
*********
CEKLEK
"Yayah." seru Davin saat Aldi memasuki kamarnya. Lisa yang juga tau jika Aldi masuk hanya diam sambil memakaikan baju Davin.
"Kita sarapan dulu dibawah." ucap Aldi. Lisa tetap diam.
"Bunda.."
"Nggak laper!" jawab Lisa singkat. Aldi menghela nafas lalu duduk di samping Lisa.
"Kamu marah sama aku?" tanya Aldi. Lah malah nanya, yaiyalah Lisa marah sama kamu Udin. Orang kamu malah membela pembantu mu itu daripada istri kamu sendiri
Lisa kembali diam. Aldi memegang dagu Lisa lembut dan dihadapkan ke wajahnya.
"Kamu punya mulut kan sayang?" tanya Aldi lembut. Lisa menepis tangan Aldi dengan kasar, membuat Aldi tersentak.
"Dan kamu juga punya otak kan? Bisa mikir nggak?!" tanya Lisa balik. Aldi langsung terdiam. Ia sadar, ini pertama kalinya ia membentak Lisa lagi. Karena Lisa telah melakukan kesalahan. Pikir Aldi
"Oke, aku minta maaf udah bentak kamu tadi." ucap Aldi.
"Udah selesai, Davin makan ya. Bunda suapi." ucap Lisa tanpa menanggapi permintaan maaf dari Aldi. Lisa malah mengajak bicara Davin.
"Atan, atan Undaa (makan Bunda)." ucap Davin merentangkan tangannya pada Lisa. Lisa pun meraih tubuhnya.
"Ayo kita ke bawah." ucap Lisa yang ingin keluar kamar. Namun, Aldi menahannya.
"Kamu dengerin aku ngomong nggak sih?!" Lisa melepas kembali tangan Aldi.
"Apa harus aku dengerin ucapan kamu?" tanya Lisa balik menatap Aldi.
"Bisa nggak hargai suami kalo ngomong!" Aldi menatap Lisa tajam.
"Hargai kamu ngomong? Emangnya kamu hargai aku ngomong tadi?!"
SKAKMAT !
Aldi langsung diam setelah mendengar ucapan Lisa.
"Ck, kalo nggak bisa menghargai orang lain jangan minta dihargai." ucap Lisa lalu pergi keluar kamar.
"Aaaaarrgh! Kenapa jadi gini sih?!" teriak Aldi frustrasi seraya menjambak rambutnya sendiri.
"Harusnya gue tadi juga dengerin penjelasannya. Tapi... tangan Laras juga bisa terbukti kalo dia... Arrgghh! pusing gue."
********
Saat ini Lisa tengah menyuapi Davin di taman belakang sambil menemani Davin bermain bola. Sedari tadi pandangan Lisa menatap kosong ke depan. Entahlah, pikirannya melayang pada kejadian tadi.
"Yayah." Davin berjalan sempoyongan menghampiri Aldi yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia memeluk kaki Aldi. Aldi tersenyum lalu meraih tubuhnya.
"Apa hem?" tanya Aldi mencium pipi kanan.
"Ntutt Yayah (ikut Ayah)." ucap Davin.
"Ayah kerja dulu. Davin sama Bunda ya, nggak boleh nakal." ucap Aldi lembut.
"Apin nana atan (Davin nggak nakal)." Davin menggelengkan kepalanya.
"Pinter." Aldi mencium kedua pipi putranya. Lalu kembali menurunkan Davin didekat bolanya.
"Oya (bola) Apin." Davin kembali bermain dengan bolanya. Aldi tersenyum lalu menatap istrinya yang masih sama dengan tadi. Ia menghela nafas lalu menghampiri dan berjongkok di hadapan Lisa. Ia menyentuh tangan Lisa, membuat Lisa tersadar dari lamunannya. Dan ia langsung menatap Aldi dengan datar.
__ADS_1
"Udah sarapannya?" tanya Aldi lembut. Lisa hanya diam, malas untuk menjawabnya.
"Aku tau aku salah udah bentak kamu tadi. Aku minta maaf." Lisa menarik tangannya dari genggaman Aldi lalu membuang mukanya. Lisa bukan tipe wanita yang lemah di depan orang lain, dan selalu mengalah. Lisa akan terus bersikukuh membela dirinya jika ia tidak bersalah. Aldi menghela nafas lalu ia menangkup kedua pipi Lisa
CUP
CUP
CUP
CUP
Aldi mencium kening, kedua pipi, dan bibir Lisa dengan lembut. Setelah itu ia beralih mengusap perut Lisa.
"Ayah berangkat dulu ya dek. Baik-baik di dalam ya." Aldi mengecup perut Lisa lalu berlalu untuk pergi kerja.
TES
Lisa kembali menangis saat Aldi sudah tak terlihat.
"Hiks, ini lebih sakit daripada saat aku lihat kamu dengan Valerie dulu Al.. Kamu lebih percaya orang lain yang jelas-jelas salah." ucap Lisa lirih. Bi Marni dan Clara yang melihat dari kejauhan pun menatap iba majikannya itu.
"Kasian Nyonya Lisa Bi." ucap Clara lirih.
"Mungkin ini ujian buat rumah tangganya nak." ucap Bi Marni.
"Laras bener-bener sudah keterlaluan." ucap Clara geram dengan sahabatnya itu. Bi Marni menatapnya.
"Biarkan waktu yang menjawab semuanya nak. Kita tidak bisa berbuat apa-apa."
********
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini hari berganti menjadi malam. Tepatnya pukul 7 malam. Itu artinya sebentar lagi Aldi pasti akan pulang.
"Undaa tatat." rengek nya.
"Iya-iya. Ayo buat dulu." ucap Lisa yang ingin mengangkat tubuh Davin.
"Yayan yiyi, yayan yiyi (jalan sendiri)." tolak Davin. Lisa tersenyum.
"Iya deh, jalan sendiri." Lisa membiarkan Davin berjalan sendiri keluar kamar.
"Eitz, ada tangga. Bunda tuntun ya." ucap Lisa memegang tangan Davin, saat ingin menuruni tangga.
Sesampainya dibawah, ada seseorang yang menghalangi jalan Lisa dan Davin sehingga membuat Lisa mendongak menatapnya. Yang tak lain adalah Laras.
"Mau ngapain lagi kamu? Belum puas udah dibelain suami saya?" tanya Lisa datar. Laras tersenyum sinis.
"Ya belum dong Nyonya. Saya baru puas kalo liat nyonya pisah sama Tuan." jawab Laras sok lembut.
"Dasar wanita licik kamu!" cerca Lisa.
"Walaupun saya licik, suami Anda tetap percaya kan dengan saya." ucap Laras membuat Lisa muak.
"Aku akan cari bukti kebusukan kamu biar Aldi segera memecat kamu!" sentak Lisa. Laras tersenyum sinis lalu sedikit mendekati Lisa.
"Sebelum Anda menendang saya dari sini. Anda yang akan saya singkirkan terlebih dahulu." bisik Laras membuat Lisa membulatkan matanya.
"Atan (Nakal)!" Davin memukul kaki Laras, membuatnya menatap Davin dengan tajam.
"Papa (apa)?" Davin seolah menantang pelayan ini.
"Dasar bocah! Diem deh." Laras mendorong Davin hingga ia jatuh dan menangis. Lisa yang melihatnya pun tersentak.
__ADS_1
"Davin." pekik Lisa.
"Undaaa.. hiks." tangis Davin. Lisa mengangkat tubuh putranya dan menatap Laras tajam.
PLAKKK
"Kamu boleh ngerusak hubungan saya sama Aldi! Tapi jangan pernah kamu berani nyentuh atau nyakitin anak saya!" sentak Lisa yang mulai emosi. Davin memeluk leher Bundanya dan menyembunyikan wajahnya disana.
"Hiks Undaa." isak nya.
"Nyonya nampar saya?" ucap Laras mulai mendekati Lisa lagi. Ia mengangkat tangannya ingin menampar Lisa, namun dengan cepat Lisa mencengkram tangannya kuat sampai ia sedikit meringis dan...
PLAKKK
"Lisa!" Tepat setelah Lisa menampar Laras lagi, Aldi datang dan langsung membentaknya.
"Kamu apa-apaan sih hah?! Kenapa kamu jadi gini sekarang?!" ucap Aldi sedikit emosi.
"Dia duluan yang buat masalah! Dia dorong Davin sampe jatuh dan nangis kayak gini!" ucap Lisa yang ikut emosi. Aldi menatap Laras seolah meminta jawaban.
"Hiks, enggak Tuan. Tadi Den Davin jatuh sendiri waktu Nyonya lagi ke dapur. Dan setelah itu Nyonya langsung nyalahin saya dan juga nampar saya hiks. Padahal saya baru saja lewat." Lisa langsung membulatkan matanya mendengar ucapan dari Laras. Ck, wanita ini benar-benar pintar bersandiwara.
"Astaga Lisa, kamu kenapa jadi seperti ini sih." Aldi mengusap wajahnya kasar.
"Dia bohong Al, Davin didorong dia tadi." ucap Lisa.
"Diam kamu!" bentak Aldi.
"Bodoh!" desis Lisa menatap Aldi.
"Bilang apa kamu tadi?" ucap Aldi sedikit mendekati Lisa.
"KAMU BODOH ALDI!" teriak Lisa. Aldi mengepalkan tangannya dan siap untuk menampar Lisa.
"Apa?! Kamu mau nampar aku? Ayo, tampar silahkan! Hiks." sentak Lisa yang sudah menangis
"Kenapa kamu diam hah? Ayo tampar biar kamu puas."
Aldi langsung meregangkan kepalannya saat melihat Lisa menangis. Bagaimanapun ia tidak pernah menyakiti istrinya itu. Sekalipun ingin menampar Lisa, tapi ia selalu berusaha menahannya.
"Hiks." isak Lisa. Lisa langsung berbalik dan berjalan menaiki anak tangga.
"Lisa." lirih Aldi. Ia langsung pergi menyusul istrinya itu.
"Sayang." Aldi mencekal tangan Lisa yang ingin masuk ke dalam kamar lain yang berada di sebelah kamarnya dan Aldi. Lisa langsung melepas cekalan tangan Aldi dengan kasar.
"Apalagi? Hiks, belain aja terus pelayan kesayangan kamu itu." isak Lisa.
"Aku cuma pengen kamu nggak seperti ini. Sikap kamu berubah sayang." ucap Aldi lembut.
"Aku nggak berubah! Kamu yang berubah Al. hiks, kamu bodoh atau gimana?! Aku nggak pernah bohongin kamu dengan semua ucapan ku!!" sentak Lisa. Aldi diam. Ia tertunduk, bingung harus menjawab apa.
"Buat apa kita bertahan kalo kepercayaan kamu ke aku nggak ada sama sekali." lirih Lisa. Aldi langsung menatap Lisa.
"Hiks Undaa atut (Bunda takut)." isak Davin.
"Kita masuk ya nak." ucap Lisa parau lalu masuk ke kamar sebelah dan menguncinya. Aldi hanya diam mematung di depan pintu kamar itu.
Bersambung ..
Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗
Ig : @mutiakim
__ADS_1