
"Main disini ya kalo nggak mau main di tablet." ucap Aldi seraya meletakkan laptopnya di depan Davin. Bocah kecil nan tampan ini langsung diam menatap Ayahnya. Aldi tersenyum dan mengangguk.
"Ninih." Davin masih saja menunjuk komputer kerja Ayahnya
"Nggak bisa nak. itu komputernya mati. Isinya juga data semua." jelas Aldi.
"Ain ani bibit ninih (main angry bird disini)." Davin beralih menunjuk laptop Ayahnya. Aldi mengangguk.
"Iya kalo disitu ada Angry Bird-nya." ucap Aldi seraya mengusap air mata putranya.
"Ani bibit." Davin memencet keyboard laptop Ayahnya.
Aldi mengklik permainan Angry Bird yang ada di laptopnya, lalu memberikan mouse pada putranya agar lebih mudah memainkannya.
"Ani bibit (Angry Bird)." Davin menunjuk layar laptop Ayahnya, saat disana sudah terdapat gambar Angry Bird. Aldi tersenyum dan mengangguk, lalu ia merengkuh pinggang Lisa yang berada di sampingnya.
"Kamu makan dulu gih." ucap Aldi seraya mencium pipi Lisa. Lisa tersenyum dan mengangguk, lalu berjalan menuju sofa bersama Aldi.
"Kamu mau makan lagi?" tanya Lisa saat membuka tutup kotak bekalnya yang berisi nasi goreng. Aldi menggeleng seraya tetap merengkuh pinggang Lisa.
"Kamu aja sayang, aku udah kenyang." ucap Aldi. Lisa mengangguk lalu menyantap nasi gorengnya.
"Aaaaaahh.. Ani bibit atan (Angry Bird nakal)!" celoteh Davin yang sepertinya kesal. Mungkin sasarannya tidak tepat sehingga membuat bayi tampan itu kesal.
"Apaan dah Vin." ucap Lisa terkekeh menatap Davin. Aldi pun ikut terkekeh.
Tok, Tok, Tok ..
Suara ketukan pintu membuat Aldi menoleh ke arah pintu
"Masuk."
CEKLEK
"Permisi Pak.. Saya ma... Loh, kok pak Aldi jadi kecil?" ucap seorang perempuan yang masuk ke dalam ruangan Aldi itu terputus seraya menatap kursi yang ternyata diduduki oleh Davin.
"Saya disini." ucap Aldi membuat seorang perempuan yang menjadi pegawai Aldi itu menoleh ke sumber suara.
"Eh maaf pak.. Saya tidak tau." ucapnya sedikit menunduk saat mendapati Aldi tengah duduk di sofa bersama Lisa.
"Tidak papa. Kamu ada perlu apa Nay?" tanya Aldi pada pegawainya yang bernama Nayla itu.
"Ini pak, laporan yang Bapak suruh kerjakan sebelum Anda libur bulan kemarin saya sudah kerjakan." jawab Nayla seraya memberikan sebuah jilidan laporan perkembangan perusahaan Aldi 2 bulan lalu. Memang ini pertama kali Aldi masuk setelah kejadian keguguran Lisa 8 minggu silam.
"Dan kamu baru selesai sekarang?" tanya Aldi menatap Nayla.
"Ti..tidak Pak. Saya sudah selesai 3 hari setelah Anda memberinya. Dan saya juga sudah mengerjakan laporan bulan kemarin saat pak Darwin menggantikan Anda." ucap Nayla sedikit menunduk. Aldi tersenyum.
"Jangan takut. Saya percaya kamu bisa menyelesaikan tugas itu sebelum waktu yang telah saya tentukan." ucap Aldi. Nayla langsung menatap atasannya itu.
"Sekarang mana laporan bulan kemarin?" lanjut Aldi.
"Ada di meja saya pak." ucap Nayla polos. Membuat aldi menepuk jidatnya
__ADS_1
"Kebiasaan buruk kamu! Tidak pernah membawa sekalian tugas-tugas yang saya berikan." ucap Aldi tegas
"Maaf pak." ucap Nayla kembali menunduk. Nayla memang pegawai yang disiplin dan patuh terhadap peraturan di perusahaan Aldi ini. Maka dari itu Aldi tidak akan bisa marah padanya. Karena Aldi juga menilai Nayla sebagai gadis sedikit polos dan sedikit ceroboh.
"Sekarang kamu ambil laporannya." titah Aldi.
"Baik pak." ucap Nayla yang ingin keluar.
"Tunggu." ucap Lisa tiba-tiba membuatnya kembali berbalik.
"Iya? Ada apa Bu?" tanya Nayla sopan.
"Kamu sering keluar masuk ruangan suami saya kan?" tanya Lisa menatap Nayla dengan serius.
"I..Iya Bu. Tapi sumpah saya tidak ada bermaksud apa-apa kok. Saya hanya mengantarkan berkas-berkas yang pak Aldi berikan kepada saya saja." ucap Nayla was-was sedikit ketakutan.
"Kamu staf bagian apa?" tanya Lisa lagi.
"HRD bu.. Saya mohon, jangan pecat saya ya bu. Sumpah, saya nggak ada maksud apa-apa ke ruangan ini, apalagi mau jadi pelakor." ucap Nayla dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Membuat Lisa langsung mengembangkan senyumnya.
"Kamu saya angkat menjadi sekretaris suami saya." ucap Lisa, membuat Aldi dan Nayla menatap Lisa saking terkejutnya.
"A..apa bu? S..saya tidak salah dengar?" tanyanya. Lisa tersenyum dan menggeleng.
"Yeeayy, asik.. naik pangkat." ucap Nayla girang sambil jingkrak-jingkrak.
"Heh ngapain kamu jingkrak-jingkrak begitu?" cetus Aldi, membuat Nayla berhenti.
"Maaf pak." ucap Nayla menunduk.
"Makasih ya bu.. Saya janji akan bekerja lebih baik lagi." ucap Naya sungguh-sungguh .
"Iya, saya percaya sama kamu." balas Lisa ikut tersenyum.
"Kalo begitu, saya mau telpon pacar saya dulu." ucap Nayla antusias sambil meraih ponselnya.
"Siapa yang mengizinkan kamu bermain handphone di saat jam kerja?" tanya Aldi tegas. Seketika Nayla langsung menghentikan aktifitasnya.
"Maaf pak." ucap Nayla lesu seraya memasukkan ponselnya kembali.
"Kamu boleh pergi sekarang. Dan mulai besok, kamu resmi menjadi sekretaris saya dan nanti saya akan memberitahukan Mark untuk membimbing kamu." ucap Aldi. Nayla mengangguk.
"Permisi pak, bu.." pamit Nayla lalu keluar dari ruangan Aldi.
"Kok dia polos banget sih Yah?" tanya Lisa heran.
"Haha, emang gitu anak itu sayang." ucap Aldi tertawa dan kembali merengkuh pinggang Lisa.
"Udah lama ya dia kerja disini?" tanya Lisa
"Eemm.. Dia kerja disini waktu Davin mau lahir itu yang. Nara dulu yang masukin dia kesini. Intinya dia masih di bawah kita umurnya." jelas Aldi.
"Tapi kok dia bisa polos gitu sih orangnya?" tanya Lisa.
__ADS_1
"Ya mana aku tau yang. Pernah waktu itu aku marahi dia, gara-gara ceroboh taruh berkas sampai hilang, eh dia malah nangis yang." ucap Aldi menceritakan bagaimana kepolosan dan kecerobohan dari seorang Nayla.
"Ya ampun, lucu banget sih dia."
"Iya bener Bun, makanya kalo aku kesel sama dia cuma aku peringati aja." ucap Aldi. Lisa hanya mangut-mangut.
"Udah selesai makannya?" tanya Aldi.
"Udah. Eh, Davin kok nggak ada suaranya sih." ucap Lisa yang tak mendengar suara putranya. Lisa dan Aldi menatap putranya yang tengah serius dengan laptop Ayahnya.
"Davin..." panggil Aldi. Bocah kecil itu tak menyahut sama sekali.
"Davindra Eadric." ucap Lisa ikut memanggil. Namun, tetap sama.
"Serius banget anak kamu." ucap Lisa menatap Aldi. Aldi hanya terkekeh.
"Aaaaahhh!" teriak Davin tiba-tiba seraya melempar mouse yang ia pegang tadi.
"Davin kenapa nak?" tanya Lisa panik. Davin langsung menatap Bundanya itu.
"Ani bibit atan Unda (Angry Bird-nya nakal Bunda)." ucap Davin cemberut. Aldi dan Lisa langsung menghela nafas
"Kirain kenapa tadi." ucap Aldi lega seraya terkekeh.
"Yayah ninih.. Yayah ninih.. (Ayah sini)." Davin melambaikan tangannya pada Aldi.
"Mau ngapain?" tanya Aldi.
"Yayah ninih.. Yayaahh!" Davin merengek seraya meronta-ronta di kursi kerja sang Ayah.
"Ya ampun Vin, nanti jatuh. Nggak boleh kayak gitu." Aldi segera menghampiri putranya.
"Yayah.. Yayah.." ucap Davin seraya merentangkan tangannya pada Aldi. Dengan senang hati Aldi menggendongnya.
"Apa hem?" Aldi menciumi pipi putranya.
"Yayah ninih." Davin menunjuk kursi yang ia duduki tadi.
"Apa nak?" tanya Aldi heran.
"Ninih..." Davin menunjuk lagi kursinya.
"Ayah duduk sini?" tanya Aldi memastikan. Davin langsung mengangguk.
Aldi langsung duduk sambil memangku Davin.
"Nih, udah kan?" ucap Aldi sambil menatap putranya.
"Ani bibit Yah.. Aiin (Main)." celoteh Davin menyuruh Aldi untuk bermain angry bird.
"Ayo Ayah ajarin." ucap Aldi.
"Ayalin (ajarin), ayalin Yayah (ajarin Ayah)." Davin mangut-mangut membuat Lisa dan Aldi terkekeh.
__ADS_1
Bersambung ..
Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗