
Ujang mondar-mandir seperti setrika di depan kamar mandi Mentari,, Mentari masuk beberapa menit yang lalu dengan membawa alat tes kehamilan yang semalam dibelikan oleh Ujang.
Waktu subuh sebentar lagi,, seperti kata Ibu Mentari waktu yang baik untuk tes dipagi hari.
Tadi malam setelah sampai di rumah dia melihat Mentari sudah masuk ke alam mimpi nya,, wajar saja Ujang sampai ke rumah sudah hampir larut sementara istrinya itu telah menguap-nguap sebelum Ujang pergi ke apotik.
Semalaman Ujang tidak bisa tidur, padahal kehamilan Mentari belum pasti, tapi Ujang sudah berkhayal menggendong anak. Membayangkan saja hati Ujang sudah sangat bahagia. Apa yang lebih sempurna dibandingkan menjadi seorang Ayah? tidak ada,, menjadi seorang Ayah adalah bukti kesempurnaan seorang pria dimana anak adalah pewaris darah dan juga nasab,, keturunan merupakan aset yang lebih berharga dibandingkan harta dan jabatan.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit,, kepala Mentari mengintip dengan ekspresi wajah tidak terbaca sama sekali. Ujang telah mempersiapkan diri jika harus kecewa,, bisa saja kan hasilnya negatif,, karena yang namanya anak adalah kuasa Tuhan, namun saat Mentari memamerkan dua alat tes kehamilan dan dua-duanya bergaris dua, senyum cerah Ujang tidak bisa dia sembunyikan.
"Alhamdulillah kita akan memiliki anak,, Tari," ucap Ujang sambil menggendong Mentari karena terlalu bahagia.
Tidak bisa diungkapkan betapa bahagianya hati Ujang,, lengkap sudah hidupnya saat ini punya istri dan juga sebentar lagi akan memiliki anak, seumur hidupnya inilah momen paling mengharukan untuknya.
"Jangan beritahu Ayah dan Ibu dulu biar jadi kejutan untuk mereka," bisik Mentari dan Ujang pun mengangguk.
Tiba-tiba kebahagiaan mereka terusik dengan suara ribut-ribut di luar, suara seperti orang yang sedang berkelahi. Karena memang rumah Pak Mamad adalah tempat bagi warga untuk berkeluh kesah,, selain sebagai orang yang dihormati,, Pak Mamad juga menjabat sebagai RT.
Mentari langsung keluar dari kamar diikuti dengan Ujang,, tampak sepasang suami istri yang sedang bersitegang,, si wanita yang tidak lain adalah Marni tengah menangis hebat di hadapan pak Mamad. Mentari tidak habis pikir ini masih subuh, bahkan adzan belum berkumandang tapi mereka sudah bertemu sepagi ini, Mentari tidak suka.
Marni tidak sendiri di samping suami Marni ada seorang wanita yang tengah hamil tua.
"Tenanglah! masalah ini tidak akan selesai jika kalian tidak bisa tenang,, keributan ini pasti akan memancing para tetangga," ucap Pak Mamad.
"Pria tukang selingkuh ini malah membawa istri barunya ke rumah, tidak hanya itu dia juga membawa barang-barang nya ke rumah,, seperti berniat menetap lama di rumah ku," ucap Marni menggebu-gebu,, pancaran matanya mengisyaratkan permusuhan,, sedangkan wanita muda yang berperut buncit sedang bersembunyi di bahu suaminya lebih tepatnya suami mereka berdua.
"Aku bukan tukang selingkuh,," ucap suami Marni.
"Tidak perlu malu untuk mengakui kelakuan menjijikkan mu itu, kamu berulang kali menikah diam-diam di belakang ku, berulang kali selingkuh di belakang ku, tapi aku biarkan saja selama ini, lalu sekarang kamu membawa istri muda mu ke rumah ku di pagi buta, apa kalian cari mati? hah?," ucap Marni.
"Sudah-sudah,, sekarang biar aku yang bicara," Pak Mamad menengahi mereka, Ujang dan Mentari hanya menjadi penonton saja. Sedangkan Ibu Mentari menyudahi baca Al-Qur'an nya,, Dika pun merasa terganggu,, Dika keluar dari kamarnya sambil mengucek matanya dan menyaksikan apa yang tengah terjadi.
__ADS_1
Marni membuang muka,, suara tangisannya mulai surut, ekspresi wajahnya masih terlihat murka,, dadanya naik turun menahan amarah, bahkan Marni hanya memakai daster saja dan rambut kusut yang belum disisir.
"Sekarang siapa yang mau bicara,, kalau bicara semuanya masalah tidak akan selesai," ucap Pak Mamad tegas.
"Kamu sudah menceraikan Marni?" tanya Pak Mamad tegas.
"Saya tidak berniat menceraikan dia, kami memiliki tiga anak,, saya tidak akan menceraikan dia," ucap suami Marni.
"Tapi aku sudah tidak sudi bersama kamu," ucap Marni pedas.
Suami Marni hendak membuka mulut tapi tatapan tegas dari Pak Mamad membungkam mulutnya.
"Marni diam dulu,, kamu, apa tujuan mu membawa istri muda mu tinggal di rumah istri pertamamu?" ucap Pak Mamad lagi.
"Saya tidak punya pekerjaan tetap di Kota, kami terusir dari kontrakan karena sudah tiga bulan nunggak,, sementara istri ku mau melahirkan, jadi...,"
"Jadi kamu membawa istri muda mu ke rumah istri tua mu padahal kamu tau pasti dia tidak menyukai kalian?" ucap Marni lagi.
Kepala Mentari semakin pusing begitu mendengar pertengkaran mereka,, Mentari duduk di atas ranjang.
"Masalah yang sangat rumit," ucap Ujang.
"Betul poligami itu selalu merugikan wanita," ucap Mentari.
"Tergantung laki-lakinya, Tari," ucap Ujang.
"Maksud Abang?" tanya Mentari dengan kening berkerut.
Mentari tau betul sebagian laki-laki akan setuju dengan poligami,, tapi begitu mendengar pembelaan Ujang,,, hati Mentari mendadak jadi panas,, jangan-jangan Ujang berniat untuk poligami juga.
"Yah tergantung laki-lakinya jika laki-lakinya seperti Nabi, maka wanita malah akan diuntungkan,, Nabi menikahi janda-janda miskin yang suaminya telah gugur di medan perang,, demi mengangkat kehormatan mereka, bukan untuk melampiaskan syahwat dengan alasan melaksanakan Sunnah Rasul," ucap Ujang.
__ADS_1
"Dan sayangnya tidak ada laki-laki di dunia ini yang seperti Nabi," ucap Mentari tidak mau kalah.
"Poligami itu tidak dilarang,, tapi itu mutlak," ucap Ujang.
"Dan itu tidak dianjurkan,, kalau Tari yang berada di posisi itu lebih baik cerai saja, keimanan Mentari belum sempurna,, tidak seperti istri para Rasul," ucap Mentari.
Ujang langsung tersenyum geli melihat istrinya yang terlalu membawa perasaan atas kejadian yang baru saja mereka saksikan.
"Kenapa malah dicontohkan ke kamu,, Tari?" ucap Ujang.
"Iya, Abang kan bilang tadi kalau poligami tidak dilarang," ucap Mentari lagi.
"Bukan aku yang bilang itu bunyi ayat Tari,, kira-kira bunyinya itu seperti ini, nikahilah bagimu wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga,, empat..."
"Apa? dua, tiga,, empat? Abang mau cari mati? bilang,," ucap Mentari mengamuk.
"Aku belum selesai sambungannya, Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka ( kawinilah ) seorang saja," ucap Ujang lagi sambil tersenyum geli,, wajah marah Mentari sangat cantik dan membuatnya terhibur,, Ujang sangat bangga istrinya itu sedang cemburu.
"Sejak kapan Abang jadi ustadz?" tanya Mentari yang lebih mirip dengan sindiran.
"Menguraikan ayat bukan berarti kita harus menjadi ustadz dulu. Tari, biar bagaimanapun aku pernah mondok tiga tahun waktu Tsanawiyah," ucap Ujang.
"Tari,, tetap tidak setuju," ucap Mentari sambil memalingkan mukanya.
"Yang mau poligami siapa,, Tari?" tanya Ujang karena memang dirinya tidak ada niat sama sekali untuk poligami,,, baginya Mentari adalah segalanya untuknya apalagi sekarang istri tercintanya itu sedang mengandung anak mereka.
"Tadi kan Abang sendiri yang bilang nikahi wanita dua,,, tiga,, empat?," jawab Mentari dengan suara parau,, Mentari menutup wajahnya lalu menangis.
"Astagfirullah halazim, itu bukan aku yang bilang tapi itu bunyi ayat,, dan kamu mengutipnya cuma separuh saja,, jangan menangis Tari yah,, ya ampun kok jadi seperti ini suami Marni yang poligami kok malah jadi kita yang ribut,," ucap Ujang yang kalang kabut sendiri melihat istrinya menangis.
Ujang berusaha menarik bahu Mentari untuk memeluknya,, tapi Mentari malah menolak dan malah menggulung dirinya di dalam selimut.
__ADS_1