Lusiana Cantik

Lusiana Cantik
POV Lusiana: masa kini


__ADS_3

Aku mendengarkan cerita mama dengan serius.


Mama mengakhiri ceritanya sambil menghela napas.


Ternyata Tante Linda sudah lama tidak menyukai mama dan memusuhi mama karena cintanya pada almarhum Papa tidak pernah dibalas oleh Papa.


" Apa mama sudah sampaikan ke Tante Dewi masalah Aldo ma? Lusi ga bisa menerima lamarannya ma, bukan karena Tante Linda, tapi emang Lusi ga mau menjalin hubungan tanpa ada rasa cinta ma."


" Lagi pula Lusi belum siap dekat dengan seseorang. Lusi masih ingin bebas ma," sambungku lagi.


" Mama mengerti Nak, nanti mama akan sampaikan pada Tante Dewi, semoga Aldo mau mengerti."


" Iya ma, belum apa- apa juga, Tante Linda udah ngamuk- ngamuk ma, apalagi kalau Lusi terima lamaran si Aldo bisa pecah perang dunia kelima ma," kataku sambil tertawa geli.


" Hush, kamu itu kalau bercanda," sahut mama ikut tertawa.


" udah ah, mama mau nelpon bibi Lusi mu dulu ah, udah lama ga ngobrol sama bibimu itu, mama kangen," kata mama bangkit dari duduknya.


Bibi Lusi adalah satu- satunya kakak perempuan mama, kata mama namaku diambil dari nama bibi Lusi, bedanya nama bibi Lusi hanya Lusi doang sedangkan namaku ditambah jadi Lusiana.


Aku kadang memanggil bibi Lusiku dengan bibi Sisi. Kata mama waktu aku kecil, ketika baru belajar bicara, aku memanggil bibi Lusi dengan bibi Sisi.


Hal itu terbawa sampai sekarang, Bibi Lusi atau bibi Sisiku tinggal di Surabaya.


Mama juga punya seorang adik laki- laki, aku memanggilnya dengan Paman Didi.


Paman Didi tinggal di Belinyu, sebuah kecamatan di bagian Utara Pulau Bangka. ( Belinyu terkenal dengan makanan khasnya seperti kerupuk, kemplang, lempok cempedak ).


Mama lebih dekat dengan Tante Sisi yang tinggal di Surabaya dibandingkan dengan Paman Didi, walaupun mama dan Paman Didi sama- sama di Pulau Bangka.


Mungkin karena mama dan Tante Sisi adalah saudara perempuan jadi kalau ngobrol lebih nyambung.


Tiba- tiba telepon genggamku berbunyi, kulihat di layar ponselku panggilan dari nomor tidak dikenal.


Aku menekan tombol hijau di ponselku.


"Halo...," sapaku ramah.


"Halo cantik, lagi ngapain?" terdengar suara dari seberang sana.


Suara yang kukenal sebagai suara Nino. Aku memang tidak menyimpan nomor ponsel Nino di nomor kontakku.


Aku sudah beberapa kali menerima pesan whatshapp dari Nino.


walaupun sudah kubaca, pesan dari Nino tidak pernah kubalas. Dan nomor whatshapp nya tidak pernah ku save sampai sekarang.


Aku bukannya sombong atau tidak sopan tidak pernah membalas pesannya, aku cuma menjaga jarak dengannya karena perasaanku mengatakan Nino bukan pria yang baik.


Ada tatapan buaya yang seperti mau memakanku dari tatapan mata seorang Nino yang membuatku risih dan merasa tidak nyaman.


" Halo...kok diam aja sih? lagi mikirin aku ya?" kata Nino karena aku belum menjawab pertanyaannya.


" Eh iya maaf Pak, " kataku terbata.


"Jangan panggil aku dengan panggilan bapak dong, kesannya aku udah tua banget, kan kita lagi di luar urusan kantor, panggil mas dong," katanya lagi.


" Saya sudah terbiasa Pak, bapak kan relasi kantor saya, ga enak kalau saya panggil bapak dengan mas."


" Jangan begitu dong, kan ini di luar urusan pekerjaan, katanya kamu mau berteman dengan aku. Terus ngomongnya pake aku kamu dong jangan pake saya saya biar akrab gitu," katanya dengan tertawa kecil.


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, bagaimana cara menghindari orang ini.


Sesudah ini aku harus men-save nomor ponsel Pak Nino, biar aku tau nomor ponsel Pak Nino kalau lain kali nomor yang memanggilku adalah nomor Pak Nino.


"Tuan Puteri bengong lagi, jawab dong jangan diam aja, kalau begini kamu tambah bikin aku gemes deh," Pak Nino tertawa lagi.


" Saya ga tau mau ngomong apa Pak, sebenarnya bapak menghubungi saya ada apa?" jawabku akhirnya setelah berhasil merangkai kata, hadew pusing deh...


"Aku lagi di Pangkalpinang nih, sengaja mau main ke rumah kamu. share loc rumah kamu sekarang ya."


" Maaf Pak, saya bentar lagi mau pergi," tolakku halus.


" Kalau boleh tau, kamu mau pergi kemana?"


"Ada deh, bapak mau tau aja urusan perempuan," jawabku.


Jangan sampai aku salah jawab, bisa berabe kalau aku bilang mau kemana, nanti dia maksa lagi ketemu di situ.


Terdengar dia menghela napas, akhirnya dia mau mengalah juga.


" Ya sudah kalau begitu, lain kali saja aku main ke rumahmu," kata Nino tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

__ADS_1


Lalu ia menutup ponselnya setelah berpamitan.


Aku menarik napas lega, huff akhirnya...


Aku seperti orang yang sedang ditagih hutang saja. ha....ha....


Aku menghampiri mama di ruang tengah, mama terlihat masih asyik ngobrol sambil ketawa- ketiwi di sambungan ponselnya, mama sama bibi Sisi kalau udah telponan pasti lupa sama waktu saking asyiknya.


Tiba- tiba ponselku berdering lagi, kulihat layar ponselku disitu tertera nama si bos, kukira Nino lagi yang menghubungiku. Ada apa gerangan si bos meneleponku.


Aku segera mengangkat ponselku.


"Halo ada apa Pak?"


"Mas," koreksinya.


" Iya ada apa mas?" jawabku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.


Ada apa lagi ini, baru tadi si Nino yang menelpon ku, sekarang gantian si bos galak.


" Kamu lagi di rumah?" tanyanya.


" iya mas, ada apa?"


" Kamu ada urusan ga?"


" Ga ada mas," ada apa sih ini si bos kayak orang wawancara aja, pertanyaannya singkat- singkat lagi.


" Ya udah aku ke situ sekarang, kamu tunggu jangan kemana-mana," aku jadi tersenyum geli, ini si bos kata- katanya kayak iklan aja he...he...


Ia langsung menutup teleponnya, ada- ada aja si bos galak, suka- suka dia.


Mama tiba- tiba berjalan ke arahku, ternyata udah selesai telepon- teleponannya sama bibi Sisi.


" Mama pergi ke rumah Tante Dewi sebentar ya Nak, mau nyampein masalah lamaran Aldo. Kamu mau ikut mama?"


" Ga usah ma, bentar lagi bosku mau datang ke sini ma, tadi dia telepon."


" Tuh kan mama bilang juga apa, bos kamu itu jelas- jelas naksir kamu, kalau ga ngapain dia ke sini," kata mama meledekku.


" Mama bisa aja, ga mungkin ah ma, orang galak gitu sama Lusi kalau lagi di kantor."


" Galak itu tanda suka," tawa mama.


" Oke ma, ttdj ya, salam buat Tante Dewi ya ma," jawabku sambil melambaikan tangan.


"Dah sayang," mama balas melambaikan tangan.


Beberapa waktu kemudian, Hendra si bos galak tiba di rumahku.


Ia kupersilahkan duduk di ruang tamu, aku segera ke dapur mengambilkan segelas air putih untuknya.


" Kok sepi Lus, mama kamu kemana?" tanyanya sambil matanya mencari mamaku ke arah ruang tengah, saat aku kembali dari dapur.


Aku meletakkan segelas air putih yang kubawa dari dapur ke meja tamu.


"Mama lagi keluar sebentar mas, ada urusan ke rumah temannya," jawabku.


"Silahkan diminum mas."


"Makasih Lus, aku ingin mengajak kamu keluar boleh tidak?"


" Kemana Pak?" tanyaku heran.


" Keliling kota aja, aku lagi bosan di rumah," katanya.


"Tapi mama lagi ga ada di rumah mas."


" Berapa nomor ponsel mama kamu? biar aku yang minta izin sama mama kamu."


Aku menyebutkan nomor ponsel mamaku, Hendra mengaktifkan speaker hp nya. Terdengar nada menunggu dan tak lama kemudian terdengar suara mamaku menjawab telepon.


"Halo...selamat siang."


" Halo Tante, ini Hendra mau minta izin Tante mengajak Lusiana keluar, sekedar keliling kota atau ke pantai Tante."


" Iya Nak Hendra, boleh- boleh saja."


" Oke makasih ya Tante, saya tutup teleponnya ya. Selamat siang..."


" Selamat siang, hati- hati di jalan ya."

__ADS_1


Terdengar kemudian mama menutup sambungan telepon Hendra.


" Ayo bersiap- siap, mama kamu udah kasih izin," katanya menatapku.


" Ok aku ganti baju dulu mas, tunggu bentar ya."


" Jangan pake lama nanti keburu sore," katanya lagi. Emang kebiasaan si bos, semuanya mau serba cepat.


Aku mengganti dress rumahanku dengan kaos santai yang kupadu dengan celana jeans panjang. Aku memang suka berpakaian simple yang bagiku ga bikin ribet asalkan pakaiannya sopan dan nyaman dipakai.


Aku memoles tipis wajahku dengan bedak dan memberi sedikit pulasan lipgloss di bibirku agar terlihat segar.


Kemudian aku segera keluar dari kamar setelah menyambar tas mungilku.


Hendra menungguku dengan memainkan ponselnya, ia menoleh saat aku sudah sampai di dekatnya.


" Ayo berangkat," katanya bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah ke pintu keluar.


Aku mengekorinya lalu mengunci pintu dari luar.


Hendra membuka pintu depan mobilnya untukku, kalau begini sikapnya terlihat sangat manis, tidak kelihatan galaknya.


Kalau begini lama- lama aku bisa baperan, setiap gadis pasti meleleh hatinya kalau diperlakukan manis seperti ini.


Hendra sudah duduk di depan kemudi, setelah memakai sabuk pengaman ia memutar mobilnya ke arah Pusat kota.


" Kamu pernah suka sama cowok Lus?"


tanyanya tiba-tiba.


" Kalau sekedar suka sih ada mas."


" Kalau boleh tau siapa orangnya?"


" Namanya Fendi mas, dia teman sekelasku waktu SMA."


" Dia pernah menembakmu?"


" Iya pernah mas."


" Kamu tolak?"


" Ga ditolak," jawabku


"Berarti kamu terima?"


" Ga diterima juga."


" Lho gimana ceritanya ga ditolak tapi ga diterima."


" Iya mas waktu itu Fendi menembakku, tapi aku belum memberi jawaban apa- apa, karena sesudah itu ia langsung berangkat ke Taiwan, ia bekerja di sana katanya sambil kuliah juga."


"Apa ga pernah kontek- kontekan?"


"Pernah mas, tapi ga sering, kami sama- sama sibuk."


" Ia ganteng?"


" Ganteng banget, mungkin mas aja kalah ganteng," kataku bercanda.


Hendra memasang wajah cemberut.


" Ha...ha...cuma bercanda mas. Fendi sama gantengnya kayak mas," kataku tertawa kecil.


" Berarti kamu mengakui bahwa aku ganteng dong."


" Tidak juga, maksudku Fendi gantengnya banyak mas gantengnya dikit, sama- sama ganteng kan."


" Kamu ini, mulai berani sama bos ya."


Tanpa kami sadari, obrolan kami berubah jadi santai, seperti dua orang teman lama yang sudah dekat. Ga seperti di kantor, kaku.


" Ke Pantai Pasir Padi yuk, kita cari makan di sana," ajak Hendra.


" Terserah mas, aku ikut aja," jawabku.


Hendra lalu mengemudikan mobilnya ke arah Pantai Pasir Padi.


......................................


( Catatan Author: Pantai Pasir Padi adalah pantai yang ramai dikunjungi terutama di hari libur. Pantai ini memiliki pasir putih dan padat.

__ADS_1


Ada banyak tempat makan di sana, tempat yang direkomendasikan oleh author bila teman- teman ingin berkunjung di Pulau Bangka. Pantai ini terletak di Pangkalpinang. Tempat ini cocok untuk bersantai sekedar untuk melepas kejenuhan dari rutinitas).


__ADS_2