
"Iya-iya aku buatin." pasrah Aldi. Seketika wajah Lisa yang tadinya murung menjadi antusias
"Cepetan ya Al." ucap Lisa tersenyum sumringah. Aldi hanya bisa menghela nafasnya dan langsung mengangguk
"Undaa (Bunda)." Lisa yang di panggil langsung menoleh ke arah Davin
"Iya nak?"
"Auu tutuk mama Undaa (mau duduk sama Bunda)." ucap Davin
"Sini, biar Bunda pangku ya." ucap Lisa. Aldi menatap istrinya itu.
"Tapi hati-hati ya sama perut kamu." ucap Aldi.
"Iya." balas Lisa. Aldi memindahkan Davin yang berada di kursi makannya ke atas pangkuan Lisa.
"Takto Apin (bakso Davin)." Davin menunjuk bakso yang masih di kursi makannya. Aldi tersenyum lalu menaruh piring yang berisi nasi dan mangkuk berisi baksonya Davin.
"Ayah tinggal ke dapur dulu ya." ucap Aldi mengusap kepala putranya.
"Ya ya." Davin mangut-mangut sambil memakan lagi makanannya. Aldi tersenyum lalu beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan nugget ayam permintaan istrinya itu.
"Davin." panggil Lisa.
"Undaa (Bunda)." balas Davin yang masih asyik dengan kegiatannya.
"Bunda boleh minta baksonya nggak?"ucap Lisa sedikit antusias. Putra kecilnya itu langsung menoleh ke arahnya.
"Ninih takto Apin Undaa (ini bakso Davin Bunda)." ucap Davin membuat wajah Lisa seketika lesu.
"Nggak boleh ya? Ya udah deh." ucap Lisa. Davin menatap polos wajah Bundanya. Setelah itu ia mengambil baksonya dengan garpu yang terletak di mangkuk berisi bakso itu.
"Ninih (ini)." Davin menyuapkan bakso ke mulut Lisa. Membuat wajah Lisa seketika berubah berbinar lalu menerima suapannya.
"Terima kasih sayang." ucap Lisa lalu memeluk Davin dari belakang.
"Mama-mama Undaa (sama-sama Bunda)." balas Davin mangut-mangut lalu kembali memakan makanannya. Lisa tersenyum dan mencium kepalanya.
"Unda au adi (Bunda mau lagi)?" tanya Davin dengan menatap Lisa polos.
"Enggak, buat Davin aja." tolak Lisa halus sambil mengusap kepala Davin lembut.
"Uat Apin, Unda nana au (buat Davin, Bunda nggak mau)?" tanya Davin kembali menanyakan apakah Bundanya itu benar udah nggak mau makan bakso miliknya itu lagi.
"Iya, Bunda nggak mau." ucap Lisa tersenyum gemas. Davin hanya mangut-mangut. Sungguh menggemaskan bocah kecil ini.
"Undaa mimi (Bunda minum)." ucap Davin menatap Lisa meminta susu cokelat favoritnya.
"Mimi ya? Duh, Bunda lupa belum buat. Davin duduk sini dulu ya." ucap Lisa menyuruh Davin untuk menunggu dirinya. Davin mengangguk. Lisa tersenyum lalu mendudukkan Davin di kursi yang ia duduki tadi.
"Duduk ganteng disini. Jangan turun loh, nanti jatuh." ucap Lisa
"Yaya." Lagi-lagi Davin mengangguk.
"Ya udah Bunda buatin dulu." ucap Lisa yang ingin beranjak pergi.
"Undaa (Bunda)." panggil Davin tiba-tiba, membuat Lisa menoleh ke arahnya.
"Iya sayang, kenapa?" tanya Lisa.
"Apin nana isa mamam Undaa (Davin nggak bisa makan Bunda)." ucap Davin yang memang kepalanya sejajar dengan tinggi meja, membuat Lisa terkekeh.
"Bentar dulu ya. Nanti Bunda pangku lagi. Oke." ucap Lisa. Davin mangut-mangut.
"Tantu Undaa adi (pangku Bunda lagi)." celoteh Davin membuat Lisa tersenyum mendengarnya. Lalu Lisa berjalan menuju dapur untuk membuatkan Davin susu.
******
"Sayang." panggil Lisa saat melihat Aldi tengah sibuk dengan kegiatannya.
"Iya sayang? tanya Aldi yang tengah membuat adonan nugget ayamnya.
"Semangat ya Ayah sayang." ucap Lisa tersenyum sambil menuangkan sesendok susu ke dalam botol dot Davin, lalu memberinya air hangat.
Aldi berbalik lalu memeluk Lisa dari belakang.
__ADS_1
"Masa semangatnya cuma ucapan doang sih Bunda." Aldi menyandarkan dagunya di pundak Lisa.
"Terus mau nya?" tanya Lisa sambil mengaduk susu.
"Liat aku deh." ucap Aldi. Lisa menurut dan langsung menoleh ke arah Aldi.
CUP
Tepat saat Lisa menoleh, ternyata wajah Aldi sudah sangat dekat dengannya. Sehingga membuat bibirnya refleks menempel ke bibir Aldi, membuat Lisa membulatkan matanya
Aldi tersenyum melihat istrinya itu terkejut. Ia mulai melum*** bibir Lisa dengan lembut.
5 menit berlalu, namun Lisa dan Aldi belum menyudahi ciuman itu.
"Undaaaa." Tiba-tiba terdengar teriakan Davin. Membuat Lisa refleks mendorong dada Aldi agar ciumannya terlepas.
"Makasih bibir manisnya sayang." ucap Aldi seraya mengelap bibir Lisa yang basah.
"Kamu mah, main nyosor aja." protes Lisa kesal.
"Ujung-ujungnya juga mau, menikmatinya malah." ucap Aldi terkekeh. Lisa mendengus kesal.
"Udah ah, mau ke Davin aja." ucap Lisa lalu pergi meninggalkan Aldi di dapur. Aldi terkekeh lalu kembali melanjutkan masaknya.
*****
"Unda mimi (Bunda minum)." ucap Davin sedikit merengek saat Lisa datang.
"Duh maaf ya lama. Haus ya nak ? Nih mimi dulu ya." Lisa memberi susu botol pada putranya itu. Bocah kecil itu langsung meminumnya.
"Eemmm~" Davin merentangkan tangannya pada Lisa dengan botol yang menempel di mulutnya. Lisa terkekeh lalu kembali memangku nya.
"Auu, auu (nggak mau)." Davin berontak ingin membalikkan badannya.
"Kenapa? Mau ngadep sini hem?" Lisa membalikkan badan Davin. Benar saja, putra kecilnya itu langsung diam, ia malah bersandar di perut besar Lisa.
"Manja sekali anak Bunda ini." Lisa mengusap lembut kepala Davin. Perlahan kedua mata Davin malah tertutup.
"Loh? Kok malah tidur, ayo bangun nak." Lisa menegakkan tubuh Davin
"Nggak boleh bobo dulu, masih magrib loh nak."
"Auu (nggak mau)!" Davin langsung menangis seketika.
"Nanti ya nak, soalnya ini masih magrib." ucap Lisa berusaha menenangkan putranya itu.
"Hiks, bobo Undaa (tidur Bunda)."
"Iya, bentar lagi ya." ucap Lisa lembut
"Auu hiks (nggak mau), Apin tatuk (Davin ngantuk)." ucap Davin masih terisak. Lisa tersenyum. Pantas jika Davin mengantuk, dia belum tidur siang tadi. Karena di ajak jalan-jalan oleh Claudia dan Bella.
"Bentar lagi nak, habis magrib Davin boleh bobo." ucap Lisa seraya mengusap air matanya.
"Auu (nggak mau)!" teriak Davin dan semakin kencang menangis.
"Viinn.. Nggak boleh teriak gitu." terdengar suara Aldi dari dapur untuk menasehati putranya agar tidak teriak.
"Usstt diem ya, Ayahnya marah tuh kalo Davin nangis." ucap Lisa memeluk tubuh Davin walau sedikit susah, karena terhalang oleh perut buncitnya
"Hiks, bobo Undaa.. hiks." ucap Davin sesenggukan.
"Iya, bentar ya. Davin mimi dulu aja, jangan nangis. Nanti kalo Ayah kesini marahin Davin gimana?" ucap Lisa lembut. Davin hanya diam dengan isakan nya.
"Nih, mimi dulu." Lisa menyodorkan botol yang ia pegang ke mulut Davin. Bocah kecil nan tampan ini langsung meminumnya dengan disertai sesenggukan.
"Eeemm.. Pinter anak Bunda." Lisa mencium kening Davin, lalu mengusap air matanya. Davin melepas botol dot nya.
"Bobo." ucap Davin dengan mimik wajah ingin menangis.
"Sebentar ya, sebentar lagi selesai kok magribnya." ucap Lisa. Davin kembali meminum susunya dan bersandar di perut Bundanya. Lisa tersenyum dan kembali memeluknya dengan penuh kasih sayang
Lalu Lisa pindah ke ruang tengah, dan agar ia lebih nyaman memangku putranya.
*******
__ADS_1
1 jam berlalu.
Davin sudah tertidur pulas dari setengah jam yang lalu. Terlihat wajahnya yang lelah karena seharian berada diluar.
"Pules banget sih bobonya nak. Tapi pasti nggak enak bobo kayak gini." ucap Lisa seraya mengusap kepala Davin.
"Davin tidur Bun?" tanya Aldi yang tiba-tiba datang dengan membawa piring yang berisi nugget ayam pesanan Lisa tadi.
"Iya Yah, pules banget dia tidurnya nih liat." ucap Lisa. Lalu Aldi menatap putranya itu.
"Davin habis nangis ya Bun? Kok sembab gitu matanya." tanya Aldi sambil meletakkan piring yang berisi nugget ayam itu, lalu duduk di samping Lisa.
"Iya, kamu nggak denger apa waktu dia teriak-teriak tadi?" tanya Lisa. Aldi mengangguk
"Kirain dia cuma teriak doang." ucap Aldi
"Tadi dia habis nangis, minta tidur." jelas Lisa
"Belum tidur siang sih, pantes kalo jam segini minta tidur. Pasti dia kelelahan banget, padahal dia juga baru pulang dari Bali. Eh, langsung minta ikut jalan-jalan aja sama Tantenya." ucap Aldi terkekeh seraya mengusap lembut kepala putranya, Lisa pun ikut terkekeh mendengar ucapan dari suaminya itu
"Tolong pangkuin deh Yah, posisinya kayak nggak enak gini dia tidur." ucap Lisa. Aldi terkekeh.
"Gimana mau nggak enak, perut kamu aja segitu besarnya." ledek Aldi. Lisa memanyunkan bibirnya.
"Gara-gara ulah kamu ini." ucap Lisa.
"Ulah kita berdua sayang." ucap Aldi dengan nada meledek. Membuat wajah Lisa langsung memerah. Aldi terkekeh melihat ekspresi dari Lisa. Lalu ia mengambil alih Davin untuk dipangkunya.
"Eeeemmm.. '' Davin menggeliat lalu memeluk perut Aldi. Aldi tersenyum menatap putranya itu.
"Enak ya kalo pake blush on otomatis. Nggak perlu nunggu waktu lama." ucap Aldi yang meledek Lisa
"Aldi iihh." Lisa memukul lengan Aldi pelan.
"Haha, bener kan?'' tanya Aldi diselingi dengan tawanya.
"Jangan buka kartu deh, aku malu."
"Ngapain malu coba? Hhmm.. Aku paling seneng kalo denger... '' Aldi menggantungkan ucapannya. Lisa menatap Aldi penasaran.
"Desah*n kamu. Uuhh, so sexy baby.'' bisik Aldi ke telinga Lisa, membuat mata Lisa melotot dan wajahnya yang semakin memerah.
"Aaaaaa Aldi..." Lisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, karena malu. Aldi tertawa melihat tingkah istrinya itu.
"Jangan ketawa iihh." Lisa mencubit perut Aldi.
"Aduh."rintih Aldi. Sesaat kemudian ia tersenyum. Aldi mengusap perut besar istrinya itu.
"Bundanya pemalu ya dek. Padahal emang bener kalo adek itu hasil buah cinta kami. Usaha Ayah sama Bunda ya dek." ucap Aldi lalu mencium perut Lisa.
PUK !
Lisa menjitak kepala Aldi.
"Ngaco banget sih kalo ngomong!"
"Ngaco apa? Emang bener kan?" ucap Aldi.
"Bener sih bener, tapi ucapan yang nggak senonoh nggak usah diucapkan. Entar anak-anak aku jadi omes semua lagi kayak Ayahnya." cerocos Lisa. Aldi tertawa mendengarnya.
"Ya kalo beneran begitu, jadi mereka nurun aku semua sayang." ucap aldi santai.
"Dih amit-amit deh. Semoga anak-anak aku nggak ngikutin bapaknya yang somplak itu." celetuk Lisa.
"Cium nih, bilang somplak-somplak sama suami."
"Nggak mau ih, kamu mah main nyosor aja." Lisa memukul-mukul lengan Aldi, membuat Aldi sedikit meringis.
"Davin bangun loh entar." ucap Aldi, membuat Lisa berhenti memukul Aldi dengan memanyunkan bibirnya.
Bersambung ..
Mohon dukungannya untuk di like, komen dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏
Ig : @mutiakim
__ADS_1