Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Lusiana: bersama Hendra


__ADS_3

Hendra mengajakku mampir di salah satu tempat makan yang ada di pinggir pantai, ia bertanya aku mau makan apa, aku bilang terserah, apa aja boleh.


Kami memilih tempat makan pondok tipe lesehan, lalu ia memesan beberapa jenis masakan. Tumis kangkung, udang asam manis, dan kepiting saos tiram, dua porsi nasi. Ditambah es jeruk minumannya.


Tak lama pelayan rumah makan itu datang menyajikan makanan dan minuman yang Hendra pesan.


" Ayo makan Lus, kamu mau tambah pesanan apa, silahkan dipesan."


" Ini aja udah banyak mas."


Aku menyedot es jeruk dengan nikmat, terasa menyegarkan.


Angin pantai bertiup kencang, terasa sejuk di kulit. Setelah mencuci tangan dengan mangkok air yang sudah disiapkan, kami menikmati makanan yang Hendra pesan dengan lahap.


Hendra menatapku yang makan dengan lahap dengan tersenyum.


" Lapar atau doyan?"


" Dua- duanya mas, sering- sering aja ya," jawabku membalas ledekannya.


Aku memang tidak pernah sungkan pada bosku ini. Ia memang suka memarahiku, kadang ada rasa kesal karena ia yang sering mencari- cari kesalahanku, tapi aku tidak pernah lama menyimpannya dalam hati.


Mungkin karena usia kami yang tidak begitu terpaut jauh, sehingga bisa saling mengimbangi.


Kata mama, bosku ini diam- diam naksir padaku, tapi menurutku biasa aja. Ia pasti hanya merasa butuh teman aja, yang ku tau selama ini Hendra punya banyak teman wanita yang mengejarnya.


Mereka juga terkadang suka menemui si bos di kantor, ada yang malah langsung nyelonong aja ke ruangan si bos.


Mereka semua rata- rata berwajah cantik, bertubuh sintal, dan berpenampilan modis.


Mana mungkin si bos malah lebih menyukai aku yang berpenampilan biasa- biasa saja, mama ada- ada aja.


"Kamu mikirin Apa sih Lus, aku lihat dari tadi kamu bengong aja, malah kadang senyum- senyum sendiri, aku jadi takut," Si bos meledekku.


" Mikirin kapan gajiku dinaikin," aku membalas ledekannya.


"Nanti pasti dinaikin kalau kerjanya udah bener, ga bikin aku marah- marah lagi."


"Emang kerjaan ku selama ini ga bener, mas aja yang selalu menindasku suka cari- cari kesalahanku."


"Kapan aku menindasmu? kalau suka marah- marah iya."


"Tiap hari juga mas suka menindasku."


" Ngomong sama kamu itu aku ga pernah menang, ga tau siapa yang suka menindas siapa."


Aku hanya bisa nyengir kuda. he..he...


" Ngomong- ngomong kamu masih suka sama Fendi, teman sekolahmu itu?"


"Suka sih masih mas, emang kenapa mas?"


"Ga kenapa- napa, hanya pengen tau aja."


" Mas kepo," ledekku.


"Aku kan bos kamu, bos selalu benar," Hendra balas meledekku.


"Terus Si Nino aku lihat suka tuh sama kamu, hati- hati kalau sama Nino. yang kudengar dia itu suka mempermainkan wanita alias playboy."


" Mas tau dari mana ia seorang playboy?"


" Aku memang ga tau latar belakang keluarganya, aku juga baru mengenalnya belum lama ini, dia kan baru ditugaskan di kantornya menggantikan Pak Dendi."


"Sesama pria, aku bisa menilai mana yang buaya mana yang bukan," lanjut Hendra lagi.


"Kamu harus hati- hati, kamu ini masih polos kadang ga bisa nolak permintaan orang. Kalau sama bos sendiri dikasih tau malah suka nyolot."


" Yuk kita jalan- jalan ke sana," tunjuk Hendra ke arah tepi pantai yang banyak pohon bakau.

__ADS_1


"Kita foto- foto," lanjutnya lagi.


Semakin sore, suasana pantai semakin ramai. Terlihat banyak pasangan muda- mudi yang sedang pacaran, bisa kutebak dari sikap mereka yang berjalan mesra sambil berpegangan tangan. Ada pula yang berjalan saling memeluk pinggang.


Hendra memesan lagi beberapa masakan untuk dibungkus bawa pulang.


Dia meminta pada pelayan rumah makan menyiapkan masakannya setengah jam lagi dari sekarang, biar ga dingin ketika akan dibawa pulang, begitu kata Hendra pada pelayan rumah makan tersebut.


Pasti dia memesan untuk dibawakan buat mama papanya. Anak yang baik.


Setelah Hendra membayar semua pesanan, kami berjalan beriringan ke tempat yang tadi Hendra tunjuk.


Hendra mengambil ponselnya, dan ia mengajakku selfie berdua dengan pemandangan laut sebagai backgroundnya.


Dia juga menyuruhku bergaya dan mengambil beberapa fotoku.


Setelah puas berfoto, kami menyusuri tepi pantai. sesekali kami menghindari deburan ombak yang menuju ke tepian pantai supaya sepatu dan sandal kami tidak basah. Hendra pakai sepatu aku pakai sandal teplek.


" Lus, kamu mau ga jadi temanku?" tanya Hendra tiba-tiba.


Ku ulangi teman ya, bukan pacar atau kekasih.


"Bukankah sekarang kita udah berteman mas?"


"Baguslah kalau sekarang kamu menganggap aku sebagai teman."


" Tapi di kantor aku tetap bos kamu ya, jadi kalau salah kamu tetap aku marahi."


"Iya mas...aku juga tau waktunya kamu jadi bos aku, dan waktu kamu jadi teman aku."


"Aku juga ga mau di kantor, teman- teman yang lain nanti mengira aku sengaja cari kesempatan deketin kamu."


"Tuh tau alasannya."


Ketika kami asyik mengobrol, tiba- tiba ada yang memanggil namaku.


"Pak Nino...?"


" Halo Pak Hendra," sapa Nino pada Hendra.


"Halo Pak Nino, lagi main juga ke sini?" sahut Hendra berbasa- basi.


"Iya Pak Hendra, lagi main ke Pangkalpinang, biasa weekend jalan- jalan cari hiburan," tambah Nino.


Nino menatapku lama, aku pura- pura tidak tau dia sedang menatapku.


"Tadi pas aku telepon, kenapa kamu ga bilang mau main ke sini, coba kalau bilang, kita bisa janjian ketemu di sini Lusiana yang cantik...."


Kurang asem, di depan Hendra aja


Nino berani mengeluarkan kata rayuan mautnya, gimana kalau aku lagi sendirian? bulu kudukku jadi merinding. Amit- amit...


Hendra melihat jam di pergelangan tangannya, lalu mengajakku pulang.


"Kita balik Lus, udah sore..."


" Cepat amat Pak Hendra, baru juga saya tiba di sini, saya masih ingin ngobrol sama Lusiana. Atau begini saja, biar Lusiana pulang ikut sama saya, Pak Hendra pulang duluan aja."


Kurang asem, Si Nino masih berusaha tawar- menawar dengan Hendra.


" Maaf Pak Nino, tadi mamanya Lusiana taunya dia pergi sama saya, sangat tidak bertanggung jawab, kalau saya meninggalkannya di sini dan pulang sama Pak Nino," kata Hendra tegas.


Yes, bos ku memang yang terhebat. Hendra bisa langsung membungkam Si Nino tanpa bisa menjawab lagi.


" Ayo Lus, mungkin yang punya rumah makan udah selesai masak pesanan saya tadi."


Kami kemudian berpamitan pada si Nino, terlihat jelas dari sikapnya ia sangat kesal.


Ia hanya menganggukkan kepalanya ketika kami berpamitan.

__ADS_1


Kami kembali ke rumah makan tempat kami tadi makan untuk mengambil makanan yang dipesan Hendra. Ternyata makanannya baru selesai dimasak dan sudah dimasukkan ke kotak makanan.


Kotak makanannya dimasukkan ke dalam kantong plastik yang dipisah menjadi dua kantong.


Hendra menentengnya menuju ke arah mobil Hendra yang diparkir.


Aku mensejajarkan langkahku melangkah di sampingnya.


Hendra membuka pintu depan mobilnya dan menyuruhku masuk dan duduk.


Ia lalu menyerahkan satu bungkus kantong makanannya padaku.


"Buat mamamu," katanya kemudian menutup pintu mobil.


Lalu Hendra menyusul masuk dan duduk di depan kemudi mobilnya dan meletakkan satu bungkus kantong lainnya ke jok tempat duduk belakang.


" Mas repot- repot pesan makanan buat mamaku juga?"


"Iya Lus, masa anaknya aku ajak makan, mamanya enggak," jawabnya.


"Makasih ya mas," ucapku tulus.


"Iya sama- sama, terima kasih juga kamu mau menemaniku jalan- jalan hari ini."


Hendra menjalankan mobilnya dengan perlahan ke arah jalan pulang.


"Ngomong- ngomong emangnya tadi si Nino telepon kamu?"


" Iya mas, tadi siang dia mau datang ke rumahku dan minta shareloc rumahku."


"Terus?"


" Belok," jawabku tertawa.


Hendra ikutan tertawa.


" Mas tegang amat sih, jangan terlalu serius mas, dua rius aja," candaku.


Hendra tertawa lagi.


" Udah, kembali ke mode serius, terus kamu jawab apa?"


" Aku jawab aja, sebentar lagi mau pergi jadi ga ada di rumah."


"Emang dia ga tanya lagi, kamu mau kemana? kamu jawab mau pergi sama aku ya?"


"Bukan, kan dia duluan mas yang nelepon aku baru kemudian mas yang telepon, aku asal jawab aja, ada deh."


"Aku kan ga harus lapor ke dia mau pergi ke mana, pergi sama siapa, kebetulan tadi dia ketemu kita, jadi bisa memperkuat alibiku , tadinya niat bohong jadi pergi beneran," kataku tertawa.


"Awas ya kalau berani bohong sama bos."


" Suer mas ga berani bohong kalau sama bos, kecuali terpaksa," kataku tertawa.


"Dasar..."


Terasa menyenangkan juga ngobrol sama Hendra, aku seperti punya teman baru yang bisa diajak bercanda tanpa takut ada yang tersinggung.


"Tapi aku serius Lus, sebagai teman dan juga sebagai bos kamu, aku hanya bisa mengingatkan kamu untuk berhati- hati dengan orang seperti Nino, jangan gampang percaya sama rayuan gombalnya."


"Kalau sama mas aku harus percaya gitu?" candaku.


" Mulai...mulai...ngeyelnya keluar..."


" Emang aku pernah ngegombalin kamu? bukannya biasanya aku cuma bisa marahin sama bentak- bentak kamu?"


Aku terkekeh geli, puas juga bisa ngerjain bosku, yang ga bisa kulakukan bila berada dalam lingkungan kantor.


Tak terasa, kami sudah hampir sampai ke rumahku, mamaku mungkin sudah kembali dari rumah Tante Dewi.

__ADS_1


__ADS_2