
"Lusiana..." panggil Nino kaget.
Wajah Nino terlihat pias, ia memandang Lusiana dengan tidak percaya.
"Pak Nino...jadi Pak Nino suami Desi?" tanya Lusiana.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Desi bingung.
"Pak Nino relasi kantor tempatku bekerja," jawab Lusiana.
Desi mengangguk, ia tersenyum senang.
Desi tidak akan kesulitan bergaul dengan Lusiana, kalau suaminya sudah mengenal Lusiana.
" Bayangan yang aku lihat waktu di acara pernikahan Abang Eni ternyata benar ...itu bayangan Pak Nino," gumam Lusiana dalam hati.
"Ternyata waktu itu Pak Nino sudah melihatku, dan langsung menghindar," lamun Lusiana.
"Kenalin mas Nino ini Fendi, teman Eni dan Lusiana," Desi mengenalkan Fendi dengan suaminya.
Kalau Eni mereka sudah pernah sekali bertemu pada saat acara lamaran Marsella.
Saat itu Nino yang mengantar Desi ke rumah Marsella, dan di sanalah Eni bertemu dengan Nino.
Cuma Eni mungkin lupa nama suami Desi adalah Nino.
Nino salah tingkah, ia tidak tau cara menghadapi Lusiana.
Hari ini rahasianya tanpa sengaja terbongkar sendiri.
Nino tidak pernah menyangka, Lusiana akan datang ke rumahnya menemui Desi isterinya, bayangkan malah mereka sudah berteman.
Rasa malu, kesal, dan kecewa bercampur aduk menjadi satu.
Nino malu karena hari ini ketahuan ia adalah laki- laki beristeri, yang selama ini gigih mengejar Lusiana.
Lusiana pasti akan menganggapnya sebagai laki- laki pembohong, tidak setia, dan tidak tau diri.
Nino kesal karena rahasianya terbongkar bukan karena orang lain, tapi terbongkar sendiri.
Dan ia kecewa, karena ia sadar setelah Lusiana tau rahasianya...semakin sulit harapannya untuk mendapatkan gadis itu.
Ia sudah kalah...
"Kalian mengobrol saja, saya mandi dulu...permisi," kata Nino.
Ia segera pergi menghindar, dengan alasan ingin mandi.
Nino segera berlalu dari sana, lalu segera masuk ke dalam kamarnya.
" Des...mungkin kamu mau ngurusin suami kamu...kami pulang dulu ya," kata Eni.
"Lus..Fen..kita pulang yuk..ga enak lama- lama udah malam juga," ajak Eni.
"Ayo," jawab Lusiana.
"Kapan- kapan kita ketemu lagi ya," kata Desi.
" Iya Des...ajak aja Lusiana ketemu," jawab Eni.
" Nanti cari waktu yang tepat aja Des," jawab Lusiana.
Desi menggangguk.
Mereka kemudian pamit untuk pulang setelah mengucapkan terima kasih karena sudah diajak makan malam oleh Desi.
__ADS_1
"Sama- sama, makasih juga karena kalian mau datang ke sini," jawab Desi.
"Pamitkan kami pada suamimu ya Des," kata Eni.
Mereka lalu masuk ke mobil untuk mengantar Lusiana pulang.
" En...itu suami Desi ternyata Nino yang aku ceritakan padamu," di jalan Lusiana memberitahu Eni.
" Serius Lus...? gila...kasihan Desi punya suami macam itu," omel Eni geram.
" Kenapa dengan suami Desi En?" tanya Fendi ingin tau.
" Itu Fen, Nino suami Desi ternyata yang selama ini ngejar- ngejar Lusiana sampai sempat datang ke rumah Lusiana," jawab Eni berapi- api.
"Kalau aku jadi Desi, bisa ku bejeg- bejeg suami macam itu," Eni terlihat kesal.
" Emang selama ini ia ga ngomong sudah punya isteri Lus?" tanya Fendi.
" Ya enggak lah Fen, kalau aku tau ia sudah punya isteri mana berani ia datang main ke rumah," jawab Lusiana.
"Bisa- bisa aku yang dituduh menggoda suami orang," tambah Lusiana.
"Pantesan tadi ku lihat ia terlihat kaget saat melihatmu Lus...mukanya langsung pucat pasi," kata Fendi.
"Mungkin Desi tidak tau tingkah laku suaminya di luaran," kata Fendi lagi.
" Kalau dia sampai tau bagaimana itu En, kasihan Desi apalagi ia sedang hamil," ujar Lusiana.
" Iya ya, ada suami kayak gitu, udah punya isteri...lagi hamil...tapi masih suka sama perempuan lain Ck...ck..ck..." Eni berdecak.
" Untung kamu emang ga suka sama Nino Lus...kalau suka bagaimana jadinya," sambung Eni.
" Tapi aku sudah punya feeling En...aku bisa melihat Pak Nino laki- laki genit En...sampai Mas Hendra bos aku aja ga suka sama Pak Nino...dia sering memperingatkan aku En katanya di luar sana banyak cerita miring tentang Pak Nino," cerita Lusiana.
"Ish...mas Hendra....hmm...bukan Pak Hendra?" ledek Eni.
" Udah ga usah ngintip- ngintip lewat spion, bilang aja cemburu," sindir Eni tertawa.
" Yang penting Lusiana dapat jodoh orang baik aja aku udah bersyukur," jawab Fendi yang merasa disindir Eni.
" So sweet," tawa Eni.
Lusiana cuma tersenyum.
" Ga lah En, mas Hendra udah dijodohin sama orang tuanya...ia udah punya calon," jawab Lusiana menjelaskan.
"Jadi tinggal siapa calonmu Lus? Fendi ga bisa, Hendra udah punya calon, Nino udah punya isteri dan mata keranjang....tinggal Aldo sama mas Dirga," ledek Eni.
" Tau begini ga mau aku bagi rahasia sama kamu En, dibongkar semua di depan Fendi," omel Lusiana.
" Yang namanya rahasia ga boleh diceritakan Lus....kalau diceritakan udah bukan rahasia lagi," tawa Eni membalas omelan Lusiana.
"Aldo sama mas Dirga sepertinya laki- laki baik Lus...dua-duanya ganteng lagi," ledek Eni.
"Kalau aku pilih mas Dirga, kelihatan dewasa," Fendi memberi pendapatnya.
" Ga cemburu nih?" ledek Eni.
"Cinta ga harus memiliki," jawab Fendi tertawa, bohong kalau ia tidak cemburu.
Fendi bukan tidak cemburu, cuma ia tidak boleh egois.
Fendi ingin melihat Lusiana bahagia dan mendapatkan pasangan hidup yang bisa membahagiakan Lusiana.
Karena Fendi sadar, ia tidak bisa memberikan itu pada Lusiana.
__ADS_1
Fendi membelokkan mobilnya di depan rumah Lusiana.
Sudah ada mobil yang parkir di rumah Lusiana.
" Ada tamu Lus?" tanya Fendi.
"Mobil bosku Fen, mas Hendra," jawab Lusiana yang mengenali mobil Hendra.
" Mampir dulu Fen, aku kenalin sama mas Hendra," ajak Lusiana.
" Aku udah kenal Lus...," tawa Eni.
"Fendi belum," jawab Lusiana tertawa.
"Mampir bentar En, pengen lihat juga gimana orangnya," kata Fendi.
Mereka lalu turun dan ikut Lusiana masuk ke rumah.
Lusiana membuka pintu teralis.
" Malam ma...mas Hendra udah lama?" sapa Lusiana.
" Belum Lus, baru sampai," jawab Hendra.
" Malam Tan...malam Pak," sapa Eni dan Fendi.
"Malam..."
"Kenalin Mas Hendra ini teman Lusiana, Fendi...kalau yang ini udah kenal kan Eni," ujar Lusiana.
"Fen...ini mas Hendra."
Mereka lalu saling berjabat tangan dan seperti saling menilai.
"Kalian udah makan?" tanya mama Lusiana.
"Udah....," jawab mereka serempak.
"Duduk Fen..En..tunggu aku ambil minum dulu ya."
" Ga usah Lus....cuma mampir bentar...," tolak Fendi.
Lusiana akhirnya ikutan duduk.
"Tante ke dalam dulu ya...mau nonton, kalian ngobrol saja," mama Lusiana pamit ke dalam.
" Iya Tan..." jawab mereka serempak.
"Kalian dari mana Lus?" tanya Hendra.
" Dari rumah Desi mas...," jawab Lusiana.
"Desi...?"
" Isterinya Pak Nino mas....ternyata benar apa yang mas Hendra ceritakan. Pak Nino ternyata udah punya isteri," cerita Lusiana.
" Bagaimana kamu bisa kenal sama isterinya?" tanya Hendra heran.
" Desi itu adik sepupu dari kakak ipar Eni...tadi dia undang kita main ke rumahnya, dan ketemu sama Pak Nino di sana," jawab Lusiana.
" Akhirnya terbuka juga kedoknya, sudah bisa ditebak dari sifatnya," balas Hendra.
" Terus isterinya gimana?" tanya Hendra.
" Ya ga gimana- gimana sih mas, sepertinya isterinya tidak tau tingkah laku suaminya di luar....kasihan sama Desi mas, ia lagi hamil lagi," sambung Lusiana.
__ADS_1
" Benarkah? si Nino benar- benar keterlaluan," jawab Hendra terlihat kesal.