
POV Nino
Halo Lusiana..." sapaku.
"Pak Nino...bagaimana bisa tau rumah Lusiana?" tanyanya heran.
"Dari teman," jawabku asal.
"Siapa?" tanya Lusiana.
"Ada," jawabku.
"Tante tinggal dulu ya Nak Nino," kata mama Lusiana.
"Iya silahkan Tante...," jawabku sambil mengangguk.
Lusiana lalu duduk di sofa seberang tempat aku duduk.
Ia seperti menjaga jarak.
" Gimana dengan pekerjaanmu Lus?" tanyaku berbasa- basi.
"Baik Pak Nino," jawabnya.
"Jangan panggil Pak lagi dong...," kataku tertawa.
" Sudah terbiasa Pak, ga enak kalau diubah," jawabnya.
" Ya sudah terserah kamu saja," jawabku sedikit kesal, tapi tidak kutunjukkan.
" Pak Nino masih ada tugas di sini?" tanyanya.
"Iya Lus.."
" Itu ga dimakan Pak?" tunjuk Lusiana pada pisang goreng yang ada di atas meja tamu.
" Iya Lus, ini mau dimakan...makasih," kataku sambil mencomot satu pisang goreng.
"Enak...Lusi ga mau?" tanyaku.
"Nanti saja Pak, bentar lagi mau makan malam takut kekenyangan," jawabnya.
Aku lalu mengelap tanganku dengan tisu, lalu minum teh manis yang sudah dibuat mama Lusiana untukku.
"Lus, kita keluar makan yuk," ajakku.
"Ga usah Pak Nino, mama pasti udah masak. Pak Nino mau makan di sini?" tawarnya padaku.
" Ga usah Lus...sebentar lagi juga mau pulang kok...kamu juga pasti mau mandi dan istirahat," jawabku sok pengertian.
Aku harus memberi kesan baik pada mama Lusiana.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya Lus, nanti kapan- kapan boleh kan aku ke sini lagi?" tanyaku.
" Boleh- boleh saja Pak, siapa saja boleh datang ke sini," jawabnya.
"Kalau begitu, tolong panggilkan mama kamu Lus, aku mau pamit," pintaku.
"Tunggu bentar Pak," jawabnya.
Lusiana lalu masuk ke arah belakang rumahnya, lalu ia keluar diikuti oleh mamanya.
"Udah mau pulang Nak?" tanya mama Lusiana.
"Iya Tante...saya pamit dulu. Makasih suguhannya," aku lalu menyalami mama Lusiana.
"Lus aku pamit dulu ya."
"Iya Pak, hati- hati di jalan," kata Lusiana lalu mengantarku sampai di teras rumahnya.
Aku lalu pergi meninggalkan rumah Lusiana.
__ADS_1
Aku bersiul senang di dalam mobil, akhirnya aku bisa ngobrol dengan Lusiana walau cuma sebentar.
Setidaknya, sudah bisa mengobati kerinduanku padanya.
Selanjutnya aku bisa langsung datang ke rumahnya.
Dengan bersiul- siul sepanjang perjalanan, aku merasa seperti mendapatkan durian runtuh.
Jiwa mudaku begitu bersemangat, hanya dengan melihat Lusiana apalagi sampai bisa mengobrol dengannya seperti sebuah candu yang membuatku ingin lagi dan ingin lagi.
Ponsel di saku kemejaku berdering, aku memasang headset di telingaku.
" Halo....Mas Nino..."
"Halo sayang..." tanpa sadar aku memanggil sayang, yang kubayangkan adalah Lusiana.
"Iya sayang..." suara di seberang terlihat begitu senang.
Aku tersadar...Desi yang meneleponku bukan Lusiana.
"Hmm...ada apa?" tanyaku.
" Mas Nino udah pulang ke rumah?" tanyanya lembut.
" Ini dalam perjalanan pulang....banyak kerjaan," jawabku berbohong.
Padahal pekerjaanku udah selesai sebelum sore sekali.
"Mas udah makan?" tanyanya lagi.
" Belum, nanti pesan online kalau sudah sampai di rumah," jawabku.
"Mas Nino, aku kangen..."ucapnya.
" Aku ke Pangkalpinang cuma beberapa hari," jawabku.
"Mas Nino ga kangen aku?" tanyanya lagi.
Untung suasana hatiku hari ini sedang senang, sehingga aku bisa bersikap baik pada Desi.
Heran aku....kenapa Desi begitu perhatian padaku?
Apa ia tidak capek mencintaiku tanpa ada balasan dari ku.
Mungkin itu yang dinamakan cinta, tidak peduli orang yang dicintainya membalas cintanya atau tidak.
Tapi dengan Desi aku sudah merasa tawar, tidak ada lagi getar- getar di hatiku seperti saat pertama aku baru mengenalnya.
Setelah ia berhasil ku dapatkan, jiwa petualang ku seperti meronta- ronta.
Aku tidak puas....aku masih butuh yang lain.
Aku masih ingin bersenang- senang, tidak ada yang bisa mengikatku.
"Mas Nino..." suar Desi memanggilku.
Aku tersadar dari lamunanku.
" Iya..." sahutku.
" Nanti kalau sudah balik ke sini, kita jalan- jalan berdua yuk...sudah lama kita tidak pergi berdua," katanya lagi.
" Kita lihat saja nanti," jawabku asal.
Aku tidak ingin menjanjikan apa- apa pada Desi, ia pasti akan menuntut ku untuk memenuhi janjiku untuk jalan- jalan berdua kalau aku mengiyakannya.
" Mas Nino tidak ingin kita jalan- jalan berdua?" tanya Desi lagi.
" Sudahlah...nanti baru dibicarakan, ini sudah mau sampai di rumah," jawabku.
" Baiklah mas Nino, ditutup dulu teleponnya...jangan lupa jaga kesehatan," ia menutup pembicaraan.
__ADS_1
Aku menghela napas kasar...
"Dasar perempuan..."
Aku membelokkan mobilku ke halaman rumahku, malam ini aku ingin memimpikan Lusiana.
Suasana hatiku kembali senang begitu aku membayangkan gadis polos itu.
Gadis cantik berambut panjang dengan senyumnya yang bisa membuat jantungku bergetar...
Senyum yang bisa membuat aku mabuk kepayang...
Gadis itu membuatku begitu bersemangat, membuat semangat jiwa mudaku bergelora.
Hanya dengan membayangkan wajah Lusiana saja jantungku sudah seperti mau melompat.
Apalagi kalau aku sudah mendapatkannya...
**********
POV Lusiana
Aku sangat terkejut, begitu turun dari angkot melihat mobil Pak Nino yang sudah kukenal...parkir di halaman depan rumahku.
Aku mempercepat langkahku masuk ke dalam rumah, dan memang benar Pak Nino sedang mengobrol dengan mama.
Gigih juga dia, entah dari mana Pak Nino bisa mendapatkan alamat rumahku.
"Dari teman," jawabnya saat ku tanya dari mana ia mendapatkan alamat rumahku.
"Siapa?" tanyaku ingin tau.
"Ada," jawabnya, ia tidak menyebutkan siapa yang sudah memberitahunya.
Aku sempat berpikir keras, temannya yang mana yang juga mengenalku dan tau alamat rumahku.
Tidak ada satu pun nama yang terlintas dari pikiranku, mungkin Pak Nino asal menjawab.
Entahlah, aku ga mau ambil pusing...biarkan saja.
Untung ia tidak berlama- lama di rumahku, aku merasa risih...
Apalagi aku baru pulang kerja, belum mandi dan belum makan malam.
Tapi aku tetap berusaha untuk bersikap sopan, aku tidak mungkin mengusirnya pulang.
Aku berusaha agar tetap bisa berteman, walaupun aku tidak pernah memberinya harapan.
Bagaimanapun aku tetap harus menjaga perasaannya, agar ia tidak tersinggung walaupun jujur ada rasa tak nyaman ia mencari alamat rumahku tanpa sepengetahuanku.
Apalagi ia secara tiba- tiba dan mendadak sudah ada di dalam rumahku.
"Biarlah, anggap saja Pak Nino sebagai seorang teman lama," gumamku dalam hati.
Semakin banyak teman akan semakin baik, asal ia sopan terhadapku.
Selama Pak Nino bersikap sopan padaku, aku juga akan berusaha untuk menghormatinya.
Hanya sebagai seorang teman atau kenalan...tidak bisa lebih.
Entah mengapa...hati kecilku mengatakan....aku harus menjaga jarak dengan Pak Nino dan harus bersikap hati- hati.
Ada pandangan " buaya " dalam tatapan matanya.
Ia sering melirikku dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
Yang jelas..aku melihat ada tatapan seperti " berna**u ".
Tatapan yang tidak pernah kurasakan pada Fendi, Mas Hendra, Mas Dirga, maupun Aldo.
Aku suka bergidik sendiri kalau ingat tatapan Pak Nino yang sedang mengarah padaku.
__ADS_1