MAHKOTAKU DIRENGGUT OLEH SAHABATKU

MAHKOTAKU DIRENGGUT OLEH SAHABATKU
Bab 53


__ADS_3

Tak terasa, mobil Aldi sudah berada parkiran kantornya..


"Udah sampai, ayo kita turun." ucap Aldi.


"Pampai (sampai)." Sambung Davin dan bertepuk tangan. Lisa dan Aldi menatapnya dan terkekeh


"Gemes deh." Aldi memencet pelan hidung Davin.


"Yayah." Davin menepis tangan Aldi dan menatapnya kesal


"Iya deh maaf." ucap Aldi. Lisa tersenyum.


"Kita turun yuk." ucap Lisa seraya membuka pintu mobil diikuti Aldi.


"Tatat Apin.. Tatat Apin Undaa (cokelat Davin Bunda)." Davin menunjuk kotak roti bakarnya yang masih di dalam mobil.


"Iya sabar nak." ucap Lisa lalu mengambilnya dan berikan kepada putranya. Davin kembali memeluk bekalnya.


"Tas sama bekal kamu biar aku aja yang bawa, mana?" ucap Aldi.


"Nggak usah Yah. Kamu aja nih yang gendong Davin, biar aku yang bawa tas bekalnya."


"Ya udah, sini Davin Ayah gendong." Aldi beralih menggendong Davin.


"Ayan iyi.. Ayan iyi (jalan sendiri)." ucap Davin merosot ingin turun.


"Davin." Aldi menahan tubuh Davin dan menatap putranya seraya menggeleng.


"Ayan iyi Yayah (jalan sendiri Ayah)." Davin menatap polos Ayahnya.


"Tapi jangan langsung turun gitu dong nak. Nanti kalo jatuh gimana?"


"Ayan iyi (jalan sendiri)." gumam Davin pelan. Aldi menurunkan Davin dari gendongannya. Davin mendongak menatap Aldi dengan tangan yang memeluk bekalnya.


"Yayah." panggil Davin. Aldi tersenyum, mungkin putranya takut ia marah dan membiarkannya berjalan sendiri.


"Apa? Ayo jalan." Aldi meraih tangan mungil Davin lalu berjalan berdampingan. Lisa yang melihat keakraban antara Ayah dan Anak langsung ini tersenyum.


"Ya Allah. Jangan Kau berikan lagi cobaan untuk keluarga kecilku. Cukup beberapa minggu ke belakang itu saja." batin Lisa berdoa.


"Sayang.. Ayo, kok diem." panggil Aldi yang sudah didepan Lisa.


"Iya." ucap Lisa lalu menyusul suami dan putranya dengan membawa tas kerja Aldi dan bekal yang ia bawa tadi.


********


Davin berjalan sempoyongan saat melewati koridor kantor Aldi. Lisa yang berjalan berdampingan dengan Aldi hanya tersenyum di belakangnya. Semua karyawan menyapa hangat keluarga kecil ini.


"Pagi Pak Aldi..."


"Pagi Ibu Lisa..."


"Pagi Davin..."


Begitulah sapaan yang keluar dari beberapa karyawan-karyawati. Mereka memang memanggil Davin dengan sebutan nama, karena itu atas suruhan dari Aldi.


Aldi dan Lisa membalasnya dengan senyuman. Namun tidak dengan Davin yang sedari tadi berceloteh dengan pegawai wanita Aldi.


"Ninih Tatat Apin (ini cokelat Davin)." Davin menunjukkan kotak roti bakarnya pada pegawai Aldi.


"Roti bakar ya?" tanya salah satu pegawai membenarkan.


"Tatat.. Ninih Tatat (ini cokelat)." protes Davin. Pegawai itu pun langsung menatap Lisa dan Aldi.


"Roti bakar cokelat." ucap Aldi tersenyum.


"Oh..." ketiga pegawai wanita Aldi itu mengangguk dan sedikit terkekeh.

__ADS_1


"Tatat Yayah (cokelat Ayah)! Ninih tatat, tatat Apin." protes Davin seraya menghadap sang Ayah.


"Iya deh tatat." ucap Aldi terkekeh. Lisa pun ikut terkekeh


"Ninih tatat (ini cokelat)." Davin menunjuk bekalnya lagi pada ketiga pegawai Aldi itu.


"Tante boleh minta nggak?" tanya sang pegawai yang bernama Dina itu.


"Auu, ninih tatat Apin, tatat Ante nana (nggak mau, ini cokelat Davin. Cokelat Tante disana)." Davin menunjuk ke arah entah kemana itu, membuat Aldi terkekeh mendengarnya.


"Sudah, ayo kita masuk lift." ucap Aldi sambil berjalan masuk ke dalam lift, dan Aldi memencet tombol open pada lift.


"Yayah..." Davin berjalan sempoyongan memasuki lift lalu memeluk kaki Aldi dan kembali menghadap 3 pegawai Aldi yang berada di luar lift.


"Tataahh." Davin melambaikan tangannya pada mereka bertiga sebelum pintu lift itu benar-benar tertutup.


"Ya ampuuun.. Sumpah, lucu banget anaknya pak Aldi." ucap Dina kagum.


"Iya. Udah lucu, pinter, ganteng lagi. Beh gimana nanti kalo udah besar anak itu. Pasti bakalan jadi bibit unggul tuh anak." ucap teman satunya yang bernama Titin.


"Secara, orang tuanya cantik plus ganteng. Otomatis juga nurun ke anaknya." ucap Lina yang juga temannya.


"Semoga aja anak gue entar kayak dia." ucap Dina berharap.


"Iidiihh nikah aja belum, udah ngomongin anak aja lo." ucap Lina sambil menjitak kepala Dina.


"Udah ah, ayo kita masuk." lerai Titin.


********


Pintu lift terbuka..


Davin keluar lebih dulu dari Lisa dan Aldi. Saking seringnya ke kantor sang Ayah, membuatnya hafal mana jalan untuk menuju ruangan Aldi. Disana sudah ada Mark yang menunggu kedatangan mereka.


"Selamat pagi pak, bu." sapa Mark tersenyum tipis dengan sedikit menunduk


"Agi Om Mak (pagi Om Mark)." sapa Davin sambil masih memeluk kotak bekalnya.


"Pagi Davin. Davin bawa apa itu?" ucap Mark yang mencoba untuk berbasa-basi sedikit dengan Davin.


"Ninih Tatat Apin (ini cokelat Davin)." Davin menunjukkan kotak roti bakarnya lagi pada Mark, asisten pribadi Aldi.


"Boleh Om minta?"


"Auu, ninih tatat Apin, tatat Om nana (cokelat Om disana)." ucap Davin lagi seraya menunjuk ke arah entah kemana itu. Membuat Lisa dan Aldi terkekeh.


Dan Mark hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Anak yang pintar dan menggemaskan, kelak pasti dia bisa jadi penerus yang hebat. Pikirnya


"Oh ya Mark, untuk schedule saya hari ini tolong nanti di bawakan ke dalam ruangan saya ya."


"Baik pak." jawab Mark


"Terimakasih Mark." ucap Aldi, Mark tersenyum tipis dan mengangguk


"Ayo nak, kita masuk ke dalam ruangannya Ayah."


Sesampainya di depan pintu ruangan Aldi.


"Tatak, tatak (buka)." Davin menggedor-gedor pintu ruangan Aldi dengan tangan kanannya.


"Didorong dong Vin." ucap Aldi meledek. Sudah tau anaknya masih kecil, mana bisa sampai coba tangannya ke gagang pintu.


"Yoyong (dorong)." Davin meletakkan kotak bekalnya dibawah lalu dengan polosnya ia mendorong pintu itu. Aldi tertawa kecil melihatnya.


"Ayah, bukain ih pintunya. Kasian kamu kerjain gitu." ucap Lisa. Aldi menatap istrinya itu.


"Lucu tau Bun." ucap Aldi. Lisa mendengus kesal.

__ADS_1


"Tatak (buka)!" Davin menggedor-gedor pintu ruangan Aldi lagi, karena kesal pintunya tidak lekas terbuka. Aldi berjalan mendekatinya membuat Davin yang melihat mendongak menatapnya.


"Yayah ninih atan, auu tatak (Ayah ini nakal, nggak mau buka)." ucap Davin polos. Aldi terkekeh lalu memasukkan kuncinya untuk membuka pintu ruangannya.


"Nah ini bisa." ucap Aldi tersenyum. Davin diam menatap Ayahnya.


"Ayo masuk." ajak Aldi


"Atuk (Masuk)." Davin mengambil bekal yang ia letakkan di lantai tadi, lalu membawanya masuk ke dalam mendahului orangtuanya.


"Pinter banget sih." lirih Lisa. Aldi menatap istrinya itu. Aldi merengkuh pinggang dan mencium kening Lisa.


"Dia semangat hidup kita sayang." ucap Aldi. Lisa tersenyum dan mengangguk.


"Ayo masuk." Aldi memasuki ruangannya dengan merengkuh pinggang Lisa.


"Ya Allah Davin." pekik Lisa saat melihat Davin yang ingin naik ke kursi kerja Aldi.


"Undaa.. Apin ninih Undaa.. Apin ninih (Davin sini)." Davin menepuk-nepuk kursi kerja Aldi, yang tempat duduknya hampir sejajar dengan tubuhnya.


"Nanti jatuh nak, jangan naik-naik gitu ah." Lisa memegangi tubuh Davin yang terus berusaha untuk naik.


"Apin ninih Undaa (Davin disini Bunda)." ucap Davin terus memaksa.


"Kalo nanti jatuh gimana nak?" tanya Lisa lembut.


"Niniiihh! Apin ninih." ucap Davin sedikit keras.


"Davin, nggak boleh teriak-teriak gitu." ucap Aldi.


"Ninih Yayah.. Ninih." Davin menepuk kursi kerja Ayahnya seraya menatap sang Ayah. Aldi mengangkat tubuh mungilnya untuk duduk disana.


"Kok kamu turutin sih? Emangnya kamu nggak kerja apa?!" tanya Lisa sedikit kesal.


"Biarin deh, bentar lagi juga dia minta turun." ucap Aldi. Lisa mendengus kesal.


"Terserah kamu ah!" ketus Lisa.


"Yayah ninih (Ayah ini)." Davin menekan-nekan keyboard komputer Aldi.


"Davin mau ngapain nak? Komputernya itu masih mati." ucap Aldi.


"Ninih.. Ain ani bibit (main angry bird)." ucap Davin mangut-mangut.


"Mana ada angry bird disitu, itu data semua isinya. Angry Bird-nya Davin ada di tablet ." ucap Aldi.


"Ain ani bibit. Ninih ain ani bibit Yayah (disini main Angry Bird Ayah)." Davin menunjuk layar monitor yang masih mati.


"Nggak ada Vin, main Angry Bird-nya di tablet sana sama Bunda." Aldi mencoba menjelaskan pada putranya.


"Ani bibit!" teriak Davin. Aldi menatap putranya lekat.


"Ayah nggak suka ya kalo Davin nakal dan susah dibilangin. Ayah nggak pernah ngajarin Davin teriak-teriak seperti itu sama orang tua." ucap Aldi yang masih menahan kesalnya. Lisa hanya diam menatap Aldi yang tengah memendam amarahnya.


"Ain ani bibit (main Angry Bird)." ucap Davin yang tiba-tiba menangis. Aldi menghela nafas.


"Salah lagi kan." lirih Aldi seraya mengusap wajahnya.


"Ani bibit.. hiks, ani bibit." isak Davin.


"Davin sama Bunda ya. Ayahnya mau kerja loh, Davin main di tablet sama Bunda yuk." bujuk Lisa.


"Auu.. hiks, Ninih.. Ani bibit ninih." ucap Davin menggeleng sambil menunjuk komputer Aldi seraya terus menangis. Aldi berjalan menuju sofa dan membuka tas kerjanya. Ia mengeluarkan laptopnya yang juga terdapat permainan Angry Bird-nya.


Bersambung ..


Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2