
Konflik mereka sama disini aja, kasian mereka juga berhak bahagia🤧 Biar author juga bisa tidur nyenyak, ngk mikirin konflik mereka lagi. Thor mau buat konflik mereka yang ringan-ringan ajalah✌️
Happy reading 🥰
*********
"Ma..maksud kamu apa?" tanya Aldi dan nafasnya pun mulai sesak saat ini.
"Hiks, aku nggak mau punya suami kayak kamu. Kamu banyak yang naksir! Hiks, hiks."
Aldi yang mendengar alasan Lisa langsung melongo. Jadi cuma ini? Percuma dong gue nyesek gini? Pikirnya
"Cuma itu alasan kamu?" tanya Aldi.
"Hiks." Lisa mengangguk sambil terisak.
"Ya ampun, kirain kamu minta cerai sayang." ucap Aldi sambil menggenggam erat tangan Lisa.
"Kamu operasi plastik sana biar jadi jelek, hiks." ucap Lisa polos.
"Enggak ahh. Apaan coba, entar kamu nggak cinta lagi sama aku." protes Aldi.
"Ih, ya udah! Kalo gitu jangan jadi suami aku!" ucap Lisa cemberut. Aldi tersenyum lalu memegang kedua pipi Lisa.
"Walaupun aku ganteng dan banyak yang naksir. Di hati aku tetap ada kamu, kamu segalanya dalam hidupku, kamu nyawaku dan kamu semangat dalam hidupku." ucap Aldi lembut.
"Bener?" tanya Lisa memastikan.
"Kalaupun aku bohong, buat apa aku menangis saat keadaan kamu koma seperti kemarin? Buat apa aku nungguin kamu disini? Itu semua karena cinta dan sayang aku sangat besar buat kamu sayang." lirih Aldi sambil mengusap air mata Lisa. Lisa hanya diam menatapnya.
"Kamu udah maafin aku kan?" tanya Aldi. Lisa menggeleng membuat raut wajah Aldi berubah.
"Aku masih kecewa sama sikap kamu Al." lirih Lisa. Aldi diam tertunduk.
"Kamu tau? Saat dia bilang aku dorong dia sampe tangannya terkena pecahan cangkir itu. Aku sama sekali nggak ngelakuin itu Al. Dia jatuhin cangkir itu dan pura-pura jatuh, dan sandiwaranya sukses buat kamu bentak aku." Aldi langsung menatap Lisa.
"Hiks, kamu nggak sadar kalo malamnya kamu dikasih obat perangsang sama dia. Dia berusaha buat jebak kamu dan kamu hampir nyentuh dia Al. Tapi, rencananya gagal karena aku datang tepat waktu. Dan paginya aku cuma bertanya tentang itu." Lisa mulai terisak. Aldi langsung teringat saat Laras memberinya kopi, sampai membuatnya tidak mengingat apapun paginya.
"Ja..jadi..."
"Dan saat aku nampar dia. Itu karena dia udah dorong Davin sampe dia jatuh dan nangis. Tapi apa yang aku terima dari kamu Al? Hiks." isak Lisa semakin kencang.
"Maaf, aku udah buat kamu se kecewa itu. Kamu memang pantas kalo bilang aku bodoh. Aku emang bodoh lebih percaya dengan pembantu sialan itu." ucap Aldi.
"Hiks, kepercayaan kamu mana Aldi ke aku?! Aku selalu mengerti dan percaya sama kamu. Tapi kepercayaan kamu buat aku nggak ada sama sekali. Kita saling mengenal bukan baru setahun dua tahun. Kita udah kenal dari kecil Al, tapi kenapa kamu masih meragukan aku." ucap Lisa parau. Aldi memejamkan matanya, merasakan dadanya yang mulai sesak.
"Kamu boleh hukum aku apapun yang kamu mau, asal kamu maafin aku. Seberat apapun akan aku terima." ucap Aldi memohon.
"Aku nggak butuh hukuman apapun untuk kamu. Yang aku butuhkan hanya kepercayaan kamu. Itu aja." lirih Lisa.
"Aku tau janji tidak selalu tepat dengan ucapan. Tapi aku akan membuktikan kalo kepercayaan aku untukmu masih melekat dalam hatiku. Hanya saja aku yang terlalu bodoh percaya dengan orang lain." ucap Aldi.
"Aku memaafkan mu. Aku akan berikan kamu kesempatan untuk melihat semua pembuktian atas ucapan kamu." ucap Lisa. Aldi tersenyum lalu memeluk Lisa.
__ADS_1
"Terima kasih sayang. Aku akan berusaha buktikan itu." ucap Aldi. Lisa tersenyum dan membalas pelukannya
Cukup lama Lisa dan Aldi berpelukan. Sampai tiba-tiba Lisa merasakan pelukan yang semakin erat diperutnya. Lisa mendorong pelan tubuh Aldi karena teringat jika Davin tengah diapit oleh Aldi.
"Loh, tidur." gumam Lisa heran saat menatap putranya yang ternyata sudah terlelap, padahal ini masih pagi. Aldi tersenyum.
"Biarin aja, dia tidur sebentar semalam."
"Emang Davin tidur jam berapa semalam?" tanya Lisa.
"Jam 11 an kata kak Rama. Bangunnya jam 5 pagi." jelas Aldi
"Astaga kok bisa? Pasti dia ngantuk banget."
"Dia nyariin kamu terus sayang. Mungkin dia pengen tidur di pelukan kamu." ucap Aldi. Lisa tersenyum lalu memeluk tubuh mungil putranya.
"Maafin Bunda ya nak, tidur yang nyenyak." ucap Lisa sambil mencium kepala Davin. Aldi tersenyum lalu ikut mencium pipi Davin.
"Aku udah masukin Laras ke penjara." ucap Aldi membuat Lisa menatapnya.
"Penjara?" tanya Lisa. Aldi mengangguk santai.
"Kenapa kamu penjarain dia?" tanya Lisa lagi.
"Kamu tau? Dia yang udah dorong kamu dari atas tangga. Dan dia hampir buat nyawa kamu dan calon anak kita melayang." jelas Aldi. Lisa terdiam mendengar ucapan Aldi. Lisa teringat perbincangannya dengan Clara saat keluarga kecilnya baru menempati rumah itu beberapa hari.
"Dia tuh emang bener-bener licik. Aku nyesel banget pernah percaya sama dia." ucap Aldi dengan rahang yang sudah mengeras.
"Bebasin dia Al." ucap Lisa tiba-tiba. Membuat Aldi menatap Lisa cepat.
"Aldi, dia punya keluarga yang harus dia hidupi di desa sana." ucap Lisa lembut.
"Darimana kamu tau?" Aldi menatap Lisa heran.
"Saat kita baru pindah beberapa hari ke rumah itu. Aku berbincang-bincang dengan Clara seputar keluarga dan asalnya, termasuk tentang Laras. Ayahnya sudah meninggal, Ibunya..."
"Sakit, dan kedua adik masih sekolah kan?" Potong Aldi. Lisa mengangguk.
"Tapi kelakuan dia udah keterlaluan sama kamu." ucap Aldi
"Aldi dimana hati kamu? Dia tulang punggung keluarganya. Jangan menjadi seorang pendendam seperti ini. Dia gadis baik sebenarnya, hanya saja dia sangat terobsesi ingin memiliki kamu." ucap Lisa. Aldi hanya terdiam mendengar ucapan Lisa.
"Kamu boleh pecat dia. Tapi jangan penjarain dia. Aku ikhlas dengan apa yang dia perbuat sama keluarga kita" lanjut Lisa.
"Darimana kamu tau kalo dia terobsesi sama aku?"
"Dari tatapannya yang berbeda saat menatap kamu." jawab Lisa. Aldi menghela nafasnya kasar.
"Maaf Lis, kali ini aku nggak bisa turuti kemauan kamu yang ini. Aku tetep nggak akan ngebebasin dia. Dia yang ingin merusak rumah tangga kita, dia yang ingin membunuh kamu dan calon anak kita. Dan dengan gampangnya ingin membebaskan dia? Nggak Lisa! Kalo seumpamanya terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kita gimana? Aku bisa gila Lisa! Melihat kamu koma dan Dokter memvonis akan mengangkat janin kamu, kalo kamu belum sadar. Itu aja udah buat aku hampir gila Lisa!" Lisa langsung menangis lagi setelah mendengar ucapan dari Aldi itu
"Hiks, hiks." Aldi mengusap wajahnya dengan kasar
"Please, jangan nangis lagi. Maaf kali ini aku nggak bisa turuti kemauan kamu yang itu. Tapi aku janji akan membiayai hidup keluarganya, sampai perempuan itu keluar dari penjara." ucap Aldi, ia sangat malas menyebut nama mantan pelayannya itu
__ADS_1
"Aku mengerti perasaan kamu. Maafin aku Al."
"No! Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, karena aku nggak bisa ngabulin permintaan kamu." Lisa menggeleng pelan
"Nggak, memang aku yang salah Al. Karena udah memaksa kamu. Tapi beneran kamu bakalan membiayai hidup keluarganya? Sampai dia keluar dari penjara?" ucap Lisa parau sambil menggenggam tangan Aldi erat. Aldi sedikit membungkuk dan mengusap rambut panjang Lisa sambil memandang lekat mata Lisa.
"Iya aku janji sayang. Aku memang nggak salah pilih kamu jadi pendamping hidupku. Kamu baik, pemaaf, dan peduli dengan orang disekitar kamu." ucap Aldi. Lisa kembali tersenyum.
"Allah aja bisa memaafkan para hambanya, kenapa kita tidak?" ucap Lisa. Aldi tersenyum lalu mencium kening Lisa cukup lama. Membuat Lisa memejamkan matanya
"Ciiee, ekhem.. Udah akur nih." ucap Claudia yang tiba-tiba datang membawa kantong plastik kecil.
"Ck, ni bocah ganggu aja." dengus Aldi.
"Apa sih? Aku cuma nganterin ini doang. Kakak di suruh makan sama Mommy." ucap Claudia memberikan kantong plastik berisi sebungkus makanan pada Aldi.
"Dimakan! Jangan di diemin mulu kayak kemarin." omel Claudia.
"Claudia kamu diem deh." ucap Aldi seperti berbisik.
"Kamu nggak makan dari kemarin?" tanya Lisa.
"Enggak kak. Cuma minum doang kemarin. Apalagi yang kemarin lusa cuma makan sore doang. Jarang tidur pula." celetuk Claudia membuat Lisa terkejut. Aldi langsung melotot ke arah adiknya itu.
"Bener Al?" tanya Lisa menatap Aldi.
"Ya..Ya.. Gitu deh." Aldi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kenapa nggak makan? Pantas wajah kamu sedikit pucat."
"Gimana aku mau makan kalo kamu aja nggak sadar-sadar. Dokter bilang kalo dalam 3 hari kamu nggak sadar, janin kamu akan diangkat. Aku takut jika itu semua terjadi." lirih Aldi. Lisa tersenyum.
"Cie, so sweet banget sih. Keluar aja deh, nggak mau ganggu." ucap Claudia setengah meledek lalu keluar dari ruang rawat Lisa.
"Jangan siksa diri kamu sendiri ya, se khawatir apapun kamu. Yakinlah, takdir Tuhan adalah yang terbaik." ucap Lisa
"Aku cuma takut jika itu semua terjadi, Kamu akan terpuruk seperti dulu."
"Perhatian banget sih?" ucap Lisa tersenyum kecil. Aldi pun ikut tersenyum.
"Kalo seandainya anak kita nggak selamat, apakah kamu akan tetap bebasin Laras?" tanya Aldi membuat Lisa terdiam. Aldi menatap Lisa, menunggu jawaban.
"Entahlah." lirih Lisa. Aldi tersenyum. Ia tau, Lisa selalu menyayangi apapun yang dianugerahkan oleh Tuhan padanya.
"Kamu makan dulu gih. Maaf nggak bisa bantu, kepala aku masih pusing, badan aku juga masih lemes." ucap Lisa.
"Nggak papa sayang, kamu istirahat aja sama Davin." Aldi berjalan dan duduk di sofa. Lisa memeluk Davin dan sedikit membenarkan kepalanya.
"Bunda sayang kamu nak.. Tidur yang nyenyak sayang." lirih Lisa sangat pelan lalu mencium pipi Davin.
Bersambung ..
Mohon dukungannya untuk di like, komen dan di vote ya teman-teman. Dan jangan lupa untuk di favorit kan juga, agar author nya lebih semangat lagi dalam membuat novelnya. Terimakasih banyak🙏
__ADS_1
Ig : @mutiakim