MAHKOTAKU DIRENGGUT OLEH SAHABATKU

MAHKOTAKU DIRENGGUT OLEH SAHABATKU
Bab 65


__ADS_3

Author percepat aja konfliknya, takut di semprot sama para readers✌️


********


1 minggu sudah hubungan Lisa dan Aldi renggang. Dan selama itu pula Lisa pisah kamar dengannya. Lisa tidak pernah menemui Aldi. Lisa akan keluar setelah Aldi berangkat kerja dan akan masuk kembali sebelum Aldi pulang. Hal itu membuat batin Aldi tertekan. Ia merindukan Lisa dan juga merindukan putranya. Ia mencoba memanggil Lisa dari luar pun, selalu Lisa hiraukan.


"Aku kangen kamu sayang.. Aku kangen anak kita." gumam Aldi yang tengah bersandar di sofa dalam kamarnya. And you know? Di atas meja sana terdapat 3 botol wine. Ya, Aldi tengah melampiaskan semua masalahnya dengan meminum minuman haram itu.


"Aaaarrrgghh!" teriaknya frustasi. Aldi melempar gelas yang ia pegang ke arah tembok dan membuat suara pecahan nyaring terdengar di ruangan itu.


"Aku emang bodoh sayang. Haha, gue emang bego." Aldi tertawa miris. Kepalanya terasa sangat berat saat ini.


"Aku akan cari bukti kalo kamu beneran nggak salah. Sabar ya sayang, muuacchh." Aldi mencium bingkai foto Lisa lalu memeluknya erat.


********


Malam berganti menjadi pagi,


Lisa terbangun dari tidurnya dan merasa haus. Biasanya di meja kecil samping ranjangnya terdapat air putih. Lisa baru ingat jika semalam sudah ia minum air putihnya.


"Emm haus. Bodo amat ah, walaupun ada Aldi disana." ucap Lisa sedikit menggeliat lalu mengusap perutnya.


"Haus ya dek. Kita ke dapur yuk." gumam Lisa mengajak bicara janin yang ada di dalam rahimnya. Lisa menatap Davin yang masih tertidur di sampingnya.


"Tunggu sebentar ya sayang." ucap Lisa mencium kening Davin lembut.


Lisa beranjak dari tidurnya lalu keluar untuk mengambil air putih.


Didekat tangga, Lisa berhenti untuk mengikat rambutnya. Laras yang tengah mengepel tak jauh Lisa pun melihatnya disana. Tiba-tiba saja ia tersenyum licik.


"Mungkin ini saatnya aku nyingkirin wanita sialan itu." batin Laras mulai mendekati Lisa perlahan.


"Mampus deh kamu, Nyonya sok kecakepan Selamat tinggal." batin Laras tersenyum mirip setan


Laras terus mendekati Lisa dengan tangan yang sudah mengambil ancang-ancang untuk mendorong tubuh Lisa ke bawah


*********


Aldi tengah meminum air putih di bawah. Ia menyembunyikan wajahnya di atas meja makan sebentar karena merasa pusing di kepalanya. Mungkin efek minum semalam.


"Perasaan gue kok ngga enak. Ada apa ini sebenernya?" batin Aldi yang memang merasa gusar dari tadi. Ia berdiri dan ingin kembali menuju kamarnya di lantai atas.


Namun,


Matanya langsung membulat, ketika ia melihat Laras tengah bersiap untuk mendorong istrinya.


"Lisa awass!"


"Aaaaaaaaa."


Terlambat !


Laras sudah mendorong Lisa hingga ia terguling ke bawah melalui tangga itu dan sukses membuat Laras terkejut dan panik mendengar teriakan dari Tuannya itu. Aldi segera berlari menghampiri Lisa dan menyanggah tubuh Lisa yang hampir sampai di lantai bawah.


"Sayang.." lirih Aldi yang melihat kepala Lisa yang sudah berlumuran darah. Tangannya bergetar ingin menyentuh istrinya itu. Namun, matanya langsung membulat, ketika ia melihat darah juga keluar dari selangkang*n Lisa.


"Nggak! Dia nggak boleh keguguran lagi. Enggak!" Aldi menggelengkan kepalanya.


"Pak Rahmat! Pak!" teriak Aldi memanggil sopirnya.

__ADS_1


"Ada ap... Astaghfirullah, Nyonya kenapa Tuan?" Pak Rahmat, Bi Marni, dan Clara terkejut melihat keadaan Lisa yang berlumuran darah.


"Cepat bawa istri saya ke rumah sakit sekarang!" titah Aldi.


"Baik Tuan." Pak Rahmat langsung mengangkat Lisa untuk dibawa menuju rumah sakit.


Aldi menatap ke atas dan menatap tajam Laras yang masih mematung disana.


"LO!" Aldi menunjuk Laras dengan mata dan wajah yang sudah memerah menahan amarah.


Laras berjalan mundur dan berlari menghindari Aldi. Aldi ikut berlari menaiki tangga untuk mengejarnya.


"Mau kemana lo hem?" Aldi menjambak rambutnya sehingga membuat Laras berhenti dan meringis.


"Arrgghh Tuan sakit..." ucap Laras kesakitan. Aldi membalikkan tubuhnya.


"Sakit ya?" ucap Aldi dengan melembutkan suaranya dan...


PLAKKK


Aldi menampar Laras dengan cukup keras.


"Jadi bener ucapan istri gue selama ini. Lo yang jahat! Dan lo udah fitnah istri gue!" sentak Aldi murka. Laras hanya diam sedikit menunduk.


"Heh jawab! Kenapa lo diem hah?!"


PLAKKK


Aldi kembali melayangkan tamparannya lagi ke pipi mulus Laras hingga membuatnya tersungkur.


"Heh!" Aldi duduk jongkok seraya menjambak rambut Laras lagi agar menatapnya.


"Heh sakit lo bilang?! Lebih sakit mana sama istri gue yang lo dorong dari atas tangga? Lo mau bunuh istri sama calon anak gue? Cari mati lo sama gue hah?!" sentak Aldi tersulut emosi. Inilah sifat Aldi jika sudah marah. Ia tidak segan bermain tangan kepada siapapun yang berani menyakiti orang-orang yang ia sayangi. Tidak memandang itu laki-laki ataupun perempuan.


Namun jika dengan Lisa, ia tidak pernah bisa bermain tangan dan selalu berusaha meredam emosinya jika sudah bertengkar dengan Lisa. Karena ia terlalu sangat mencintai istrinya itu. Tidak percaya? Silahkan cari buktinya dari part 1 hehe.


"Sshh.. Sa..saya minta maaf." ucap Laras meringis.


"Ck, maaf ya? Coba ngadep sini." ucap Aldi menarik rambut Laras agar menatapnya.


PLAK


PLAK


PLAK


Aldi menamparnya berkali hingga sudut bibir Laras mengeluarkan darah. Clara yang melihat sahabatnya seperti itu hanya bisa menangis. Tidak berani berbuat apa-apa karena takut Aldi semakin marah


"Tuan sudah, hentikan. Kasian, dia perempuan." ucap Bi Marni.


"Aaarrgghh!" teriak Aldi seraya mengacak rambutnya. Ia berdiri dari duduknya.


"Telpon polisi sekarang!" ucapan Aldi membuat semua tersentak.


"Kenapa diam?! Kalian semua mau saya pecat hah!" sentak Aldi menatap Bi Marni dan Clara.


"Ba.. Baik Tuan." ucap Bi Marni lalu pergi.


"Hiks, Tuan saya mohon jangan bawa saya ke polisi." Laras langsung berlutut dengan memegang kaki Aldi. Ia sudah menangis dengan penampilan yang sudah acak-acakan. Dengan cepat Aldi menepis tangan Laras yang berada di kakinya itu dengan kasar.

__ADS_1


"Lo berani berbuat, berarti lo harus berani bertanggung jawab!"


"Tuan, untuk kali saya juga mohon jangan bawa dia ke penjara..." ucap Clara memberanikan diri. Aldi menatapnya.


"Jangan membela dia atau kamu saya pecat juga!"


"Bukan begitu Tuan. Dia itu tulang punggung keluarganya. Ayahnya sudah meninggal, Ibunya sakit-sakitan di rumah, dan 2 adiknya juga masih kecil." ucap Clara membuat Aldi terdiam menatap Laras yang menangis tertunduk.


"Dia hanya terobsesi saja dengan Tuan." lanjut Clara


"Harus ya terobsesi dengan cara berusaha membunuh istri saya?! Iya?!" bentak Aldi. Clara langsung menunduk mendengar bentakan Aldi.


DOR, DOR, DOR


"Undaa." terdengar samar-samar suara Davin menggedor pintu dari dalam kamar yang selama seminggu ini Lisa tempati.


"Lo jangan berusaha kabur atau lo mati di tangan gue sekarang juga!" Aldi menatap tajam Laras, lalu berjalan mendekati pintu kamar yang ditempati Lisa dan Davin selama seminggu itu. Ia membuka perlahan karena tau Davin pasti ada di belakang pintu.


"Yayaahh." pekik Davin terlihat senang saat melihat Aldi. Maklum, sudah 1 minggu ia tidak bertemu dengan sang Ayah.


"Davin." Aldi langsung menggendong dan menciumi wajah putranya. Mungkin ia juga sangat merindukan putranya itu.


TES


Air mata Aldi menetes, bukan karena ini. Tapi ia sangat mengkhawatirkan keadaan Lisa saat ini.


"Yayah Apin." Davin memeluk leher Aldi dan bersandar di pundaknya.


"Iya apa nak?" Aldi mengusap punggung putranya.


"Unda Apin Yayah. Unda Apin (Bunda Davin)." ucap Davin. Aldi memejamkan matanya agar air matanya tidak jatuh terus-menerus.


"Sama Ayah dulu ya nak. Kita ambil jaket sama kunci mobil terus kita pergi ke Bunda." ucap Aldi lalu masuk ke kamarnya.


"Hiks, Clara tolongin aku." ucap Laras menatap Clara.


"Sorry Ras, aku nggak bisa bantuin kamu. Kesalahan kamu udah sangat besar, kamu udah berusaha bunuh Nyonya." ucap Clara lirih.


"Hiks, ak..aku khilaf Ra." isak Laras. Clara menggeleng pelan.


"Aku udah bilang dari jauh-jauh hari. Jangan macam-macam dengan keluarga ini. Kamu belum tau siapa Tuan Aldi. Obsesi kamu udah mengalahkan semuanya." ucap Clara. Laras tertunduk dalam dan terus menangis.


Tak lama kemudian 3 orang polisi datang bersama Bi Marni, bertepatan dengan Aldi yang keluar dari kamarnya bersama Davin.


"Tolong bawa perempuan ini pak. Dia sudah mencoba untuk membunuh istri saya, dengan cara mendorong istri saya dari atas tangga ini!" ucap Aldi menatap sinis Laras.


"Baik pak." ucap salah satu polisi itu, lalu memborgol kedua tangan Laras.


"Tuan, saya mohon jangan penjarakan saya, hiks." tangis Laras kembali pecah. Aldi tak menggubris.


"Bersihkan lantai itu. Saya mau ke rumah sakit." ucap Aldi datar seraya menuruni anak tangga


Bersambung ..


Gapapa deh di kira macam cerita drama ikan terbang, yang penting bisa menyalurkan hobi menulis disini, hehe☺️


Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗


Ig : @mutiakim

__ADS_1


__ADS_2