Dirga sampai...
Desi dan Putri segera masuk ke dalam mobil.
Mama Lusiana memberikan sebungkus roti buat Dirga.
"Nak Dirga, ini buat mengganjal perut," kata mama Lusiana.
"Makasih Tan," Dirga menerima roti yang disodorkan mama Lusiana.
Setelah berpamitan, Dirga menjalankan mobilnya menuju tempat praktek dokter anak yang ada di kota itu.
"Mama kalian sangat perhatian...," ujar Dirga pada Desi.
"Iya Mas Dirga...Desi beruntung bisa punya mama sebaik beliau," jawab Desi.
Putri tertidur dalam gendongan Desi.
"Masih anget Putrinya?" tanya Dirga.
"Sedikit Mas....abis dibalurin pake bawang merah sama mama, Putri langsung tidur," jawab Desi.
"Syukurlah...," balas Dirga tersenyum.
Setelah sampai, Dirga membuka pintu untuk Desi, Dirga juga menenteng tas kecil yang berisi keperluan Putri.
Orang- orang yang tidak tau, akan menyangka mereka adalah sepasang suami isteri.
Dirga mendaftarkan Putri, mereka lalu menunggu di ruang tunggu.
"Ditimbang dulu ya Bu anaknya," seorang suster menghampiri mereka.
Setelah ditimbang dan dicatat oleh suster, mereka kembali duduk di ruang tunggu.
Dirga mengeluarkan roti dari saku celananya.
"Des, kamu sudah makan?" tanya Dirga.
"Sudah Mas, tadi mama suruh Desi makan dulu sebelum berangkat...Mas makan aja rotinya," jawab Desi.
Dirga makan roti untuk mengganjal perutnya, ia segera menghabiskannya.
"Di tas Putri ada botol mineral mas Dirga ambil saja," Desi memberitahu.
Dirga melihat ada dua botol air mineral di dalam tas Putri, mungkin Desi sudah menyiapkannya untuk mereka minum.
Dirga lalu meneguk air di dalam botol mineral itu.
__ADS_1
"Makasih Des," ucap Dirga.
"Anak Putri Desna," suster memanggil nama Putri.
Desi dan Dirga bangun, lalu bergegas masuk ke dalam ruang praktek dokter anak.
"Silahkan dibaringkan di tempat tidur Bu," perintah dokter anak yang bernama dr. Benny itu.
"Anaknya kenapa Bu?" tanya dokter Benny.
"Sore ini rewel dok, badannya juga anget," jawab Desi.
"Ada batuk- batuk?"
" Tidak ada dok...," jawab Desi.
Putri terbangun, ia menggeliatkan tubuhnya.
Dokter Benny memeriksa tubuh mungil Putri, ia mengetuk- ngetukkan perut Putri.
"Perutnya kembung ya Bu," ujarnya.
"Anaknya dikasih asi atau susu botol Bu?" tanya dokter Benny.
"Asi dok," jawab Desi.
"Bagus, lanjutkan pemberian ASI-nya ya Bu, jaga asupan makanan yang ibu makan," ujar dokter Benny.
"Saya akan resepkan obat untuk pencernaan dan juga obat penurun panas ya Bu," dokter Benny lalu kembali ke tempat duduknya dan menuliskan resep untuk Putri.
"Makasih dok...," jawab Desi.
"Selama isterinya menyusui, tolong bapak lebih memberi perhatian ya...jangan sampai isterinya stress sehingga bisa mempengaruhi kualitas ASI nya," dokter Benny menatap Dirga.
Dirga menatap pada Desi yang terlihat salah tingkah.
"Iya baik dokter," jawab Dirga tersenyum kaku.
"Ini resepnya, nanti ditebus di apotek setelah diurus administrasinya di bagian kasir ya pak, semoga dedeknya lekas sembuh," dokter Benny menyerahkan resep pada Dirga.
" Makasih dokter," ucap Dirga.
Desi yang menggendong Putri yang kembali tertidur keluar bersama Dirga dari ruangan praktek dokter Benny.
"Biar Desi saja Mas...," kata Desi.
Setelah mengambil obat, mereka kembali pulang.
Setelah sampai di rumah Lusiana, mama Lusiana dan Lusiana sudah menunggu dengan cemas di ruang tamu.
"Bagaimana dengan Putri?" tanya mama Lusiana.
"Perutnya kembung ma, dokter kasih obat buat pencernaan dan penurun panas," jawab Desi.
"Dirga kamu makan gih...Lusiana udah nyisain lauk sama sayur buat kamu di dapur," suruh mama Lusiana.
"Iya Tan..makasih Dirga emang lapar nih," tawa Dirga.
"Ayo mas Dirga ikut Lusiana...," ajak Lusiana.
Dirga kemudian makan ditemani Lusiana.
"Mas Dirga....Lusiana mau ngomong," ujar Lusiana setelah Dirga selesai makan.
"Ada apa Lus?" tanya Dirga.
"Lusiana lihat Mas Dirga cocok menjadi pasangan Desi...," ucap Lusiana.
***********
Hendra menjemput Lusiana di rumahnya.
Setelah mendapat izin dari mama Lusiana, Hendra segera membawa Lusiana dengan mobilnya.
"Kita mau kemana Mas Hendra?" tanya Lusiana.
"Mau makan- makan, papa dan mama mengundang kamu Lus," jawab Hendra tersenyum manis.
Lusiana mengerutkan dahinya, bukankah papa Hendra tidak menyukainya?
"Ada acara apa mas? bukankah papa mas Hendra tidak.....
"Papa sudah berubah....," potong Hendra.
"Papa menyesal Lus, ia sudah menyadari kesalahannya dan hari ini ia ingin menebusnya," Hendra menjelaskan.
"Dan bagaimana dengan Dirga, apakah benar ia akan menikahimu?" tanya Hendra.
__ADS_1
"Mas Dirga hanya ingin melindungiku di depan Tante Linda, ia tidak pernah memaksaku untuk menanggapi ucapannya waktu itu," jawab Lusiana.
"Lalu bagaimana dengan mamamu? bukankah kata kamu mama mendesak kalian untuk segera menikah?" cecar Hendra.
Lusiana tertawa....
"Mas Hendra ingin tau atau ingin tau banget?" ledek Lusiana.
"Dua- duanya..."
"Mama waktu itu lagi emosi karena ucapan Tante Linda....setelah itu mama udah bicarakan sama aku...mama tidak mau aku mengambil keputusan hanya karena emosi," jelas Lusiana.
"Begitu ceritanya....aku lega sekarang....berarti aku punya kesempatan untuk menjadikanmu kekasihku," tawa Hendra.
Lusiana merona, setelah mimpinya beberapa hari yang lalu, Lusiana ingin membuka hatinya. Ia akan mengejar kebahagiaannya.
"Lus....aku ingin kamu bahagia...aku tidak ingin kamu terpuruk karena kepergian ku," ucap Aldo.
"Tapi Al...kamu pergi meninggalkan aku setelah aku mulai merasakan cinta di hatiku untukmu," jawab Lusiana.
"Relakan kepergianku Lus... ini sudah menjadi takdirku...," ucap Aldo lagi.
Lusiana terisak...
Aldo menghapus air mata Lusiana.
"Berjanjilah untuk melupakanku...hiduplah bahagia...carilah penggantiku Lus...," tambah Aldo lagi.
Aldo menatap lembut pada Lusiana yang masih menangis.
"Aku tidak akan bisa pergi dengan tenang kalau kamu belum bisa merelakan kepergianku Lus....berjanjilah untuk segera mencari penggantiku," Aldo membelai rambut Lusiana.
"Tolong....berjanjilah untuk bahagia....," Aldo memohon.
"Aku berjanji...," jawab Lusiana.
Aldo tersenyum lembut, ia nampak bahagia.
"Aku sudah bisa pergi dengan tenang....," Aldo lalu berubah menjadi seberkas cahaya, lalu perlahan menghilang.
"Lus...kita sudah sampai," ucapan Hendra menyadarkannya dari lamunannya, ia mengingat isi mimpinya beberapa hari yang lalu.
Aldo mendatanginya lewat mimpi dan memberinya pesan.
Lusiana tersenyum, Lusiana turun dari mobil Hendra.
Hendra menggandeng mesra tangan Lusiana.
Jantung Lusiana berdetak dengan kencang.
"Ayo kita masuk, papa mama sudah menunggu di dalam," Hendra menarik lembut tangan Lusiana.
Setelah masuk ke dalam sebuah restoran.
"Di sini....," lambai papa Hendra.
Lusiana dan Hendra menghampiri mama dan papa Hendra.
" Halo Tante...om...apa kabar?" sapa Lusiana tersenyum.
"Baik...baik...ayo duduk....," Papa Hendra menjawab ramah.
Mama Hendra berpandangan dengan Hendra dengan tersenyum, mama Hendra mengedipkan sebelah matanya pada Hendra.
"Kamu apa kabar juga sayang?" tanya mama Hendra.
"Baik Tan...," jawab Lusiana.
"Lusiana.....om ingin minta maaf sama kamu...om sudah banyak berbuat kesalahan sama kamu...termasuk saat kamu kecelakaan itu adalah perbuatan om...," papa Lusiana berkata dengan panjang lebar, terlihat rasa bersalah dari tatapan matanya.
"Lupakan semuanya om...Lusiana sudah memaafkannya," jawab Lusiana tersenyum.
"Termasuk membuat kamu kecelakaan dan masuk rumah sakit?...itu karena Om yang menyuruh orang untuk mencelakai kamu," tambah papa Hendra.
"Lusiana sudah tau semuanya om....dan Lusiana sudah melupakannya jauh- jauh hari sebelum hari ini," jawab Lusiana.
"Kamu sudah tau..?" papa Hendra terlihat heran.
"Iya om...mas Hendra udah menceritakannya pada saya waktu itu," imbuh Lusiana.
" Hah?...dasar kamu bocah pengkhianat...," papa Hendra tertawa memandang Hendra.
Hendra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Udah....udah....kapan kita mulai makannya?" sela mama Hendra.
Pelayan membawa pesanan mereka...
__ADS_1
Mereka makan sambil mengobrol dengan hangat....