
Aku mendesah menahan nyeri di kepala dan lengan kananku.
Aku mengerjap- ngerjapkan mataku, berusaha untuk menahan silau.
"Lusiana...."
Perlahan aku membuka kedua mataku, ku pandangi sekeliling tempat aku berbaring.
Pertama yang kulihat mama, Mas Hendra, dan Mas Dirga...
Ada kantong infus yang tergantung di tiang di samping tempat tidurku, ruangan putih yang tidak ku kenal.
Aku pasti berada di rumah sakit.
"Lusiana bagaimana rasanya? bagian mana yang terasa sakit Nak?" tanya mama terlihat khawatir.
" Kepala Lusi dan lengan kanan Lusi ma," jawabku.
Aku mengingat- ngingat kejadian terakhir yang membuatku sampai berada di rumah sakit ini.
Aku ditabrak oleh pengendara motor saat berada di trotoar. Bagaimana sepeda motor bisa sampai menerobos di trotoar?
Aku tidak bisa menghindar karena kejadiannya begitu cepat.
Hanya tiba- tiba merasakan sakit di lengan kananku lalu aku tersungkur...aku merasakan darah merembes keluar dari kepalaku
Setelah itu aku sudah tidak ingat apa- apa lagi, sampai aku terbangun di sini.
Ku lihat Mas Hendra menekan tombol untuk memanggil petugas medis.
"Ada yang bisa dibantu Pak?" terdengar suara seorang suster menjawab panggilan.
" Pasien Lusiana sudah sadar dari pingsannya Sus, bisa diperiksa kondisi pasien?" Mas Hendra menjawab.
" Baik Pak, segera saya laporkan ke dokter yang menangani ya. Mohon ditunggu sebentar."
" Makasih Sus," jawab Mas Hendra menutup panggilannya.
"Mama ke sini sama Mas Dirga?" tanyaku.
" Iya Nak...kebetulan Mas Dirga sedang berkunjung di rumah," jawab Mama.
" Makasih Mas Dirga, maaf Lusi jadi merepotkan," ucapku padanya.
Mas Dirga memandangku dengan tersenyum.
" Sama- sama Lus...yang penting kamu selamat," ucapnya menepuk pelan jemariku.
Telepon genggam mama berdering, mama menyingkir lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
" Iya Nak Aldo...Lusiana baik- baik saja," ku dengar mama bicara di ponselnya.
" Iya boleh, tunggu bentar...Tante tanya Nak Hendra dulu ya..."
" Nak Hendra....jam besuknya sampai jam berapa ya Nak?" tanya mama pada Mas Hendra.
" Di ruang VIP bebas jam besuk Tan, boleh kapan aja asal jangan bawa terlalu banyak orang," jawab Mas Hendra.
Mama menggangguk, lalu berbicara dengan ponselnya lagi.
__ADS_1
" Ruang VIP bebas jam besuk katanya nak Aldo, asal jangan terlalu bawa banyak orang," sambung mama pada Aldo.
" Oh berdua sama Tante Dewi? baiklah Nak Aldo... makasih ya dan hati- hati di jalan," mama kemudian menutup sambungan teleponnya.
Mama mendekatiku...
" Aldo sama Tante Dewi mau ke sini nak jenguk kamu..."
"Aldo tau dari mana ma kalau Lusi dirawat di rumah sakit?" tanyaku pada mama.
" Tadi kebetulan pas mama lagi di jalan... Tante Dewi telepon mama mau main ke rumah, mama kasih tau mama lagi di jalan menuju ke rumah sakit."
" Pasti Tante Dewi langsung ngabarin Aldo kalau kamu di rawat di sini," sambung mama lagi.
Tok....tok....tok...
Seorang dokter wanita dan dua orang suster masuk, mereka tersenyum.
" Selamat malam semuanya...." sapa dokter itu ramah.
"Malam dok..."
"Saya dokter Inge yang menangani nona Lusiana ya," katanya memperkenalkan diri.
Seorang suster memeriksa tensi Lusiana.
"Normal dok...120/80..."
Dokter Inge memeriksa Lusiana menggunakan stetoskopnya.
"Hasil Rontgennya udah selesai sus?" tanya dokter Inge pada suster yang kubaca dari nametag di baju seragamnya bernama Rita.
" Sudah dok," Suster Rita mengeluarkan dua amplop besar yang di selipkannya di buku laporannya.
" Bagus...." ia tersenyum.
"Dua- dua nya bagus hasilnya, tidak ada yang parah. Cuma cedera tendon ringan saja ya..." dokter Inge menjelaskan.
" Tinggal pemulihan memarnya saja ya...bagaimana nona Lusiana apa ada keluhan lain selain kepala dan lengan kanan?"
" Tidak ada dok, cuma rasa sakit di kepala dan lengan kanan saja."
" Besok kita buka perban di kepala ya...sekalian dibersihin lagi...kalau tidak ada keluhan mungkin besok malam atau lusa pagi udah boleh pulang..." ujar dokter Inge.
"Memar di lengan bagaimana dok?" tanya Mas Hendra.
" Tadi suster udah kasih salep untuk memar, tidak apa- apa memar bisa hilang sendiri. Nanti salepnya diteruskan sampai memarnya hilang...kalau sudah di rumah boleh bantu kompres air hangat sebelum dikasih salep ya...," dengan sabar dokter Inge menjelaskan.
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya dokter Inge.
" Udah dok...itu saja..makasih," jawab Mas Hendra.
" Sementara nona Lusiana istirahat saja ya..."
" Oke, kalau begitu saya permisi dulu...," kata dokter Inge berpamitan.
" Makasih dok..."
" Sama- sama..."
__ADS_1
Syukurlah, hasilnya bagus...semua yang ada di ruangan itu ku lihat terlihat lega.
"Nak Hendra kalau udah capek, pulang aja Nak...biar Tante yang berjaga di sini.." mamaku menatap Mas Hendra.
" Nak Dirga juga mungkin mau istirahat...boleh pulang Nak...," mama menoleh pada Mas Dirga.
" Ga apa- apa Tante...," jawab mereka bersamaan.
" Mungkin Tante butuh apa-apa....tidak apa- apa Dirga temani di sini," Mas Dirga menambahkan.
" Biar saya saja, Mas Dirga pulang saja tidak apa-apa," Mas Hendra menjawab.
Aku dan mama saling melirik. Kedua pria ini ngotot tidak mau pulang.
Tok....tok...
Tante Dewi dan Aldo masuk...
" Halo semuanya...." sapa Tante Dewi.
"Selamat malam semuanya," Aldo juga menyapa kami.
Aldo memberikan parsel buah pada mama.
"Makasih Nak Aldo."
Aldo mendekatiku.
" Lus, bagaimana kondisimu....tidak apa- apa kan?" tanyanya khawatir.
" Tidak parah Al...cuma luka sobek dan memar di kepala juga memar di lengan kananku," jawabku.
" Bagaimana kejadiannya Nak, kok bisa kecelakaan?" tanya Tante Dewi padaku.
Aku lalu menceritakan kronologis nya.
"Lho kok bisa naik ke trotoar pengendara motornya?" tanya Tante Dewi.
" Ga tau Tan..." jawabku.
" Iya beruntung Lusiana masih berada di dekat kantornya, jadi dibawa ke rumah sakit sama sopir kantornya dan semuanya di urus sama Nak Hendra, Nak Hendra ini bosnya Lusiana," cerita mama pada Tante Dewi dan memperkenalkan Mas Hendra.
" Owh.. begitu rupanya," Tante Dewi tersenyum pada Mas Hendra.
" Duduk Tan..." Mas Dirga memberi tempat duduk pada Tante Dewi.
"Duduk bro...." Mas Hendra menunjuk bangku kosong pada Aldo.
" Udah ga apa- apa, makasih," jawab Aldo.
Semua begitu perhatian padaku, mereka semua terlihat jelas mengkhawatirkan aku.
Mas Dirga ku lihat juga dari tadi memandangku. Sepertinya ia ingin bicara banyak padaku, mungkin karena situasi dan kondisi saja kulihat ia lebih banyak diam.
Hanya pandangan matanya saja yang selalu menatapku dengan pandangan penuh simpati.
Mas Dirga, Aldo, dan juga Mas Hendra...ketiganya merupakan pria berhati baik...
Belum lagi tiba- tiba aku teringat pada Fendi, jika Fendi tau aku kecelakaan dan dirawat di rumah sakit pasti ia juga sangat mencemaskan ku.
__ADS_1
Pria- pria baik...kuharap mereka semua akan menemukan wanita yang baik, yang akan mendampingi mereka.
Doa yang tulus kupanjatkan untuk pria- pria baik ini....