
******
Aldi tengah menggendong jagoan keduanya setelah ia mengadzani-nya tadi. Terlihat sangat imut dan tampan seperti kakaknya. Namun, berbeda dengan Davin yang dulu terlahir dengan kulit sedikit merah, bayi mungil ini justru terlahir dengan kulit yang putih.
''Jagoan lagi kan sayang. Jadi aku masih ada kesempatan bikin lagi sampe ada yang cewek,'' ucap Aldi sedikit ngawur. Lisa yang tadinya tersenyum beralih menatap Aldi dengan kesal.
''Terus? Kalo keluarnya cowok lagi, kamu mau bikin lagi gitu?'' cetus Lisa.
''Iya dong, harus sampai kita dapat anak cewek,'' jawab Aldi dengan wajah tanpa dosanya.
''Ih dasar!'' Lisa memukul lengan Aldi karena kesal dengan ucapannya. Aldi langsung terkekeh.
''Aku bercanda sayang. Nggak apa-apa kalo anak-anak kita cowok. Jadi kan mereka bisa jaga dan melindungi Bundanya nanti kalo sudah besar,'' jelas Aldi seraya menatap Lisa. Lisa hanya diam menatap Aldi yang duduk disebelah ranjangnya.
''Makasih ya sudah kasi aku 2 jagoan yang sangat tampan. I love you honey.'' Aldi mencium kening Lisa dengan lembut, membuat Lisa memejamkan matanya.
''Oekk, Oekk.'' Tiba-tiba bayi mungil itu menangis kencang. Aldi pun langsung melepaskan ciuman dari kening istrinya itu.
''Hey, kok nangis. Kenapa nak?'' Aldi menimang putra kecilnya itu.
''Oekk, Oekk, Oekk.'' Bayi tampan itu tetap menangis.
''Dia mungkin haus Yah, sini tiduri di samping aku,'' ucap Lisa sedikit menggeser tubuhnya. Aldi meletakkan baby-nya ke sampingnya.
''Cup, cup, cup. Mau mimi ya sayang.'' Lisa membuka kancing baju atasnya untuk memberinya ASI. Bayi mungil itu langsung diam saat Lisa menuntun memberinya ASI. Walaupun belum bisa menghisap namun, bayi ini cukup tenang di dekapan Bundanya.
''Uuhh, pintarnya,'' gumam Lisa tersenyum seraya mengusap pipi mungil putranya. Aldi pun ikut tersenyum.
''Tampan dan imut, persis ya kayak kakaknya.'' Aldi ikut mengelus pipi putranya itu. Lisa tersenyum.
''Belum dikasih nama ya Yah?'' tanya Lisa.
''Udah dong sayang,'' jawab Aldi.
''Siapa?'' tanya Lisa lagi. Aldi tersenyum.
''Devan Ali Eadric,'' ucap Aldi.
''Nama yang sangat bagus,'' ucap Lisa tersenyum.
"Kamu suka dengan namanya sayang?"
"Iya aku sangat suka sayang."
''Kamu ingin tau nggak arti dari namanya?'' tanya Aldi. Lisa mengangguk.
"Emang apa artinya Al?" tanya Lisa penasaran.
"Devan artinya, anak yang diistimewakan oleh Tuhan, hebat, indah dan baik. Ali berarti pemenang, yang mulia, dan sangat baik. Ali juga salah satu nama sahabat Rasulullah, yakni Ali bin Abi Thalib.
Terus kalo Eadric kan nama marga keluarga aku, Eadric itu artinya raja yang sejahtera. Aku berharap kelak anak kita bisa seperti arti dari namanya itu, menjadi seperti seorang raja yang hebat, berhati mulia dan hidupnya yang sangat sejahtera." ucap Aldi menjelaskan arti dari anak keduanya itu.
"Aamiin, semoga kelak dia bisa menjadi seperti namanya Yah." ucap Lisa tersenyum menatap baby Devan sambil mengusap pelan pipi baby Devan menggunakan jari jempolnya.
''Oh ya, Davin kamu titipin siapa Yah?'' tanya Lisa menanyakan tentang putra pertamanya itu
''Aku titipin di Mommy'' jawab Aldi.
''Masih jam setengah 4 Yah,'' ucap Lisa setelah melihat jam dinding.
''Emangnya kenapa Bun?'' tanya Aldi menatap Lisa dengan heran.
''Nggak papa, hehe,'' ucap Lisa cengengesan. Aldi tersenyum lalu mengacak rambut Lisa.
"Iihh Aldi jangan di acak," ucap Lisa memanyunkan bibirnya, membuat Aldi langsung terkekeh.
''Lain kali jangan seperti semalam. Kalo disuruh itu nurut, biar nggak panik kayak tadi," nasehat Aldi.
''Kan semalam udah nggak papa. Aku kira kan cuma kontraksi palsu,'' ucap Lisa.
''Sayang, usia kandungan kamu aja udah 9 bulan, kalo sering kontraksi itu salah satu tanda menjelang lahiran. Lebih cepat bersiap kan lebih baik daripada seperti tadi. Membuat aku panik tau nggak,'' jelas Aldi dengan nada lembut.
''Iya deh maaf. Eh tapi, lain kali maksudnya apa?'' tanya Lisa menatap Aldi heran.
''Yaaaaa, gitu deh.'' Aldi menaik-turunkan alisnya dengan tersenyum evil.
''Iishh dasar!'' dengus Lisa kesal lalu beralih menatap baby Devan lagi.
CEKLEK!
''Assalamualaikum,'' ucap beberapa orang dengan kompak.
''Waalaikumussalam. Eh Mommy, Daddy, Mama sama Papa datang,'' ucap Lisa dan Aldi. Mereka tersenyum menatap bayi mungil di samping Lisa.
''Lucunya. Lahir jam berapa nak?'' tanya Tante Anne berjalan menghampiri menantunya itu.
''Jam 02.50 Mom.'' sahut Aldi.
''Imut dan tampan, kayak kakaknya ya.'' Tante Nila mengusap pipi mungil baby Devan. Lisa hanya tersenyum.
''Sayang, lepas dulu ASI-nya,'' ucap Aldi.
''Kenapa?'' tanya Lisa heran.
''Ada Daddy sama Papa tuh.'' Aldi menunjuk Om Darwin dan Om Hendra yang masih berada di ambang pintu ruang rawat Lisa.
''Udah aku tutup kok,'' ucap Lisa.
''Masih kelihatan tau! Daddy sama Papa keluar dulu aja deh.'' Aldi beralih menatap Daddy dan juga Papa mertuanya itu.
''Eehh kok malah ngusir sih,'' protes Om Darwin.
''Ya enggak gitu. Tapikan istri Aldi masih ngasih ASI Dad ...'' ucap Aldi sedikit merengek.
''Kami kan tidak melihat. Ya kan Win?'' ucap Om Hendra.
''Ya tapi kan ...''
__ADS_1
''Iihh udah-udah ngga usah debat. Udah aku tutup nih,'' ucap Lisa memotong ucapan Aldi.
''Nah gitu kek dari tadi,'' ucap Aldi tersenyum.
''Dasar bocah nakal,'' gumam Om Darwin.
''Eh, ngawur aja Aldi dibilang bocah. Udah jadi bapaknya 2 bocah malah,'' celetuk Aldi. Semua langsung tertawa mendengar ucapannya.
******
Pagi menjelang.
Pukul 08.05 keluarga Lisa dan Aldi sampai di rumah sakit untuk menjenguk Lisa. Davin yang sedari tadi mencari orangtuanya itu sudah tidak sabar untuk bertemu, apalagi saat tau adiknya itu sudah lahir.
''Ante utak. (Tante buka).'' Davin mendongak menatap Claudia.
''Iya-iya. Bilang assalamualaikum dulu dong kalo masuk,'' ucap Claudia.
''Ataicum (assalamualaikum)?'' ulang Davin. Claudia mengangguk.
''Ataicum Ante (assalamualaikum Tante),'' ucap Davin mangut-mangut, membuat semuanya terkekeh.
''Pinter banget sih ponakan Om. Makin buricak burinong deh.'' Edwin mencubit pelan pipi Davin.
''Bahasa lo Win, kayak bahasa alien,'' celetuk Rama geleng-geleng.
''Kenapa emang?" tanya Edwin.
''Bikin anak orang kena virus alay lo,'' ucap Rama, membuat Edwin memanyunkan bibirnya.
''Jangan manyun gitu. Kamu udah kayak Wina aja manyun.'' celetuk istri Edwin, yakni Maura.
''Iiisshh! Kalian berdua sama-sama ngeselin.'' dengus Edwin kesal. Rama dan Maura langsung terkekeh.
''Udah ayo masuk!'' ucap Ika, lalu membuka pintu ruang rawat Lisa.
''Ataicuuummm (assalamualaikum).'' ucap Davin dengan suara riang.
''Waalaikumussalam.'' ucap semua orang yang ada di dalam ruang rawat Lisa, lalu menoleh ke ambang pintu.
''Davin...'' Lisa tersenyum menatap putranya yang datang itu.
''Yayaaahh, Undaaa.'' Davin berjalan menghampiri Lisa dan Aldi.
''Uuuhh, jagoan Ayah.'' Aldi langsung mengangkat putra pertamanya itu.
''Apin yiyian umah. (Davin sendirian di rumah).'' ucap Davin sedikit manyun.
''Kan ada Tante sama Om, ada kakak Raka sama kakak Wina juga.'' ucap Aldi seraya mengusap lembut kepala Davin.
''Nanak ada Yayah Undaa (nggak ada Ayah sama Bunda).'' ucap Davin menggeleng.
''Maaf ya sayang. Ayah sama Bunda kan nggak ada niatan buat ninggalin Davin.'' ucap Aldi sambil mencium pipi Davin.
''Apin aapin (Davin maafin).'' ucap Davin mangut-mangut, membuat semua terkekeh.
''Dedek Apin (Adik Davin).'' Davin menunjuk bayi mungil di samping Bundanya itu. Lisa tersenyum.
''Ante Cilo (Tante Claudia). Katana dedek Apin kual (katanya adiknya Davin keluar)." ucap Davin polos. Lalu Lisa dan Aldi menatap Claudia yang nyengir.
''Nggak salah kan? Aku tadi bilang adiknya udah lahir, dianya nggak ngerti. Eh pas aku bilang keluar, dia langsung paham.'' jelas Claudia. Lisa tersenyum.
''Nggak papa kok Clau.'' ucap Lisa.
''Dedek Apin bobo (adiknya Davin tidur)?'' tanya Davin.
''Iya, dedeknya Davin lagi bobo.'' jawab Aldi.
''Apin au tentong dedek (Davin mau gendong dedek).'' ucap Davin membuat Aldi membulatkan matanya.
''Gendong?'' ulang Aldi. Davin langsung mangut-mangut.
''Tentong ninih (gendong sini).'' Davin mengulurkan tangannya ke arah baby Devan.
''Nggak bisa dong Vin. Kan sama-sama kecil kayak dedeknya.'' jelas Aldi, agar putra pertamanya itu mengurungkan niatnya untuk menggendong sang adik.
''Apin nanak ticil (Davin nggak kecil), dedek ayi ticil (adik bayi yang kecil).'' ucap Davin polos.
''Iya, tapi kan sama itu kecilnya.'' jelas Aldi lagi.
''Nanak mama Yayah (nggak sama Ayah)!'' Davin menatap kesal sang Ayah. Aldi mendesah pelan. Kalau sudah begini, pasti susah menjelaskan dan membujuk putranya itu.
''Apin tentong dedek (Davin gendong adik), Apin tetong (Davin gendong).'' ucap Davin berubah menjadi rengekan.
''Nggak bisa nak, nanti jatuh loh dedek nya.'' bujuk Aldi.
''Auu! Auu (nggak mau)!'' ucap Davin geleng-geleng. Menolak ucapan ayahnya.
''Nanti jatuh adiknya sayang.'' ucap Lisa ikut membujuk putra pertamanya itu.
''Tentong dedek (gendong adik)!'' ucap Davin sedikit berteriak. Lisa langsung diam.
''Viinn...'' Aldi menatap putranya itu.
''Ayah nggak suka ya kalo Davin nakal.'' lanjut Aldi namun, dengan suara lembut.
''Tentong dedek Yayah (gendong adik Ayah).'' Davin menampakkan wajah ingin menangis. Aldi menghela nafasnya, lalu mendudukkan Davin di kursi sebelah ranjang rawat Lisa.
''Duduk manis dulu disitu.'' ucap Aldi. Ia beralih mengangkat putra keduanya lalu mengarahkan ke arah Davin.
''Ninih (sini).'' Davin berubah menjadi antusias seraya mengulurkan tangannya. Aldi masih ragu-ragu menyerahkannya.
''Yayah ninih (Ayah sini).'' ucap Davin lagi. Aldi menghela nafasnya lalu meletakkan putra keduanya dipangkuan Davin. Saat Aldi ingin melepasnya...
''Ahh.. Iyat, iyat (berat).'' ucap Davin langsung membuat semua tertawa.
''Nggak bisa kan? Kan Ayah udah bilang nak.'' ucap Aldi terkekeh lalu menggendong baby Devan lagi.
''Dedek iyat (adik berat).'' protes Davin menatap kesal Aldi.
__ADS_1
''Davin juga berat.'' ucap Aldi.
''Apin iyat (Davin berat)?'' ulang Davin. Aldi mengangguk.
''Tentong Apin Yayah (gendong Davin Ayah).'' Davin mengulurkan tangannya ke Aldi. Aldi tersenyum seraya ingin meletakkan bayinya di samping Lisa lagi.
''Aku coba gendong Al.'' ucap Bella tiba-tiba. Aldi menoleh lalu menyerahkan baby Devan ke Bella
"Tampan banget sih dek." ucap Bella sambil menimang tubuh baby Devan
''Sini sama Ayah.'' Aldi mengangkat tubuh mungil putra pertamanya itu lagi.
''Tuh nanak iyat (tuh nggak berat).'' ucap Davin polos.
''Siapa?'' tanya Aldi.
''Apin (Davin).'' jawab Davin cepat. Aldi terkekeh mendengar jawaban Davin.
''Kan Ayah udah besar. Davin kan kecil, kalo mau gendong dedek nya ya berat, nanti kalo Davin udah besar kayak Ayah pasti bisa gendong dedek nya.'' jelas Aldi lembut.
''Apin mama dedek ticil (Davin sama dedek kecil)? Anti isal (nanti besar)?'' tanya davin. Aldi tersenyum dan mengangguk.
''Iiihh lucunya.. Namanya siapa kak?'' tanya Claudia menatap Lisa dan Aldi.
''Devan Ali Eadric.'' jawab Lisa tersenyum.
''Wah! keren ih namanya. Hampir mirip penyebutan namanya Davin-Devan. udah kayak anak kembar aja. Eh gimana kalo nanti kita bikin grup band bertiga yuk Vin sama adek Devan juga, nama grup bandnya The Eadric's, pasti kita bisa terkenal tuh.'' cerocos Claudia mengedip-ngedipkan matanya.
''Uppen (grup band)?'' ulang Davin.
''Iya grup band, entar Tante yang jadi vokalisnya.'' ucap Claudia dengan sangat antusias.
''Uppen tuh papa (grup band itu apa)?'' tanya Davin polos, karena ia tidak mengerti ucapan dari Tantenya itu. Claudia menghela nafasnya.
''Nyanyi Vin nyanyi. Kayak di tipi-tipi itu loh.'' ucap Claudia menjelaskan.
''Apin anyi (Davin nyanyi).'' ucap Davin ikut antusias. Entah bocah tampan itu memang suka sekali yang namanya bernyanyi.
''Eh jangan! Tante aja yang nyanyi, kamu yang main gitar oke!'' ucap Claudia tersenyum.
''Auu (nggak mau)! Apin au anyi (Davin mau nyanyi).'' kekeh Davin
''Udah nggak usah didengerin nak. Orang Tante Claudia nyanyinya aja cempreng, ini malah mau bikin band segala.'' ucap Aldi melirik ke arah Claudia.
''Ye kakak mah syirik aja, jugaan aku yang buat. Terus masalah gitu buat kakak?'' sewot Claudia.
''Ya masalah lah. Kamu ngajak anak-anak kakak. Bisa-bisa bandnya nggak laku gara-gara kamu nya keburu tua.'' ledek Aldi membuat Claudia memanyunkan bibirnya.
''Jahat banget sih kak!'' kesal Claudia. Aldi menahan tawanya.
''Emang iya kan? Mendingan bikin penyanyi duet daripada penyanyinya ketuaan satu.'' Aldi meledek adiknya itu lagi.
''Kak Aldi iihh! Terus aja ngeledekinnya.'' kesal Claudia.
''Emang iya mau kakak terusin.'' ucap Aldi
''Aldi... '' ucap Lisa menengahinya, membuat Aldi langsung diam.
''Adi...'' Davin malah menirukan ucapan Bundanya.
''Eh kebiasaan deh.'' Aldi memukul pelan mulut putranya. Davin malah terkikik menunjukkan deretan gigi putihnya.
''Yayah Adi (Ayah Aldi).'' celoteh Davin.
''Nah, kalo itu boleh.'' Aldi tersenyum lalu mencium pipi putranya itu.
******
Hari ini Lisa sudah diperbolehkan pulang setelah 1 hari 1 malam berada di rumah sakit. Baby Devan terlihat tenang berada di gendongan Bundanya, berbeda dengan Davin yang sedari tadi terus berceloteh ria.
''Tatu tatu Apin yayan Undaa (satu-satu Davin sayang Bunda), ua ua uga Apin yayan Yayah (dua-dua juga sayang Ayah), tita tita yayan dedek epan (tiga-tiga sayang adik Devan). Tatu ua tita yayan emuanya (satu dua tiga sayang semuanya).. '' Davin bersenandung lalu bertepuk tangan. Lisa dan Aldi terkekeh mendengarnya.
''Pinter banget sih hem?'' Aldi menatap putranya yang duduk di sofa kamar rawat Lisa.
''Apin anyi (Davin nyanyi).'' ucap Davin girang.
''Mau jadi penyanyi ya kalo udah besar? '' tanya Lisa.
''Apin au adi pianyi (Davin mau jadi penyanyi).'' Davin mangut-mangut. Lisa dan Aldi tersenyum.
''Ayo kita pulang.'' ucap Aldi yang ingin menggendong Davin.
''Yayan yiyi, yayan yiyi (jalan sendiri).'' Davin menggeleng lalu turun dari sofa.
''Awas jatuh Vin! Kebiasaan deh merosot-merosot gitu.'' ucap Aldi.
''Apin au yayan yiyi (Davin mau jalan sendiri).'' ucap Davin mendongak menatap sang Ayah.
''Iya. Tapi nggak boleh gitu. Nanti kalo jatuh, terus kepalanya sakit kayak dulu gimana?'' Aldi menatap putranya itu, lalu menggandengnya.
''Auu (nggak mau).. '' Davin menggelengkan kepalanya. Bisma tersenyum.
''Makanya nggak boleh bandel.'' tutur Aldi. Davin hanya mangut-mangut polos.
''Udah siap Bun?'' tanya Aldi menatap Lisa.
''Udah Yah.'' jawab Lisa sambil menggendong baby Devan lalu berdiri dari ranjang.
''Ayo kita jalan.'' Aldi meraih tas berisi pakaian istri dan anaknya. Lisa mengangguk.
''Yayan (jalan).'' ucap Davin. Lisa tersenyum.
''Nggak sakit kan buat jalannya Bun?'' tanya Aldi pada Lisa.
''Enggak kok.'' Aldi tersenyum lalu berjalan beriringan dengan Lisa yang sedang menggendong baby Devan.
Bersambung ..
Mohon dukungannya untuk di like, komen dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏
__ADS_1
Ig : @mutiakim