
***
Sesampainya di rumah, Lisa langsung keluar membukakan pintu mobil untuk Aldi. Lalu Lisa menuntunnya berjalan pelan-pelan, karena perut Aldi masih terasa perih.
“Ssshh, sakit banget Lis.” Aldi merintih dan ia pun berhenti ditengah-tengah anak tangga menuju ke kamarnya.
“Pelan-pelan Al, sabar sedikit lagi kita sampai di kamar kita,” balas Lisa sambil menatap suaminya itu.
“Mau Mommy bantu hem?” tanya Tante Anne.
“Nggak usah Mom. Sebentar lagi sampai kok,” ucap Lisa.
“Ya sudah, Mommy taruh di kamar ya pakaiannya?” Lisa pun hanya mengangguk.
***
“Makasih ya Mom,” ucap Lisa setelah sampai di kamar. Tante Anne tersenyum dan mengangguk.
“Sama-sama sayang, kalian langsung istirahat ya?” Lisa dan Aldi langsung mengangguk. Tante Anne tersenyum lalu menutup pintu kamar putranya sebelum benar-benar keluar.
“Pelan-pelan Al.” Lisa merebahkan tubuh Aldi di ranjang.
“Makasih sayang.” ucap Aldi tersenyum manis. Lisa hanya mengangguk, lalu ikut berbaring di samping Aldi dengan memeluknya.
“Aku suka kamu yang seperti ini Lis,” ucap Aldi yang ikut memeluk tubuh Lisa.
“Kenapa?” tanya Lisa heran seraya sedikit mendongak menatap Aldi.
“Kamu kalo hamil itu jadi manja, polos, suka ngambek lagi, bikin aku jadi gemes tau nggak,” ucap Aldi dan itu membuat Lisa tersenyum.
Lalu Aldi menyentuh pipi sang istri dengan lembut membuat Lisa memejamkan matanya. Sedetik kemudian Aldi tersentak saat menyentuh kening Lisa yang terasa panas.
“Astaghfirullah, kamu demam ya sayang?” tanya Aldi khawatir.
Lisa yang tadi memejamkan matanya langsung membuka mata mendengar ucapan dari suaminya itu.
“Enggak kok Al,” jawab Lisa pelan.
“Enggak apanya? Ini kening kamu panas banget,” ucap Aldi cemas.
“Nanti juga hilang,” ucap Lisa, agar bisa meyakinkan suaminya itu.
“Kamu ini keras kepala banget sih! Mom, Mommy …” ucap Aldi lalu meneriaki memanggil sang Mommy.
CEKLEK!
“Ada apa Al?” tanya orang itu yang ternyata Tante Nila.
“Aldi boleh minta tolong nggak Ma?” tanya Aldi sedikit sungkan.
“Boleh dong, emang mau minta tolong apaan nak?” Tante Nila berucap ramah.
“Aldi …” lirih Lisa menatap suaminya itu dengan wajah memelas seraya menggeleng, agar ia tidak bicara apa-apa pada Mamanya itu.
“Aldi minta tolong ambilkan air sama handuk kecil ya Ma. Badan Lisa panas Ma,” ucap Aldi menghiraukan tatapan Lisa.
“Badan Lisa panas? Masa sih Al?” Lalu Tante Nila mendekati Lisa dengan wajah yang cemas.
“Astaghfirullah, kamu demam nak. Kenapa kamu nggak bilang sih sayang. Sebentar Mama ambilkan air kompresan dulu.” Tante Nila segera keluar dari kamar Aldi.
“Aldi ...” lirih Lisa menatap Aldi.
“Aku nggak suka kamu membantah kalo sakit. Ingat Lisa, disini ada calon buah hati kita. Apa kamu tega janin ini lemah gara-gara bundanya sakit?” ucap Aldi seraya menyentuh perut datar milik Lisa.
“Maaf,” ucap Lisa begitu lirih.
“Bukan maaf yang aku mau. Tapi tindakan kamu untuk menjaga kesehatan kamu maupun janin kamu. Aku nggak bisa liat kamu sakit sayang. Apalagi kamu susah makan akhir-akhir ini,” lirih Aldi seraya membelai wajah Lisa.
“Iya aku janji nggak akan ulangi lagi.”
__ADS_1
“Aku pegang janji kamu,” ucap Aldi seraya mencium kening Lisa.
***
Lisa tertidur setalah Aldi mengompres keningnya dengan handuk kecil. Aldi yang tengah memeluk istrinya itu hanya memperhatikan wajah polos Lisa ketika tidur.
“Cantik natural. Itu yang aku suka dari kamu Lis.” gumam Aldi.
“Maaf Ki, kalo gue udah rebut cewek lo. Gue udah sayang dan cinta banget sama dia dari dulu, sebelum lo kenal sama dia.” batin Aldi lirih mengingat Kiki, sahabatnya sejak SMA
***
SKIP...
8 bulan kemudian.
Hubungan Lisa dan Aldi semakin harmonis sampai hingga saat ini. Dan kini usia kandungan Lisa sudah menginjak usia 8 bulan lebih. Itu artinya, kurang lebih sekitar 2 minggu lagi Lisa akan melahirkan buah cintanya dengan Aldi
“Aldi …” ucap Lisa merengek di dalam kamar.
“Iya apa sayangku?” Aldi yang tengah memakai sepatu menatap istrinya itu sekilas. Memang Aldi sekarang sudah menggantikan posisi Daddy-nya yang menjadi CEO di perusahaan yang ada di Indonesia, tepatnya di Kota Jakarta.
Om Darwin hanya mengawasi pekerjaan dari putranya itu. Dan kini ia sedang berada di London bersama Tante Anne. Dikarenakan ada pekerjaan penting yang harus Om Darwin selesaikan di perusahaannya yang ada di London sana.
“Aku Ikut.” rengek Lisa seraya mengusap perut buncitnya itu. Aldi langsung menatap istrinya itu.
“Di rumah aja ya istirahat,” ucap Aldi lembut.
“Nggak mau! Pokoknya aku ikut!” ketus Lisa.
“Nanti kamu kecapekan lagi sayang,” ucap Aldi. Lisa langsung menatap tajam ke arah suaminya itu.
“Ya sudah, kalo gitu nggak usah tidur disini nanti malam!” ucap Lisa kesal dan ingin berjalan keluar kamar. Namun, Aldi malah menarik tangannya.
“Mulai kan bandelnya. Kamu kemarin udah sakit gara-gara ikut aku kerja terus. Sekarang mau diulangi lagi hem?” Aldi merangkul pinggang Lisa sehingga membuat perut besar Lisa menempel padanya.
“Pokoknya nggak usah tidur disini!” pekik Lisa. Aldi menghela nafasnya, selalu aja keras kepala, pikirnya.
“Ya sudah kamu boleh ikut. Tapi aku nggak mau kamu kerja-kerja lagi, baik itu bantuin Nara ataupun aku. Paham?”
Lisa yang tadinya cemberut, langsung memasang wajah cerianya. Aldi mengusap perut besar Lisa lalu mengecupnya.
“Bundanya bandel ya nak? Tenang aja nanti kalo kamu udah lahir, akan Ayah bawa terus ke kantor. Oke nak?” Aldi berbicara pada janin dalam perut Lisa seraya mengusapnya.
“Ih jahat!” Lisa memanyunkan bibirnya membuat Aldi terkekeh dan langsung mengecup dan menggigit sebentar bibir istrinya itu.
“Udah jangan cemberut gitu, ayo kita berangkat.” Aldi merengkuh pinggang Lisa.
"Let's go!"
***
Sepanjang perjalanan Lisa menatap antusias kearah luar jendela mobil. Sedangkan Aldi, masih fokus menyetir.
“Aldi stop!” pekik Lisa dan membuat Aldi mengerem mobilnya mendadak.
“Aduh ...” Lisa merintih pada saat perutnya sedikit terbentur dashboard mobil yang ada di depannya.
“Ck, salah sendiri ngagetin aku. Terbentur lagi kan. Bisa-bisa kepala anak aku benjol nanti pas lahirnya.”
“Ih jahat banget si omongannya! Bagusan dikit kek,” kesal Lisa. Aldi pun langsung terkekeh.
“Iya maaf sayang, emangnya mau ngapain sih?” tanya Aldi lembut.
“Mau itu,” ucap Lisa menunjuk pedagang mangga dari dalam mobil.
“Mangga lagi? Nanti kamu sakit perut loh makan mangga terus,” ucap Aldi.
“Enggak! Ayo Aldi beli, aku mau mangga,” ucap Lisa merengek.
__ADS_1
“Tapi satu aja ya?” tawar Aldi.
“Ih sepuluh Aldi!” ucap Lisa dan membuat mata Aldi langsung membulat mendengarnya.
“Sepuluh? Mangga yang aku beliin sekilo itu aja baru habis lusa kemarin,” ucap Aldi.
Memang dua minggu yang lalu Lisa ngidam ingin makan mangga muda. Aldi pun langsung membelikannya sekilo dan baru saja habis lusa lalu.
“Mau sepuluh yang paling asam pokoknya,” kekeh Lisa.
“Sayang ...”
“Sepuluh Aldi!”
“Kamu ngeyel terus sih!” kesal Aldi.
“Ya sudah kalo kamu mau anak kita ileran nantinya, nggak usah dibeliin deh,” ketus Lisa seraya membuang mukanya.
“Eh enggak enak aja! Ayahnya ganteng gini masak anaknya ileran sih. Apa kata dunia coba?” Aldi langsung keluar mobilnya, membuat Lisa tersenyum sumringah lalu ikut keluar mengikuti Aldi.
“Mbak, mangga yang paling asam yang mana ya?” tanya Aldi pada pedagang mangga dipinggir jalan itu.
“Oh yang ini Mas paling asam mangga-nya,” jawab pedagang itu sopan
“Ini dalamnya yang warna putih ya mbak?” tanya Lisa
“Iya mbak.”
Lisa lalu menatap Aldi yang juga sekarang lagi menatapnya
“Aku mau yang warna kuning,” ucap Lisa lesu. Ekspresi yang selalu membuat Aldi tidak tega jika melihatnya.
“Mbak cantik lagi ngidam ya? Tenang saja mbak cantik, saya juga punya mangga asam yang dalamnya warna kuning,” ucap pedagang itu tersenyum.
“Beneran ada mbak?” tanya Lisa antusias.
“Iya ada mbak, di sebelah sini tempatnya,” ucap pedagang itu menunjuk tempat mangga yang diinginkan oleh Lisa itu.
“Ih besar-besar,” ucap Lisa girang dan ingin mengambilnya, namun dicegah oleh Aldi
Lisa langsung menatap suaminya dengan heran.
“Eits. No! No! No! Beli yang kecil aja.” Aldi menggeleng cepat. Lisa langsung mengerucutkan bibirnya.
“Tapi aku mau yang besar Al,” ucap Lisa
“Kamu tuh ya, yang aku beli kemarin besar-besar isi 4 aja baru habis 2 minggu. Kalo kamu beli 10 yang besar-besar bisa sebulan lebih baru habis.” omel Aldi pada istrinya itu.
“Sayang ayolah ...” Lisa sedikit merayu Aldi dengan kata 'SAYANG'.
“Rayuan kamu nggak mempan ya sayang untuk kali ini. Lebih baik beli yang kecil-kecil atau nggak sama sekali.” Aldi berucap sangat dekat dengan wajah Lisa. Lisa yang kesal langsung mendorong wajah Aldi agar menjauh.
“Iya-iya yang kecil! Ih kamu mah resek,” kesal Lisa. Aldi langsung tersenyum penuh kemenangan.
“Mbak beli 10 yang kecil-kecil aja ya.” pinta Aldi.
“Iya siap Mas.” balas pedagang buah itu. Aldi menatap Lisa dengan senyum, tapi Lisa malah membuang muka karena masih kesal dengan suaminya itu.
Bibir Lisa yang tadi cemberut tiba-tiba tersenyum melihat sesuatu di seberang sana.
“Wah baso cuanki.” pekik Lisa antusias lalu menatap Aldi. Aldi menaikkan sebelah alisnya.
“Mau apa lagi sayang?” tanya Aldi.
“Aku mau itu.”
Bersambung..
Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗
__ADS_1
Ig : @mutiakim09