MAHKOTAKU DIRENGGUT OLEH SAHABATKU

MAHKOTAKU DIRENGGUT OLEH SAHABATKU
Bab 66


__ADS_3

*********


Aldi sudah sampai di rumah sakit setelah mendapat telpon dari Pak Rahmat yang memberikan alamat dan letaknya. Ia juga sudah menghubungi keluarga Lisa dan tentunya juga keluarganya.


"Gimana keadaan istri saya Pak?" tanya Aldi menatap Pak Rahmat.


"Dokternya belum keluar Tuan." jawab Pak Rahmat, membuat Aldi membuang muka dan mendesah pelan. Kenapa selalu ada masalah setiap istrinya tengah berbadan dua? Dan semua itu selalu mengancam keselamatan janinnya.


"Ya Allah, kali ini hamba mohon jangan kau ambil anak hamba. Tolong selamatkan istri hamba dan janin yang dia kandung." batin Aldi berdoa.


"Yayah." panggil Davin. Aldi menatapnya.


"Ada apa nak?" tanya Aldi seraya mencium pipinya.


"Mimi tatat Yayah, tatat Apin (mimi cokelat Ayah, cokelat Davin)." ucap Davin. Aldi tersenyum kecil.


"Nih mimi Davin." Aldi memberikan botol yang biasa digunakan Davin untuk minum susu. Ya, Aldi memang sempat membuatkan Davin susu sebelum berangkat ke rumah sakit tadi.


"Tatacih (makasih)." celoteh Davin.


"Sama-sama sayang." lirih Aldi.


"Nih tatak (ini buka)." ucap Davin menunjuk tutup dot nya.


Aldi langsung membuka tutup dot nya lalu memberikannya.


"Nih."


"Yayah, Undaa." ucap Davin tiba-tiba membuat Aldi terdiam.


"Mimi dulu ya nak." Aldi menyodorkan botol susunya ke mulut Davin, berusaha untuk mengalihkan. Dan Davin menurut.


Tak lama Tante Anne, Claudia, dan Tante Nila datang. Hanya bertiga. Mungkin suaminya sama-sama masih sibuk. Rama pun yang biasanya ikut juga tidak terlihat.


"Gimana keadaan Lisa Al?" tanya Tante Nila. Aldi menggeleng pelan.


"Dokter masih di dalam Ma." ucap Aldi lirih.


"Kenapa lagi sih Al? Apa yang terjadi? Kamu bikin ulah lagi? Iya? Baru beberapa bulan dia masuk rumah sakit, sekarang sudah masuk lagi ." Omel Tante Anne. Aldi langsung tertunduk. Bagaimanapun ini memang salahnya, tidak mempercayai ucapan Lisa sedikit pun sampai membuat rumah tangga mereka sedikit bermasalah.


"Ceritanya panjang Mom.." lirih Aldi.


"Katakan kenapa Lisa bisa seperti ini?" desak Tante Anne.


"Dia.. Dia didorong sama pelayan di rumah dari atas tangga." ucap Aldi sedikit gugup.


"Apa?" pekik Tante Anne, Tante Nila dan Claudia secara bersamaan


********


2 jam berlalu,


Namun, pintu IGD belum juga terbuka. Aldi sudah menceritakan bagaimana kejadian sebenarnya. Termasuk perihal kehamilan Lisa. Awalnya Tante Anne kesal dengan kelakuan Aldi yang lebih percaya dengan pelayannya. Namun, ini bukan suasana yang tepat untuk berdebat. Ini sedang dalam suasana menegangkan.


"Dokter lama banget sih!" Aldi mengacak-acak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Sabar kak. Jangan gegabah seperti ini. Dokter butuh konsentrasi penuh untuk menangani kak Lisa." ucap Claudia karena memang sedari tadi Aldi berisik tidak karuan.


"Yayah Unda Yayah... Undaa." Davin yang berada di gendongan Claudia mulai merengek mencari Lisa. Maklum saja, selama ini ia lebih sering bersama sang Bunda.


"Nanti ya nak. Davin sama Tante dulu." ucap Aldi.


"Auu, Apin auu Undaa (nggak mau, Davin mau Bunda)." Davin menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Aldi kembali menggendongnya.


"Bundanya sakit nak. Davin diem dulu ya." ucap Aldi lembut. Ia menghapus air mata putranya yang sudah menetes.


"Unda atit (Bunda sakit)?" tanya Davin. Aldi mengangguk


"Atit papa (sakit apa)?" tanya Davin lagi.


"Bunda habis jatuh sayang." ucap Aldi.


"Tatoh (jatuh)." Aldi mengangguk. Davin memeluk leher Aldi dan bersandar di pundaknya.


"Undaa." gumam Davin. Entahlah ikatan batin antara ibu dan anak itu memang sangat kuat, sepertinya Davin bisa merasakan yang Lisa rasakan sekarang.


Tiba-tiba saja seorang Dokter wanita keluar dari dalam ruang IGD. Wajahnya terlihat berkeringat.


"Dokter gimana keadaan istri saya?" tanya Aldi. Dokter itu menghela nafasnya.


"Keadaan pasien cukup parah. Benturan yang ia alami cukup keras. Dan dengan berat hati saya katakan jika istri Anda sedang koma saat ini."


DEG


Dada Aldi langsung terasa sangat sesak saat mendengar penuturan Dokter. Air matanya tidak segan lagi untuk menetes. Bagaimana tidak? Lisa tengah berada diantara hidup dan mati. Tante Nila yang mendengar keadaan putri kesayangannya itu sedang kritis pun, menangis saat itu juga.


"Hiks, hiks." Aldi pun juga langsung terisak.


"Tuan harus kuat. Berdoa saja semoga Tuhan cepat menyadarkan istri anda. Karena jika dalam 3 hari istri anda belum sadar, kami terpaksa harus mengeluarkan janin yang pasien kandung. Karena kandungannya pun sangat lemah saat ini." jelas Dokter itu lagi


JEDEERRR


Tubuh Aldi langsung lemas mendengarnya


Aldi menggeleng dengan air mata yang semakin banjir.


"Enggak Dokter, tolong lakukan yang terbaik. Saya janji akan bayar berapapun yang Dokter mau, hiks." ucap Aldi diakhiri dengan isakan nya.


"Bukan masalah itu Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun inilah hasil akhir yang kami dapat." ucap Dokter itu.


"Hiks, enggak Dokter! Istri dan anak saya harus selamat! Dia nggak boleh pergi Dok!" Aldi sedikit histeris membuat Davin sedikit takut menatap Ayahnya.


"Davin sama Tante yuk." ucap Claudia yang matanya juga berair. Ia segera mengambil alih Davin dari gendongan kakaknya.


"Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU. Saya permisi dulu." pamit Dokter wanita itu yang ingin pergi. Namun, ditahan oleh Aldi.


"Dokter nggak boleh pergi! Dokter harus tangani istri saya sampai sadar Dok!" ucap Aldi memohon.


"Tapi Tuan..."


"Dokter tangani istri saya!" sentak Aldi. Tante Anne langsung memeluk putranya.

__ADS_1


"Sudah nak. Jangan seperti ini." ucap Tante Anne yang juga sudah menangis sedari tadi. Ia memberi kode kepada Dokter itu agar segera pergi.


"Mom.. Lisa Mom.. hiks." Aldi memeluk Mommy nya dengan perasaan yang bergetar hebat.


"Sabar nak.. Mommy yakin istri kamu itu wanita yang kuat." Tante Anne mencoba menenangkan putranya.


"Hiks, Aldi nggak mau kandungan Lisa keguguran lagi Mom. Gimana reaksinya kalo dia kehilangan janinnya lagi? Aldi nggak mau dia terpuruk seperti dulu lagi hiks, Aldi nggak mau Mom." tangis Aldi semakin pilu di pelukan Mommy nya. Tante Nila mengusap pundak menantunya itu.


"Kita harus banyak-banyak berdoa sama Allah nak. Semoga Lisa cepat sadar sebelum 3 hari mendatang." ucap Tante Nila lembut. Aldi menatap mertuanya lalu bersimpuh di kakinya, membuat semua terkejut.


"Maafin Aldi Ma. Aldi memang bodoh lebih percaya dengan perempuan itu. Mama boleh hukum Aldi Ma.. Aldi akan terima." ucap Aldi dengan suara serak.


"Aldi, bangun nak." Tante Nila membantu Aldi berdiri. Aldi tertunduk dalam dengan isakan nya.


"Mama nggak marah sama Aldi. Konflik rumah tangga itu wajar. Setiap orang mengalaminya nak." ucap Tante Nila.


"Tapi kesalahan Aldi besar Ma." ucap Aldi lirih.


"Bukan Aldi kan yang dorong Lisa?" tanya Tante Nila. Aldi menggeleng pelan.


"Ya sudah, jangan menyalahkan diri kamu. Kita harus banyak berdoa saja agar keajaiban datang untuk menyadarkan Lisa." Ucap Tante Nila mengusap pipi Aldi lembut.


CEKLEK!


Suara pintu IGD terbuka. Terlihat 2 orang suster yang tengah mendorong ranjang beroda itu.


Aldi menatap miris istrinya yang terbaring disana. Bagaimana tidak? Kepala Lisa yang di perban, mulut dan hidung yang ditutupi alat bantu pernafasan, tangan diinfus, dan juga wajah Lisa yang pucat membuat Aldi sulit untuk bernafas.


"Undaa.. Undaa Apin (Bunda Davin)." ucap Davin saat melihat Lisa dibawa dan akan dipindahkan ruangan.


"Undaa.. Apin Undaa.." Davin terus saja memanggil Bundanya.


"Uusstt.. Bundanya sakit, harus bobo dulu." ucap Claudia.


"Apin auu bobo Unda (Davin mau bobo sama Bunda)." Davin terus saja menunjuk Lisa.


"Nanti ya ganteng." ucap Claudia. Aldi yang sedari tadi diam langsung pergi menyusul Lisa.


"Yayah.. Yayah.." Davin merengek menunjuk Aldi.


"Yayah.. Undaa.." Davin langsung menangis saat Aldi semakin menjauh.


"Kok nangis sih? Diem ya ganteng." Claudia mencoba menenangkan ponakannya ini.


"Undaaa.. hiks, Yayah atan (Ayah nakal)!" isak Davin.


"Ssstt.. Diem ya. Kita susul Ayah sama Bunda yuk." ucap Claudia sambil mencium pipi Davin.


"Ayo Mom. Tan." ucap Claudia menatap Tante Anne dan Tante Nila. Mereka mengangguk lalu menyusul Aldi.


Bersambung ..


Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗


Ig : @mutiakim

__ADS_1


__ADS_2