
***
Sudah 4 hari ini Aldi tidak pulang ke rumahnya. Entah kemana ia pergi sampai sekarang ini. Lisa yang kondisinya belum sembuh total pun khawatir dan pusing memikirkan keberadaan dan keadaan Aldi.
"Kamu dimana Aldi?" lirih Lisa dengan pandangan kosong. Saat ini Lisa tengah duduk di ayunan yang berada di dekat kolam renang belakang rumah mertuanya.
“Aku kangen kamu Al. Kamu masih marah ya sama aku?” gumam Lisa lirih. Claudia menghela nafasnya berat melihat kakak iparnya seperti itu.
“Kakak, makan siang dulu yuk,” ajak Claudia yang menghampiri Lisa.
“Kakak nggak laper Clau,” lirih Lisa tanpa menoleh sedikitpun ke Claudia.
“Kakak belum makan loh dari tadi pagi,” ucap Claudia yang mencoba membujuk kakak iparnya itu.
“Aku mau Aldi. Kenapa dia nggak pernah pulang? Apa dia masih marah sama aku? Aku berani bersumpah kalo aku nggak pernah nyium Kiki, dia yang nyium aku duluan.
Aku berusaha menolak dan berontak tapi dia menahannya, hiks. Demi Allah aku nggak pernah ada niatan untuk kembali sama Kiki, apalagi untuk balas dendam atas perbuatannya dulu hiks. Aku nggak selicik itu Claudia,” ucap Lisa yang kini sudah terisak, air matanya pun kini sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Claudia percaya sama kakak. Sekarang, kakak makan dulu ya. Besok kan Mommy sama Daddy pulang dari London. Kalo mereka tau kondisi kakak seperti ini pasti Claudia sama kak Aldi dimarahin sama mereka,” bujuk Claudia kembali pada kakak iparnya itu.
“Tapi kan Aldi nggak ada,” lirih Lisa.
“Permisi Non, diruang tengah ada Den Aldi yang menunggu Non Lisa.” Belum sempat Claudia berucap. Pak Maman muncul dan sukses membuat Lisa sumringah mendengar ucapannya.
“Beneran ada Aldi pak?” tanya Lisa antusias. Pak Maman mengangguk.
“Iya Non,” jawab Pak Maman.
Tanpa pikir panjang Lisa langsung menghapus air matanya lalu segera beranjak menemui Aldi. Claudia yang melihat kakak iparnya kembali ceria, ia pun juga ikut tersenyum.
“Semoga kak Aldi bisa buat kak Lisa ceria lagi.” gumam Claudia
***
“Aldi,” ucap Lisa yang langsung memeluk Aldi saat sampai di ruang keluarga. Aldi yang tadinya memejamkan mata dan bersandar di punggung sofa langsung tersentak.
“Kamu kemana aja selama ini? Kenapa nggak pulang? Aku kangen,” lirih Lisa. Aldi langsung melepas pelukan Lisa
“Maaf aku pulang cuma mau minta tanda tangan kamu buat surat cerai ini.”
DEG!
__ADS_1
Hancur hati Lisa saat mendengar ucapan Aldi. Air mata Lisa seketika menetes dengan derasnya. Ia menatap nanar kertas di atas meja itu.
“3 hari lagi sidang kita dilaksanakan. Kamu tinggal menanda tangani surat itu.” ucapan Aldi terasa berat.
“Hiks, ini yang kamu bilang cinta sama aku?! Ini yang kamu bilang akan jagain aku selamanya? Hiks, Bulshitt tau nggak!
Apa bedanya kamu sama Kiki saat ini. Bahkan kamu yang lebih parah! Kamu yang buat masa depan aku hancur! Hiks.” sentak Lisa dengan nafas yang tak beraturan. Lisa mencoba mengatur nafasnya.
“Oke kalo ini mau kamu. Percuma aku jelasin ke kamu! Kamu itu egois Al dan nggak punya hati!” Aldi masih terdiam menatap istrinya itu. Lisa mengambil bolpoin lalu ia menandatangani surat perceraian itu dengan tangan sedikit bergetar
TES!
Air mata Aldi menetes saat Lisa selesai menandatangani surat perceraian itu.
“Ini kan yang kamu mau?! Hiks. Makasih atas semuanya! Dan Aku akan bawa anak ini pergi jauh dari sini setelah dia lahir nanti.” Lisa melempar kertas itu ke Aldi lalu berlari keluar.
“Lisa,” lirih Aldi.
“Kenapa kakak jahat banget sih!” teriak Claudia yang sudah berderai air mata. Claudia memang menguping pembicaraan Lisa dan Aldi tadi.
“Kakak nggak mikir apa? Dia lagi hamil anak kakak! Kakak bener-bener egois tau nggak sih!” Claudia meluapkan emosinya. Sungguh ia tidak mau kehilangan kakak iparnya itu.
Aldi hanya diam mendengar sentakan adiknya itu.
“Claudia diam,” ucap Aldi datar.
“Dia udah putusin kak Kiki tapi dia ...”
“CLAUDIA DIAM!” sentak Aldi.
“Aku nggak akan diam kali ini ya kak! Kakak itu sudah keterlaluan tau nggak! Apa kakak tau? Kak Lisa pingsan setelah kakak pergi waktu itu! Kondisinya drop lagi gara-gara kakak!
Dia nggak mau makan karena nungguin kak Aldi pulan, hiks. Dan kakak jangan menyesal kalo saat melahirkan nanti kondisi kak Lisa drop lagi atau bisa parah dari itu,” ucap Claudia menekan kata terakhir lalu berlari memasuki kamarnya.
Aldi tertunduk, sejahat itukah dia pada Lisa. Hatinya semakin sesak dan sakit mendengar kondisi Lisa.
“Maafin aku Lisa,” lirih Aldi dengan air mata yang mengalir sedari tadi.
***
“Hiks, Mama …” Lisa langsung memeluk mamanya saat sudah sampai di rumah orang tuanya . Lisa memang memutuskan untuk kembali kerumah Orangtuanya, toh dia sudah tidak berhak ada disana lagi. Pikirnya
__ADS_1
“Loh sayang, kamu kenapa ?” tanya Tante Nila yang terkejut melihat sang anak pulang dengan keadaan sedang menangis.
“Hiks, Aldi Ma... Aldi... hiks, hiks.” tangis Lisa semakin pecah.
“Aldi kenapa sayang?" tanya Tante Nila mulai panik.
“Aldi minta cerai sama aku.. Hiks , dia jahat! aku benci dia.” isak Lisa.
“Hah apa? Cerai?” pekik Tante Nila tidak percaya.
“Hiks …” Lisa mengangguk dengan terisak.
“Kenapa bisa seperti ini nak?” Tante Nila mengusap punggung putri bungsunya agar lebih tenang.
“Hiks, Kiki kembali Ma. Aldi marah karena Lisa sempat bela dia saat mereka bertengkar. hiks, dan Aldi lebih marah saat liat aku ciuman sama Kiki hiks,hiks,” jelas Lisa sesenggukan.
“Apa?! Ya jelas Aldi marah kalo kamu berbuat seperti itu dengan orang lain.” Tante Nila melepas pelukan sang putri, lalu ia menatap Lisa tak percaya. Lisa langsung menggeleng cepat.
“Bukan seperti itu Ma …” lirih Lisa.
“Lalu?” tanya Tante Nila
“Hiks, Kiki yang cium aku duluan Ma. Dia nggak terima waktu aku putusin. Hiks, dan terus Aldi marah saat liat itu,” ucap Lisa menjelaskan.
“Intinya cuma salah paham?” ucap Tante Nila menyimpulkan. Lisa langsung mengangguk.
“Hiks, Dia juga nuduh aku mau balas dendam atas perbuatan dia dulu Ma. Hiks, aku nggak selicik itu Ma. Hiks enggak,” isak Lisa. Tante Nila menghela nafas berat.
“Kalo kamu benar-benar sudah melupakan Kiki. Kamu kejar masa depan kamu bersama Aldi. Katakan jika kamu benar-benar ingin membangun rumah tangga dengannya tanpa dendam atau apapun. Ingat menikah itu bukan untuk main-main sayang,” ucap Tante Nila sambil tangannya menghapus air mata putrinya itu.
“Tapi semua sudah terlanjur Ma. 3 hari lagi sidang perceraiannya dimulai,” lirih Lisa yang masih sesenggukan.
“Kamu pasti bisa mencari solusinya. Ingat sayang, disini ada anak kalian. Jangan membuat dia jadi korban keegoisan kalian,” ucap Tante Nila seraya mengusap perut buncit sang putri. Lisa meresapi setiap kata-kata dari sang Mama.
“Kamu sakit sayang?” tanya Tante Nila saat melihat wajah Lisa yang terlihat pucat.
“Sedikit Ma,” lirih Lisa.
“Ayo istirahat, Mama antar ke kamar kamu.” Lisa pun hanya bisa menurut.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗
Ig : @mutiakim09