
Tiga hari setelahnya,, Azis sudah mulai masuk bekerja lagi, wajahnya terlihat sangat cerah begitu motornya masuk ke pekarangan rumah Ujang, seperti biasa dia akan bersenandung kecil, jika melihat Azis yang sekarang siapa yang menduga bahwa pria itu hampir saja gila. Mentari mendampingi Aqeel yang baru saja bisa berjalan, sesekali Aqeel terjatuh,, namun Aqeel bangkit lagi, memang dibandingkan dengan Aqeela yang lincah perkembangan Aqeel jauh agak lambat. Sedangkan Aqeela sudah berlari-lari kecil sambil memetik bunga yang baru mekar di pot, Mentari hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam,, semua bunga yang baru bermekaran sudah gundul karena tangan mungil anaknya itu.
"Hai Ujang kecil," sapa Azis pada Aqeel, Azis memarkirkan motornya di depan gudang, terlihat rokok yang menyelip di bibirnya yang gelap.
"Sudah sehat Bang?" ucap Ujang yang terlihat sangat senang melihat Azis yang tampak sehat bugar,, seperti tidak habis terjadi apa-apa pada dirinya.
"Sudah Jang,, bukan ragaku yang sakit tapi pikiranku,, hebat sekali kelapa si Marni itu, entah siapa lah orang pintarnya,, kalau ingat aku pernah merangkak mencari dia,, rasanya aku sangat malu sekali, malunya minta ampun sama anak yang belum paham bahwa bapaknya itu sedang kena guna-guna," ucap Azis.
"Orang sempat melihat dia ke rumah Kakek Samsudin, pria tua yang tinggal di dekat bukit itu,, orang tua itu terkenal sebagai dukun ilmu hitam, kabarnya sih pria tua itu meninggal dunia kemarin malam, dia meninggal mendadak," ucap Ujang.
"Innalilahi," ucap Mentari.
Waktu Mentari masih kecil dia sering mendengar nama Kakek Samsudin itu, teman-temannya mengatakan bahwa Kakek Samsudin itu bisa membuat besi menjadi meleleh. Dia pernah kabur dari penjara,, kabarnya karena ilmu hitamnya itu bisa membuat jeruji meleleh, Mentari tidak tahu apakah kabar itu benar atau tidak.
"Kakek Samsudin? Wah aku pernah mendengar nama dia,, dia itu dukun terkenal, dia bisa memakaikan susuk juga,, penglaris juga bisa, banyak orang dari kota datang ke sana, satu lagi dia sangat bertentangan dengan Kakek Soleh,, tapi mereka saling menghargai," ucap Azis.
Ujang tampak berpikir sejenak.
"Apakah ada kemungkinan ilmu hitamnya kembali pada dirinya sendiri? kata orang dia meninggal seperti ayam yang disembelih, wajahnya pun hitam legam," ucap Ujang.
"Selain kuasa Tuhan,, bisa jadi,, kasihan sekali dia, sebelum mati dia belum sempat bertobat, oh yah aku juga dulu sempat dengar gosip. Tapi kau jangan marah Jang," ucap Azis.
"Gosip apa?" tanya Ujang sambil menggendong Aqeela, anak imut itu mulai bermain pasir dia menggeliat begitu Ujang menahannya.
"Banyak fitnah di belakang mu Jang, saat kamu menikahi Mentari dulu, salah satunya adalah kau mendatangi Kakek Samsudin untuk meminta sesuatu agar Mentari mau sama kamu, aku langsung membantah tuduhan itu,, mungkin mereka iri sama kamu yang bisa menikahi Mentari, maklumlah orang ganteng seperti dirimu kan jadi buah bibir," ucap Azis.
Mentari dan Ujang langsung saling pandang lalu tersenyum,, Azis memang orang yang sangat pandai meledek.
"Tentu saja mereka akan berpikiran seperti itu,, istriku adalah wanita yang sangat cantik," ucap Ujang memuji, dia tidak mau meladeni ucapan Azis yang mengatakan dirinya ganteng karena Ujang tahu itu adalah penipuan.
Mentari agak tersipu malu begitu mendengar pujian dari suaminya itu.
"Cantikan mana Jang dari Marni masih gadis?" goda Azis, dia sengaja memanasi Mentari, aura wajah Mentari langsung berubah,, dia memang sangat sensitif jika sudah mendengar nama Marni.
"Abang mulai lagi," ucap Ujang.
"Jawab saja Jang," ucap Azis sambil menahan tawanya.
"Tentu saja cantikan istriku,, aku sudah pernah mengatakannya," ucap Ujang.
"Kamu dengar itu Tari,, jadi kamu tidak usah cemburu, lebih cantik kamu daripada Marni,, Ujang ini tidak pandai berbohong orangnya,," ucap Azis.
__ADS_1
"Terserah Abang lah!!" ucap Mentari lalu segera menggendong Aqeel untuk masuk ke dalam rumah,, sedangkan Aqeela kembali gembira karena bisa leluasa bermain pasir lagi.
"Merajuk dia Jang," ucap Azis lalu terkekeh.
"Abang sih suka usil," ucap Ujang.
"Habisnya aku geli Jang,, dulu dia tidak suka padamu,, dia menjadikan kamu seperti ban serep, sekarang seperti amplop dan perangko saja, apa yang kamu kasih ke dia jauh lebih ajaib daripada kelapa si Marni itu," ucap Azis lalu tertawa.
"Hati itu bisa berubah Bang,, seperti hati Abang yang tiba-tiba naksir sama si Marni, sampai menangis-nangis ingin bertemu dengan Marni,, kenapa waktu itu aku tidak merekamnya yah?" ucap Ujang.
"Itu lain perkara Jang, kan aku di guna-guna waktu itu," ucap Azis.
"Lucu aja Bang waktu itu,, apalagi Abang sampai mengemis-ngemis minta dilepaskan rantai Abang,, demi untuk menemui Marni," ucap Ujang.
"Oh jadi ceritanya kamu membalas mengejek aku nih?" ucap Azis lalu tertawa,, Azis kemudian menggantung tasnya di tiang kayu.
"Tidak," ucap Ujang.
"Ya sudah ayo kerja Jang," ucap Azis lagi.
Ujang hanya tersenyum kecil,, beginilah Azis kalau sudah kalah pasti dia akan mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa ini?" keluh wanita itu,, setiap hitungan jam tompel itu bertambah jumlahnya, awalnya kecil setelah digaruk pasti akan membesar.
"Ma," ucap anak kecil yang berumur sembilan tahun itu,, anak itu hanya mengintip takut dibalik pintu kamar mamanya.
"Jangan masuk, kamu disana saja," ucap Marni.
Sang anak pun langsung menurut,, dia melihat selama dua hari ini mamanya bertingkah sangat aneh, mengurung diri di dalam kamar,, belum lagi penampakan mamanya yang terlihat buruk rupa, dia tidak berani bertanya sedikitpun karena dia tahu Mamanya itu sangat pemarah.
"Ada apa?" tanya Marni.
"Ada yang datang mencari Ma," ucap anak itu.
"Siapa?" tanya Marni.
Anak perempuan itu tampak menggelengkan kepalanya.
"Tidak tau," ucap anak itu.
"Bilang sama dia kalau Mama tidak ada di dalam rumah," ucap Marni.
__ADS_1
"Tapi dia sudah masuk ke dalam rumah Ma, menunggu Mama," ucap anak itu lagi.
"Siapa lagi ini yang datang?" omel Marni. Memang sejak kasus guna-guna yang salah sasaran itu, dia langsung menjadi bahan gunjingan orang kampung tapi dia tidak peduli sama sekali.
Marni lalu mengambil kain yang berbentuk seperti selendang itu, menutup kepala dan wajah dan menyisakan hanya matanya saja yang terlihat. Dan benar saja seseorang telah duduk manis di sofanya.
"Kamu?" tanya Marni. Pria itu sempat mengibaskan tangannya di depan hidungnya karena mencium bau yang sangat tidak sedap.
"Apa kabar?" tanya pria itu.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Marni.
"Mau menjemput anakku," ucap pria itu, pria itu adalah suami pertama Marni, sudah lama mereka tidak bertemu secara langsung,, tapi dia tetap rutin mengirimkan anaknya uang.
"Enak saja, pergi sana, kamu pikir bisa seperti itu?" ucap Marni.
"Bisa dong,, dia menelepon aku katanya kamu asik mengejar suami orang sampai-sampai membiarkan anak-anakmu terbengkalai," ucap pria itu.
"Mana dia?" tanya Marni.
"Dia sudah ada di dalam mobilku, aku tidak minta persetujuan kamu,,, aku hanya memberitahukan kamu saja, oh yah,, kenapa kamu menutup wajahmu? bau apa ini sebenarnya? apa ada bangkai tikus yang tidak segera kamu buang?" tanya pria itu.
Marni tampak mengetatkan rahangnya di balik selendang itu, laki-laki di depannya ini tidak pernah berubah sama sekali,, berbicara asal tanpa memikirkan perasaan orang lain, apa salahnya kalau dia berbasa-basi dulu.
Sedangkan anak perempuan Marni hanya mengintip di balik gorden saja.
"Terserah padamu,, bawa saja dia,, baguslah sudah berkurang bebanku untuk mencarikan dia makan," ucap Marni.
"Ibu macam apa kamu ini? pantas saja anakku takut padamu,, padahal aku rajin mengirimkan dia uang untuk dia belanja,, makan, dan lain-lainnya," ucap pria itu lagi.
"Tidak usah banyak bicara, pergi sana!!!" ucap Marni mengusir mantan suaminya itu,, tidak sengaja selendang Marni terlepas,, laki-laki itu sangat kaget luar biasa begitu melihat penampakan mantan istrinya itu.
"Kenapa wajahmu Marni?" tanya mantan suaminya.
"Bukan urusanmu," ucap Marni sambil buru-buru menutup wajahnya kembali menggunakan selendang.
"Kamu kena penyakit kulit?" tanya pria itu.
"Aku tidak tahu,, cepat pergi dari sini,, kehadiran kamu bisa menjadi gunjingan para tetangga yang suka ingin tahu," ucap Marni lagi.
Sejujurnya Marni sangat risih sejak kematian Kakek Samsudin,, wujudnya berubah. Apa karena dia tidak menjalankan aturan orang pintar itu? belum lagi susuk yang seharusnya dibuka,, tapi orang tua itu sudah meninggal duluan, Marni benar-benar kesal.
__ADS_1