
"Iihh gemes nya." Aldi mencubit pelan hidung Davin seraya berjalan ke dalam berdampingan dengan Lisa
"Selamat datang Davin..." tepat saat Lisa membuka pintu, Davin sudah disambut hangat oleh keluarga Lisa dan Aldi
"Mama Papa (Oma Opa)." celoteh Davin menatap kedua Oma dan Opanya
"Selamat datang cucu Oma." ucap Tante Anne lalu mencium pipi Davin diikuti Tante Nila
"Mama.." gumam Davin
"Davin, liat nih Om bawa apa?" tanya Rama membuat Davin menatapnya
"Om Ama.. Tatat." pekik Davin menunjuk biskuit cokelat yang dibawakan oleh Rama
"Nah itu dong kak, bawain tuh yang bergizi. Jangan dibawain cokelat mulu." celetuk Aldi
"Bawel lo. Maunya sih gue bawain dia cokelat segede gaban tadi." kesal Rama membuat Aldi terkekeh
"Sudah-sudah jangan pada berdebat, udah pada jadi bapak-bapak juga. Lebih baik kita masuk." lerai Om Hendra
Dan mereka semua masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu
"Kita makan siang dulu ya. Mommy sama Mama Nila udah masakin makanan favorit kalian." ucap Tante Anne
"Mommy sama Mama Nila nggak usah repot iihh, kayak darimana aja deh." ucap Aldi
"Nggak papa lah Al, sekali-kali kan nggak papa." ucap Tante Nila
"Makasih ya Mama dan Mommy ku tersayang." ucap Lisa. Tante Nila dan Tante Anne tersenyum dan mengangguk
"Sudah ayo kita makan bersama." ucap Tante Nila. Semua mengangguk dan langsung menuju ke ruang makan
"Tatat (cokelat)..." ucap Davin kembali menunjuk biskuit cokelat dihadapan Rama
"Mau?" tanya Rama
"Auu Om (mau Om)." ucap Davin mangut-mangut
"Sini dong ikut Om."
"Om Ama." Davin langsung merentangkan tangannya ke arah Rama. Rama tersenyum, lalu menghampiri Davin dan mengangkat tubuh mungilnya
"Nih buat Davin." Rama memberikan sekotak biskuit cokelat setelah kembali duduk di tempatnya
"Tatacih Om (makasih Om)." ucap Davin dengan suara imutnya membuat semua terkekeh
"Sama-sama ganteng." ucap Rama seraya mencium pipi Davin
"Papi aku Dapin." ucap Raka, putra dari Rama dan Ika. Ia memukul pelan lengan Davin, membuat Davin menatapnya
"Ninih Om Apin tatak (ini Om Davin kakak)." ucap Davin
"Raka, jangan nakal gitu sama adiknya." ucap Ika yang menasehati putranya yang berusia 3 tahunan ini. Raka menatap kesal Davin yang berada di pangkuan Papinya
"Papi Laka!" Raka memukul kepala Davin membuat putra pertama Lisa dan Aldi ini menangis kencang
"Raka! Kamu kok nakal banget sih?! Kepalanya Adek Davin lagi sakit Ka." Rama memarahi putranya yang memang terbilang bandel ini
__ADS_1
"Papi Laka. Dedek Dapin itu Papinya." ucap Raka sambil menunjuk ke arah Aldi
"Iya, tapi jangan dipukul dong. Nanti kalo kepala adiknya berdarah gimana." ucap Rama yang berdiri sambil menenangkan Davin. Raka langsung terdiam
"Atit.. hiks, hiks, Undaa.. " tangis Davin. Lisa berdiri dan mengambil alih Davin
"Cup, cup, cup. Mana yang sakit nak?" Lisa menimang Davin, di sampingnya ada Aldi yang juga ikut menenangkan
"Maaf ya dek. Raka emang bandel ini." ucap Rama merasa tak enak dengan adik perempuannya ini
"Nggak papa kak. Mereka kan masih kecil, jadi wajar." balas Lisa tersenyum. Rama tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu
"Yayaah atiitt (Ayah sakit), hiks." isak Davin seraya menatap Aldi
"Sini sama Ayah." Aldi meraih tubuh mungil putranya itu
"Hiks.. Atiiitt.." Davin terus terisak di bahu Aldi
"Mana yang sakit nak? Sini Ayah tiup." tanya Aldi seraya meniup kepala Davin yang di perban itu.
"Ninih atitt (ini sakit). Tatak La?ta atan (kakak Raka nakal) hiks, hiks." isak Davin yang masih menangis. Aldi tersenyum mendengar aduannya
"Kakak Raka nggak sengaja sayang." ucap Aldi lembut
"Hiks.. Atiiitt.." tangis Davin semakin kencang. Aldi membawanya ke ruang keluarga dan diikuti juga oleh Lisa. Aldi memangku dan mengusap kepala Davin lembut. Mungkin kepala Davin terasa berdenyut-denyut saat ini
"Sakitnya hilang sebentar lagi. Diem ya. Jagoan kan harus kuat, nggak boleh nangis." ucap Aldi mencium kening Davin seraya tetap mengusap kepalanya
"Hiks, hiks." isak Davin yang sudah mulai diam
"Hiks, ninih utak (ini buka)." ucap Davin sesenggukan seraya memberikan sekotak biskuitnya pada Ayahnya. Aldi tersenyum lalu membukanya
"Ini biskuitnya Davin." Aldi memberikannya kembali. Jagoan kecilnya ini langsung mengambil 1 buah biskuit dan memakannya. Semua tersenyum melihat upaya Aldi untuk mendiamkan Davin itu
"Raka, ayo minta maaf sama adek Davin." titah Ika yang sedari tadi memangku Raka. Raka mengangguk lalu turun menghampiri Davin yang bersama Aldi
"Adek maapin aku ya." Raka mengulurkan tangannya ke arah Davin. Davin menatap kakak sepupunya itu
"Tatak (kakak)." gumam Davin
"Maapin Laka udah pukul adek." ucap Raka. Dengan wajah polosnya Davin membalas uluran tangan dari Raka
"Makasih. Jangan ambil Papi aku ya." ucap Raka polos
"Nih Yayah Apin (ini Ayah Davin)." ucap Davin menunjuk Ayahnya. Hal itu membuat Aldi terkekeh
"Nih tatak (ini untuk kakak)." Davin memberikan 1 buah biskuit ke Raka
"Makasih adek Dapin." ucap Raka lalu berlari menuju meja makan lagi
"Mama-mama tatak (sama-sama kakak)." balas Davin lalu memakan biskuitnya lagi.
Semua tertawa melihat tingkah lucu Davin dan Raka. Sayangnya tidak ada Wina, putri pertama Edwin. Karena Edwin memang sudah kembali ke Hongkong
"Sudah, ayo sekarang kita makan." ucap Om Darwin. semua mengangguk kecuali Aldi, Davin dan juga Lisa yang berada di ruang keluarga yang tak jauh dari ruang makan
"Davin makan dulu ya." ucap Lisa
__ADS_1
"Ninih." Davin menunjukkan biskuit cokelat nya
"Makan nasi dulu ya nak, terus minum obat." bujuk Lisa
"Auu (nggak mau)." Davin menggeleng. Lisa menghela nafasnya lalu menatap Aldi
"Ambilin aja sayang." titah Aldi. Lisa menurut lalu beranjak menuju meja makan
"Au atan (nggak mau makan)." Davin menggeleng menatap Aldi
"Nanti Davin nggak sembuh-sembuh loh." ucap Aldi yang mencoba menakut-nakuti putranya itu
"Atan tatat Yayah (makan coklat Ayah)." ucap Davin
"Itu namanya biskuit bukan coklat." ucap Aldi. Davin diam menatap Ayahnya. Aldi yang mengerti hanya tersenyum
"Bis-ku-it." ucap Aldi sedikit mengeja
"Isuit."
"Iya deh isuit." ucap Aldi terkekeh
"Ninih tatat Yayah (ini cokelat Ayah)." protes Davin
"Ini biskuit coklat nak." ucap Aldi membenarkan
"Isuit tatat." ucap Davin. Aldi tersenyum dan mengangguk
"Isuit tatat Apin (biskuit cokelat Davin)." celoteh Davin seraya terus melahap biskuitnya
"Davin makan dulu yuk, nih Bunda udah bawain bakso sapi kesukaannya Davin loh." ucap Lisa yang kembali menghampiri suami dan putranya itu. Davin memang sangat menyukai bakso sapi buatan Lisa. Lisa memang sering memasakkan bakso untuk menyuapi Davin, agar mempermudah ia mengunyah jika makanan itu berkuah
"Ayo makan." ucap Lisa lagi sambil menunjukkan semangkuk kecil yang berisi nasi dan bakso sapi buatan Mamanya dan mertuanya itu
"Auu Unda (nggak mau Bunda)." Davin menggeleng lagi
"Ayo dong nak. Ini ada bakso sapinya loh." bujuk Lisa. Davin menatap Bundanya dan beralih menatap mangkuk yang Bundanya bawa itu
"Atan iyi (makan sendiri)." Davin meletakkan bungkusan biskuitnya dan ingin mengambil mangkuk yang Lisa bawa
"Eiitzz, nggak boleh sayang." cegah Lisa
"Atan iyi Unda (makan sendiri Bunda)." rengek Davin
"Nggak bisa nak, baksonya masih utuh." ucap Lisa
"Atan iyi (makan sendiri)." rengek Davin menggelinjang di pangkuan Aldi. Lisa menghela nafas
"Keras kepala." lirih Lisa. Aldi yang mendengar ucapan dari istrinya itu langsung tersenyum
"Itu salah satu sifat kita yang nurun sama Davin sayang. Kamu potong kecil-kecil aja baksonya. Daripada dia nggak mau makan." ucap Aldi.
Bersambung ..
Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗
Ig : @mutiakim
__ADS_1