
Desi menghubungi Eni...
"En...bisakah ketemuan? aku masih di Pangkalpinang," ajak Desi.
"Boleh Des, sore setelah aku dan Lusiana pulang kerja ya?" jawab Eni.
"Bagaimana kalau aku dan Lusiana ke rumahmu?" usul Eni.
" Boleh....boleh sekali En," Desi sangat senang.
"Oke Des, tolong kirimkan alamat rumahmu ya," ujar Eni.
"Oke, nanti aku shareloc aja," jawab Desi.
"Oke Des, bye...," Eni lalu menutup ponselnya, kemudian menelepon Fendi.
"Fen, nanti sore bisa jemput aku dan Lusiana ga?" tanya Eni.
" Bisa En, emang mau kemana?" tanya Fendi.
" Ke rumah Desi...itu lho yang kemarin...yang dikenalin sama kamu...jadi penunggu buku tamu bareng kita," jelas Eni.
"Oke ga masalah En...," Fendi mengiyakan.
"Oke Fen...jam empat kamu ke rumahku ya...nanti kita jemput Lusiana..."
"Siap tuan Puteri," jawab Fendi.
Eni lalu menutup ponselnya untuk menelepon Lusiana.
"Halo Lus...nanti sore tunggu di kantor kamu ya...aku dan Fendi jemput kamu," Eni bicara tanpa basa-basi.
"Emang mau kemana En?"tanya Lusiana.
"Aku janjian sama Desi ke rumahnya ajak kamu," jawab Eni.
" Oke En, ya udah aku kirim pesan ngasihtau mamaku dulu," balas Lusiana.
*******
"Itu rumahnya," tunjuk Eni.
Fendi membelokkan mobilnya ke arah rumah yang ditunjuk oleh Eni.
"Desi tadi kirim pesan, ia sudah masak buat kita," Eni memberitahu.
"Tin..Tin..." Fendi mengklakson setelah mobilnya berhenti.
Fendi mematikan mesin mobilnya, lalu mereka bertiga turun dari mobil.
Desi membuka pintu, dengan tersenyum
ia menyambut mereka.
" Masuk yuk," ajaknya.
Lusiana, Fendi, dan Eni lalu masuk.
"Duduklah...anggap rumah sendiri," kata Desi ramah.
"Suamimu mana Des?" tanya Eni.
"Belum pulang," jawab Desi.
"Kita langsung makan yuk," ajak Desi.
" Ga tunggu suami kamu Des?" tanya Eni.
" Ga usah, takutnya dia pulang malam...kalian keburu lapar...ayo ga apa- apa kita makan duluan..anakku juga udah minta makan," Desi tertawa sambil mengusap perutnya yang buncit.
__ADS_1
" Ayolah kalau begitu...ayo Lus..Fen.." ajak Eni.
"Maaf jadi ngerepotin kamu Des," kata Lusiana tersenyum.
" Ga repot kok, aku malah seneng punya teman," jawab Desi.
Mereka mencuci tangan bergantian lalu duduk di meja makan.
"Wow, kelihatannya enak....," kata Eni.
Desi udah masak beberapa hidangan..
ada tumis kangkung, ikan goreng tepung asem manis, sayur asem, sama daging rendang.
" Kamu yang nyiapin semua Des?" tanya Lusiana.
" Iya Lus, cuma ga tau enak apa enggak," kata Desi tertawa.
"Pasti enaklah ini," jawab Lusiana.
"Ayo dimakan," kata Desi.
Mereka lalu menyendokkan nasi ke piring masing- masing, lalu mengambil lauk dan sayur.
"Enak..." Eni mulai makan.
Semua mulai makan dan menikmatinya sambil bercanda.
Setelah selesai makan, mereka kembali duduk ke ruang tamu.
Desi mengambil minuman dingin dari kulkas dan membawanya ke ruang tamu.
" Ngomong- ngomong siapa sih nama suami kamu Des?" tanya Eni.
"Nino," jawab Desi.
"Nino? mungkin nama yang sama tapi beda orang," pikir Lusiana dalam hati.
" Ada banyak En, keluarga Marsella salah satunya...tapi masing- masing sibuk En...aku juga ga terlalu mengenal jalan di kota ini," jawab Desi.
" Emang kamu ga tinggal di kota ini Des?" tanya Lusiana.
" Ga...kan aku tinggal di Sungailiat...cuma suamiku juga beli rumah di sini karena sering tugas di sini," tambah Desi lagi.
" Kok sama dengan Pak Nino yang itu? tinggal di Sungailiat tapi sering tugas di Pangkalpinang...apa mungkin mereka Nino yang sama?" pikir Lusiana.
"Des, Minggu ini aku akan kerja di Taiwan, nanti berangkat bareng Fendi...," Eni memberitahu Desi.
" Ya...baru juga kita mau mulai akrab," Desi terlihat kecewa.
" Ga apa- apa Des, kamu bisa cari Lusiana...dia bebas kok kesana kemari...iya kan Lus?" Eni menyikut lengan Lusiana.
" Iya Des...kita bisa bertemu kapan kamu bisa," jawab Lusiana.
"Nanti aku kasih nomor ponsel Lusiana buat kamu Des...kalau kamu datang di Pangkalpinang...kalian bisa ketemu," sambung Eni tertawa.
"Oke....dengan senang hati...," jawab Desi terlihat senang.
" Suami kamu pulangnya malam Des?" tanya Fendi.
" Iya....paling sebentar lagi juga pulang," jawab Desi.
" Kenapa Fen? merasa cowok sendiri ya? pengen ngobrol sama suami Desi," ledek Eni.
" Ga juga...yang penting ada Lusiana aku hepi- hepi aja," balas Fendi tertawa.
Desi ikut tertawa, sudah lama ia tidak merasa sesenang ini.
Biasanya ia selalu merasa kesepian di rumah.
__ADS_1
Bertemu dengan Eni, Lusiana, dan Fendi membuatnya bisa tersenyum karena candaan mereka.
"Kapan- kapan kalau main ke Sungailiat, mampir Lus ke rumahku," kata Desi.
" Beberapa bulan sekali sih aku kadang ditugaskan ke sana Des mengantar berkas tagihan ke kantor rekanan kantorku," kata Lusiana.
"Mampir Lus," kata Desi senang.
"Mudah- mudahan kalau ga uber-uberan waktu ya," jawab Lusiana.
Eni membuka ponselnya, ia mengirimkan kontak Lusiana pada Desi.
Ting...
"Itu nomor Lusiana Des, udah aku kirim" kata Eni.
Desi melihat ponselnya, ia men-save nomor Lusiana lalu mengirimkan pesan buat Lusiana.
"Tes."
"Itu nomorku ya Lus," kata Desi.
"Oke Des, aku save," Lusiana mengambil ponselnya dan menyimpan nomor kontak Desi.
"Kamu jadi ikut Fendi En, udah pesan tiket?" tanya Lusiana pada Eni.
"Jadi dong...jangan cemburu ya Lus aku bareng Fendi," tawa Eni meledek Lusiana.
" Kalian jadian juga ga apa-apa En," jawab Lusiana santai.
" Beneran nih ga cemburu?" tanya Eni membulatkan matanya.
" Kenapa cemburu? bukan pacar ini," tawa Lusiana.
" Hancurnya hatiku....," jawab Fendi memegang dadanya.
"Lusiana....aku patah hati....," sambungnya lagi yang langsung diikuti gelak tawa Eni, Lusiana, dan Desi.
"Beneran ya...kalau Fendi jadi pacarku, awas kalau kamu marah," Eni pura-pura mengancam Lusiana.
" Aku ikhlas....buat sahabat baikku....," jawab Lusiana balas meledek Eni.
"Udah ah bercandanya, nanti Fendi kegeeran....dikiranya kita rebutan buat jadi pacar dia," ujar Eni.
"Des, kamu jangan heran ya dengan banyolan mereka...berisik," tawa Lusiana.
Desi tersenyum melihat tingkah laku teman- teman barunya itu,ia merasa perasaannya sangat nyaman.
Mereka cepat akrab dengannya.
"Yang berisik...nanti yang paling dirindukan," balas Eni tertawa.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Desi.
"Mas Nino pulang," kata Desi memberitahu.
"Aku tinggal bentar ya," Desi lalu membuka pintu lalu keluar ke teras menyambut suaminya.
"Lagi ada tamu?" tanya suami Desi mengerenyitkan keningnya.
Ia heran, selama ini isterinya tidak punya banyak teman, apalagi di Pangkalpinang Desi tidak ada teman di kota ini.
"Eni, adik ipar Marsella sama teman-teman baruku," jawab Desi sumringah.
"Owh," Nino lalu masuk mengikuti Desi.
"Malam.....," Eni yang duluan menyapa.
"Malam..."
__ADS_1
"Lusiana ?...........