Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
Hendra cemburu?


__ADS_3

Sosok bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan yang punya kharisma masuk dan juga pandangannya langsung tertuju pada Lusiana dan Nino.


"Selamat siang Pak Hendra", sapa Nino. Nino dan Hendra sudah saling mengenal satu sama lain, Hendra sudah pernah bertemu dengan Nino.


"Selamat siang Pak Nino, tumben datang ke sini tanpa kasih kabar?"


Lusiana menarik napas lega, Hendra bosnya datang di waktu yang sangat tepat, ia tidak perlu menjawab sekarang pertanyaan Nino mengenai alamat rumahnya.


Lusiana segera berdiri dan berpamitan pada Nino.


" Maaf Pak Nino, karena Pak Hendra nya sudah datang saya tinggal dulu ya, waktu istirahat sebentar lagi udah mau habis, saya masih ada pekerjaan."


Nino terlihat kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Hendra datang di saat waktu yang tidak tepat, dalam hatinya ia agak kesal.


Lusiana bergegas ke ruangan kerjanya dan mengangguk sopan pada Nino.


"Fuih, kali ini selamat." Lusiana bersyukur dalam hatinya.


Hendra menatap punggung Lusiana yang mulai menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.


Hendra lalu duduk di sofa dan mempersilahkan Nino untuk duduk.


" Kalau boleh tau, Pak Nino ke sini sengaja mencari saya?"


" Saya lagi ada tugas dari kantor ke arah deket2 sini Pak Hendra, jadi sekalian saya mampir, apa kedatangan saya mengganggu Pak Hendra?"


" Oh tentu saja tidak, Pak Nino boleh kapan saja mampir ke sini, pintu kita selalu terbuka buat Pak Nino." Kata Hendra ramah.

__ADS_1


" Ngomong-ngomong, Pak Hendra beruntung punya pegawai kayak Lusiana. Ia cantik, kalau jadi Pak Hendra saya betah lama-lama berada di kantor. ha...ha..."


"Silahkan minum dulu Pak Nino, tunjuk Hendra pada beberapa botol mineral yang memang selalu tersedia di atas meja tamu kantor, saya pesankan kopi panas ya?"


" Tidak usah Pak Hendra, ini saja cukup. Saya juga mau pamit lanjutkan tugas saya, terimakasih dan tolong sampaikan salam saya pada Lusiana".


Hendra langsung berdiri ketika Nino berpamitan pulang. Hendra mengantarnya sampai di depan pintu keluar.


Kantorpun mulai ramai dengan kembalinya para pegawai karena waktu istirahat sudah habis.


Hendra berjalan ke ruangannya, ketika melewati meja Lusiana, Hendra melihat gadis itu sibuk dengan komputernya.


" Lus, kamu ke ruangan saya bentar."


Lusiana menoleh ke arah Hendra dan mengerenyitkan keningnya.


Hendra menuju ruangannya yang berada di ujung paling belakang bagian kantor. Sedangkan Lusiana dan beberapa pegawai yang lain berada di tengah ruangan yang bagian meja antar pegawai dikasih sekat- sekat.


Lusiana meninggalkan mejanya menuju ruangan si bos galak.


" Masuk," jawab si bos galak setelah Lusiana mengetuk pintu.


Lusiana masuk dan melihat wajah sangar si bos.


"Duduk."


"Ada apa Bapak memanggil saya, apa saya bikin kesalahan Pak?"

__ADS_1


" Iya , kamu bikin salah karena hari ini bikin saya kesel."


"Emang saya bikin salah apa Pak?"


Lusiana meneguk salivanya, ia mengingat- ingat kesalahan apa yang ia perbuat.


"Kesalahan kamu adalah tebar pesona sama relasi saya, kamu bangga sama sikap kamu hah?"


"Maksudnya apa Pak, saya tidak mengerti."


"Tidak mengerti atau pura- pura tidak mengerti? tadi kenapa Pak Nino tiba- tiba datang, kenapa kamu yang menemui Pak Nino? dia bisa menunggu saya di ruang tamu tanpa kamu temani?"


"Oh itu penyebab kamu hari ini ga keluar makan siang, udah bikin janji ternyata."


Lusiana kaget, Hendra memanggilnya hanya untuk dibentak-bentak. Mata Lusiana berkaca- kaca menahan tangis. Ia memang sudah biasa menerima kemarahan bosnya, tapi hari ini bosnya sudah keterlaluan. Lusiana merasa tidak berbuat salah.


Pak Nino sendiri yang datang mencarinya, bukan mereka sengaja membuat janji. Susan saksinya tadi siang memberitahu ada tamu yang mencarinya.


"Saya tidak suka lihat kamu genit- genit sama relasi saya, saya tidak ingin pegawai saya dicap jelek sama orang luar, kamu mengerti?"


" Saya tidak genit pak, saya hanya menemui Pak Nino karena katanya dia mencari saya. Kalau Bapak tidak percaya silahkan tanyakan sama mbak Susan apa saya bohong."


"Kamu memang pintar nyolot kalau saya kasih tau, sekarang kamu udah boleh keluar."


Lusiana menghela napasnya, ia mengelap air matanya dengan jari tangannya, air matanya turun tak bisa ia tahan lagi. Dengan gontai ia keluar, lalu menuju ke arah toilet untuk menenangkan diri.


Ia tidak ingin rekan- rekan kerjanya tau, ia sedang menahan tangisnya agar tidak tumpah. Hidung dan matanya langsung memerah. Lusiana segera mencuci mukanya dengan air dingin. Dia menghela napasnya dalam - dalam untuk menenangkan diri.

__ADS_1


__ADS_2