Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Firda: Hendra bersikap dingin


__ADS_3

Aku terpaksa mengikuti Hendra tinggal di rumah orang tuanya.


Setelah kejadian di hotel, Hendra bersikap dingin padaku dan seakan memandangku tidak lebih dari seonggok sampah.


Di kamarnya, Hendra memilih untuk tidur di sofa yang ada di kamarnya itu dibandingkan tidur denganku di ranjangnya yang berkasur empuk.


Hendra tidak mau memandang wajahku saat berbicara denganku.


Aku merasa terhina dengan perlakuan Hendra yang tidak seperti seorang suami pada umumnya.


Setelah kejadian di hotel , jangankan menyentuhku...saat ia tidur di sofa pun Hendra tidur dengan posisi memunggungi arah ranjang tempat tidurku.


Aku merasa sakit hati, ia mempersalahkan aku yang sudah tidak suci lagi saat malam pengantin kami.


Hendra juga marah besar karena ia tau aku sudah mencampurkan obat di dalam minumannya waktu itu.


Ia juga mengancam akan membeberkan semua rahasia itu pada orang tua ku kalau aku berani coba- coba mendekatinya.


" Lalu apa gunanya aku menikahinya?" kesalku dalam hati.


Aku merasa kecewa dan sakit hati, apakah aku tidak boleh punya masa lalu.


Aku tidak berkutik dengan ancaman Hendra, ia juga sempat melontarkan untuk bercerai.


Kalau aku sampai bercerai dalam masa baru saja menyandang status pengantin baru, maka nama keluarga besarku akan tercoreng dan jadi bahan tertawaan orang.


Apalagi jika orang- orang tau alasan dari perceraian itu, akan ku taruh di mana muka ku.


Orang tuaku pasti akan marah besar kalau tau Hendra menceraikan Firda karena di malam pertama Firda sudah tidak suci lagi.


Apa kata orang- orang?


Senakal- nakalnya aku, tapi aku masih ingin tetap menjaga nama baik keluargaku.


Ya walaupun ku akui aku sudah membuat suatu kesalahan yang sekarang menjadi bumerang dalam pernikahanku.


Hendra bersikap diam, tapi aku tau ini hanya soal waktu.


Kalau aku melakukan kesalahan, ia tentu tidak akan segan- segan melakukan apa yang sudah dikatakannya dalam ancamannya.


Aku menyukai Hendra karena penasaran dengan sikapnya yang tidak seperti laki- laki yang pernah dekat denganku.


Setelah menikah dengannya, aku tidak berkutik di hadapannya.


Aku tidak bisa seenaknya bertingkah seperti di rumah orang tua ku.


Tapi aku seorang Firda.


Sementara aku akan mengikuti kemauan Hendra, tapi ini juga soal waktu.


Tidak selamanya aku akan tunduk pada perintahnya. Lihat saja...


"Jangan hanya berdiam di kamar saja...sekali- kali bantu mama di dapur...mama juga biar ada pembantu tetap aja mau bantu Bi Asih di dapur," sindir Hendra padaku.

__ADS_1


" Di rumah papaku...aku tidak pernah tuh yang namanya di dapur," bantahku.


"Ya udah pulang sana ke rumah papamu," jawab Hendra ketus.


Aku sakit hati dengan kata- kata Hendra, aku yang seorang anak konglemerat mana pernah berkutat di dapur.


Selama ini aku tinggal tunjuk dan perintah.


" Heran ya jadi perempuan kok betah amat di kamar mulu," sindir Hendra.


" Mending di kamar daripada main di dapur...bau asap," jawabku asal.


" Kalau begitu ngapain kamu maksa nikah denganku, aku mah ogah punya isteri seorang pemalas," tambah Hendra lagi.


Aku hanya diam, Hendra merendahkan ku lagi.


Terbersit rasa sesal dalam hatiku, mengapa aku ngotot memaksa papa menjodohkan aku dengan Hendra.


" Maka nya jadi perempuan itu harus punya harga diri tinggi, punya martabat...jangan mentang- mentang anak orang kaya," Hendra bicara pedas, cabe rawit aja kalah.


" Di mata seorang laki- laki, perempuan kaya percuma kalau ga punya martabat dan harga diri, status gadis tapi sudah tidak pe****n," sambungnya lagi yang lagi- lagi mengungkit soal malam itu.


Aku menggigit bibirku, Hendra menyerang kelemahan ku.


Aku tidak bisa menjawab apa- apa lagi sampai ia meninggalkanku sendiri berada di dalam kamar.


"Aku berangkat dulu ya ma," ku dengar ia pamit pada mama nya.


Aku melempar bantal dan guling saking kesalnya, ku tarik selimut yang tadi kulipat rapi dan kulemparkan juga untuk melampiaskan kekesalan hatiku.


Aku menjatuhkan tubuhku ke kasur dengan sebal, ku tendang- tendangkan kakiku.


Tok...tok...tok..


"Non Firda, dipanggil ibu untuk sarapan," suara Bi Asih memanggilku.


" Nanti saja," teriakku.


Ku dengar suara langkah kaki bi Asih menjauh dari kamarku.


Aku malas untuk keluar, kalau di rumah papaku kalau aku tidak keluar makan, aku tinggal minta pembantuku untuk mengantarkan makananku ke dalam kamar.


Aku ingin melakukan hal yang sama, tapi aku ingat kata- kata Hendra, pembantu hanya mencuci, masak, nyapu dan ngepel...yang lain semua dilakukan sendiri.


Mungkin dalam keluarga Hendra, mereka terbiasa melakukan hal lain sendiri...tidak seperti di rumah papaku...semua adalah tugas pembantu.


Apalagi aku yang dari kecil udah terbiasa dimanja dan dilayani, aku sama sekali tidak pernah melakukan apa- apa bila berada di rumah.


Aku berjalan ke kamar mandi, aku ingin berendam untuk menyegarkan tubuhku.


Aku tertidur di bathup kamar mandi Hendra yang berada di dalam kamar.


Aku terbangun ketika ada ketukan di pintu kamar.

__ADS_1


"Non Firda....Non tidak makan?" terdengar suaranya memanggilku di luar kamar.


Aku tidak peduli, biarkan saja ia berteriak...aku sedang menikmati berendam di air hangat.


Tok...tok...tok...


"Maaf Non...saya masuk ya," terdengar teriakannya lagi.


Ku dengar pintu kamar terbuka, ah biarkan saja.


"Tok...tok...tok..."


Kali ini kamar mandiku yang diketuk.


"Non Firda....Non tidak apa- apa kan?" suara Bi Asih terdengar khawatir.


"Aku sedang berendam....jangan diganggu...," sahutku kesal.


"Oh syukurlah," jawabnya terdengar lega.


"Non Firda belum makan, makanan udah disiapin di meja makan," serunya lagi.


"Iya...iya," jawabku setengah berteriak.


" Bawel amat sih nih pembantu," gumamku kesal.


Aku lalu menyelesaikan kegiatanku, aku mengeringkan tubuh dan rambutku lalu segera berpakaian.


Ketika aku keluar dari kamar mandi, ku lihat bantal, guling, dan selimut yang tadi kulempar ke lantai sudah berada di atas tempat tidur.


Sprei yang tadi kutinggalkan dengan kondisi acak- acakan juga sudah terlihat rapi.


Pasti Bi Asih yang sudah merapikannya.


"Tuh kan... pembantu pasti mau membereskannya tanpa disuruh," aku tersenyum miring.


Mungkin Hendra membohongiku agar aku mau membantu ini dan itu untuk membuatku kesal.


Padahal kalau tidak dikerjakan, pembantu juga yang akan mengerjakannya.


Aku merasa perutku mulai merasa lapar, aku keluar menuju ke arah ruang makan.


Ku lihat di sana sepi, entah di mana mama mertuaku berada.


Aku membuka tudung saji, sayur dan lauk sudah tersaji di sana.


Aku menyendokkan nasi ke piring dan mulai makan dengan nikmat.


Setelah selesai makan, ku letakkan saja piring bekas aku makan di tempat cuci piring.


Aku mengambil segelas air putih lalu meletakkan gelasnya di tempat cuci piring.


Aku meninggalkan ruang makan dengan tudung saji yang masih terbuka, biar bi Asih aja yang nanti akan menutupnya.

__ADS_1


__ADS_2