
"Salah terus perasaan! Terserah lah." Aldi langsung pergi menaiki tangga menuju kamarnya. Ini yang sensi siapa coba sebenernya.
"Yayah." Panggil Davin. Namun, dihiraukan oleh Aldi.
"Duh, rambut gue." gumam Claudia seraya merapikan rambutnya. Ia menatap Davin dan kakak iparnya.
"Hehe, maaf ya kakak ipar. Tadi tuh gemes banget sama nih bocil." Claudia mencolek hidung Davin.
"Papa (apa)?!" Davin menepis tangan Tantenya itu. Lisa hanya tersenyum kecil.
"Claudia, sini kamu!" Panggil Tante Anne dari meja makan.
"Iya." Balas claudia lalu kembali duduk di samping sang Mommy.
"Kamu ini, gangguin Davin terus." Omel Tante Anne.
"Mumpung ketemu Mom. Entar kalo kita pulang, Claudia nggak ketemu sama bocil lagi." ucap Claudia sambil kembali melahap makanannya. Tante Anne hanya geleng-geleng.
"Duduk sini dulu nak." ucap Lisa lalu mendudukkan Davin di kursi. Lisa mengambil piring kosong lalu mengambilkan sedikit nasi, omelette telur, dan kuah sup untuk Davin.
"Lisa ke kamar dulu ya." pamit Lisa lalu menggendong Davin lagi.
"Kamu sudah makannya nak?" tanya Om Hendra.
"Udah Pa. Lisa permisi mau ke kamar dulu ya." Pamitnya lagi.
"Hati-hati sayang." ucap Tante Nila. Lisa mengangguk.
*******
CEKLEK !
Lisa memasuki kamarnya dan melihat Aldi tidur tengkurap di atas ranjang.
"Ayah." Panggil Lisa. Aldi tak menyahut.
"Kamu marah sama aku?" tanya Lisa. Namun, Aldi tetap diam.
"Ayah, kamu..."
"Apa sih? Aku capek!" Potong Aldi tetap dengan posisinya.
"Aku cuma nggak mau kamu ngajarin Davin seperti tadi Al." lirih Lisa. Aldi kembali diam. Lisa mengerjapkan matanya sejenak saat merasakan pusing di kepalanya. Kondisi Lisa yang memang belum sembuh total membuatnya gampang pusing jika merasa lelah sedikit. Lisa meletakkan piring berisi makanan Davin di atas meja kecil dekat ranjang.
"Davin turun dulu ya nak." gumam Lisa pelan lalu menurunkan Davin dilantai.
"Undaa papa (Bunda kenapa)?" Aldi yang tadinya memejamkan mata, langsung membuka matanya dan menoleh cepat kearah Lisa saat mendengar pertanyaan dari Davin.
BRUKKK !
Aldi langsung bangkit dan segera menangkap Lisa. Beruntung ia menangkap Lisa tepat waktu. Jika, tidak Lisa pasti sudah jatuh ke lantai.
"Hei, kamu kenapa sayang?" Aldi menepuk pelan pipi Lisa dengan tangan kiri dan tangan kanannya yang mendekapnya. Lisa sedikit tersadar dan mengerjapkan matanya. Aldi segera mengangkatnya menuju ranjang.
"Kamu belum minum obat kan?" tanya Aldi sambil menyingkap rambut yang menutupi wajah Lisa dan membawanya ke samping.
"Pusing Yah." lirih Lisa. Aldi mengambil obat Lisa di meja kecil samping ranjang lalu membantu Lisa sedikit bangun.
"Ini minum obat dulu." ucap Aldi seraya menyuapkan obat ke mulut Lisa. Setelah Aldi itu memberikan air putih untuk Lisa, lalu Lisa meneguknya hingga tersisa seperempat dan memberikan gelas itu kembali pada Aldi. Aldi meletakkan gelas itu kembali di atas meja lalu kembali menidurkan Lisa.
"Kamu istirahat ya." Aldi menarik selimut lalu mencium cukup lama kening Lisa.
"Jangan marah sama aku" lirih Lisa. Aldi menggeleng.
"Aku nggak marah sama kamu. Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi kayak gini." ucap Aldi sambil mengusap rambut Lisa.
"Aku yang salah. Aku tau kamu capek, tapi aku malah nyakitin kamu." ucap Lisa.
"Enggak sayang, bukan salah kamu kok. Udah gih istirahat." ucap Aldi lembut.
"Tolong suapi Davin ya. Maaf ngerepotin kamu lagi." lirih Lisa. Aldi tersenyum.
__ADS_1
"Davin itu anak kita. Itu kewajiban kita untuk sama-sama menjaga dan merawatnya sayang." ucap Aldi. Lisa tersenyum dan mengangguk.
"Udah istirahat, aku suapi Davin dulu ." Aldi mengusap rambut Lisa sebentar lalu mengambil piring makanan Davin. Ia berbalik menatap putranya yang berdiri menatapnya polos dengan mata sesekali berkedip.
"Jagoan Ayah kenapa? Kok bengong gitu sih mukanya?" tanya Aldi berjongkok agar Davin tidak menatapnya terlalu tinggi.
"Undaa papa (Bunda kenapa)?" tanyanya.
"Sakit sayang." jawab Aldi.
"Atit (sakit)? Uwum ibuh (belum sembuh)?" tanya Davin lagi. Aldi terkekeh lalu mengangguk.
"Gemes deh sama Davin." ucap Aldi sambil mencium pipi Davin.
"Imas mama Apin (Gemas sama Davin)." celoteh Davin.
"Iya, Ayah gemes banget sama Davin." Aldi mengangkat putranya lalu mendudukkannya di sofa kamar.
"Ayyah." celoteh Davin dengan mendoubel huruf Y.
"Bilang apa tadi hem?" tanya Aldi antusias saat mendengar putranya menyebut nama AYAH.
"Ayyah hihi." celoteh Davin seraya bertepuk tangan.
"Sekarang udah pinter ya manggil Ayah" ucap Aldi tersenyum lalu menyuapi putranya.
"Cepet sembuh sayangku." batin Aldi tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur itu.
"Yayah." Panggil Davin tiba-tiba.
"Loh, kok manggil Yayah lagi sih." protes Aldi.
"Yayah mimi tatat (Ayah minum cokelat)." rengek Davin.
"Mimi? Panggil Ayah dulu dong." Aldi malah menggoda putranya itu.
"Yayah Mimi." rengek Davin lagi.
"Auu (nggak mau)!" ucap Davin menggeleng.
"Ayah dulu."
"Yayah."
"A-yah." Aldi mengeja kalimatnya.
"Yayaaa mmph..." Aldi langsung membekap mulut Davin saat ia ingin berteriak.
"Shuutt.. Jangan teriak-teriak gitu nak, nanti Bunda bangun." bisik Aldi pelan. Aldi melepas bekapannya. Terlihat jika bocah kecil nan imut ini ingin menangis.
"Eh iya-iya. Ayah ambilin, jangan nangis ya. Ayo buat susu sama Ayah." Aldi mengangkat tubuh mungil putranya itu. Ia menatap Lisa yang masih tertidur. Untung aja nggak sampai kebangun, pikirnya.
"Ayo kita kebawah." Aldi mencium pipi putranya lalu pergi ke lantai bawah dengan membawa piring makanan Davin tadi.
********
Setelah membuatkan susu dan menyuapi putranya. Aldi kembali ke kamarnya dan mendudukkan Davin kembali di sofa.
Davin tengah asyik meminum susu cokelatnya yang hampir habis 2 botol. Entahlah, apakah bocah tampan itu haus atau doyan.
Sambil minum susu, bocah ini duduk dengan kaki yang ia gelantung-gelantungkan dipinggiran sofa.
"Haus ya nak?" tanya Aldi yang duduk di sampingnya. Davin melepas botol dot nya.
"Ayyah." celoteh Davin.
"Duhileh, kalo ada maunya aja baru manggil Ayah." dengus Aldi. Davin malah tertawa lalu kembali meminum susunya.
"Sini Ayah ajarin ngomong." Aldi beralih memangku Davin.
"Papa (apa)?"
__ADS_1
"Coba bilang Bun-da." ucap Aldi sedikit mengeja.
"Unda." Davin mengikuti ucapan Ayahnya.
"Bunda sayang bukan Unda, Bun.." ucap Aldi.
"Unda." Davin mangut-mangut.
"Coba bilang bobo."
"Bobo." ucap Davin cepat
"Itu bilang bobo bisa, masak bilang Bunda nggak bisa." ucap Aldi. Davin diam menatap Ayahnya polos.
"Coba dieja dulu. Bu.."
"Bu." ucap Davin cepat. Aldi tersenyum.
"Nda."
"Nda."
"Bunda."
"Undaa."
TETOT !
Aldi langsung tepok jidat mendengarnya.
Davin malah tertawa dan bertepuk tangan melihat ekspresi Ayahnya.
"Lah malah ketawa lagi." gumam Aldi lirih.
"Yayah, Undaa." ucap Davin menatap Ayahnya.
"Bunda bobo, lagi istirahat." ucap Aldi.
"Bobo Undaa." Davin menunjuk ke arah Lisa.
"Davin mau bobo lagi?" tanya Aldi. Davin hanya mangut-mangut. Aldi tersenyum lalu menggendongnya.
"Bobo sini ya?" Aldi menunjuk box bayi putranya.
"Auu, auu bobo Undaa Yayah (nggak mau, mau bobo sama Bunda Ayah)." ucap Davin sambil menggeleng.
"Mau bobo sama Bunda? Iya hem?" Aldi menciumi wajah putranya. Ia sangat senang jika putranya sudah berceloteh ria. Davin tertawa menunjukkan beberapa giginya yang baru tumbuh.
"Nih, bobo sama Bunda." Aldi menurunkan Davin disebelah Lisa. Bocah kecil ini langsung merangkak mendekati sang Bunda.
"Shuut.. Pelan-pelan ya biar Bundanya nggak bangun." ucap Aldi dengan suara pelan.
"Iyan-iyan (pelan-pelan)." Davin mangut-mangut lalu tidur di samping Lisa. Aldi tersenyum melihat perkembangan putranya yang semakin hari semakin pintar ini. Ia lalu ikut berbaring disampingnya.
"Yayah bobo aji (Ayah mau tidur lagi)?" tanya Davin menatap sang Ayah.
"Iya dong, Ayah ikut bobo sama Davin." Aldi memeluk putranya. Davin hanya mangut-mangut.
"Dipeluk Ayah aja ya. Biar Bunda istirahat dulu."
"Iyuk Yayah (dipeluk Ayah), Undaa yayat yuyu (Bunda istirahat dulu)." celoteh Davin dengan suara imutnya.
"Anak siapa sih? Pinter banget hem?" tanya Aldi menatap gemas putranya.
"Yayah Adi mama Unda Ica (Ayah Aldi sama Bunda Lisa)" ucap Davin dengan bahasa cadelnya. Aldi terkekeh lalu mendekap putranya untuk membawanya ke alam mimpi.
Bersambung ..
Mohon dukungannya untuk di like, komen dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏
Ig : @mutiakim
__ADS_1