
4 Bulan kemudian,
Sejak 1 bulan lalu Lisa, Aldi dan Davin sudah pindah ke rumah baru mereka. Walaupun Tante Anne dan Claudia sangat berat untuk menerima, karena mereka tidak bisa jauh dari si kecil Davin. Namun, mereka mencoba mengerti karena sudah saatnya mereka hidup mandiri.
Davin yang sudah sembuh total pun semakin aktif dalam segala gerak geriknya.
"Kamu nggak ngantor Yah?" tanya Lisa pada Aldi yang malah bermain dengan Davin.
"Kamu lagi sakit, mana tega aku tinggalin kamu sama Davin." ucap Aldi. Lisa memang sedang tidak enak badan sejak 2 hari yang lalu.
"Kan ada Laras sama Clara. Ada Bi Marni juga." ucap Lisa
"Mereka juga sibuk sayang. Udah, jangan membantah, aku nggak suka!" tegas Aldi, membuat Lisa terdiam
"Yayah nana.. nana.. (Ayah sana)." ucap Davin menunjuk ke arah balkon kamar.
"Mau ngapain kesana nak?" tanya Aldi.
"Nana.. Nana.." Davin menarik-narik tangan sang Ayah, membuat Aldi menghela nafas dan mengikutinya.
"Ayah." panggil Lisa lirih membuat Aldi menoleh. Lisa menggeleng pelan. Aldi tersenyum.
"Udah kamu istirahat aja ya, biar aku yang jaga Davin." ucap Aldi lembut
********
"Davin jangan manjat-manjat gitu. Nanti jatuh." ucap Aldi seraya memegangi tubuh Davin yang tengah berusaha naik pagar pembatas balkon kamar.
"Tutuh Yayah, amam yinang (itu Ayah, kolam renang)." Davin menunjuk ke bawah yang terdapat kolam renang, sebuah gazebo dan juga taman yang dipenuhi dengan berbagai tanaman hias dan bunga disana. Terlihat sangat indah rumah Aldi ini.
"Iya, tapi jangan manjat nak. Nanti jatuh, ayo Ayah gendong aja." ucap Aldi yang ingin mengangkat tubuh Davin.
"Auu.. Auu.. (nggak mau)." tolak Davin memegang erat besi pagarnya.
"Nanti jatuh, itu tinggi Vin." Aldi mencoba memberi pengertian dengan lembut.
"Auu (nggak mau)!"
"Davin jangan nakal gitu." Aldi menatap putranya sedikit kesal.
"Atan (nakal)!" Davin memukul wajah Aldi dengan tatapan kesal.
"Sakit Vin.. Kamu nakal banget sih." protes Aldi.
"Papa(Apa)? Yayah atan (Ayah nakal)!" cetus Davin.
"Ya udah Ayah tinggal. Davin nakal, Ayah nggak suka." Aldi berdiri, berpura-pura untuk pergi.
"Nana (sana)." ucap Davin malah mengusir Ayahnya membuat mata Aldi membulat mendengarnya.
Aldi berbalik menatap putranya lagi.
"Astaghfirullah Davin." pekik Aldi saat melihat kedua kaki Davin sudah memanjat 1 langkah ke atas pagar balkon. Aldi pun segera menghampiri putranya.
"Turun nak, nanti jatuh. Kepala Davin nanti berdarah lagi loh." ucap Aldi mencoba untuk menakut-nakuti putranya.
"Auu nana (nggak mau, sana)." Davin terus memberontak.
__ADS_1
"Davin itu mau apa?" tanya Aldi.
"Ntuuh.. Apin auu amam yinang (Davin mau ke kolam renang)." Davin menunjuk ke arah kolam itu.
"Iya ayo gendong sama Ayah kita kebawah, nggak usah manjat-manjat gitu nak." ucap Aldi.
"Auu! Ninih Apin." tolak Davin lagi seraya menunjuk pagar. Maksudnya ia ingin menengok kolam renang dari atas pagar balkon dengan cara memanjat.
"Davin bisa nurut nggak?!" Aldi yang sudah mulai kesal sedikit memarahi putranya yang keras kepala ini.
"Atan (nakal)!" teriak Davin. Aldi menghela nafasnya.
"Terserah deh! Ayah nggak akan beliin Davin mobil-mobilan lagi." Aldi langsung meninggalkan Davin di balkon dan masuk ke dalam kamar.
"Obil-obilan." celoteh Davin lalu berjalan sempoyongan memasuki kamar.
*********
"Ada apa sih Yah? Kok ribut banget dari tadi. Davin mana?" tanya Lisa saat Aldi malah memeluknya.
"Ssstt.. Udah diem aja yang." ucap Aldi yang memang sedang tidur di sebelah Lisa.
"Yayah obil Yayah." terdengar suara Davin menghampiri Aldi. Aldi hanya diam, ia memang sengaja mendiami putranya itu.
"Yayah." panggil Davin yang memegang kaki Aldi.
Namun, Aldi tetap diam. Lalu Davin naik ke atas ranjang dan merangkak mendekati Aldi. Ini sudah sering Davin lakukan mengingat tingkahnya yang semakin lincah. Padahal ranjang orangtuanya itu lumayan tinggi.
"Yayah obil." celoteh Davin.
"Nggak! Soalnya Davin nakal, Ayah jadi males." ucap Aldi.
"Nanti jatuh Vin, ya ampun anak ini." Aldi segera memegangi tubuh putranya.
"Obil yayah.. yiyi obil (beli mobil)." celoteh Davin.
"Apin nana atan (Davin nggak nakal)." celotehnya lagi sambil geleng-geleng kepala.
"Tadi nantangin Ayah." ucap Aldi.
"Nana Yayah (nggak ayah)." ucap Davin geleng-geleng. Aldi menggulingkan tubuh Davin ke sampingnya.
"Heemm, gemesin." Aldi menciumi perut Davin, hingga membuat Davin tertawa geli.
"Yayaah hahaha." tawa Davin.
"Udah Yah, nanti dia nggak nafsu makan." ucap Lisa membuat Aldi menghentikan aksinya. Lalu
Aldi memeluk putranya dengan penuh kasih sayang.
"Yayah obil." ucap Davin menatap Aldi.
"Mobil?" ulang Aldi.
"Obil." jawab Davin mangut-mangut.
"Cium Ayah dulu dong." Aldi menunjuk pipi kirinya.
__ADS_1
"Uuaachh." Davin mencium pipi sang Ayah dengan ekspresi lucunya.
"Yang ini." Aldi berganti menunjuk pipi kanannya.
"Uuaachh." Davin kembali mencium pipi kanan Ayahnya. Aldi tersenyum.
"Ninih (ini)." Kini malah Davin yang menunjuk pipi kirinya. Dengan gemas Aldi menciumnya hingga pipinya memerah. Davin malah tertawa dan bertepuk tangan.
"Ayah kebiasaan deh." ucap Lisa. Aldi langsung menoleh ke arah istrinya itu.
"Dia nggak nangis kok Bun, malah ketawa." ucap Aldi kembali bermain dengan Davin. Lisa menggeleng lalu bangun perlahan. Aldi yang merasa ranjangnya bergerak dan segera menoleh.
"Mau kemana?" tanya Aldi
"Mau ke kamar mandi sebentar." jawab Lisa.
"Aku antar ya." Aldi yang juga ikut bangun.
“Nggak usah. Orang kamar mandinya di situ juga." ucap Lisa lalu berdiri. Namun, saat mulai berjalan kepalanya terasa sangat pusing dan..
BRUKKK
Lisa jatuh pingsan
"Astaga Bunda." Aldi langsung bangkit dan segera memangku kepala Lisa di atas pahanya.
"Hey, bangun sayang.. Kamu kenapa?" ucap Aldi begitu panik. Ia segera mengangkat Lisa ke atas ranjang lalu ia segera menelfon Dokter pribadinya yang tak lain adalah Om nya sendiri.
********
"Unda papa Yayah (Bunda kenapa Ayah)?" tanya Davin yang berada di gendongan Aldi saat melihat sang Bunda tengah diperiksa oleh Dokter.
"Bundanya lagi sakit nak." jawab Aldi.
"Unda tutik Yayah (Bunda disuntik Ayah)?" tanyanya lagi. Aldi hanya tersenyum kecil dan menggeleng.
"Bagaimana Om? Istri Aldi baik-baik saja kan?" tanya Aldi saat Dokter Revan selesai memeriksa Lisa.
"Istri kamu tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan saja. Mungkin efek dari kandungannya." jawab Dokter Revan membuat kening Aldi mengernyit.
"Maksud Om apa?" tanya Aldi. Dokter Revan tersenyum.
"Istri kamu sedang mengandung Al. Dan perkiraan Om, usia kandungan istri mu sekitar 3 mingguan. Untuk lebih jelasnya nanti, kamu bisa bawa istri mu periksa ke dokter kandungan." jelas Dokter Revan membuat Aldi tersentak.
"Hamil Om? Serius?" tanya Aldi dengan mata berbinar. Dokter Revan tersenyum dan mengangguk.
"Ya Allah terimakasih." Aldi tidak lupa berucap syukur.
"Tolong jangan biarin dia beraktifitas dulu. Suruh istri kamu istirahat yang cukup." pesan Dokter Revan.
"Baik Om, terima kasih." ucap Aldi. Dokter Revan mengangguk.
"Om pamit dulu ya. Ada pasien yang menunggu di rumah sakit. Dan jangan lupa nanti bawa istrimu untuk periksa ke Dokter kandungan ya." ucap Dokter Revan. Aldi mengangguk lalu mengantar Dokter Revan sampai di luar. Tentunya dengan perasaan yang sangat bahagia karena ia diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk ia dan Lisa memiliki seorang buah hati lagi.
Bersambung ..
Sengaja alurnya aku percepat agar para readers tidak bosan membacanya 🙏😌
__ADS_1
Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗
Ig : @mutiakim