Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Hendra: melindungi Lusiana


__ADS_3

Aku tidak suka melihat Pak Nino berkunjung di rumah Lusiana.


Sudah sering kudengar cerita yang tidak sedap tentang Pak Nino.


Pak Nino seorang pria mata keranjang yang suka mempermainkan wanita.


Aku memang belum melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang menjadi desas- desus yang kudengar tentang Pak Nino.


Tapi aku percaya, tidak ada asap kalau tidak ada api.


Sering ku dengar rekan bisnisku yang kenal dengan keluarga Pak Nino, menceritakan Pak Nino adalah seorang petualang cinta.


Ia lari dari pelukan satu wanita ke wanita lainnya.


Ia akan meninggalkan wanita yang menggilainya, apabila ia sudah merasa bosan.


Habis manis sepah dibuang, begitu bahasa kasarnya.


Aku tidak ingin Lusiana menjadi salah satu korban dari sifat mata keranjang Pak Nino.


Aku ingin melindungi Lusiana dari laki- laki buaya seperti Pak Nino.


"Pak Nino ada perlu apa kemari?" tanyaku blak- blakan.


" Sama kayak Pak Hendra lah, mau ngapelin Lusiana," jawab Pak Nino.


"Kalau saya bukan ngapelin, saya memang udah sering kemari," jawabku agak ketus.


"Pak Hendra bukan pacarnya Lusiana kan? mengapa kelihatan tidak suka saya kemari? Lusiana aja ga keberatan kok," Pak Nino tersenyum mengejek.


"Apa maksud Pak Nino bicara begitu?" aku langsung berang.


" Ya selama Lusiana masih bebas, saya juga bebas mendekatinya, lagian apa hak Pak Hendra" jawab Pak Nino.


" Lusiana itu pegawai saya, saya berhak melindunginya dari laki- laki seperti anda," aku mulai meninggikan suaranya.


" Hanya status pegawai saja kan?" Pak Nino mengejekku.


Aku berdiri dari duduk, aku ingin menarik kerah bajunya tapi Lusiana menarik tanganku agar aku kembali duduk.


"Tolong mas Hendra...Pak Nino...jangan berantem...hargai aku sebagai tuan rumah. Ga enak sama mama...," kata Lusiana.


Aku tidak ingin membuat gaduh, tapi kemarahanku sudah sampai ke ubun- ubun.


"Dia yang mulai duluan," tunjuk Pak Nino.


"Apa?"


"Sudah mas...," lerai Lusiana.


Aku dan Pak Nino saling memandang dengan tatapan dingin.


Suasana berubah menjadi hening, aku mengepalkan kedua tanganku.


Sampai kemudian terdengar suara motor gede berhenti di depan rumah Lusiana, lalu Lusiana mengajak Aldo masuk.


Untung Aldo datang, kalau tidak situasi akan terasa panas di rumah Lusiana.

__ADS_1


Setelah saling sapa, aldo mengajak ngobrol.


Suasana yang tadi sempat memanas, mencair dengan kedatangan Aldo.


Aldo lebih banyak berbincang denganku daripada dengan Pak Nino, mungkin karena Aldo sudah mengenalku sebelumnya, sedangkan dengan Pak Nino Aldo baru bertemu.


Pak Nino kulihat mulai merasa tidak nyaman dengan kedatangan Aldo.


Ia lalu pamit pulang...


"Lus, aku pamit dulu ya. Tolong pamitkan aku pada mamamu," ia kemudian berdiri.


"Aku pamit dulu ya," ucapnya pada Aldo.


"Silahkan, hati- hati di jalan," jawab Aldo.


"Pak Hendra, saya duluan ya..," akhirnya ia memanggilku juga.


"Hmmm...," jawabku.


Lusiana mengantar Pak Nino sampai di depan rumahnya.


Lalu Lusiana masuk dan duduk kembali setelah kepergian Pak Nino.


" Kamu harus berhati- hati dengan laki- laki itu Lus," nasehatku padanya.


"Emang kenapa bro?" tanya Aldo heran.


" Banyak rumor yang kudengar tentang Pak Nino, buaya darat...mata keranjang," jawabku.


" Setau aku buaya itu di rawa- rawa mas...bukan di darat," tawa Lusiana meledekku.


" Iya mas Hendra...aku akan hati- hati," ujar Lusiana.


Aku tidak peduli apa yang dipikirkan Aldo tentangku, mungkin ia berpikir aku menjelek- jelekkan Pak Nino di depan mereka.


Aku hanya ingin melindungi Lusiana, aku tidak ingin sampai Lusiana jatuh dalam muslihat laki- laki semacam Pak Nino.


***********


POV Nino: awas kamu Hendra


Aku pulang dari rumah Lusiana dengan membawa rasa kesal.


Berani- beraninya Hendra bersikap tidak sopan padaku di rumah Lusiana.


Mentang- mentang dia adalah bos Lusiana, ia tidak suka aku datang ke rumah Lusiana.


Malam mingguan ku batal bersama Lusiana.


Hendra datang mengganggu, dan satu lagi laki- laki pengganggu yang datang ke rumah Lusiana.


Aldo nama pria itu.


Coba kalau mereka berdua tidak ikut- ikutan datang ke rumah Lusiana, pasti aku sudah berduaan dengan Lusiana.


Aku hanya berharap nanti sering- sering mendapat tugas di Pangkalpinang.

__ADS_1


Supaya aku bisa datang bukan di malam mingguan.


Malam Minggu ternyata banyak laki- laki yang mengapeli Lusiana.


Sehingga tidak membuatku bebas mengobrol dengan Lusiana.


Aku ingin mengobrol hal- hal pribadi dengan Lusiana, tentang perasaanku padanya.


Aku tidak akan bisa ngobrol yang terlalu intim jika ada laki- laki lain.


Aku tau...sainganku bukan hanya satu.


Lusiana gadis yang cantik, tentu saja banyak pria yang mengejar- ngejar cintanya, aku salah satunya.


Tapi itu justru sebagai penambah nilai plus bagi Lusiana, berarti ia jadi rebutan di antara banyak pria.


Aku tentu akan sangat bangga jika menjadi pemenang di antara laki- laki yang mengejar cintanya.


Aku akan mencari dukungan dari mama Lusiana terlebih dahulu.


Aku ingin mengambil hati mama Lusiana, maka nya aku berusaha bersikap sopan di hadapan mama Lusiana agar ia menyukaiku.


Kalau sudah ada dukungan dari mamanya, tentu tidak sulit untuk mendapatkan anaknya.


Aku memukul setir mobilku, setelah bersusah payah mendapatkan alamat rumah Lusiana, ternyata banyak hambatan yang harus kulalui untuk mendekatinya.


Aku harus lebih bekerja keras memutar otakku.


Baru kali ini aku bertemu dengan seorang gadis yang susah untuk diraih.


Selama ini wanita yang kukejar begitu gampang kudapatkan, hanya dengan rayuan manisku dan sedikit perhatianku mereka langsung bertekuk lutut di hadapanku.


Bahkan ada yang langsung menyerahkan t*b*hnya padaku.


Setelah puas mempermainkannya, aku akan meninggalkannya, lalu mencari cinta yang lain.


Aku tidak peduli dengan caci- maki dari mereka yang sudah kusakiti, toh mereka tidak berani menuntut apapun dariku karena takut aib mereka akan ku umbar.


Aku laki-laki, biasa kalau berbuat lebih....namaku tidak akan rusak.


Tapi mereka perempuan, sekali aku membuka aib mereka...nama baik mereka akan langsung rusak.


Aku tidak percaya pada karma, lagian aku tidak punya saudara perempuan dalam keluargaku...aku hanya punya satu adik laki-laki.


Papaku pun punya banyak simpanan, mungkin sifatku diturunkan dari papaku.


Mamaku menutup mata dengan kelakuan papa, selama uang dari papa mengalir deras mama seakan tidak peduli dengan apa yang papaku lakukan di luar sana.


Di rumah mama dan papaku tetap terlihat harmonis, mereka tidak pernah bertengkar.


Aku hanya pernah mendengar mama bicara sama papa.


"Selama kamu di rumah kamu adalah milikku...kalau di luar aku tidak peduli dengan yang kamu lakukan. Di rumah kamu harus bisa bersikap baik dan manis padaku," begitu kata mama yang tanpa sengaja aku dengar saat mama bicara dengan papaku.


Papaku masih gagah dengan usianya yang akan masuk enam puluh tahun, itu karena papa rajin menjaga kebugaran tubuhnya dengan rajin berolahraga.


Papa juga selalu berpenampilan rapi, dan uangnya juga banyak karena ia punya perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman barang.

__ADS_1


Wanita- wanita di luar sana tentu saja masih tertarik dengan papa yang masih terlihat gagah dan punya banyak uang.


Begitu juga denganku, mulut manisku juga pasti turunan dari papaku.


__ADS_2