
Kehamilan Desi sudah memasuki usia sembilan bulan, sebentar lagi ia akan segera melahirkan.
Pembangunan butik Desi pun sudah selesai, dan Desi sudah mulai menjalankan usahanya.
Desi mempunyai enam orang penjahit yang bekerja di lantai dua butiknya.
Dua orang karyawan di bagian bawah yang bertugas melayani pembeli.
Pada awal buka butiknya belum begitu ramai, tapi dengan bantuan Aldo, Lusiana serta Dirga yang melakukan promosi butik Desi melalui media sosial...butik Desi pun mulai ramai.
Desi pun mengeluarkan hasil rancangannya dengan menjahit sendiri hasil rancangannya.
Desi berencana untuk menambah jumlah penjahit bila sudah keteteran nantinya.
Selama ini Dirga juga banyak membantu Desi, ia yang bertugas mengantar Desi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya.
Dari hasil USG, diketahui anak yang Desi kandung berjenis kelamin perempuan.
Mama Lusiana pun sering membantu Desi mengawasi karyawannya.
Aldo dan Lusiana pun sudah memutuskan untuk segera menikah tiga bulan ke depan.
Aldo sudah membayar uang muka sewa gedung untuk resepsi acara mereka.
Aldo meminta Desi yang merancang gaun pengantin untuk Lusiana.
Di kantornya, Lusiana menemui Hendra di ruangannya.
"Mas Hendra...aku ingin memberitahumu tiga bulan lagi aku akan menikah," kata Lusiana menatap Hendra.
Hendra menatap kecewa pada Lusiana, ia merasa cemburu.
Tapi apa haknya, Hendra bukan siapa- siapa bagi Lusiana.
Hendra tidak menyalahkan Lusiana, Hendra sudah menikahi Firda.
Dan setelah Hendra menikah dengan Firda, ia sengaja menjaga jarak dengan Lusiana.
Hendra tidak pernah lagi datang ke rumah Lusiana, selain untuk menjaga nama baik Lusiana juga tentu hal itu tidak pantas bagi pria yang sudah menikah.
Hendra juga tidak pernah bertanya pada Lusiana, dengan siapa ia memutuskan pilihannya.
"Mas Hendra...," panggil Lusiana.
Hendra menghentikan lamunannya, ia menutup rasa kecewanya dengan memberikan senyumannya.
"Selamat ya Lus, dengan siapa? Aldo, Mas Dirga, atau Fendi?" tanya Hendra ingin tau.
"Dengan Aldo Mas Hendra," jawab Lusiana.
Hendra mengira Lusiana memilih Fendi atau Mas Dirga, tidak menyangka pada Aldo Lusiana menentukan pilihannya.
__ADS_1
"Bukankah Fendi yang menjadi cinta pertamamu itu?" tanya Hendra lagi.
"Fendi sudah menikah mas..dengan Eni sahabatku," jawab Lusiana tersenyum.
"Kok bisa?" Hendra kaget.
"Namanya sudah jodoh," jawab Lusiana.
Hendra sudah tidak pernah mengobrol dengan Lusiana sejak ia menikah, kecuali urusan pekerjaan.
Selama ini ia banyak ketinggalan berita tentang yang berhubungan dengan Lusiana.
Pada saat ia diminta jadi saksi dalam sidang perceraian Desi dan Nino, Hendra memang bertemu dengan Lusiana di sana...tapi cuma sekedar memberikan kesaksiannya.
Setelah itu Hendra langsung kembali ke kantornya.
Hendra masih sangat mencintai Lusiana, ia berusaha memendam perasaannya tapi perasaan cintanya tidak bisa begitu saja dihilangkan.
Begitu mendengar Lusiana akan menikah, hati Hendra sangat kecewa.
Hendra sedang berusaha membuka mata papanya lebar- lebar tentang banyak tingkah laku Firda yang tidak pantas.
Setelah papanya menyadari kesalahannya, Hendra berniat untuk menceraikan Firda yang tidak pernah dicintainya.
Hendra berencana, di saat itu tiba ia ingin mengejar cinta Lusiana.
Tapi nasib memang sering mempermainkan orang...ternyata Lusiana sudah berencana menikah dengan Aldo tiga bulan lagi....bayangkan tiga bulan lagi.
Cinta pertamanya kandas, Andine meninggalkannya dan memilih Raffa sebagai suaminya.
Setelah membutuhkan waktu lama untuk mengobati luka hatinya, Hendra akhirnya jatuh cinta pada Lusiana.
Cintanya pada Lusiana melebihi rasa cintanya pada saat bersama Andine.
Hendra tadinya masih menyimpan harapan pada suatu hari nanti ia akan bisa menikahi Lusiana, ketika Papa Hendra bisa melihat seperti apa menantu pilihannya.
Hendra menghela napas panjang, ia harus merelakan gadis yang ia cintai untuk menikah dengan Aldo.
Setidaknya, Lusiana mendapatkan seorang suami yang baik.
Aldo pasti bisa membahagiakan Lusiana, Hendra akan mendoakan agar Lusiana bisa mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahannya.
Cinta tidak harus memiliki, Hendra pernah mendengar kata- kata itu keluar dari mulut Lusiana.
Dan mau tidak mau, Hendra harus setuju dengan kata- kata itu.
"Semoga lancar ya Lus...aku doakan kamu akan bahagia bersama Aldo," Hendra menatap Lusiana dengan bermacam perasaan bercampur aduk.
Ada tatapan sedih di mata teduhnya, Lusiana bisa merasakannya.
"Bagaimana pernikahan mas Hendra dengan Firda?" tanya Lusiana akhirnya.
__ADS_1
Sudah lama mereka tidak pernah bicara tentang hal- hal pribadi.
Hendra tertawa getir, ia menggelengkan kepalanya.
"Pernikahan semu di atas kertas," jawab Hendra menyimpan kepedihan.
Lusiana merasa prihatin melihat Hendra yang terlihat jelas tidak bahagia dengan pernikahannya.
"Aku hanya sedang berusaha membuka mata papa terbuka, dan sepertinya sudah mulai berhasil," tukas Hendra.
"Setelah itu?" tanya Lusiana ingin tau.
"Aku akan segera menceraikan Firda dengan seizin papa, tapi harus menunggu waktu itu tiba," jawab Hendra.
"Sedikit demi sedikit Firda membuka sendiri keburukannya di depan papa...suka dugem, mabuk- mabukan, pulang ke rumah dini hari berfoya- foya ga jelas," cerita Hendra dengan mata menerawang.
Lusiana terdiam, ia tidak menyangka sebegitu buruknya pernikahan Hendra.
"Sudahlah Lus...jangan dibicarakan lagi...mungkin sudah nasibku tidak bisa menikahi gadis yang aku cintai," tukas Hendra tertawa menyembunyikan kegetiran hatinya.
Lusiana masih bisa merasakan tatapan penuh cinta Hendra padanya.
"Semoga mas Hendra bisa melewati semua ini...tetap semangat ya," Lusiana memberi semangat.
"Makasih Lus....sudah lama kita tidak ngobrol seperti ini," ucap Hendra.
"Iya mas...ya udah aku balik lanjutin kerjaan dulu ya," pamit Lusiana.
Setelah Lusiana keluar, Hendra menatap langit- langit ruangannya.
Ia menghela napas panjang membuang segala kegetiran dalam hatinya.
Ia akan merelakan gadis yang ia cintai bersama orang lain.
Ini bukan salah Lusiana, hanya garis jalan hidup mereka yang membuat keduanya tidak bisa bersama.
Ada halangan dan rintangan yang berasal dari pola pandangan papa Hendra.
Karena bibit, bebet, bobot yang selalu papanya gaungkan itu.
Dan sekarang Papa Hendra sudah sedikit demi sedikit melihat sendiri banyak keburukan Firda yang sangat bertentangan dengan bibit, bebet, bobot yang papanya bicarakan.
Papa Hendra sudah tidak pernah lagi membela Firda, bahkan ia sering sakit kepala melihat tingkah laku Firda yang kelewat batas.
Hanya tinggal menunggu waktu, Hendra yakin pada saatnya papanya sendiri yang akan meminta Hendra menceraikan menantu pilihannya itu.
Cuma sayangnya, di saat itu nanti tiba...gadis yang sangat dicintai Hendra sudah menjadi milik dan sudah menjadi isteri orang lain.
Hendra memejamkan matanya, ia menelan kekecewaannya...biarlah apa yang akan terjadi...maka terjadilah...
Hendra sudah merelakannya dan dengan berbesar hati... ia akan menerima semua kehendak yang menjadi suratan takdir dari Yang Di Atas.
__ADS_1