
**********
“Nih Yayah (ini Ayah).” Davin memberikan sisa biskuitnya semuanya pada Aldi
"Terima kasih nak." ucap Aldi menerimanya dengan tersenyum
“Mama-mama (sama-sama).” balas Davin seraya kembali meminum susunya. Aldi memeluk Davin dengan penuh kasih sayang lalu mencium pipinya membuat semua orang di ruangan meeting itu terharu melihat adegan antara Ayah dan putranya ini
“Mohon maaf pak Aldi, kami mau pamit dulu. Semoga ini bisa mempererat kerja sama perusahaan kami dengan perusahaan Bapak.” ucap Pak Reyhan lalu berdiri diikuti yang lain termasuk Aldi dan Nara
“Terima kasih atas kerja samanya. Terimakasih telah mempercayai D.E BIGGEST Company untuk bekerjasama dengan perusahaan Anda semua.” ucap Aldi seraya menjabat tangan client nya bergantian diikuti dengan Nara. Mereka semua tersenyum dan mengangguk lalu ingin beranjak keluar.
“Tataaa (Dada).” Davin melambaikan tangannya pada ketiga client Ayahnya. Mereka tersenyum, lalu ikut melambaikan tangannya sebelum mereka benar-benar pergi
“Hem, pinter jagoannya Ayah.” Aldi mencium pipi jagoannya itu dengan gemas
“Eemm.. pak, saya mau berbicara sesuatu dengan Anda.” ucap Nara dengan tatapan serius
“Ada apa Nar? Kita bicara di ruangan saya saja ya.” ucap Aldi. Nara mengangguk lalu mengikuti Aldi menuju ruangannya
“Kamu mau bicara apa Nar?” tanya Aldi saat ia sudah duduk di ruang kerjanya dengan memangku Davin
“Sebelumnya saya minta maaf jika saya punya kesalahan disini.” Nara menghentikan sejenak ucapannya. Aldi menatap serius perempuan di depannya itu, menunggu kalimat selanjutnya yang akan ia lontarkan. Nara menghela nafasnya
“Saya mau resign dari kantor ini Pak.” ucap Nara yang mampu membuat Aldi terkejut
“Hah? Resign?” ulang Aldi. Nara mengangguk dengan sedikit tertunduk
“Kenapa Nar? Apa kamu kurang nyaman dengan posisi kamu?” tanya Aldi
“Maaf Pak, bukannya saya tidak nyaman. Tapi tugas suami saya di Jakarta sudah selesai. Dan saya harus ikut suami saya yang pindah Dinas ke Malang.” ucap Nara. Nara memang sudah menikah 2 bulan yang lalu. Nara menikah dengan seorang lelaki yang bekerja sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang harus siap untuk diajak pindah tugas ke mana saja.
“Nggak bisa ditunda dulu ya?” tanya Aldi. Jujur, ia masih membutuhkan Nara mengingat kerjanya yang sangat baik selama ini. Nara menggeleng pelan membuat Aldi menghela nafasnya
“Baiklah jika itu kemauan kamu. Saya tidak bisa memaksa.” pasrah Aldi
"Sekali lagi saya minta maaf Pak." sesal Nara. Aldi tersenyum
“Iya tidak apa-apa. Saya ngerti posisi kamu.” ucap Aldi seraya mengambil cek di dalam tasnya, lalu ia menuliskan nominal di dalam cek itu. Entah berapa nominal yang Aldi tulis.
"Ini ada cek buat kamu." Aldi memberikannya pada Nara, lalu dengan ragu Nara mengambilnya
"Ya ampun pak, ini banyak sekali." ucap Nara terkejut dengan nominal yang di tuliskan Aldi. Pasalnya Aldi menulis nominal uang di cek itu sebesar 100 juta rupiah.
"Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah berkerja dengan sangat baik selama ini." ucap Aldi tulus. Nara tersenyum
"Terimakasih Pak. Sekali lagi saya minta maaf tidak bisa menetap disini." ucap Nara
"Sama-sama Nar." balas Aldi tersenyum
“Saya permisi dulu." pamit Nara. Aldi tersenyum dan mengangguk
__ADS_1
"Huft, cari sekretaris sekaligus asisten pribadi lagi deh." gumam Aldi bernafas berat. Ia melirik putranya yang tenang dalam pangkuannya dengan meminum susunya
"Anteng banget sih nak." ucap Aldi seraya mengangkat putranya agar menghadapnya
"Nih Yah." Davin memberikan botol susu yang isinya tinggal sedikit pada ayahnya
"Diminum Davin aja."
"Yayah bobo (Ayah tidur)." Davin menatap Ayahnya
"Mau bobo nak? Sini Ayah peluk." ucap Aldi
"Bobo Unda (tidur sama Bunda)." ucap Davin
"Bunda kan dirumah nak." ucap Aldi
"Bobo Undaa..." Davin mulai merengek dan ingin menangis
"Davin.. Ayah pernah bilang apa? Nggak boleh rewel kalo mau bobo." Aldi menatap putranya ini. Membuat Davin yang berhenti merengek dengan bibir yang sedikit bergetar menahan tangis. Aldi yang mengetahui itu langsung tersenyum dan mengusap kepalanya
"Maaf ya, ayo kita pulang." Aldi berdiri meraih tas kerjanya dan menggendong putranya.
Setelah itu Aldi berjalan keluar karena Pak Maman, sopirnya itu sudah menunggu. Aldi memang diantar sopir karena ia membawa Davin. Davin menyandarkan kepalanya di pundak Aldi dengan mata yang mulai terpejam
"Pak langsung pulang ya. Soalnya Davin udah tidur." ucap Aldi setelah masuk ke dalam mobil
"Baik Den." ucap Pak Maman tersenyum. Aldi membenarkan posisi tidur Davin yang bersandar di bahunya menjadi di dekapan nya. Lalu ia mencium lembut pipi Davin
Sesampainya di kediaman mewah keluarga Eadric, Aldi langsung masuk ke dalam dengan menggendong Davin yang tertidur dan membawa tas kerjanya
"Iya Mom, tadi dia merengek minta tidur sama Bundanya. Oh ya mom, apa Lisa masih tidur?" Tante Anne mengangguk
“Dia tidurnya pules banget, Mommy jadi nggak tega buat banguninnya. Nanti kalo udah bangun kamu suruh makan ya." ucap Tante Anne.
"Ya udah, Aldi ke kamar dulu ya Mom." pamit Aldi. Tante Anne tersenyum dan mengangguk
*********
CEKLEK
Aldi membuka pintu kamarnya, Ia tersenyum saat melihat istrinya yang masih tidur dengan handuk kecil yang menempel di keningnya. Perlahan Aldi masuk lalu menidurkan Davin terlebih dahulu di box bayinya, sebelumnya Aldi sudah melepas sepatunya saat ia baru masuk ke dalam rumah tadi.
Aldi menghampiri Lisa dan setengah berbaring di samping istrinya itu. Ia membuka handuk kecil itu lalu menyentuh kening Lisa
"Syukurlah, demamnya udah mulai turun." gumam Aldi menatap wajah Lisa
"Ngghh." Lisa melenguh dan perlahan mulai membuka matanya
"Ayah..." lirih Lisa. Aldi tersenyum
"Iya sayang? Maaf ya ganggu." ucap Aldi lembut, Lisa menggeleng pelan
__ADS_1
"Davin mana Yah?" tanya Lisa parau
"Lagi tidur tuh." Aldi menunjuk box bayi putranya dengan dagunya
"Dia nggak rewel kan tadi?" tanya Lisa lagi
“Enggak kok, dia diem selama aku meeting. Cuma tadi pas mau pulang dia agak rewel minta tidur sama kamu." Aldi merapikan rambut Lisa yang sedikit berantakan
"Nggak kamu marahin kan Yah?" tanya Lisa. Aldi menggeleng
"Cuma aku ingatin kayak dulu. Kalo mau tidur nggak boleh rewel." jelas Aldi. Lisa tersenyum lalu memeluk perut Aldi, menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
"Kenapa hem?" tanya Aldi heran saat Lisa bersembunyi di dekapan nya
"Pusing Yah." ucap Lisa pelan
"Eeemm, pusing ya? Sini aku pijitin." Aldi mulai memijat pelipis istrinya itu, membuat Lisa memejamkan matanya
"Kamu belum makan ya?" tanya Aldi. Lisa hanya menggeleng
"Aku ambilkan dulu ya makanannya, setelah itu minum obat." ucap Aldi
"Nanti aja." lirih Lisa
"ini udah hampir jam 4 loh, kamu cuma makan tadi pagi." ucap Aldi
"Nggak mau, semua makanan rasanya pahit Aldi." rengek Lisa. Aldi langsung terkekeh
"Lihat wajah aku aja, pasti manis." ucap Aldi
"Aku maunya yang asin." ucap Lisa
"Ya udah tinggal di kasi garam aja." ucap Aldi
"Kalo gitu liat muka kamu aja ya."
"Eehh... Nakal ya, muka manis gini di kira asin." Aldi memencet hidung Lisa sebentar dan itu membuat Lisa tertawa
"Sekarang udah mendingan?" tanya Aldi. Lisa mengangguk
"Ya udah aku ambilkan makanannya dulu ya, tunggu sebentar." Aldi melepaskan tangan Lisa yang berada diperutnya lalu berdiri untuk mengambilkan makanan untuk sang istri
Lisa mencoba bangun dan bersandar di headboard ranjang sambil menunggu Aldi. Bibir Lisa tersenyum mengingat sikap Aldi yang selalu manis padanya
"Tuhan, terima kasih engkau telah memberikanku suami terbaik untuk ku. Bodohnya aku dulu tidak pernah memandang ketulusan cintanya. Aku bahagia dengan keluarga kecilku saat ini. Jagalah selalu keluarga kecilku Tuhan." batin Lisa berdoa dan kini ia juga sudah meneteskan air matanya
"Apa kabar kamu Ki? Semoga kamu cepat mendapat pengganti ku." gumam Lisa yang tiba-tiba teringat akan mantan kekasihnya dulu
"Maaf aku nggak bisa jaga cinta kita. Hatiku sepenuhnya milik Aldi dan anakku saat ini." lirih Lisa
Bersambung ..
__ADS_1
Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗
Ig : @mutiakim