
********
"Aku gendong ke kamar ya?" ucap Aldi sedikit khawatir. Lisa menggeleng pelan.
"Jalan aja." ucap Lisa pelan.
"Sini aku bantu." Aldi merangkul pundak Lisa. Lalu Lisa turun dari mobil dan hampir jatuh saat sudah menginjakkan kakinya di tanah. Dengan segera Aldi menahan dan memeluk Lisa.
"Aku gendong aja ya? Kamu nggak kuat jalan kayaknya." ucap Aldi yang khawatir dengan keadaan istrinya itu
"Nggak usah Yah, biar aku jalan aja." ucap Lisa lalu menatap ke depan. Bibirnya menyunggingkan sedikit senyum saat melihat putranya menaiki tangga teras rumah dengan sedikit merangkak.
"Liat deh Yah, anak kita." ucap Lisa. Aldi langsung menatap ke depan, ia terkekeh melihat tingkah putra kesayangannya itu.
"Belum bisa naik tangga dia Bun." ucap Aldi. Lisa tersenyum dan mengangguk
"Yeyeye... Apin aik (Davin naik)." girang Davin saat sudah sampai di atas teras depan pintu.
Lisa dan Aldi menatapnya lalu terkekeh. Kemudian mereka berjalan menghampiri putranya itu.
"Undaa aik, aik ninih (Bunda naik, naik sini)." ucap Davin menunjuk-nunjuk tangga teras itu.
"Pinter deh anak Bunda." ucap Lisa. Lalu Davin berjalan mendekati pintu.
DOR ! DOR ! DOR !
"Tataaak (buka)." teriak Davin setelah menggedor-gedor pintu rumahnya. Ada saja tingkah lucunya bocah ini
"Pipiii (Bibi).. Ayaaa (Clara).. Tatain Apin (bukain Davin)."
DOR ! DOR ! DOR !
Davin berteriak lagi, 2 nama yang sudah dia hafal. Namun, ia tidak menyebut Laras karena Lisa jarang berkomunikasi dengannya selama ini.
CEKLEK !
"Den Davin." ucap Clara tersenyum manis pada anak majikannya. Bi Marni dan Pak Rahmat ikut tersenyum lalu membuka pintu lebar bersamaan dengan Clara.
"Selamat Datang kembali Nyonya." sambut mereka.
"Makasih Bi, Makasih Pak, Makasih juga Clara." ucap Lisa tersenyum. Mereka pun ikut tersenyum.
"Nyonya sudah mendingan?" tanya Bi Marni.
"Alhamdulillah, sudah Bi." ucap Lisa tersenyum.
"Loh? Davin mana?" pekik Aldi saat melihat putranya menghilang dari pandangannya.
"Tadi kan disini?" ucap Lisa menunjuk ke arah depannya. Aldi mengedarkan pandangannya ke belakang. Putranya juga tidak ada disana.
"Jangan-jangan masuk ke dalam Tuan." ucap Pak Rahmat. Aldi segera menuntun Lisa masuk ke dalam diikuti 3 asisten rumah tangga Lisa dan Aldi ini.
"Astaga Davin!" pekik Lisa dan Aldi yang terkejut saat melihat Davin berjalan merangkak menaiki tangga menuju lantai atas. Dan parahnya, dia sudah sampai tengah-tengah anak tangga.
"Yayah, Undaa ninih (Ayah Bunda sini)." Davin melambaikan tangannya di atas sana. Lisa segera menyusulnya dengan Aldi.
"Nanti jatuh nak, sini sama Bunda." ucap Lisa ingin mengangkat tubuh Davin.
"Auu (nggak mau)! Aik yiyi Undaa (naik sendiri Bunda)." tolaknya menggeleng.
"Itu tinggi loh Vin." ucap Aldi.
"Auu (nggak mau)!" Davin terus saja menaiki tangga. Lisa dan Aldi terpaksa mengawasinya dari belakang.
Lisa mengerjabkan matanya lagi ketika merasakan pusing di kepalanya. Aldi yang menatapnya langsung memeluk Lisa kembali dan Lisa pun langsung melingkarkan tangannya di perut Aldi.
__ADS_1
"Sebentar lagi istirahat di kamar ya." ucap Aldi seraya mencium puncak kepala Lisa. Lisa hanya mengangguk pelan.
"Apin aik (Davin naik)." girang Davin lagi saat sudah berada di atas. Lisa dan Aldi langsung melanjutkan jalannya menuju kamar.
"Ayo ke kamar." ucap Aldi pada putranya.
"Mamal (kamar)." celoteh Davin lalu mengikuti Ayahnya ke kamar. Aldi membaringkan tubuh Lisa di atas ranjang, lalu menyelimuti tubuh Lisa sampai ke atas perut.
"Undaa." Davin menaiki ranjang orangtuanya, lalu merangkak dan tidur di samping Lisa dan bocah kecil nan tampan ini langsung memeluk perut Bundanya.
"Yayan Undaa (sayang Bunda)." ucapnya. Lisa tersenyum.
"Sayang Davin juga." ucap Lisa pelan.
"Nggak sayang Ayah nih?" tanya Aldi seraya melipat tangannya di dada.
"Yayan Yayah (sayang Ayah)." ucap Davin. Padahal tadi sempat ngambek sama Ayahnya
"Sayang Davin juga." ucap Aldi tersenyum.
CEKLEK !
"Aldi." panggil Tante Anne. Membuat Lisa, Aldi dan Davin langsung menoleh.
"Mommy." ucap Aldi.
"Kamu ini cepat sekali sampai rumahnya." omel Tante Anne.
"Aldi mah kalo nyetir kenceng banget Tan." celetuk Rama. Membuat Aldi mengerutkan keningnya.
"Kamu itu bawa anak kecil. Istri kamu juga masih sakit. Kalo terjadi apa-apa gimana?" Omel Tante Anne lagi.
"Apa sih Mom? Orang tadi Aldi lewat jalan pintas biar nggak kelamaan nunggu macetnya. Dan Aldi nggak ngebut sama sekali kok." protes Aldi sedikit kesal, lalu menatap kakak iparnya itu jengkel.
"Beneran?" selidik Tante Anne.
"Aldi bener kok Mom. Aldi tadi emang nggak lewat jalan raya. Dia juga nggak ngebut sama sekali." ucap Lisa. Tante Anne menghela nafasnya.
"Ya sudah, kamu istirahat ya nak. Ini pakaian kamu Mama taruh sini." ucap Tante Nila pada Lisa. Lisa tersenyum dan mengangguk.
"Makasih ya Ma." ucap Lisa.
"Sama-sama sayang." ucap Tante Nila tersenyum.
"Ayo kita keluar dulu. Biarkan mereka istirahat." ucap Om Darwin. Semua mengangguk lalu keluar dari kamar Lisa dan Aldi.
"Sorry ya Al, lo jadi kena omel deh." ledek Rama.
"Sialan lo kak!" dengus Aldi. Rama tertawa lalu ikut keluar seraya menutup pintu kamar Lisa dan Aldi itu.
Aldi berjalan ke pinggir ranjang sebelah Lisa, lalu menghempaskan tubuhnya disana dengan posisi tengkurap.
"Yayah." panggil Davin seraya mengubah posisinya menjadi terlentang.
"Hem?" Aldi hanya berdehem.
"Yayah ninih (Ayah sini)." ucap Davin.
"Ngapain Vin? Ayah capek nak." ucap Aldi seraya menatap putranya.
"Ninih iyuk Apin (sini peluk Davin)." celotehnya. Aldi tersenyum, ia mengubah posisinya menghadap istri dan putranya itu, lalu sedikit menggeser tubuhnya agar bisa memeluk Davin.
"Undaa iyuk (Bunda peluk)." Davin mangut-mangut menatap Lisa. Lisa tersenyum lalu memeluknya.
"Nih udah." ucap Lisa. Davin mangut-mangut. Lisa terkekeh lalu menatap Aldi yang tengah menatapnya.
__ADS_1
"Capek ya Yah?" tanya Lisa lembut.
"Sedikit yang." jawab Aldi pelan.
"Maaf ya, aku ngerepotin kamu selama di rumah sakit." ucap Lisa lirih. Aldi tersenyum seraya mengusap pipi Lisa lembut.
"Kamu nggak ngerepotin aku sama sekali kok sayang. Ini udah kewajiban aku buat merawat dan menjaga kamu." ucap Aldi lembut.
"Yayah iyuk (Ayah peluk)!" protes Davin tiba-tiba seraya menepis tangan sang Ayah dari pipi Bundanya. Lisa dan Aldi langsung terkekeh.
"Iya deh." ucap Aldi seraya memeluk Davin kembali.
********
Keluarga kecil ini tengah tertidur pulas di kamarnya. Ya, mereka adalah Lisa, Aldi dan Davin. Mereka tidur dengan posisi yang masih memeluk Davin. Sedangkan Davin sendiri tidur dengan jempol tangannya yang mungil itu ia isap.
CEKLEK !
Pintu kamar Lisa dan Aldi terbuka. Edwin tersenyum melihat adiknya tertidur pulas dengan suami dan anaknya. Ya, Edwin baru saja sampai di rumah Aldi 30 menit yang lalu, setelah menempuh perjalanan dari Hongkong menuju ke Jakarta yang menghabiskan waktu hingga 8 jam lamanya.
"Nggak tega banguninnya. Tapi ini magrib, nggak baik tidur magrib-magrib gini." gumam Edwin pelan.
"Nggak papa deh, biar nanti tidur lagi setelah makan malam." gumam Edwin lagi seraya berjalan menghampiri adiknya itu.
"Dek, bangun sayang." ucap Edwin seraya mengusap lembut pipi Lisa.
"Ngghh~" Lisa menggeliat dan melepas pelukannya pada Davin.
"Bangun dulu sayang, udah magrib loh ini." ucap Edwin. Lisa membuka mata dan menatapnya.
"Kak Edwin." lirih Lisa menatap kakak keduanya itu dengan mata berbinar. Tersirat kerinduan kepada kakaknya yang cukup lama tidak bertemu.
Edwin tersenyum menatap adiknya itu. Lisa mencoba bangun dibantu olehnya dan langsung memeluknya erat tubuh kakak keduanya itu.
"Kenapa jarang pulang ke Indonesia kak? Lisa kangen banget sama kakak." lirih Lisa.
"Kan kamu baru pindah rumah. Ya jelas dong, kakak baru kesini." canda Edwin.
"Hiks, bukan itu. Waktu ulang tahun Davin kakak juga nggak datang." ucap Lisa yang mulai terisak.
"Maaf ya, waktu itu kakak lagi ada di Jepang. Ada tugas 2 bulan disana." ucap Edwin.
"Hiks, lama banget sih! Aldi aja kalo ada tugas di luar kota 3 hari aja, selalu aku larang." protes Lisa. Edwin langsung terkekeh mendengar ucapan adiknya yang sangat posesif pada suaminya itu.
"Kok gitu sih? Kan suami kamu juga kerja disana." ucap Edwin seraya mengusap air mata Lisa.
"Biarin! Aku kan nggak mau tidur sendirian." ketus Lisa.
"Nggak mau tidur sendirian atau takut suami di gebet sama orang lain?" goda Edwin.
"Dua-duanya." celetuk Lisa. Membuat Edwin tertawa kecil.
"Ikutin dong kalo gitu. Biar Aldi nya nggak genit-genit disana."
"Nggak. Ngapain ikut? Aku larang juga dia bakalan nurut, palingan terus dia nyuruh asisten sama sekretarisnya buat mewakili dia pergi." ucap Lisa. Edwin tersenyum.
"Itu namanya suami idaman dek." ucap Edwin seraya mengusap kepala Lisa lembut. Lisa tersenyum dan mengangguk
"Udah ah, ayo bangunin Aldi sama Davin. Magrib-magrib nggak boleh tidur." ucap Edwin. Lisa menatap suami dan putranya yang masih tertidur pulas itu.
"Kakak tunggu di bawah ya sama yang lain. Kita makan malam bersama sebentar lagi." Lisa mengangguk. Edwin tersenyum, ia mengusap kepala Lisa, lalu keluar dari kamar Lisa dan Aldi.
Bersambung ..
Mohon dukungannya untuk di like, komen dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏
__ADS_1
Ig : @mutiakim