
Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Doni kemudian menyerahkan dirinya kepada kepolisian dan mengakui semua kesalahannya, pada hari itu juga Indra diringkus oleh polisi dan mereka sama-sama masuk ke dalam sel tahanan di hari yang sama.
Pada hari itu juga Angelica menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit setelah kecelakaan yang menyebabkannya kritis selama dua hari sedangkan Ryan masih dalam keadaan kritis, peristiwa kecelakaan itu menjadi santapan para pencari berita karena Angelica adalah seorang yang dipandang di negeri ini sebagai pembisnis muda yang sukses dan lahir dari keluarga kaya raya.
Tidak ada kejahatan yang tidak mendapatkan balasan, mungkin Ujang tidak memiliki kemampuan untuk membalas karena dia kalah kekuatan dan kekuasaan, sehingga melakukan hukuman yang sangat besar kepadanya pada pagi itu televisi dipenuhi oleh berita tentang kematian wanita konglomerat yang memang namanya sudah dikenal sebagai wanita pembisnis yang sangat beruntung dalam mengelola bisnisnya, kejadian itu pun sampai ke telinga Mentari ketika dia pulang ke rumah menjemput beberapa pakaian, langsung saja dia mendengar berita di televisi Mentari tengah memegang tas yang berisi pakaian itu terpaku, seketika tasnya jatuh di lantai dia merasa bulunya meremang dengan berita itu, Angelica memiliki umur pendek, umurnya tak sepanjang ambisinya selama ini!
Mentari tak bisa mencerna dengan akal sehatnya, bagaimana bisa Angelica kecelakaan yang amat parah yang menyebabkan dia terluka parah di bagian kepala dan akhirnya tewas beberapa hari setelah dirawat, Mentari merasakan lututnya lemas, inikah jawaban atas segala doanya? inikah hukuman bagi orang yang telah dzalim pada keluarganya? dia membayarnya dengan nyawanya bahkan tanpa ikut campur tangan keluarganya untuk membalas.
Mentari terdiam! dia menenangkan diri dengan meneguk air putih, Tuhan ternyata tidak diam setelah apa yang terjadi selama ini, Tuhan mengambil lebih banyak dari apa yang telah direnggut oleh Angelica dari keluarganya bahkan ketika sampai di rumah sakit Mentari mengabari itu kepada Ujang.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, semoga diampuni segala dosanya," kata Ujang terkejut dia tidak menyangka skenario takdir sehebat ini.
Mentari menangis memeluk suaminya yang masih terbaring di ruangan perawatan.
"Ternyata Allah sudah bergerak lebih dulu Abang, wanita yang menyebabkan semua ini terjadi sudah tewas dengan cara mengenaskan," pagi ini Mentari juga mendapatkan berita bahwa Bang Doni dan Bang Indra sudah ditangkap, Bang Doni menyerahkan diri terlebih dahulu.
Ujang mengangguk, dia kehabisan kata-kata dia merasa bahwa segala sesuatunya itu mungkin tidak bisa dianalisa oleh otak manusia, ketika Ujang sudah menyerah pada pemilik alam semesta dan dia tidak berdaya membalas ternyata Tuhanlah yang mengambil alih dengan memberikan hukuman kepada mereka yang jahat.
Tiba-tiba ketukan pintu menyadarkan mereka, mereka menoleh di pintu masuk ruangan perawatan, ada Pak Mamad di sana diikuti oleh dua orang.
"Jang, ada yang ingin berjumpa denganmu," ujar Pak Mamad.
Mentari dan Ujang saling tatap, dia merasa asing dengan pria berjas rapi yang memberikan senyum ramah padanya, Ujang berusaha mengingat tapi dia tak menemukan pria itu di memorinya.
__ADS_1
"Perkenalkan saya Rendra," kata pria itu mengulurkan tangan dan dijabat oleh Ujang.
"Saya Ujang,"
"Saya tahu," sahut pria itu ramah.
"Saya sudah mengenal nama Anda dari dulu dan baru sekarang ditakdirkan untuk bertemu," ucap Pria itu lagi.
Ujang hanya mengangguk sambil melihat pria itu sementara dirinya kebingungan siapa pria ini yang mengaku telah mengenalnya begitu lama tapi baru kali ini ditakdirkan berjumpa dengannya.
"Maaf saya baru bertemu dengan Anda, saya tak mengenal anda Pak," Ujang berucap jujur.
"mungkin anda baru mengenal saya hari ini, tapi saya sudah mengenal anda dari dulu, dari mulut orang tua saya yang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu," pria itu menatap Ujang dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf saya tidak mengerti," kata Ujang.
Mentari dan Ujang sama-sama saling pandang, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan pria asing yang mengaku bernama Rendra itu.
"Mungkin ada beberapa hal yang ganjil di sini, tapi saya ingin menceritakan, dulu kedua orang tua saya ingin menguliahkan saya ke luar negeri karena saya anak yang cerdas, tetapi mereka tak memiliki biaya, orang tua saya hanya bekerja kayu lepas yang bekerja dengan orang tua Bang Ujang, hanya sebentar tak cukup satu bulan waktu itu, orang tua Bang Ujang lah yang membantu, dia menanggung biaya seratus persen hingga saya bisa kuliah di luar negeri," ucap Rendra.
"Saya ke sini untuk menyampaikan amanah orang tua saya yang sudah meninggal, saya juga mendengar kabar semua peristiwa yang menimpa Bang Ujang pada saat ini, jangan anggap ini sebagai belas kasihan yah Bang, hanya saja kedatangan saya kebetulan bersamaan dengan musibah yang terjadi," ucap Rendra lagi.
Ujang dan Mentari hanya mendengarkannya masih merasa kebingungan dengan semua cerita pria itu.
__ADS_1
"Perusahaan saya yang berada di luar negeri sangat mengalami kemajuan pesat, kesuksesan ini saya dapatkan dari ilmu yang saya peroleh dari bangku kuliah, dan kuliah saya itu dulu dibiayai oleh orang tua Abang, jadi izinkanlah saya memberikan sedikit ucapan terima kasih kepada Abang, mungkin jumlahnya tidak banyak tapi saya rasa cukup untuk memulai kembali usaha yang baru," ucap Rendra.
"Maksudnya apa?" tanya Ujang tak sabaran.
"Saya hanya butuh nomor rekening dari Bang Ujang," jawab Rendra.
"Maaf! saya tidak punya rekening," ucap Ujang.
"Kalau begitu mungkin rekening dari istri Abang," ucap Rendra.
"Saya belum memahami apa yang terjadi tapi saran saya jangan sangkut pautkan jasa orang tua saya dengan bantuan ini," ucap Ujang.
"Maaf Bang, kalau Bang Ujang tersinggung saya bukan memberi bantuan, jangan salah kaprah, yang terjadi saat ini adalah saya datang untuk membalas budi semua kebaikan keluarga melakukan kepada kami semua, jangan tolak semua ini karena ini adalah wasiat orang tua saya," ucap Rendra.
Ujang dan Mentari saling tatap kembali.
#########
Sejak kejadian itu, Ujang sudah diperbolehkan pulang ke rumah dia akan melakukan operasi kedua dalam beberapa bulan kedepan, Tuhan memang luar biasa dalam segala sesuatu pria yang bernama Rendra itu ternyata tidak main-main dengan janjinya, dia memberikan hadiah sebanyak lima puluh miliar, hal itu membuat Mentari melongo tak percaya, setelah mengurus semuanya, Rendra kembali ke negaranya Australia, walaupun dia adalah keturunan Indonesia dia telah menjadi WNA di tempat asalnya sendiri.
Mentari dan Ujang begitu takjub dengan semua balasan yang berikan oleh Tuhan, karena keikhlasannya Tuhan menggantinya berkali-kali lipat, pria itu berkata lima puluh miliar hanya sebagian kecil dari laba yang diperolehnya dalam satu tahun, setelah melalui banyak ujian mereka kemudian memulai hidup baru.
Mereka kembali membangun rumah di lahan yang sudah dibersihkan dari sisa-sisa kebakaran, Ujang meminta model rumah yang sama persis dengan rumah lama, tak ada yang dikurangi, bibit jati kembali ditanam di lahan bekas kebakaran sedangkan pembangunan hotel milik Angelica terhenti dan terbengkalai begitu saja banyak hal yang mereka pelajari, Tuhan memberikan jawaban atas segala doa-doa hambanya yang sudah putus asa.
__ADS_1
Sore itu mereka duduk di beranda rumah baru sambil menikmati angin sore, memegang tangan satu sama lain, yang mereka lakukan sekarang adalah menatap lurus ke depan membesarkan anak-anak mereka dan tak berhenti berbuat baik.
TAMAT.....