
"Aldi, kapan kita jadi pergi ke pulau Bali nya?" tanya Lisa sambil menatap Aldi
"Ngapain kesana?" tanya Aldi balik.
"Jangan pura-pura lupa deh. Katanya dulu pas aku masih hamil Davin mau baby moon kesana." ucap Lisa melepas pelukannya. Aldi menghela nafasnya.
Memang dulu waktu Lisa masih hamil anak pertamanya, Aldi berjanji akan mengajak Lisa untuk baby moon ke pulau yang dijuluki sebagai the last paradise on Earth atau surga terakhir di Bumi, akan tetapi karena kesibukan Aldi di perusahaannya yang tidak bisa di ganggu gugat, membuat ia menunda acara baby moon dengan sang istri.
"Nanti ya, kalo kamu udah benar-benar sembuh. Aku janji bakal ajak kamu kesana," ucap Aldi lembut
''Minggu depan aja ya, aku pengen kesana." ucap Lisa yang membujuk suaminya itu.
"Iya sayang, tapi kita pergi nya pas kamu sudah bener-bener sembuh total, kita pergi ketika usia kandungan kamu sudah 7 bulan aja."
"Iiihh lama banget, Aldi.. Ayo lah." rengek Lisa. Aldi menatap Lisa tajam.
"Nurut atau kita nggak sama sekali pergi kesana." ucap Aldi. Lisa sedikit menunduk. Aldi menghela nafas kasar lalu berdiri menghampiri penjual mie ayam itu.
"Masih lama Pak?" tanya Aldi.
"Tidak Mas, sebentar lagi sudah selesai." jawab penjual mie ayam itu. Aldi mengangguk.
"Kalian pasangan yang romantis." ucap penjual mie ayam itu. Aldi menatapnya dan tersenyum.
"Sudah menikah Mas?" tanya penjual mie ayam itu.
"Sudah Pak. Dan alhamdulillah mau dikaruniai anak kedua." jawab Aldi tanpa ada rasa malu. Diusianya yang masih muda akan mendapat 2 buah hati.
"Oh, jadi sudah ada ya malaikat pertamanya? Kok ngga diajak Mas ?" ucap penjual mie ayam itu.
"Ada, dia laki-laki Pak. Cuma lagi diajak sama Tantenya jalan-jalan '' Aldi.
"Owalah, iya-iya." ucap penjual mie ayam itu mangut-mangut. Aldi menanggapinya dengan tersenyum.
"Saya seperti pernah tau anda." ucap penjual mie ayam itu sedikit berpikir. Aldi menautkan alisnya.
"Oh iya, Mas ini... Pengusaha muda yang sukses dari keluarga Eadric itu ya?" ucap penjual mie ayam itu menebak.
"Bukan Pak, mungkin bapak salah orang kali." elak Aldi.
"Iya bener toh Mas, wong saya pernah liat Masnya di Televisi. Sama persis kok kayak Mas. Aduh, jarang-jarang warung saya didatangi salah satu pengusaha terkaya di Indonesia." ucap penjual mie ayam itu.
"Biasa aja Pak. Jangan begitu." Aldi merasa risih jika dipuji berlebihan. Ia tidak mau menyombongkan dirinya.
"Hehe, ini Mas mie ayamnya sudah siap disantap." ucap penjual mie ayam itu. Aldi tersenyum dan mengambil alih mangkuknya.
"Makasih ya Pak."
"Nggih, sama-sama toh Mas." ucap penjual mie ayam itu. Aldi tersenyum lalu kembali menghampiri Lisa.
"Nih udah siap. Dimakan gih mie ayamnya." Aldi meletakkan semangkuk mie ayam di depan Lisa dan Lisa masih tetap menunduk.
"Hei." Aldi mengangkat dagu Lisa agar menatapnya.
"Kenapa?" tanya Aldi lembut.
"Jangan marah sama aku." ucap Lisa pelan. Aldi langsung terkekeh kecil.
__ADS_1
"Enggak, aku nggak marah kok sama kamu."
"Bener?" tanya Lisa sambil menatap Aldi.
"Iya sayang." ucap Aldi sambil mencubit gemas pipi istrinya itu.
"Makan gih mie ayamnya." ucap Aldi
"Suapin." ucap Lisa manja. Aldi terkekeh lalu meraih garpu nya.
"Nih aaaa~ " Aldi menyuapi Lisa. Lisa langsung menerimanya.
"Enak banget ya yang?" tanya Aldi. Lisa mengangguk.
"Kamu nggak pengen coba ?" tanya Lisa, Aldi menggeleng.
"Cobain dulu, enak tau." Lisa merebut garpu dari tangan Aldi, lalu menyuapi sesuap mie ayam ke mulutnya. Aldi tidak menolak, walaupun ia sedikit ragu. Yah daripada nanti Lisa memaksa. Pikirnya
"Gimana?" tanya Lisa. Aldi mengunyah mie nya.
"Enak banget ini mah." ucap Aldi. Lisa mengangguk lalu kembali melahap mie ayamnya.
"Pak, saya pesan dibungkus 7 ya." ucap Aldi. Lisa langsung menatapnya.
"Oh iya, siap Mas." ucap penjual mie ayam itu semangat. Aldi tersenyum.
"Kok banyak banget mie ayamnya?" tanya Lisa heran.
"Iya buat aku sama orang rumah juga sayang." ucap Aldi. Lisa hanya mangut-mangut.
"Anak kita juga Al?" tanya Lisa menatap Aldi lagi.
"Pantes minta nambah. Orang beneran enak banget. Jauh dari perkiraan gue, ternyata makan di warung pinggiran itu jauh lebih enak." batin Aldi sambil terus menatap Lisa.
*******
Berbeda dengan Aldi dan Lisa, dua gadis yang tengah berada di mall ini menghela nafasnya melihat bocah kecil ini terus meminta mainan yang ia inginkan.
"Ante ntuh obil eyah (Tante itu mobil merah)." Bocah kecil yang ternyata adalah Davin itu menunjuk mobil-mobilan berwarna merah yang berukuran sedang itu.
"Mainan kamu udah banyak di rumah Vin. Udah ah, bangkrut nih Tante." kesal Claudia.
"Auu ntuh Ante (mau itu Tante), ntuh (itu)!" Davin terus menunjuk mobil-mobilan itu.
"Mainan kamu itu udah segudang di rumah. Entar aja minta sama Ayah, uang Ayah kamu kan banyak." ucap Claudia.
"Apin au obil ntuh (Davin mau mobil itu)! Eyah (yang merah)." kekeuh Davin. Padahal ditangan Claudia dan Bella itu semua adalah mainannya. Claudia mendengus kesal.
"Dasar anak Aldi." dumel nya, lalu mengambil mobil-mobilan yang diinginkan oleh keponakannya itu.
"Nih!" ketus Claudia lalu memberikannya pada Davin. Bocah berusia 1 tahun 6 bulan ini langsung memegang dengan cara memeluknya, karena mobil-mobilan itu berukuran sedikit besar.
"Obil Apin (mobil Davin)." celoteh Davin lalu berjalan sempoyongan menuju kasir. Mungkin karena sering berbelanja, sampai tau mana yang namanya tempat kasir.😌
"Vin, pelan-pelan jalannya." ucap Bella.
"Biarin aja kak, biar ilang sekalian. Kesel aku tuh." ucap Claudia ngasal.
__ADS_1
"Huusstt, kalo ngomong. Nanti kalo hilang beneran gimana?" tanya Bella yang terus membuntuti Davin yang berjalan duluan.
"Ya janganlah, entar Claudia nggak punya ponakan yang unyu kayak bocil itu lagi. Yah, walaupun ngeselin kalo udah ngeyel." ucap Claudia. Bella terkekeh lalu berhenti setelah sampai di kasir.
"Ante ninih (Tante ini)." Davin mendongak seraya memberikan kardus berisi mobil-mobilan itu pada kasir.
"Hey, adik bule lagi." ucap kasir perempuan yang sepertinya mengenal Davin.
"Loh, kok kenal?" gumam Bella sedikit heran.
"Iya lah, orang dia kalo nongkrong sama bapaknya disini. Satpam-satpam disini aja sampai hafal kalo Davin sering kesini." celetuk Claudia.
"Tunggu deh, bapak itu siapa? Aku lupa soalnya." ucap Bella memasang wajah polosnya.
"Bapak itu Ayah kak bule, kalo nggak tau Ayah Papa, kalo masih nggak tau lagi Daddy, kalo itu masih..."
"Iihh, udah! Aku tau." protes Bella seraya memanyunkan bibirnya. Claudia malah tertawa. Adik Aldi yang satu ini memang nakal ya. Sama seperti Aldi dan Davin nakalnya🤭
"Ante yayal (Tante Bayar)." Tiba-tiba Davin berucap menatap Tante Claudia nya.
"Eh iya, berapa mbak?" tanya Claudia menghampiri meja kasir.
"Tatus ibu (lima ratus ribu)." celetuk Davin. Claudia menatapnya.
"Serius Vin? Cuma seratus ribu." ucap Claudia.
"Tatus ibu ante (lima ratus ribu Tante)." jawab Davin.
"Iya seratus ribu." ucap Claudia.
"Tatus ibu (lima ratus ribu)! Nana ntuh (bukan itu)!" Davin memukul kaki Claudia lalu menggeleng. Claudia mengerutkan keningnya lalu menatap kasir. Kasir itu tersenyum.
"Totalnya 500 ribu mbak."
"Owalah, maaf ya mbak. Ponakan saya ini masih belum benar kalo ngomong." Lalu Claudia membuka dompetnya
"Nggak papa mbak. Adek ini lucu. Saya suka gemes kalo dia kesini sama orang tuanya." ucap Kasir itu tersenyum.
"Oh, udah langganan ya mbak?" tanya Claudia seraya memberikan 5 lembar uang 100 ribuan.
"Iya, dia seringnya beli mobil-mobilan sama robot-robotan mbak." jawab kasir itu. Claudia tersenyum.
"Ini belanjaannya, terima kasih ya mbak." ucap kasir itu seraya memberikan kantong plastik berisi mobil-mobilan yang dibeli Davin tadi.
"Sama-sama mbak." ucap Claudia.
"Ante Apin wawa (Tante Davin yang bawa)." Davin menjulurkan kedua tangannya ke atas. Tepatnya ke arah Claudia.
"Bisa emang?" tanya Claudia sambil menatap ponakan lucu dan tampannya itu.
"Isa Apin wawa (bisa Davin bawa)." ucap Davin mangut-mangut.
''Nih." Claudia menyerahkan ke tangan mungilnya. Davin memeluk kantong pastik yang berukuran sedang itu.
Bersambung ..
Mohon dukungannya untuk di like, komen dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏
__ADS_1
Ig : @mutiakim