MAHKOTAKU DIRENGGUT OLEH SAHABATKU

MAHKOTAKU DIRENGGUT OLEH SAHABATKU
Bab 99


__ADS_3

******


''Apin nyitil Yah (Davin nyetir Yah),'' ucap Davin yang kini sudah berada di dalam mobil bersama kedua orang tuanya dan adik kecilnya. Tepatnya Davin duduk di depan Aldi. Aldi memang menyisakan sedikit celah tempat agar putranya itu bisa duduk.


''Iya nyetir. Tapi Davin diam aja ya, jangan bergerak terus,'' ucap Aldi lembut menyuruh agar putranya itu tidak banyak bergerak.


''Papa Yah (kenapa Yah)?'' tanya Davin menatap ayahnya dengan tatapan bingung.


''Nanti nabrak orang dong. Nanti ditangkap pak polisi mau?''


"Apin poyisi (Davin polisi)," ucap Davin dengan wajah antusiasnya ketika mendengar kata "POLISI".


''Davin mau jadi polisi?'' tanya Aldi menaikkan satu alisnya. Davin langsung mangut-mangut.


''Apin au tati poyisi (Davin mau jadi polisi).''


''Katanya tadi mau jadi penyanyi,'' ucap Lisa menanggapi ucapan dari putranya itu.


"Apin au tati pianyi mama poyisi Undaa (Davin mau jadi penyanyi sama polisi Bunda)," ucap Davin polos sambil menatap ke arah Bundanya. Membuat Lisa dan Aldi langsung terkekeh mendengar ucapan dari putra pertamanya itu.


''Terserah Davin deh. Ayo kita jalan,'' ucap Aldi, lalu ia menyalakan mesin mobilnya.


''Yayaann (jalan),'' ucap Davin girang sambil bertepuk tangan. Lalu tangan mungilnya itu memegang setir diantara tangan Aldi.


''Diem loh ya tangannya. Nggak boleh gerak,'' tutur Aldi lembut pada Davin.


''Ya-ya.'' Davin mangut-mangut. Aldi tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya.


''Naaaa... Naaaa...'' Putra pertama Aldi dan Lisa itu bergumam dengan menatap jalanan depan yang penuh dengan kendaraan beroda 6, 4 maupun 2. Lisa dan Aldi lagi-lagi terkekeh mendengarnya.


''Tuh papa (itu apa)?'' tanya Davin menunjuk sebuah mobil truk besar di depannya.


''Itu namanya truk sayang,'' ucap Lisa menjawab pertanyaan putranya itu.


''Tuk (truk),'' ucap Davin mangut-mangut.


''Tuk tik tak tik tuk, suara sepatu kuda,'' ucap Aldi sedikit bersenandung.


''Tuk tuk tak tuk. Uaya cetatu tuta (suara sepatu kuda).'' Davin menirukan senandung dari Ayahnya itu. Membuat Lisa dan Aldi tertawa dengan tingkah lucunya.


''Eemm ...'' Tiba-tiba baby Devan menggeliat, karena terusik mendengar tawa dari kedua orangtuanya. Lisa langsung menatapnya dan tersenyum.


''Sssstt, tidur lagi ya nak.'' Lisa mengusap pelan pipi mungil Devan namun, bayi itu malah menangis.


''Loh, kok malah nangis nak?'' tanya Lisa. Davin langsung menatap adiknya itu.


''Dedek anan anis ya (adik jangan nangis ya),'' ucapnya. Namun, Devan tetap saja menangis.


''Mungkin dia haus Bun,'' ucap Aldi.


''Iya sepertinya Devan haus. Tapi masa kasi ASI-nya disini. Nanti keliatan dong Yah,'' ucap Lisa.


''Di dalam tas ada kain kecil. Kamu tutupin aja pake itu.'' suruh Aldi.


''Tapi tasnya ada di belakang, susah mau ambilnya,'' ucap Lisa. Aldi terdiam. Tiba-tiba ada lampu lalu lintas menyala berwarna merah, membuat ia memberhentikan mobilnya sejenak. Tepat! Aldi langsung melepas jaket yang ia gunakan.


''Pake ini aja Bun.'' Aldi memberikan jaketnya pada Lisa. Lisa mengambilnya, lalu ia mulai membuka kancing bajunya dan menutup pundak kirinya menggunakan jaket Aldi hingga ke dada untuk menutupi.


''Mimi sini sayang.'' Lisa mengarahkan ASI-nya ke mulut Devan. Bayi mungil itu langsung diam dan menerima ASI Bundanya, ia meminumnya dengan rakus.


Sepertinya bayi kecil ini sedang kehausan. Lisa langsung tersenyum melihat putra keduanya itu sangat rakus meminum ASI-nya.


''Yayah tatat (Ayah cokelat)!'' Davin menunjuk pedagang asongan yang lewat dan salah satunya menjual cokelat. Tau aja tu bocah ada tukang jualan cokelat.


''Nggak boleh Vin. Kata penjualnya, cokelat itu nggak dijual,'' elak Aldi, agar putranya tidak membeli cokelat yang di jual oleh pedagang itu.


''Au tatat Yayah (mau cokelat Ayah).''


''Nggak dijual sama orangnya nak.''


''Tual (jual)!'' kekeh Davin


''Enggak. Penjualnya loh yang bilang kalo dia nggak jualan cokelat itu.'' elak Aldi lagi.


''Tutah, Apin tual yiyi. (Ya sudah, Davin jual sendiri),'' ucap Davin dengan sedikit ketus. Pintar sekali bocah ini kalo menjawab.


''Davin mau jualan cokelat?'' tanya Aldi.


''Ya-ya. Apin tual tatat (Davin jual cokelat),'' ucap Davin mangut-mangut.


''Kamu ini, tadi katanya mau jadi penyanyi, terus polisi, sekarang malah mau turun pangkat jadi penjual cokelat.'' protes Aldi yang heran dengan cita-cita yang di inginkan oleh putra pertamanya itu.

__ADS_1


Lisa langsung terkekeh mendengar ucapan suaminya itu.


''Yayah cih nanak au iyiin tatat (Ayah sih nggak mau beliin cokelat),'' ucap Davin dengan memasang wajah cemberutnya dan melipat tangan di depan dadanya. Membuat Aldi menahan tawanya melihat ekspresi gemas dari putranya itu.


''Udah, beliin aja Yah. Dia juga nggak sering-sering kan makan cokelatnya,'' ucap Lisa lembut. Aldi menatap ke arah Lisa, ia tersenyum lalu membuka kaca mobilnya.


''Pak!'' panggil Aldi pada penjual asongan itu. Penjual itu pun langsung menoleh.


''Iya Mas? Mau beli?'' tanya penjual itu. Aldi mengangguk.


''Beli coklat 1 ya,'' ucap Aldi.


''Ua Yayah (dua Ayah),'' ucap Davin.


''Satu aja nak,'' ucap Aldi.


''Ua (dua).''


''Satu.''


''Ua (dua)!''


''Satu.''


''Tita (tiga)!''


Mata Aldi langsung melotot. 3 katanya? Pengen sakit gigi kali ni bocah. Pikir Aldi.


''Nggak boleh! satu aja Pak,'' ucap Aldi.


''Tita Yayah (tiga Ayah). Tita (tiga)!'' rengek Davin.


''Satu aja Pak,'' ucap Aldi yang menghiraukan ucapan putranya.


''Tita (tiga)!'' teriak Davin, lalu Aldi menatapnya.


''Mau beli atau nggak sama sekali,'' ucap Aldi tegas. Davin diam dengan raut wajah ingin menangis. Lisa ikut diam menatap suami dan putra pertamanya itu. Sudah pasti suaminya itu sedang menahan kesalnya.


''Jadi beli berapa ini mas?'' tanya penjual itu bingung.


''Satu aja Pak, berapa?'' tanya Aldi.


''20 ribu mas.'' Aldi merogoh sakunya untuk mengambil dompetnya, ia mengambil uang 100 ribuan lalu diberikan ke penjual itu.


''Wah, terima kasih mas,'' ucap penjual itu tersenyum senang.


''Sama-sama Pak.'' Aldi tersenyum membalasnya. Penjual itu berlalu pergi.


''Nih cokelatnya.'' Aldi memberikan cokelat itu pada Davin.


''Auu (nggak mau)!'' ucap Davin dengan mata berkaca-kaca.


Tin!


Tin!


Aldi menatap ke depan. Pantas saja ia di klakson. Ternyata lampu lalulintas sudah berwarna hijau.


''Ya udah kalo nggak mau.'' Aldi menaruh cokelat itu di dashboard depan dan mulai melajukan mobilnya. Davin langsung menundukkan kepalanya.


''Hiks ...'' Tak lama setelah itu terdengar suara isakan.


Aldi melirik putra pertamanya yang ternyata menangis.


''Davin nangis?'' tanya Aldi lembut. Davin hanya diam dengan isakan-nya.


Aldi menghela nafasnya, lalu menepikan mobilnya dipinggir jalan.


''Davin... Dengerin Ayah nak.'' Aldi mengubah posisi putranya menjadi menghadapnya. Bocah tampan ini tidak menatap sang Ayah sama sekali.


''Davin ...'' panggil Aldi lembut. Davin langsung menatapnya.


''Yayah, hiks,'' ucap Davin terisak. Lihat saja, wajahnya sampai memerah.


''Dengerin Ayah nak. Davin boleh minta apa aja yang banyak. Tapi jangan yang nggak baik buat kesehatannya Davin. Ayah nggak mau liat Davin sakit.


Ayah ngelarang Davin karena Ayah sayang sama Davin. Bukannya Ayah nggak mau nurutin Davin.'' jelas Aldi pada Davin dengan suara lembutnya. Lisa hanya terdiam menatap suaminya itu.


''Apin tuta tatat Yayah (Davin suka cokelat Ayah). Hiks,'' ucap Davin masih dengan isakan-nya.


''Ayah tau kalo Davin suka banget sama cokelat. Tapi Ayah ngelarang Davin makan cokelat banyak-banyak. Nanti kalo giginya sakit terus dilepas sama Dokter gimana?''

__ADS_1


''Au, Apin nanak au tutik Om totel (nggak mau, Davin nggak mau di suntik Om Dokter). Hiks,'' ucap Davin geleng-geleng. Aldi tersenyum lalu mengusap air mata putranya itu


''Kalo nggak mau harus nurut. Nggak boleh bandel.''


''Apin nanak antel Yayah (Davin nggak bandel Ayah),'' ucap Davin menggeleng. Aldi langsung tersenyum.


''Pintar jagoan Ayah. Nih cokelatnya.'' Aldi memberikan coklat tadi kepada Davin.


''Tita (tiga),'' gumam Davin menatap Aldi.


''Tiga itu banyak sayang.''


''Anyak (banyak)?'' ulang Davin yang masih sedikit sesenggukan. Aldi mengangguk.


''Ya tutah tatu (ya sudah satu),'' ucap Davin akhirnya mengalah. Aldi tersenyum.


''Kalo satu baru dikit.'' Aldi memberikan cokelatnya kembali pada Davin. Davin pun langsung menerimanya.


''Butak Yayah (buka Ayah),'' ucap Davin menyuruh Aldi untuk membukakan cokelat itu untuknya.


''Dibuka ya? Sini, Ayah bukain cokelatnya.'' Aldi membuka bungkus cokelat itu, lalu memberikan cokelat itu lagi pada putranya.


''Tatacih (makasih),'' ucap Davin.


''Sama-sama,'' balas Aldi lalu melirik ke arah Lisa. Ia mengedipkan sebelah matanya. Lisa hanya tersenyum dan menggeleng kecil.


''Ayo kita jalan.'' Aldi membalikkan kembali tubuh Davin menghadap depan.


''Yayan (jalan).'' Davin mangut-mangut seraya memakan cokelatnya. Aldi tersenyum dan mulai melajukan mobilnya kembali.


******


Sesampainya di rumah, Aldi langsung menyuruh Lisa untuk istirahat di kamar. Ia membawakan tas yang berisi baju Lisa dan Devan di dalamnya.


''Apin wawa papa Yah (Davin bawa apa Yah)?'' tanya Davin menatap sang Ayah yang tengah membawa tas.


''Davin bawa cokelat aja. Kan Davin masih kecil,'' ucap Aldi tersenyum.


''Apin ticil (Davin kecil)? Wawa tatat aja (bawa cokelat aja)?'' tanya Davin pada Ayahnya.


''Iya, Apin ticil,'' ucap Aldi terkekeh dengan tingkah lucu putranya itu.


''Ayo masuk,'' ajak Aldi.


''Acuk (masuk),'' ucap Davin mangut-mangut lalu berjalan mengikuti Ayahnya.


******


Sesampainya di kamar, Lisa langsung membaringkan Devan yang sudah tertidur itu di ranjangnya, lalu ia pun ikut berbaring di samping kanan putra keduanya itu.


''Unda au bobo (Bunda mau tidur)?'' tanya Davin saat melihat Lisa berbaring setelah menidurkan Devan. Lisa langsung menatap putra pertamanya itu yang mulutnya yang penuh dengan coklat.


''Iya, Bundanya mau istirahat nak,'' ucap Aldi.


''Apin itut Undaa (Davin ikut Bunda).''


"Eits, bersihin dulu bekas cokelat di mulutnya, sini Ayah bersihin." Aldi membersihkan bekas cokelat di mulut Davin menggunakan tisu.


"Nah sudah."


Setelah mulutnya dibersihkan, Davin pun langsung menaiki ranjang orangtuanya itu, ia berbaring di sebelah kiri adiknya.


Lisa dan Aldi tersenyum bahagia. Putra pertamanya itu kini tumbuh menjadi anak yang pintar diusianya yang baru menginjak 2 tahun. Apalagi ditambah dengan kehadiran si kecil Devan. Semakin lengkap sudah kebahagiaan Lisa dan Aldi.


Bahagia!


Itulah yang tengah dirasakan oleh pasangan Riyaldi Darien Eadric dan Lisa Evania Wijaya. Pasangan yang bersatu karena sebuah obsesi dari Aldi yang sangat ingin memiliki Lisa seutuhnya, hingga kehadiran sang buah hati pertama yang membuat mereka berdua bersatu dengan sebuah cinta. Dan selang 2 tahun, lahirlah putra keduanya yang membuat hidup Lisa dan Aldi semakin lengkap.


.


.


.


.


.


.


Tamat

__ADS_1


Terimakasih untuk para readers yang sudah membaca novel ini dari awal sampai akhir. Karena berkat kalian, novel ini bisa selesei hingga akhir. Maaf bila novel ini masih jauh dari kata sempurna 🙏😌


Sampai ketemu di novel-novel author selanjutnya 🥰


__ADS_2