
***
“Selamat ya Tuan. Anak anda per...”
“Perempuan ya Dok?” sahut Aldi memotong ucapan Dokter perempuan paruh baya itu. Dokter itu pun tersenyum.
“Anak anda persis seperti anda. Dia laki-laki yang sangat tampan, Tuan.” jawab Dokter itu sambil tersenyum.
“Laki-laki? Serius Dok?” tanya Aldi antusias. Dokter itu mengangguk.
“Alhamdulillah dapat jagoan,” gumam Aldi merasa sangat bahagia dan bersyukur. Semua orang yang menunggu Lisa bersalin pun juga ikut tersenyum.
“Lalu keadaan istri saya bagaimana Dok?” tanya Aldi. Dokter itu menghela berat nafasnya.
“Pasien sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri Tuan.” senyum Aldi seketika luntur.
“Ma-maksud Dokter gimana?” tanya Aldi lagi.
“Kondisi pasien yang kurang fit membuatnya drop seusai melahirkan tadi. Tapi, Anda jangan khawatir. Istri anda hanya pingsan, dia tidak akan kenapa-napa.
Hanya saja kondisinya akan melemah dibandingkan sebelum melahirkan tadi,” jelas Dokter itu. Aldi langsung menatap ke arah Mama mertuanya.
“Lisa masih sakit ya Ma?” tanya Aldi ke Mama mertuanya itu.
“Kondisinya memang belum sehat total Al,” jawab Tante Nila.
Aldi langsung tertunduk, setelah mendengar ucapan mama mertuanya itu. Ia merasa bersalah karena sudah 2 minggu ini tidak memperhatikan kesehatan istrinya.
“Boleh saya masuk Dok?"
“Boleh Tuan, tapi tunggu sampai pasien kami pindahkan ke ruang rawat inap ya?” ucap Dokter itu ramah.
“Baik Dok. Terimakasih banyak Dok, sudah membantu persalinan istri saya,” ucap Aldi. Dokter itu mengangguk dan tersenyum
“Sama-sama Tuan. Itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya," ucap Dokter itu tulus.
"Kalo begitu saya pamit dulu, saya mau check keadaan pasien yang lain, permisi.” lanjut Dokter itu. Aldi hanya tersenyum dan mengangguk.
***
Seorang bayi laki-laki mungil tengah berada di gendongan sang Ayah. Aldi meneteskan air mata saat pertama kali menyentuhnya. Kini keinginannya sudah terwujud. Memiliki anak hasil buah cintanya bersama orang yang sangat ia cintai.
“Ganteng banget sih. Lucu ya sayang?” ucap Aldi pada Lisa seraya mengusap pipi mungil buah hatinya. Memang Lisa baru saja sadar 20 menitan yang lalu. Dan benar saja, kondisi Lisa masih sangat lemas di atas ranjang.
“Iya MasyaAllah ganteng banget, tapi kok miripnya kebanyakan ke wajah kamu sih Al?” ucap Lisa cemberut sambil memanyunkan bibirnya dan itu membuat Aldi terkekeh.
“Iya-iyalah kan dia anak aku sayang, pastinya mirip sama aku lah.” ucap Aldi bangga sambil mencium pipi merah sang anak.
“Padahal aku loh yang hamil selama 9 bulan. tapi nggak ada miripnya sama aku.” ucap Lisa cemberut, Aldi tertawa mendengar istrinya cemburu kepadanya itu, karena sang anak lebih banyak mengambil gen darinya.
__ADS_1
“Gapapa sayang, yang penting kan jagoan kita ini lahir dalam keadaan sehat wal’afiat.” ucap Aldi
“Iya syukur alhamdullillah dia lahir dalam keadaan sehat wal’afiat. Oh ya, kamu sudah adzanin kan Al?” tanya Lisa.
“Udah dong sayang.” Aldi mencium pipi merah sang anak dengan lembut. Membuat bayi itu menggeliat kecil.
“Mau kamu kasih nama siapa Al?” tanya Om Hendra.
“Namanya Davindra Eadric, Pa. Dan nama panggilannya Davin.”
“Wah nama yang sangat bagus,” ucap Om Hendra tersenyum.
“Bagaimana menurutmu nama itu sayang? Apa kamu setuju?” tanya Aldi kepada Lisa.
“Nama yang bagus Al. Aku setuju kok,” ucap Lisa setuju.
“Aldi aku mau gendong,” ucap Lisa ingin bangun, namun Aldi menahannya
“No! Kamu harus istirahat biar cepet sembuh,” ucap Aldi
“Tapi aku pengen gendong,” rengek Lisa sambil memanyunkan bibirnya.
“Iya udah geser sana.” Aldi menyuruh Lisa agar bergeser ke kiri. Lisa pun hanya menurut.
Aldi menidurkan baby Davin di samping Lisa dengan perlahan agar tidak terusik ataupun menangis.
“Ih lucunya anak Mama, tampan banget sih kamu nak.” ucap Lisa memeluk hangat putra pertamanya ini.
“No! Dia nanti manggil bunda bukan mama dan aku di panggilnya Ayah,” sergah Aldi.
“Nggak! Pokoknya kita di panggilnya ayah sama bunda. Titik!” kekeh Aldi yang tak mau kalah. Lisa pun mendengus kesal.
“Iya-iya. Terserah kamu aja,” ucap Lisa cemberut. Aldi pun tersenyum puas.
“Udah jadi orang tua. Masih aja pada berantem,” ucap Om Darwin.
“Maklum lah Om. Masih ABG labil,” celetuk Rama.
“Aldi nih Dad, masa aku nggak boleh di panggil Mama sama anak sendiri,” ucap Lisa seraya memanyunkan bibirnya. Tante Anne dan Tante Nila yang mendengar anak-anaknya berdebat itu pun terkekeh.
“Biar beda dong sayang,” bela Aldi.
“Tau ah terserah!” Lisa memeluk tubuh mungil putranya dan menempelkan pipinya di kepala sang putra.
Tiba-tiba saja Davin menggeliat dan menangis.
“Loh kok nangis?” tanya Lisa heran menatap putranya yang menangis.
“Kamu ngomongnya kekencangan sayang,” ucap Aldi.
“Terus sekarang gimana?” tanya Lisa memasang wajah panik.
__ADS_1
“Kamu kasih asi aja nak. Biar kami keluar dulu,” ucap Tante Nila.
“Nggak apa-apa nih kalian keluar?” tanya Lisa merasa tak enak. Mereka mengangguk lalu keluar.
“Aldi lo keluar juga kali,” protes Rama pada adik iparnya yang masih duduk di samping Lisa.
“Apa sih kak?! Gue kan suaminya wlee,” ucap Aldi seraya menjulurkan lidahnya.
“Ya udah, kalo gitu gue juga disini,” ucap Rama yang tak mau kalah dengan adik iparnya itu.
“Ngapain? Lo mau ngintip bini gue lagi kasi ASI apa?”
“Ye, gue udah punya kali,” sewot Rama.
“Mana coba?” tanya Aldi.
“Tuh di bini gue, eh.” ucap Rama yang langsung membungkam mulutnya, ketika ia menunjuk ke arah istrinya. Dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang istri
“Ih Rama rese benget sih!” kesal Ika
“Hehe maaf, Papi keceplosan Mi,” ucap Rama cengengesan. Ika mendengus kesal lalu keluar dengan menggendong Raka. Anaknya bersama Rama. Dan Rama pun juga ikut keluar menyusul istri dan anaknya itu.
Aldi terkekeh lalu menatap Lisa yang mulai memberikan ASI pada putranya.
“Aldi jangan dilihatin gitu,” protes Lisa kepada Aldi.
“Lah emangnya kenapa?” tanya Aldi santai.
“Aku malu tau,” ucap Lisa tersipu malu seraya menutupi dadanya yang terbuka.
“Ngapain malu coba? Kan udah sering liat, bahkan pernah gigit dan nyentuh-nya, uupss.” kini giliran Aldi yang mengikuti gaya dari kakak iparnya itu.
“Aldi!” teriak Lisa kesal.
“Oekk.. Oekk.. Oekk..” Tiba-tiba Davin menangis setelah Lisa berteriak.
“Eh maaf ya nak, Bunda tadi nggak sengaja,” ucap Lisa lalu mendekap dan mengusap kepala sang anak agar tenang.
“Oekk.. Oekk...” tangis Davin semakin kencang
“Tuh kan nggak mau berhenti. Gara-gara kamu sih,” ucap Aldi. Lisa mendengus lalu menyodorkan ASI-nya ke mulut mungil sang anak.
“Mimi lagi ya nak? Cup cup cup anak pintar Bunda,” ucap Lisa seraya terus mengusap kepala sang anak. Davin pun kembali tenang membuat Lisa dan Aldi tersenyum.
Lisa mengusap wajah merah baby Davin yang tengah menyusu padanya. Terasa sangat lembut kulit baby kecil ini sehingga membuat Lisa tersenyum kecil.
Lalu Lisa mengalihkan pandangannya ke Aldi, saat jemarinya yang bergerak di wajah Davin digenggam oleh Aldi.
“Kenapa Al?” tanya Lisa
Bersambung ..
__ADS_1
Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗
Ig : @mutiakim09