
******
Pagi menyapa,
Lisa mengerjapkan matanya karena silau sinar matahari. Perlahan mata Lisa terbuka dan menatap suaminya yang tengah memeluknya.
"Sebenarnya siapa yang ngasih obat itu ke kamu Al?" gumam Lisa.
"Kalo aku nggak datang tepat waktu pasti kamu udah..." Lisa menggantungkan ucapannya dan memejamkan mata. Lalu Lisa bangkit dari tidurnya.
"Laras. Ya memang dari awal aku selalu curiga dengan gerak-geriknya saat didekat Aldi." ucap Lisa. Lisa beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi dengan balutan selimut dan segera untuk mandi, agar ia bisa segera menemui Laras.
****
"Enngghh~" Aldi mulai menggeliat dan membuka matanya.
"Loh? Kok gue nggak pake baju sih?!" pekik Aldi lalu merubah posisinya menjadi duduk. Ia mencoba mengingat kejadian semalam.
"Astaga, gue abis ngelakuin sama Lisa semalam. Tapi kok bisa?" gumam Aldi yang terus berpikir karena kepalanya juga sedikit pusing.
CEKLEK
"Sayang kamu nggak papa kan?" Aldi langsung bertanya saat Lisa keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk ditubuhnya.
"Emang aku kenapa?" tanya Lisa balik
"Maaf aku kemarin ngelakuin hubungan badan sama kamu. Sumpah aku nggak ingat kenapa bisa begitu." ucap Aldi merasa bersalah.
"Jelas kamu nggak ingat Al. Itu bukan hanya sekedar obat perangsang, seperti ada kandungan wine yang buat kamu seperti mabuk, karena aku juga merasakannya." batin Lisa menatap lekat Aldi.
"Sayang." panggil Aldi. Lisa tersadar dari kediamannya.
"Ehm, iya nggak papa. Kamu mandi gih, aku udah siapin air buat kamu." ucap Lisa mengalihkan. Aldi menghampiri Lisa, lalu merengkuh pinggang Lisa dan mengusap perutnya.
"Maaf ya, dedek nya ngga papa kan yang?" tanya Aldi. Lisa tersenyum dan menggeleng.
"Udah gih sana mandi." ucap Lisa. Aldi mengangguk lalu mencium kening Lisa sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi.
********
"Laras." panggil Lisa saat melihat Laras berjalan ke arah dapur.
"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Laras sok ramah
"Kamu yang bawa kopi ini untuk suami saya semalam?" tanya Lisa seraya menunjukkan cangkir kopi itu.
"Iya Nyonya, memangnya kenapa?" tanya Laras tanpa rasa gugup sedikit pun.
"Kamu kasih apa kopi ini semalam?" tanya Lisa menatapnya serius.
"Saya.. saya tidak ngasih apa-apa Nyonya. Semalam saya hanya mengantarnya saja. Yang buat kan Clara." jawab Laras mengelak.
"Saya menemukan ini di kamar saya. Apakah ini punya kamu?" tanya Lisa membuat Laras tersentak.
Ya, tadi saat Lisa membersihkan tempat tidurnya, ia tidak sengaja menemukan botol kecil didekat bawah ranjangnya.
"Si*al! Kenapa bisa jatuh disana sih." decak Laras dalam hatinya.
"Laras." panggil Lisa
"I..itu..itu bukan punya saya." elak Laras.
__ADS_1
"Benarkah ? Kalo bukan punya kamu, terus siapa hah? Kamu kan yang mengantarkan kopi itu?" tanya Lisa yang terus menyudutkan Laras agar ia mengakui kesalahannya.
"Iya, tapi itu bukan punya saya." elak Laras lagi.
"Jangan bohong kamu!" bentak Lisa. Membuat Laras tercengang dan menatap Lisa tajam.
"Sayang." Terdengar dari atas jika Aldi memanggil Lisa. Laras langsung menyenggol cangkir yang Lisa pegang.
PYAARR
Laras langsung tersungkur ke lantai dan menekan tangannya ke pecahan cangkir itu hingga berdarah.
"Hiks, ampun Nyonya sakit." ucap Laras membuat mata Lisa membulat.
"Ma..maksud kamu apa hah?!" sentak Lisa.
"Hiks, sakit Nyonya ampun." ucap Laras yang masih pura-pura menangis.
"Astaga Laras, kamu kenapa?" tanya Aldi saat ia baru saja menuruni anak tangga.
"Hiks, Nyonya Lisa dorong saya ke lantai Tuan, dan tangan saya terkena pecahan ini hiks, hiks."
Ck, gadis ini benar-benar pintar untuk bersandiwara. Aldi langsung menatap Lisa.
"B..bukan Al, a..aku.. aku..."
"Bener kamu yang ngelakuin ini?" tanya Aldi datar. Lisa menggeleng pelan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jawab jujur Lisa !!" bentak Aldi
TES
Air mata Lisa langsung jatuh saat Aldi membentaknya. Ini pertama kalinya Aldi membentaknya, hanya karena pelayan itu.
"Jelas-jelas kamu mencelakai Laras. Kamu lihat! tangannya berdarah Lisa. Kamu kenapa jadi seperti ini sih?!" ucap Aldi marah.
"Hiks." Lisa diam terisak. Hatinya teriris mendengar ucapan Aldi yang lebih percaya dengan pelayan tidak tau diri itu.
Suasana hening, hanya isakan Lisa dan isakan buaya betina Laras yang terdengar saat ini. Aldi menghela nafasnya.
"Cepat minta maaf Lisa." titah Aldi. Lisa menggeleng.
"Lisa." Aldi menatap Lisa tajam.
"Enggak! Aku nggak akan pernah minta maaf! Karena aku memang nggak salah, buat apa aku minta maaf sama dia!" ucap Lisa yang mulai membela diri.
Lisa memang tidak berbuat apa-apa, untuk apa dia minta maaf? Ini kan bukan hari raya. Dan ini menyangkut harga dirinya.
"Jelas-jelas ini perbuatan kamu Lisa!" sentak Aldi lagi.
"Hiks, aku nggak lakuin apa-apa Al. Sumpah! hiks, hiks." isak Lisa. Aldi mengepalkan tangannya.
"Masuk kamar!" titah Aldi. Lisa hanya diam tertunduk dengan masih terisak.
"Lisa masuk!" Aldi kembali membentak Lisa.
Lisa pun langsung berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
BRAKKK
Lisa menutup kencang pintu kamarnya dan Aldi itu.
__ADS_1
Aldi menghela nafas lalu menatap Clara dan Bi Marni yang berdiri di dekat halaman belakang melihat pertengkaran tadi.
"Clara tolong bersihin serpihan ini." titah Aldi.
"Baik Tuan." ucap Clara sedikit menunduk.
Aldi membantu Lara berdiri lalu membawanya ke sofa ruang keluarga.
"Biar saya obati kamu, sebentar saya ambilkan kota P3K nya dulu." ucap Aldi beranjak mengambil kotak P3K.
********
"Hiks kamu jahat Al. Kenapa kamu lebih percaya dia daripada aku, istrimu sendiri. Hiks hiks." isak Lisa yang tengah duduk di sofa kamarnya.
"Bener dugaan ku, dia itu orang jahat.. hiks." gumam Lisa. Tiba-tiba saja perutnya merasa mual. ia segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening saja.
"Huekk, huekk..." Lisa terus muntah-muntah hingga suara Davin yang membuatnya menyudahi dan segera kembali ke kamar.
"Undaa." Davin yang terduduk lesu mengucek matanya lalu merentangkan tangannya pada Lisa. Lisa tersenyum dan menggendongnya.
"Udah bangun nak? Hem?" ucap Lisa mengusap lembut kepala Davin.
"Yayah Undaa (Ayah mana Bunda)?" tanya Davin karena tidak melihat Ayahnya disana.
"Nggak ada. Mandi yuk sama Bunda." ucap Lisa mengalihkan. Malas kali lah rasanya ia membahas suaminya itu.
********
"Maafkan perbuatan istri saya yang tadi ya Ras." ucap Aldi yang tengah membalut perban ditangan Laras. Laras hanya diam menatap wajah tampan Aldi yang sangat dekat dengannya.
"Laras." panggil Aldi merasa dihiraukan.
"Eh iya, tadi Tuan ngomong apa?" tanya Laras tersadar.
"Maafin istri saya. Mungkin bawaan baby nya, jadi dia agak sensitif." ucap Aldi.
"Apa? Dia hamil lagi?" batin Laras terkejut.
"Permisi Tuan, sarapannya sudah siap di meja makan." ucap Clara membuat Aldi menoleh.
"Oh iya sebentar." ucap Aldi yang masih berkutat dengan perban.
"Biar saya gantiin saja Tuan." ucap Clara. Aldi menatapnya. Clara tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah, kalo gitu saya ke atas dulu." Clara mengangguk lalu mengambil alih kegiatan Aldi yang tengah mengobati Laras.
"Kamu apaan sih Ra?! Ngapain coba pake gantiin segala." Protes Laras menatap Clara dengan kesal.
"Kamu bikin ulah apa sih Ras? Aku nggak percaya kalo tadi itu perbuatan Nyonya Lisa." ucap Clara seraya menempelkan plester ke perban yang melilit di tangan Laras.
"Emang bukan. Orang aku cuma akting doang." jawab Laras santai. Clara menatapnya.
"Aku pernah bilang jangan buat masalah sama keluarga ini Laras." ucap Clara. Laras menatapnya sinis.
"Kamu diem aja deh Ra. Nggak usah ikut campur masalah aku!" sentak Laras.
"Oke! Aku nggak akan halangi kamu lagi. Tapi, jangan menyesal kalo perbuatan kamu nanti udah ketahuan sama Tuan. Kamu belum tau kan? kalo Tuan Aldi mantan bad boy." ucap Clara berlalu pergi.
"Cuma mantan bad boy? Lagian itu udah dulu juga." gumam Laras meremehkan. Heh human yang tidak tau diri, kamu belum tau aja kalo Aldi sudah emosi kek gimana, dia nggak bakal membedakan orang itu cowok atau cewek.
Bersambung ..
__ADS_1
Jangan lupa untuk di like, komen, beri hadiah dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏🤗
Ig : @mutiakim