Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
Keputusan


__ADS_3

Lusiana, Rina, dan Aldi mengantar keberangkatan Fendi dan Eni ke bandara.


Kelima sahabat itu berpelukan sebelum berpisah.


" Fendi...jaga Eni ya," kata Lusiana.


" Kamu juga jaga diri baik- baik Lus," jawab Fendi.


" Paling mereka berdua jadian di sana Lus," ledek Rina.


" Kalau mereka jadian berdua...kita jadian juga Lus," tawa Aldi membalas ledekan Rina.


"Lus....ini kebetulan apa kebetulan ya Aldi dan Aldo," Eni tiba- tiba teringat Aldo.


"Nama mereka kok kayak anak kembar?" tawa Eni.


"Iya ya....aku juga baru ngeh...," Lusiana tertawa.


"Aldo siapa?" tanya Aldi.


" Kembaranmu lah," Eni tertawa.


"Serius nih...bikin penasaran aja..Aldo siapa sih?" tanya Aldi.


" Aldo yang lagi naksir sama Lusiana," jawab Eni.


Aldi tertawa...


"Owh....kirain siapa," jawabnya.


" Ayo En...kita harus check in," ajak Fendi.


" Bye semuanya....makasih ya," Fendi dan Eni lalu masuk ke ruang check in.


Mereka saling melambaikan tangan.


Lusiana merasa kehilangan kedua sahabatnya.


"Ayo Rin, Lus kita cabut ...," ajak Aldi.


Mereka berjalan menuju mobil Aldi.


Setelah di tempat parkir, Aldi membuka pintu belakang mobil untuk Lusiana dan Rina.


" Enaknya kalau punya pacar yang seperti ini Lus...," canda Rina.


"Makasih Aldi," ucap Lusiana.


"Emangnya pacar kamu ga kayak aku?" tawa Aldi meledek Rina setelah duduk di depan kemudi.


Aldi lalu menjalankan mobilnya.


" Pacar aku ya sama juga sih," tawa Rina.


"Kapan ngundang Rin?" tanya Aldi.


"Belum tau Al...masih ngumpulin dana," jawab Rina.


" Kamu sendiri kenapa sampai sekarang belum punya pacar juga?" tanya Rina.


" Ya belum ada yang sehati mau gimana?" jawab Aldi tertawa.


" Lha ini yang di samping aku juga masih jomblo," ledek Rina.


" Itu mah incaran Fendi Rin, mana enak aku serobot?" tawa Aldi.

__ADS_1


" Jadi kalau bukan incaran Fendi, mau maju gitu?" pancing Rina.


Aldi tertawa...


" Ini pengen tau atau pengen tau banget?" tanya Aldi.


"Dua- duanya," jawab Rina.


" Bagaimana kelanjutan hubunganmu sama Fendi Lus?" tanya Aldi.


"Kami udah mutusin sahabatan aja Al karena ga memungkinkan untuk bersama," jawab Lusiana.


" Nah...Al pengen maju ga setelah dengar sendiri dari Lusiana?" ledek Rina.


Lusiana menyikut Rina.


" Udah ah...jangan jadi kompor, nanti meleduk," tawa Lusiana.


Aldi tertawa....


"Gimana ya kalau udah sahabatan begini, jadi ga tau perasaan sendiri," jawab Aldi.


"Gimana sih kamu Al...kalau keburu ada undangan baru nanti nyesel," omel Rina.


"Ga gitu lah Rin, betul sih kata Aldi kalau sahabatan ga takut akan putus...kalau pacaran putus jadi musuhan...jadi kayaknya enakan sahabatan betul ga Al?"


" Nah itu maksudku, kita sepemikiran Lus..." Aldi tertawa.


"Suka- suka kalian lah...," akhirnya Rina berhenti meledek Aldi.


"Lus..aku mau tanya misalkan Fendi sama Eni jadian di sana bagaimana?" tanya Rina.


" Ya ga apa- apa Rin...itu berarti mereka berjodoh," jawab Lusiana tersenyum.


" Baguslah kalau kamu berpikir begitu...aku hanya khawatir saja dengan hubungan pertemanan kita," tawa Rina.


"Udah Lus...cari yang ga ribet aja...pacaran terus nikah," ujar Aldi.


"Ngajarin orang...diri-sendiri aja belum punya," tawa Rina meledek Aldi.


"Kalau aku cowok Rin...ga usah terlalu buru-buru," jawab Aldi.


.....................


Papa Hendra mendesak Hendra untuk segera menentukan hari pertunangannya dengan Firda, karena tenggang waktu yang diberikan pada Hendra sudah dekat.


"Kalau Hendra tetap menolak bagaimana Pa?" tanya Hendra.


Papa Hendra menelepon seseorang...


" Bakar rumah Lusiana sampai tidak bersisa...tunggu perintah sepuluh menit lagi," Papa Hendra menutup teleponnya.


Hendra membelalakkan matanya.


"Papa sudah gila?" teriaknya.


"Papa tunggu keputusannya sepuluh menit, kalau kamu menolak...papa tinggal mengeksekusi perintah," tegas papa Hendra.


Hendra melirik mamanya yang sudah terkesiap mendengar suaminya yang memerintahkan untuk membakar rumah Lusiana.


Hendra tidak bisa membayangkan, jika papanya melakukan itu.


Mama Lusiana bisa dalam bahaya, dan kalau Lusiana tau itu adalah perintah dari papanya, Lusiana tidak akan memaafkannya seumur hidupnya.


Papa Hendra melihat jam di ponselnya, tinggal lima menit lagi menunggu keputusan Hendra.

__ADS_1


" Papa tidak punya hati....," kata Hendra menahan amarah di hatinya.


"Terserah kamu mau bilang apa, papa tetap pada keputusan papa," jawab papa Hendra.


"Waktunya habis," ancam papa Hendra.


Ia menekan nomor kontak di ponselnya.


" Baiklah Pa...Minggu depan," akhirnya Hendra membuat keputusan, ia tidak berdaya untuk menolak lagi.


Papa Hendra tersenyum penuh kemenangan, ancamannya kali ini berhasil.


"Perintah dibatalkan....Jangan lakukan apa- apa... nanti saya tranfer ke rekening kalian," papa Hendra menelepon orang suruhannya.


"Lalu tanggal pernikahannya?" desak Papa Hendra.


"Terserah...papa atur aja," jawab Hendra sambil berlalu menuju kamarnya.


Mama Hendra melihat puteranya yang putus asa diam saja, ia tidak bisa berbuat apa- apa.


Mama Hendra merasa kasihan melihat Hendra yang nampak terpukul dengan paksaan dari papanya.


Hendra tidak bisa melawan, karena papa Hendra menyerang kelemahan Hendra, yaitu keselamatan Lusiana dan keluarganya.


Papa Hendra dengan girangnya lalu menghubungi Dicky, orang tua Firda untuk mengabari tanggal acara pertunangan putera- puteri mereka.


Sementara Hendra yang berada di kamarnya, terlihat kecewa dan putus asa.


" Tidak apa-apa...kukorbankan kebahagiaanku demi Lusiana," hiburnya pada diri- sendiri.


" Mulai hari ini akan kuikuti kemauan papa, biarkan saja nanti dia juga akan menyesal telah menjerumuskan anaknya sendiri," katanya penuh kekecewaan.


" Firda...lihat saja kamu juga tidak akan merasa bahagia setelah menikah denganku," desahnya lirih.


Hendra menekan nomor kontak di ponselnya, ia menelepon Lusiana.


"Halo Mas Hendra, " terdengar suara gadis yang dicintainya itu.


"Lus...," Hendra memanggil Lusiana dengan suara tercekat.


" Iya mas, ada apa...kok suaranya begitu?" tanya Lusiana.


" Lus...aku akan tunangan dengan Firda Minggu depan...aku tidak bisa menolak lagi," kata Hendra memberitahu


Lusiana diam sejenak.


"Aku ga tau mas mau memberi selamat atau tidak," jawab Lusiana.


"Aku putus asa Lus....," suara Hendra terlihat putus asa.


" Jalani saja mas...mungkin Firda adalah jodoh mas Hendra, jadi tidak bisa menolak lagi," jawab Lusiana lembut.


"Tapi Lus...aku cintanya sama kamu...," kata Hendra lagi.


"Cinta tidak harus saling memiliki mas, yang sabar ya...mas Hendra harus berusaha bisa mencintai Firda sedikit demi sedikit," hibur Lusiana.


" Cobalah untuk menerimanya mas, mungkin dengan begitu cinta mas Hendra akan tumbuh padanya," sambung Lusiana bijak.


"Entahlah Lus....terasa berat...," keluh Hendra.


"Aku akan mendoakan mas Hendra bisa bahagia nantinya bersama Firda," ucap Lusiana tulus.


"Makasih ya Lus....aku agak tenang setelah bicara sama kamu," jawab Hendra.


" Iya mas...jalanin aja...seperti air yang mengalir...," nasehat Lusiana.

__ADS_1


Hendra manggut- manggut, walaupun hatinya tidak rela...tapi sudah sedikit lebih tenang.


__ADS_2