
Aku menarik tangan mbak Tin, salah satu rekan sekantorku dengan terburu- buru.
Kami menuju tempat mangkal angkot yang memang tidak jauh dari kantor tempatku bekerja, hanya berjarak sekitar 300 meter.
Mbak Tin yang memang bertubuh agak gemuk itu setengah berlari mengikutiku.
Kami segera naik ke sebuah angkot yang sudah setengah penuh, tinggal menunggu beberapa penumpang lagi.
Aku segera duduk dan mbak Tin duduk di sampingku dengan napas memburu dan beberapa keringat yang membasahi kening dan hidungnya.
Mbak Tin lalu mengelap kening dan hidungnya perlahan dengan tisu, aku jadi ingin tertawa dan sedikit kasihan melihatnya.
" Kamu jalannya udah kayak dikejar setan aja Lus, ga kuat aku bawa badan gemuk begini," omelnya padaku.
" Maaf mbak Tin, sekali- kali olahraga," jawabku sambil tertawa.
" Kamu kenapa juga bawa- bawa nama suami ku? emang siapa yang mau sama isterinya yang badannya kayak gajah," kata mbak Tin sambil tertawa geli.
" Kamu ada- ada aja Lus," mbak Tin mengelap sudut matanya yang keluar air mata sambil masih tertawa.
Aku hanya nyengir, habis mau cari alasan apa lagi agar bisa menghindar dari ajakan Nino.
Beruntung ada mbak Tin, kalau enggak bingung aku mau cari alasan untuk menghindari Nino.
Aku dan Mbak Tin memang selalu pulang dan naik angkot bersama, karena arah rumah kami yang searah.
"Bukannya itu salah satu relasi kantor kita yang di Sungailiat kan?"
"Iya mbak Tin," jawabku.
"Ganteng juga Lus..."
"Tapi aku ga nyaman mbak Tin, orangnya terlalu agresif," jawabku.
" Kamu sukanya yang galak- galak ya Lus? kayak Pak bos kita," mbak Tin meledekku.
" Mbak Tin bisa aja, mana mau si bos sama aku mbak Tin, ga selevel," balasku sambil tertawa.
" Cinta ga pernah memandang level Lus, apalagi kamu cantik, masih muda," lanjut mbak Tin lagi.
" Aku sih lebih dukung kamu sama Pak bos, kalau udah jadi Bu bos jangan lupa gajiku duluan yang dinaikin," mbak Tin meledekku lagi.
"Kalau jadi Bu bos, mbak Tin akan kutambah kerjaannya biar tambah banyak," balasku meledek mbak Tin.
Kami tertawa geli, tak kami pedulikan pandangan mata penumpang lain yang melihat ke arah kami.
Setelah itu, beberapa penumpang lain masuk dan angkotnya sudah penuh.
Sopir angkot menjalankan mobil angkotnya membawa kami ke arah pulang.
Aku sampai di depan halaman rumahku, lalu meminta sopir angkot berhenti.
"Duluan ya mbak Tin. Da..." lalu aku turun dari angkot.
__ADS_1
Mbak Tin melambaikan tangannya padaku dan melanjutkan perjalanannya bersama angkot yang kami tumpangi.
Aku melihat ada mobil Tante Linda di halaman rumahku.
Aku segera melangkah ke dalam rumahku, pintu rumahku terbuka lebar dan melihat Tante Linda dan mama duduk di ruang tamu rumah kami.
"Selamat sore Tante," sapaku sopan.
Ada apa lagi ini, ada keperluan apa lagi Tante Linda ke rumahku sore- sore begini.
"Akhirnya kamu pulang juga," katanya ketus menjawab sapaan ku.
Aku permisi ke dapur sebentar untuk mencuci tangan dan mengambil minum, haus terlalu banyak tertawa bersama Mbak Tin.
Aku lalu keluar menemui mama dan Tante Linda, lalu aku duduk di sebelah mama.
"Ada apa ini ma?" tanyaku pada mama.
Mama menghela napas, sepertinya mama agak kesal.
"Kalian itu munafik tau gak?" sembur Tante Linda tanpa aku mengerti apa permasalahannya.
Kalau masih tentang Aldo, bukannya kemarin udah jelas, sudah ku katakan pada Tante Linda aku tidak menerima lamaran dari Aldo.
"Tempo hari kamu bilang kamu menolak lamaran dari Aldo, lalu kenapa Yanti bilang Aldo mengatakan pada Yanti kalau Aldo sudah mempunyai pacar dan sebentar lagi akan tunangan, Aldo yang bohong atau kalian yang berbohong?" sembur Tante Linda lagi.
Aku heran dan menatap mama.
" Udah Nak, kemarin mama udah sampaikan pada Tante Dewi dan sudah jelaskan alasan kamu menolak lamaran Aldo, mama juga menitipkan ucapan minta maaf buat Aldo pada Tante Dewi Nak," jawab mama panjang lebar.
"Ga mungkin, aku ga percaya. Kamu ngomong gitu cuma di depan saya Nadya. Aldo itu kaya, ganteng lagi ...mana mungkin Lusiana menolak Aldo."
"Aku udah ngomong yang sebenarnya, terserah kamu Lin mau percaya atau tidak."
"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan langsung pada Dewi..aku ga bisa maksa kamu untuk percaya," lanjut mama pada Tante Linda.
"Percuma, Dewi itu sahabat kamu, bisa aja ia bersekongkol sama kamu."
"Astaga Lin, sampai segitu nya kamu...Dewi kan teman kamu juga."
"Aku heran aja, Aldo kenapa mau melamar anakmu itu, padahal selama ini Aldo deketnya sama anakku, pelet apa yang kalian pake."
"Astaga Lin, jaga omongan kamu jangan sembarangan memfitnah orang," kata mama mulai berang.
"Dari dulu aku udah curiga sama kamu Nadya, kamu itu pasti pake sesuatu. Sekarang pasti kamu turunin sama anakmu itu."
Mama hendak menjawab Tante Linda, aku tepuk paha mama untuk menenangkan mama.
"Percuma ngomong sama Tante Linda, kita ngomong apapun Tante ga bakalan percaya," aku yang menjawab tuduhan Tante Linda.
" Kalau ga pakai pelet, ga mungkin Aldo suka sama orang miskin kayak kalian ini," tunjuk Tante Linda pada aku dan mama.
"Hanya Tuhan yang tau Tante."
__ADS_1
"Memang hanya Tuhan yang tau, bibit ga bener emang buah nya ga bener juga," Tante Linda tidak mau kalah.
Lama- lama tanduk ku bisa keluar juga nih, aku sudah bersabar dari tadi menjelaskan semuanya secara baik- baik, tapi Tante Linda tetap aja berkata kasar. Keterlaluan.....
Tante Linda kasar begini, bagaimana om Ferdi bisa betah menjadi suami Tante Linda.
Padahal Om Ferdi selama ini terlihat baik dan sabar, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan isterinya ini, Tante Linda.
Kak Yanti, sepupuku itu selama ini juga sikapnya baik dan sopan, ga seperti ibunya.
Kurasa sifat Kak Yanti menurun dari sifat papanya, ga terlalu banyak omong tidak seperti Tante Linda yang suka menghina dan mengumpat orang lain.
Entah Om Ferdi tau atau tidak Tante Linda selama ini suka berkata kasar pada mama.
Tapi, tidak mungkin alias mustahil kalau selama ini Om Ferdi tidak mengenal sifat isterinya.
Apalagi dari cerita mama, Tante Linda sebelumnya suka sama almarhum Papa.
Om Ferdi terlihat tunduk pada isterinya ini, sepertinya Om Ferdi takut pada Tante Linda.
Apalagi yang ku dengar, Om Ferdi kaya raya karena menerima semua harta warisan dari mertuanya, Papa Tante Linda.
Kekayaan Om Ferdi sekarang berasal dari Orang tua Tante Linda yang seorang tuan tanah.
Mungkin itu yang menyebabkan Om Ferdi tunduk di bawah kaki Tante Linda.
Masih ku ingat kebaikan Om Ferdi pada kami, sewaktu Papa meninggal dunia, Om Ferdi secara diam- diam memberi mama seamplop uang, buat bantu- bantu pemakaman katanya.
Mama sempat menolak pemberian dari Om Ferdi, tapi Om Ferdi memaksa mama menerima pemberiannya.
" Ini untuk almarhum abang dari adiknya," kata Om Ferdi waktu itu. Om Ferdi memohon pada mama sambil menangis
Sebenarnya tanpa bantuan Om Ferdi pun, kami mampu untuk melaksanakan pemakaman untuk Papa karena kedua abangku waktu itu sudah bekerja dan mama masih punya tabungan.
Karena Om Ferdi memohon, mama menerima pemberian Om Ferdi dan berterima kasih.
Aku menghentikan lamunanku, ku lihat Tante Linda melipat kedua tangannya di depan dada sambil mendengus dengan angkuhnya.
Kalau aku jadi Om Ferdi udah lama aku tinggalin perempuan yang sombong dan kasar ini.
Aku saling memandang satu sama lain dengan mama. Bingung mau bicara apa lagi.
"Aku mau pulang, capek lama- lama di sini," kata Tante Linda akhirnya.
"Dan satu lagi suruh anakmu ini jauhin Aldo, ga pantas...bagai langit dan bumi,"
ketus Tante Linda lalu bangkit dari tempat duduknya.
Aku dan mama udah malas meladeninya, bikin naik darah...jadi kami diam saja.
.................
( Kata bijak dari author : Janganlah suka memandang rendah orang lain apalagi berbicara dan bersikap kasar, karena dari tingkah lakumu akan terbaca bagaimana karaktermu. Dan orang lain akan memperlakukan kamu seperti bagaimana kamu memperlakukan orang lain. Terima kasih, author akan melanjutkan ceritanya di episode selanjutnya. Salam)
__ADS_1