Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Dirga


__ADS_3

Aku adalah anak sulung dari dua bersaudara...aku punya seorang adik laki- laki, Dilan namanya.


Aku punya seorang sahabat dari masa kami kuliah, sahabat terbaik dan terlucu yang aku punya, Vino namanya.


Walaupun Vino sudah menikah dan dikarunia dua orang anak kami tetap berhubungan lewat telepon.


Kami tetap menyempatkan waktu untuk saling memberi kabar.


Jarak yang memisahkan Cianjur dan Pulau Bangka tidak menghalangi kedekatan kami.


Pada suatu waktu, Vino mengabarkan akan pulang menjenguk mama dan adiknya ke kota kelahiran kami, Pangkalpinang.


Vino minta aku menjemput kedatangannya di bandara Depati Amir.


Aku dengan senang hati menjemputnya karena memang aku rindu bertemu dengan sahabatku itu.


Vino punya seorang adik perempuan. Vino ingin menjodohkan adiknya untuk jadi pacarku. Semula aku hanya menganggapnya sebagai candaan karena statusku yang masih jomblo.


Tapi ternyata ia serius, ia ingin aku mendekati adiknya.


Pertama kali Vino mengajakku menjemput adiknya, Lusiana pulang dari tempatnya bekerja.


Dalam perjalanan pulang di dalam mobilku, Vino mulai melancarkan "aksi" nya.


Lusiana jadi bahan ledekan Vino, sampai adiknya itu nampak kewalahan


oleh ulah abangnya itu.


Aku sempat tertawa geli melihat tingkah Vino, tapi lama- lama jadi kasihan pada Lusiana yang jadi "korban" kejahilan abangnya.


Pertama kali melihat Lusiana, sudah ada rasa tertarik dalam hatiku.


Vino dengan blak- blakan bertanya padaku apa aku suka pada adiknya.


Tentu saja aku suka pada Lusiana. Bukan hanya karena ia cantik, tapi juga karena Lusiana punya sesuatu yang menjadi daya tarik tersendiri.


Aku bukanlah orang yang gampang jatuh cinta pada seorang wanita.


Selama ini ada banyak gadis- gadis cantik yang ingin mendekatiku. Tapi belum ada yang " nyantol" di hati.


Tapi setelah melihat Lusiana, aku menyadari ada yang berbeda di hatiku.


Sesuatu getar kecil mulai kurasakan di hatiku pada gadis itu.


Tapi aku tidak terlalu berharap banyak, aku tau dari mulut Vino yang dikatakannya juga di depan Lusiana, yang Vino dengar dari mulut mama Vino bahwa Lusiana sedang "dikejar- kejar" banyak laki- laki.

__ADS_1


Wajar, karena memang Lusiana gadis yang pembawaannya selain cantik, juga anggun dan menarik.


Pernah aku lihat seorang pria sewaktu aku menjemput Lusiana yang kumpul dengan teman- temannya di rumah makan " Mentari".


Seorang pria yang dikenalkan Lusiana padaku. Namanya Pak Nino. Aku seperti tidak asing dan pernah melihat pria itu, tapi lupa kapan dan di mana.


Dari sorot mata pria itu, aku tau laki- laki itu menyukai Lusiana. Tapi entah mengapa aku tidak menyukai tatapan pria itu pada Lusiana.


Tatapannya seperti tatapan " buas" seorang mata keranjang. Walaupun aku tidak mengenal siapa Pak Nino sebenarnya, tapi sebagai laki- laki dewasa aku bisa menilai laki- laki hanya dari sorot tatapan matanya.


Dan bisa ku nilai juga, Lusiana tampak menjaga jarak dari laki- laki itu.


Mungkin Lusiana juga bisa merasakan Pak Nino sepertinya bukan seorang laki- laki yang " baik".


Beberapa hari ini aku tiap hari menemani Vino selama ia berada di Pangkalpinang.


Selain karena pekerjaanku tidak banyak, aku juga dengan senang hati mengajaknya keliling kota, keluar makan, bahkan hanya sekedar ngobrol- ngobrol.


Aku memanfaatkan kebersamaan kami sebelum ia kembali ke Cianjur beberapa hari lagi.


Aku dan Vino seumuran, beda enam tahun dengan Lusiana.


"Jarak yang tidak terlalu jauh," kata Vino.


Walaupun nanti nya aku tidak berjodoh dengan Lusiana, aku akan tetap menganggapnya sebagai adik karena ia adalah adik dari sahabatku berarti dia adalah adikku juga.


Vino pasti mengkhawatirkan mama dan adik perempuannya yang hanya tinggal berdua, tidak ada laki- laki di rumah itu.


Aku hanya mengiyakan, lagian aku tidak keberatan menjaga mereka.


Ada rasa ingin melindungi mereka.


Aku juga bertemu dengan teman pria Lusiana yang bernama Aldo.


Aldo seorang laki- laki ganteng, sopan, dan dari sorot matanya aku bisa menilai Aldo laki- laki yang baik.


Aku lebih suka Lusiana dekat dengan Aldo nantinya.


Lusiana belum tentu menyukaiku, karena laki- laki yang mendekatinya usianya lebih muda dari aku.


Aku mungkin lebih pantas menjadi kakaknya saja, bukannya minder tapi aku tau diri.


Walaupun Vino mendukung aku maju mendekati adiknya, tapi rasanya aku tidak akan menang "bersaing" dengan laki- laki lain yang lebih muda, ganteng, dan lebih sukses dari aku.


Biarkan waktu yang bicara, seandainya Lusiana adalah jodohku aku akan menerimanya dengan senang hati, dan kalau Lusiana lebih memilih laki- laki lain aku juga akan menerimanya dengan berbesar hati.

__ADS_1


Aku hanya akan berusaha tetap menjaga hubungan baik dengan mereka.


Aku juga sudah berusia matang, kalau ada jodoh secara usia sebenarnya udah siap untuk langsung menikah, secara ekonomi aku termasuk sudah mapan.


Papa mama ku juga sering menanyakan, kapan aku segera punya pacar lalu menikah.


Karena adikku Dilan saja sudah menikah dan sudah punya anak yang masih bayi.


Ia "melangkahi" ku menikah duluan, karena ia sudah punya pacar semasa SMA, dan langsung menikah setelah ia menamatkan kuliahnya.


Tapi, aku tidak ambil pusing, aku fokus mengembangkan bisnisku.


Walaupun bisnisku tidak terlalu besar, tetapi setidaknya saldo di tabunganku jumlahnya terus bertambah, cukuplah untuk menghidupi anak isteriku nantinya.


Papa mama punya bisnis sendiri. Mereka punya butik busana muslim.


Sedangkan Dilan adikku, mengurus toko emas yang modalnya dari kongsian kami berdua.


Hasil keuntungan dari toko emas kupercayakan pada Dilan, ia akan mengirim bagianku setiap bulan di rekeningku.


Selama ini aku sibuk bekerja, sehingga tidak terlalu memikirkan untuk cepat- cepat berumah tangga.


Tapi itu sebelum aku bertemu Lusiana, setelah bertemu Lusiana aku berubah pikiran.


Seandainya Lusiana berjodoh denganku nantinya, aku tidak ingin lama- lama pacaran ...aku akan segera mengikatnya dalam ikatan suci sebuah pernikahan.


Ah...lamunanku terlalu jauh. Belum tentu juga Lusiana tertarik padaku.


Aku menertawakan diriku sendiri, berpikiran terlalu jauh...


Memulai pun belum....aku belum berani mendekati Lusiana secara pribadi.


Ada perasaan takut....bukan takut ditolak...


Aku takut ia akan menjauhiku karena merasa tidak nyaman, kalau nanti ternyata Lusiana menolakku.


Aku ingin tetap dekat dengan keluarga Vino. Ini karena di dalam hatiku aku tulus menyayangi mereka...


Aku ingin mereka menjadi orang yang dekat denganku, menjadi bagian dari hidupku...


Walaupun bukan dalam hubungan ikatan keluarga, tetapi dalam ikatan persahabatan pun sudah membuatku bahagia....


Setidaknya aku merasa punya keluarga lain selain keluargaku, yang menerima kehadiranku dan memperlakukan aku seperti bagian dari keluarga mereka.


Mama Lusiana yang ramah....yang selalu memaksa aku untuk makan masakannya bila aku datang ke sana.

__ADS_1


Lusiana yang membuatku gemas...melihatnya kesal karena suka diledekin abangnya yang merupakan sahabatku itu.


__ADS_2