MAHKOTAKU DIRENGGUT OLEH SAHABATKU

MAHKOTAKU DIRENGGUT OLEH SAHABATKU
Bab 68


__ADS_3

CEKLEK


Tiba-tiba pintu operasi terbuka. Seorang suster keluar dengan tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, 3 orang suster keluar dengan mendorong ranjang beroda yang Lisa tiduri. Semua orang yang menunggu Lisa menatap dengan bingung.


"Undaa." panggil Davin yang terus menatap Lisa.


"Dokter istri saya kenapa dibawa keluar? Ada apa Dok?" tanya Aldi sedikit panik, saat melihat Dokter yang biasa menangani Lisa juga keluar dengan melepas maskernya.


"Syukur Alhamdulillah. Istri anda sudah melewati masa komanya." ucap Dokter itu membuat mata Aldi berbinar walau masih berair karena menangis.


"Alhamdulillah Ya Allah." Aldi berucap syukur diikuti yang lain.


"Pasien sempat memanggil... Aldi dan... Davin menurut suara samar yang saya dengar." ucap Dokter itu sedikit berfikir.


"Itu nama suami dan anaknya Dok." ucap Rama. Aldi tersenyum haru. Dokter itu pun langsung tersenyum.


"Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat. Tolong setelah ini pasien disuruh makan. Agar kandungannya tidak semakin melemah." ucap Dokter itu.


"Baik, terima kasih banyak Dok." ucap Aldi. Dokter itu tersenyum dan mengangguk lalu pamit untuk pergi.


"Yayah, Undaa Yayah." ucap Davin tiba-tiba. Aldi mengusap air matanya lalu mengambil alih Davin dari gendongan Claudia. Aldi mencium pipi putranya.


"Kita ke Bunda ya." ucap Aldi seraya berjalan menuju ruang rawat Lisa.


"Syukur Alhamdulillah tidak jadi operasi." ucap Tante Anne lega.


"Iya jeng, Alhamdulillah." sambung Tante Nila.


"Kita ke ruang rawatnya yuk." ucap Ika, selaku istri Rama. Semua mengangguk setuju.


********


Aldi memasuki ruang rawat Lisa lebih dulu. Ia langsung duduk di atas ranjang samping Lisa yang masih tersisa sedikit. Dengan masih memangku Davin, ia langsung memeluk Lisa erat lalu sedikit menegakkan tubuhnya.


"Syukurlah kamu sudah sadar sayang. Aku kangen kamu." ucap Aldi lirih. Perlahan Lisa membuka matanya dan mendapati Aldi yang sangat dekat dengan wajahnya, ia tengah tersenyum dengan mata sayu nya.


"Undaa.. Apin Undaa (Davin Bunda)." ucap Davin membuat pandangan Lisa beralih menatapnya.


"D..Davin.." ucap Lisa sangat pelan. Nyaris tak terdengar karena masih terhalang alat bantu pernafasan juga.


"Undaa." Davin merentangkan tangannya. Mungkin ia sangat merindukan Lisa. Karena sudah 3 hari ia tidak bersama sang Bunda.


"Nanti ya sayang. Bundanya masih sakit." ucap Aldi lembut.


"Undaa." gumam Davin dengan wajah murungnya. Aldi mencium kepala putranya lalu beralih menatap Lisa.

__ADS_1


"Aku seneng kamu udah sadar sayang. Makasih." ucap Aldi seraya mengusap kepala Lisa, karena ia tau kepala istrinya itu juga terluka akibat benturan. Namun, Lisa hanya diam membuang muka. Aldi terdiam. Apakah Lisa masih marah? Pikirnya.


CEKLEK


Pintu terbuka, terlihat keluarga Lisa dan Aldi masuk menghampiri mereka.


"Sayang." Tante Nila memeluk putrinya.


"Mama..." ucap Lisa yang masih terdengar lemah.


"Apa nak? Lisa mau apa?" Tante Nila tak segan meneteskan air matanya melihat keadaan putri bungsunya seperti ini. Lisa hanya menggeleng pelan. Tante Nila melepas pelukannya.


"Kamu makan dulu ya nak. Biar kandungan kamu kembali sehat dan kuat." ucap Tante Nila.


"Biar Aldi yang suapi Lisa Ma." ucap Aldi. Tante Nila tersenyum dan mengangguk.


Aldi meraih semangkuk bubur di atas meja kecil samping Lisa.


"Mama." Panggil Lisa pelan.


"Kenapa sayang? Hem?" tanya Tante Nila mengusap rambut putrinya.


"Aku mau disuapi Mama." lirih Lisa. Suara Lisa benar-benar terdengar lemah. Tante Nila menatap Aldi. Aldi tersenyum miris.


"Mama buka ya alat pernafasannya." ucap Tante Nila. Lisa mengangguk pelan. Tante Nila tersenyum lalu membuka alat bantu pernapasan Lisa. Setelah itu Tante Nila mulai menyuapi Lisa.


"Sabar Al. Dia butuh waktu buat bicara sama lo lagi." bisik Rama. Aldi hanya bisa tersenyum getir.


"Gue tau itu kak." Lirihnya.


********


Selesai menyuapi Lisa, Tante Nila mengambil 1 butir obat dan 1 butir vitamin penguat kandungan dan tentunya segelas air putih yang sudah tersedia bersamaan dengan bubur tadi.


"Nih, diminum dulu obatnya." Tante Nila menyodorkan obatnya ke mulut Lisa. Sebelumnya Rama membantu Lisa sedikit bangun agar sedikit mudah menelannya.


"Makasih Ma." ucap Lisa lirih. Tante Nila tersenyum lalu mencium kening Lisa.


"Sama-sama sayang."


"Kamu istirahat lagi ya dek." ucap Rama. Lisa mengangguk.


"Eemm.. Sepertinya Papa lapar. Lisa, Papa pinjam Mama dulu ya." ucap Om Hendra pada putrinya. Lisa hanya mengangguk.


"Opa itut.. Papi ayo itut Opa." ucap Raka menatap Rama. Ika mengedipkan matanya agar Rama menyetujuinya. Seakan memberi isyarat agar Aldi bisa menyelesaikan masalahnya dengan Lisa.

__ADS_1


"Oh ayo Papi anter." ucap Rama menggendong Raka dan menggandeng tangan Ika untuk keluar dari ruang rawat Lisa.


"Mommy Claudia laperrr." ucap Claudia dengan nada manja.


"Kamu ini, ya sudah ayo kita ke kantin dulu." ucap Tante Anne mengajak putrinya dan sekalian Om Darwin. Lisa sedikit mengerutkan keningnya. Ada apa ini sebenernya? Pikirnya.


"Mommy keluar dulu ya sayang." pamit Tante Anne. Lisa tersenyum dan mengangguk.


Tinggal lah di dalam ruangan itu Lisa, Aldi dan Davin.


"Undaa.. Apin.." panggil Davin pelan.


"Sini sayang." ucap Lisa sedikit merentangkan tangannya. Aldi menurunkan Davin di samping Lisa.


"Undaa." Davin langsung memeluk perut Lisa erat. Lisa tersenyum lalu ikut memeluknya.


"Undaa atit, Apin yiyian (Bunda sakit, Davin sendirian)." ucap Davin.


"Masak sih? Kan ada Oma, Opa, Tante, Om, sama..." Lisa menggantungkan ucapannya dan melirik Aldi dengan ekor matanya.


"Nana Undaa (nggak Bunda)." Davin menggelengkan kepalanya. Lisa tersenyum.


Tiba-tiba saja Aldi meraih jemari Lisa yang tengah memeluk Davin. Lisa pun langsung tersentak dan segera melepasnya. Namun, Aldi menahannya.


"Sedalam itukah luka yang aku beri? Sampai kamu cuekin aku selama ini." ucap Aldi lembut. Lisa hanya diam tanpa menatapnya.


"Jawab aku Lisa..." lirih Aldi. Tiba-tiba air mata Lisa menetes. Bukannya Lisa marah, tapi Lisa kecewa karena kepercayaan Aldi untuknya tidak ada sama sekali.


"Hiks, hiks." Lisa mulai terisak.


"Sayang, jangan nangis please..." Aldi mencoba menghapus air mata Lisa. Namun, dengan cepat Lisa menepisnya.


"Aku nggak mau punya suami kayak kamu! hiks, hiks." isak Lisa membuat Aldi tercengang. Jantung Aldi pun sempat berhenti sejenak.


"Ma..maksud kamu apa?" tanya Aldi dan nafasnya pun mulai sesak saat ini.


Bersambung ..


Jangan lupa untuk membaca karya pertama Chat Story author yang berjudul "TARUHAN BERUJUNG CINTA". Yang suka cerita singkat dan ringan, bisa mampir kesini dan semoga suka sama alur ceritanya🤗



Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novel dan chat story nya. Terimakasih banyak🙏🤗


Ig : @mutiakim

__ADS_1


__ADS_2