
Harap bijak dalam membaca ๐
*********
"Sayang." panggil Aldi begitu lembut
"Apa?" tanya Lisa
"Kangen..." ucap Aldi manja.
"Kangen? Padahal tiap hari ketemu terus. Masa iya masih kangen aja." ucap Lisa heran.
"Kangen berduaan maksudnya aku. Masa kamu ngurusin jagoan terus, suamimu yang tampan ini malah diabaikan." ucap Aldi sambil memanyunkan bibirnya
"Davin kan masih kecil. Lah kamu?" ucap Lisa.
"Kecil juga lah." celetuk Aldi.
"Iya, kecil jari kelingkingnya." ketus Lisa.
"Sayang serius ih. Aku kangen kamu." rengek Aldi seperti anak kecil. Lalu Lisa mengalungkan tangannya ke leher Aldi dan menempelkan keningnya ke kening Aldi. Hingga hidungnya dan hidung Aldi pun ikut bersentuhan juga.
"Kangen ya?" tanya Lisa lembut. Aldi mengangguk cepat.
"Kan semalam udah aku puaskan." ucap Lisa.
"Bagiku itu masih kurang sayang..." ucap Aldi dan setelah itu ia mengecup bibir Lisa lembut. Ia memiringkan kepalanya membuat Lisa pun memejamkan mata dan membalasnya.
15 menit pun berlalu..
CEKLEK
"Aaaaaa!"
"Eemmpht..." Lisa melepaskan ciumannya saat mendengar teriakan itu. Lisa dan Aldi sama-sama mengelap bibir mereka yang basah akibat ciuman panas tadi, lalu menatap ke arah pintu.
"Nayla!" pekik Lisa dan Aldi.
"Kok nggak dikunci sih pak kalo mau mesum." celetuk Nayla yang mengintip dari celah tangannya
"Nayla! Ngapain lagi sih kamu kesini?!" ucap Aldi geram. Nayla melepas tangannya yang menutupi matanya tadi.
"Nganterin berkas ini pak. Kan tadi disuruh ngambil ini sama Bapak." ucap Nayla polos seraya menunjukkan berkas berisi laporan yang Aldi tanyakan tadi pagi.
"Saya menyuruh kamu 4 jam yang lalu! Mau alasan apalagi kamu?!" ucap Aldi kesal.
"Iiihh pak Aldi galak banget sih. Tadi itu saya masih ngerjain kerjaan lain, makanya saya lupa dan baru nganterin ini sekarang." Inilah Nayla kadang jawabnya nyerocos sama atasannya sendiri.
"Dan udah berapa kali saya ingatkan kamu kalo mau masuk kesini itu, HARUS KETUK PINTU DULU!" ucap Aldi yang semakin kesal.
"Lupa pak..." ucap Nayla lirih sambil menunduk. Lisa hanya diam menatap tingkah Nayla yang benar-benar polos ini.
"Ck, kalo kamu susah dibilangin terpaksa kamu saya pecat!" Aldi sedikit menegaskan kali ini. Pasalnya, gadis ini terlalu sering ceroboh ataupun kelupaan.
"Iya maaf pak." ucap Nayla pelan. Aldi menghela nafas.
"Ya sudah, mana laporannya?" Aldi mengulurkan tangannya. Nayla mendekat.
"Ini pak." ucap Nayla seraya memberikan laporan itu pada Aldi.
"Ya sudah, sekarang kamu boleh keluar. Dan ingat pesan saya yang tadi!" ucap Aldi tegas.
"Iya pak, permisi." lirih Nayla, lalu keluar dan menutup pintunya kembali. Aldi menghela nafas
"Gadis polos kayak gitu kamu galakkin mulu." ucap Lisa yang masih berada di pangkuan Aldi.
"Abis gangguin orang lagi asyik aja. Mana nggak ketok pintu dulu lagi." cerocos Aldi tak jelas.
"Apa deh kamu Yah. Gangguin apa coba?" ucap Lisa.
__ADS_1
"Ya gangguin acara kissing kita lah yang." ucap Aldi seraya memeluk perut istrinya kembali dan menyembunyikan wajahnya di dada Lisa.
"Iihh dasar omes!" dengus Lisa.
"Gini-gini juga kamu nikmatin tiap aku apain aja." Aldi menatap Lisa sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Lisa sedikit bergidik ngeri.
"Kita lanjutin yuk yang." bisik Aldi seraya mendekatkan wajahnya lagi.
"Nggak mau Aldi." ucap Lisa ingin menjauh namun, tidak bisa. Wajah Aldi semakin dekat membuatnya sedikit was-was, Dan...
TOK, TOK, TOK
Suara ketukan pintu dan aksi Aldi pun terhenti.
"Siapa lagi sih!" ucap Aldi frustrasi. Lisa terkekeh geli melihat ekspresi dari suaminya itu.
TOK, TOK, TOK
Suara ketukan kedua kalinya.
"Ada tamu tuh." ledek Lisa, lalu berdiri dari pangkuan Aldi.
"Masuk!" ucap Aldi ketus.
CEKLEK
"Permisi pak.. Maaf mengganggu, ini makanan yang anda pesan." ucap seorang OB laki-laki. Aldi hanya diam menatapnya. Mungkin masih kesal karena acaranya gagal lagi.
"Tolong diletakkan di meja sana ya mas." ucap Lisa mengambil alih.
"Baik bu." ucap OB itu menurut, lalu meletakkannya di atas meja dekat sofa.
"Terima kasih ya mas." ucap Lisa tersenyum ramah.
"Sama-sama. Saya permisi pak, bu." pamit OB itu, lalu keluar dan menutup pintu ruangan Aldi kembali. Lisa langsung menatap suaminya itu.
"Aldi denger nggak sih? Nggak usah kayak anak kecil deh!" kesal Lisa. Aldi tetap diam. Lisa menghela nafas, lalu sedikit membungkuk.
"Hey." Lisa memegang kedua pipi Aldi agar menatapnya.
"Apa sih!" Aldi menepis pelan tangan Lisa. Lisa berdesis kecil, lalu memegang kembali pipi Aldi dan mencium bibirnya. Aldi sempat tersentak namun, ia menarik Lisa ke dalam pangkuannya lagi.
"Mmmmhh Al." Lisa sedikit mendorong tubuh Aldi, karena aksi Aldi semakin menjadi-jadi, dari dengan ciuman di bibir, sekarang malah turun ke leher Lisa sesekali menggigitnya dan tangannya mulai membuka kancing baju blouse yang Lisa kenakan.
Lisa terus memberontak, namun Aldi malah mendekap erat tubuhnya. Inilah suami Lisa jika otak mesumnya sudah mulai kumat, nggak tau tempat!
"Aldi udah." ucap Lisa terus memberontak. Namun, Aldi tetap menghiraukannya dan kini tangan kirinya mulai meremas buah dada istrinya itu. Setelah puas meremas, ia pun beralih mengeluarkan buah dada Lisa dari tempatnya, kemudian ia menjil*t, menggigit renggang-renggang dan menghis*p put*ng buah dada sang istri secara bergantian. Membuat Lisa pun ikut meremas rambut suaminya itu.
Dibawah sana junior Aldi sudah menegang, tak sabar ingin segera memasukkannya ke dalam goa sang istri dan menyemburkan lahar putihnya ke dalam rahim sang istri.
"Mmmhh, Al udah jangan seperti inihhh, nanti ada yang liat."
"Yayah Undaa..." Panggilan itu sukses membuat Aldi menghentikan aksinya dan menoleh ke sumber suara.
"Davin!" pekik Lisa dan Aldi kaget melihat putra mereka yang tengah berdiri di ambang pintu kamar kecil itu. Lisa langsung bangkit dari pangkuan Aldi dan menghampiri Davin sambil memasukkan buah dadanya ke tempatnya dan mengancingkan bajunya kembali. Dan Aldi harus menahan gairahnya yang sudah berada di ujung itu.
"Yang sabar ya junior." batin Aldi seraya melihat ke arah juniornya yang masih menegang itu.
"Kok udah bangun nak?" tanya Lisa yang berjongkok di depan Davin.
"Unda atan (Bunda nakal)! Apin nana (tinggalin Davin disana)." ucap Davin seraya memajukan bibir bawahnya khas ingin menangis.
"Duh maaf ya sayang. Abis Bunda tinggalin ya?" ucap Lisa. Davin mangut-mangut.
"Davin yiyian (Davin sendirian)." ucap Davin dengan ekspresi yang sama. Lisa tersenyum lalu mengangkat tubuh mungilnya. Davin menyandarkan kepalanya di pundak Lisa, mungkin karena ia masih mengantuk.
"Mau bobo lagi?" tanya Lisa.
"Bobo aji Unda (bobo lagi Bunda)." gumam Davin yang masih lesu.
__ADS_1
"Uuuhh.. Kasian anak Bunda." Lisa mengusap lembut kepala Davin.
"Kamu makan sendirian ya Yah. Aku mau tiduri Davin dulu." ucap Lisa seraya berjalan memasuki kamar yang ada di dalam ruangan Aldi itu.
"Enak aja. Dipikir gue mau sendirian? Nyusul dong kalo gitu." dumel Aldi seraya berjalan menuju ke kamar yang ada di ruangannya itu.
BRUKKK
Aldi menghempaskan tubuhnya di ranjang lumayan king size, cukup untuk Lisa, Davin dan Aldi tiduri.
"Aldi ngapain kamu kesini?" tanya Lisa terkejut dengan kedatangan Aldi yang tiba-tiba tidur di samping Davin yang tengah meminum susu botolnya.
"Ya mau gabung lah, kamu tega banget sih nyuruh aku makan sendiri. Kan aku mau di temenin makan sama kamu." ucap Aldi seraya memeluk Davin.
"Nggak usah manja deh. Sana ah!" ucap Lisa.
"Nggak mau, aku mau sama jagoan aku tau." Aldi mencium pipi kiri Davin. Davin hanya diam sambil meminum susunya.
"Sana Aldi..." ucap Lisa, namun dihiraukan oleh Aldi. Davin melepas botol susunya.
"Adi nana (Aldi sana)." ucap Davin.
"Heeeehh, nakal ya? Hem..." Aldi menciumi leher putranya membuat Davin tertawa karena geli.
"Bilang apa tadi? Hem?" Aldi terus menciumi leher Davin.
"Haha.. Adi nana.. Adi nana.. Hahaha." celoteh Davin dan terus tertawa karena Aldi masih menciumi lehernya.
"Siapa itu Adi? Siapa hem?" tanya Aldi.
"Yayah Adi, Yayah Apin..." celoteh Davin. Aldi tersenyum lalu memeluk putranya itu.
"Sayang Davin." lirih Aldi.
"Yayan Yayah (sayang Ayah)." ucap Davin dalam pelukan Aldi. Lisa yang melihat itu tersenyum haru. Lisa menghapus air matanya yang sedikit mengalir, lalu mengusap kepala Davin.
"Semoga keluarga kecil hamba selalu dalam lindungan mu Ya Allah." batin Lisa
"Davin nggak bobo lagi?" tanya Lisa lembut. Aldi melepas pelukannya, Davin menatap Bundanya.
"Au aiin Yayah Undaa (mau main sama Ayah Bunda)." ucap Davin.
"Mau makan nggak?" tanya Lisa membuat Davin langsung tengkurap dan duduk.
"Atan Undaa, atan tatat (makan Bunda, makan cokelat)." ucap Davin antusias seraya bertepuk tangan. Lisa menggeleng.
"No! Bukan cokelat nak, nggak boleh ya." ucap Lisa, Davin langsung diam. Lisa tersenyum, lalu bangun dari tidurnya. Lisa mengangkat tubuh Davin dan memangku nya.
"Makan yang lain ya nak. Kalo makan cokelat nggak baik untuk kesehatan giginya, nanti giginya ompong loh." ucap Lisa.
"Yayah." Davin menatap Aldi. Aldi tersenyum lalu mengambil alih Davin dari Lisa dan berdiri.
"Dengerin kata Bunda ya sayang. Kita makan yang lebih enak dari cokelat. Oke." Aldi berjalan keluar kamar, membawa Davin menuju sofa. Lisa tersenyum lalu mengikuti mereka.
"Nih papa (ini apa)?" tanya Davin saat melihat 2 mangkuk mie ayam di atas meja.
"Mie ayam." jawab Lisa.
"Tuh." Davin menunjuk mie ayam itu lalu bertepuk tangan. Mungkin karena tidak bisa mengucapkan kata itu sehingga ia hanya bertepuk tangan
"Aku pergi beliin dia bakso ke kantin kantor dulu ya Yah. Jagain Davin disini." ucap Lisa lalu berdiri. Aldi mengangguk.
"Hati-hati sayang." pesan Aldi.
"Iya." balas Lisa, lalu keluar dari ruangan Aldi.
Bersambung ..
Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak๐๐ค
__ADS_1